
...Pakaian adalah Cerminan Diri, Namun Lidah adalah cerminan hati ...
...🍁...
Setelah beberapa kali Annisa memberikan suapan pada Yasmine, akhirnya Annisa menyudahi Menyuapi gadis kecil tersebut, Karena Yasmine terlihat begitu kekenyangan.
"Mommy mau lagi" pinta Yasmine
"Sayang tapi kamu sudah makan begitu banyak puding" ucap Annisa
"Tapi Mau Mommy!"
Yasmine begitu merengek meminta pada Annisa untuk memberikan pudingnya lagi, Namun lagi-lagi Annisa menolak karena Annisa jelas tahu ini tidak baik untuk Yasmine.
"Hey Annisa, kenapa kau begitu kejam sekali, lihatlah Yasmine begitu menginginkan puding itu" ucap Sania asal bicara
Mendengar ucapan sarkasme dari Sania, Annisa merasa sedih, jujur Annisa melakukan hal itu karena jelas tahu jika tidak baik mengisi lambung berlebihan sementara aktifitas Yasmine begitu banyak, melompat, berlari, dan bermain, jika lambungnya terlalu penuh tidak mungkin jika nantinya Yasmine tidak muntah, dan hal itu yang Annisa khawatirkan.
"Sayang, ini tidak baik jika Yasmine terlalu banyak makan, nanti perut Yasmine bisa sakit" ucap Annisa memberi penjelasan.
Namun agaknya Yasmine tidak mendengar kan ucapan Annisa dengan baik, dia masih terus saja merengek meminta untuk di suapi puding mangga tersebut.
"Mommy, Mau ! "
"Mommy, Mau !"
Ucap Yasmine penuh permohonan, mengharap Annisa akan memberikan puding tersebut padanya, namun nyatanya Annisa tetap kekeh terhadap pendiriannya yang tidak akan memberikan pada Yasmine.
Emran yang juga berada di sana hanya mengamati Annisa dengan perhatiannya, dan juga Sania yang juga mendadak perhatian terhadap putrinya.
"Kau itu sungguh kejam Annisa, lihatlah Yasmine sedih, kenapa hanya karena makanan kau tidak memberikannya, Lihatlah anak sekecil Yasmine sedih hanya karena makanan" ucap Sania seolah menyalahkan Annisa.
Annisa hanya bergeming dan tidak berniat menjawab atau membalas ucapan Sania.
"Berikan kan lah " perintah Emran dengan suara dingin.
"Apa ?, Tapi --" sergah Annisa yang tidak setuju dengan Emran .
Melihat perdebatan kecil antara Annisa dan Emran, Sania merasa sangat senang, setidaknya usahanya berhasil untuk menjatuhkan Annisa, dan Emran mendukungnya.
"Kenapa kau keras kepala sekali Annisa, apa kau tidak mendengar Emran juga meminta mu memberikannya pada Yasmine" lagi-lagi Sania menambah bumbu dalam Ucapannya, dan agaknya hal itu mempan untuk membuat Emran terpancing.
"Berikan Annisa !, ini hanya makanan, aku tidak ingin putriku Sedih hanya karena soal itu" ucap Emran lagi penuh penekanan, dan kali ini tidak lupa dengan pandangan mata yang begitu tajam.
__ADS_1
Melihat hal itu sudut mata Annisa mulai menghangat, namun dia juga tidak tega melihat gadis kecil di hadapannya bersedih karena memohon makanan darinya.
Berat, namun Annisa tetap pada pendiriannya untuk tidak lagi memberikan puding tersebut pada Yasmine.
"Sudah sudah !,Sini biar aku saja yang memberikannya"
Dengan cepat Sania membuka cup puding mangga lain yang ada di hadapannya.
"Kemari Lah sayang Aunty akan memberikannya padamu" ucap Sania dengan begitu manis.
Meskipun ada rasa takut nyatanya Yasmine menggeser duduknya dan mendekat pada sang Daddy.
Sementara itu dengan semangat Sania memberikan suapan demi Suapan pada gadis kecil yang kini berada di pangkuan Emran, setelah sebelumnya duduk di pangkuan Annisa.
Situasi seperti ini cukup membuat Sania merasa bahagia, bagaiman tidak, dia mampu membuat Emran mendukungnya, dan membuat Yasmine membenci Annisa.
Sementara Annisa hanya menatap nanar orang-orang di hadapannya yang seolah memojokkan dirinya.
Annisa meletakkan kembali puding yang sebelumnya dia bawa, cup puding yang hanya menyisakan beberapa suap saja.
Annisa meraih botol Mineral yang ada di depannya, dan meminumnya, hal itu dia lakukan untuk mengurangi penat di jiwanya.
Jujur melihat bagaiman semangatnya Sania memberikan suapan demi Suapan Annisa sedikit merasa tidak nyaman , bukan karena cemburu, namun lebih Karena mengkhawatirkan Yasmine yang memasukan makanan terlalu banyak kedalam mulutnya.
Terlihat oleh pasang mata Annisa, bagaiman Emran juga tersenyum ketika putrinya bahagia dengan suapan yang di berikan oleh Sania. Yasmine juga begitu bersemangat untuk makan lagi dan lagi.
"Ohh, Yasmine sudah kenyang ?, Manis sekali " ucap Sania dengan begitu lembut.
Tatapan sinis begitu terlihat jelas di mata Sania, seolah kemenangan telah berada di pihaknya.
"Yasmine mau makan apa lagi sayang ?" tawar Sania yang masih semangat untuk mengambil hati Yasmine dan tentunya Emran juga.
"No Aunty, Yasmine ingin bermain" ucap Yasmine dengan nada celotehannya.
"Baiklah kau boleh bermain lagi sayang, Daddy akan menemanimu " ucap Emran dengan mengulas senyum
"No Daddy. Aku ingin bermain bersama mereka" ucap Yasmine dengan menunjuk beberapa anak kecil yang tengah asyik bermain di tengah taman.
"Baiklah sayang, hati-hati ya " ucap Emran lagi.
Ketiganya kini hanya mengawasi Yasmine dari jarak aman, karena memang Yasmine tidak menginginkan untuk di temani.
Sementara itu beberap.kali terlihat Sania yang begitu bahagia dengan kemenangan nya.
__ADS_1
Setelah kepergian Yasmine suasana ketiganya tampak canggung, Annisa memilih untuk membaca buku yang sebelumnya dia bawa.
Sementara Emran terus mengamati putrinya yang tengah asik bermain bersama teman-teman barunya.
"Lihatlah Yasmine begitu bahagia" ucap Sania dengan begitu manis, dan Emran hanya bergeming.
Menyadari respon Emran yang biasa-biasa saja Sania sedikit tidak percaya, Namun Sania pun mengabaikan hal itu, dan memilih bangkit dan duduk di sebelah Annisa dengan dalih untuk mengambil botol air Mineral.
Kini posisi duduk Annisa berada di tengah dengan Sania yang duduk di sebelahnya.
"Annisa tidak kah kau lihat bagaimana Yasmine begitu bahagia" ucap Sania pada Annisa namun pandangan menatap lurus pada Yasmine yang tengah bermain.
"Apa kau memang selalu bersikap jahat pada Yasmine?" celetuk Sania dengan tidak tahu malunya.
Mendengar hal itu seketika Annisa membulatkan kedua bola matanya, tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Sementara Emran hanya diam dan enggan memberikan tanggapan.
"Aku tidak jahat padanya, aku melakukan yang terbaik untuk putriku" ucap Annisa dengan suara dingin.
"Cih. Lucu sekali kau ini, apa kau tidak malu melakukan hal itu"
"Kau itu sangat tidak cocok menjadi Mommy Yasmine apa lagi menjadi istri dari Emran" ucap Sania berbisik namun sangat jelas terdengar oleh Annisa.
"Kau itu sangat memalukan !" ketus Sania dengan suara lirih.
Mendengar nada sarkas yang di ucapkan Sania Annisa hanya menggelengkan kepala.
"Memalukan ?, Kenapa aku harus malu ?" Tanya Annisa dengan menatap lekat wajah Sania
"Kenapa aku harus malu, jika yang aku lakukan merupakan hal baik"
"Tapi mungkin aku akan sangat malu, jika harus mengekor pada laki-laki yang jelas sudah memiliki istri, dan hal itu baru bisa di sebut memalukan" ucap Annisa dengan begitu tenang.
Mendengar ucapan Annisa, Sania begitu di buat telak. Sania begitu tidak terima dengan apa yang di sampaikan oleh Annisa.
"Beraninya kau berkata seperti itu, Lihatlah dirimu dan pakaian yang kau gunakan itu, kau itu sangat kolot" ketus Sania dengan suara begitu lirih. Berharap Emran tidak akan mendengarnya.
"Sebaiknya kau benahi dulu cara berpakaian mu, baru kau bisa berkata seperti itu" ucap Sania lagi.
Annis hanya menggelengkan kepalanya, mendengar penuturan dari Sania. Di dalam hati Annisa begitu banyak beristighfar untuk menenangkan hatinya dari iblis yang berwujud manusia, dan kini tengah duduk di sampingnya.
"Kenapa kau mempermasalahkan pakaianku ?" Ucap Annisa
"Aku nyaman , Dan aku senang mengenakannya, justru yang sebaiknya berbenah itu adalah kau nona, Benahi hatimu, dan tentunya benahi juga Ucapanmu" Ucap Annisa dengan suara dingin namun penuh dengan penekanan.
__ADS_1
Sania semakin dibuat berang dengan ucapan Annisa.
***