HIJRAH CINTA ANNISA

HIJRAH CINTA ANNISA
94. Ketegasan Emran


__ADS_3

...Belajar yang baik adalah belajar dari pengalaman kita sendiri. Tapi belajar yang benar adalah mencontoh pengalaman orang lain...


...🍁...


Karena kesibukan yang memang tidak dapat Emran tinggalkan, Setelah mengantarkan Annisa, Emran pun kembali melanjutkan perjalannya menuju kantor.


Ditemani oleh sang asisten pribadi yang merangkap sebagai supir pribadi Emran , Amir begitu sigap dalam melayaninya.


"Kemana agenda kita hari ini ?"


"Tidak banyak tuan hanya beberapa tempat yang harus kita kunjungi, dan satu lagi, tuan harus bertemu dengan model kita tempo hari " Ucap Amir


"Em" jawab Emran singkat


Setelah obrolan singkat antara keduanya, Amir kembali fokus di balik kemudi.


Menempuh perjalanan beberapa saat akhirnya keduanya telah tiba di kantor. Sambutan beberapa karyawan yang kebetulan berpapasan dengan Emran pun terdengar saling bersahutan.


Sementara itu Emran hanya berlalu dengan anggukan kepala yang terlihat begitu irit.


Keduanya menggunakan lift khusus menuju ruang kerja yang berada di lantai 18 , Sementara itu belum juga keduanya masuk kedalam ruang kerja. Pemandangan pertama yang keduanya saksikan adalah kegaduhan yang di sebabkan oleh seorang wanita yang tidak asing bagi Emran, ya benar saja nyatanya Sania telah sedari tadi menunggu kedatangan Emran, meski dua orang satpam telah mengusirnya.


Melihat hal itu Emran hanya memutar bola matanya jengah dengan tingkah Sania yang semakin menjadi-jadi.


"Apa perlu saya bereskan tuan ?" tawar Amir pada sang bos


"Tidak perlu, aku sendiri yang akan menemuinya" Jawab Emran


Benar saja , setelah melihat kedatangan Emran, tanpa aba-aba Sania langsung saja menghambur pada pelukan Emran, namun kali ini dengan sigap Emran menghindar, dan nyaris saja Sania terjerembab ke lantai.


"Sayang" panggil Sania dengan manjanya.


"Hentikan omong kosong mu Sania " ketus Emran memperingati.


"Oke oke , Emran . Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu !"


"Tidak ada yang perlu kita bicarakan , Terlebih jika itu mengenai istriku !" Tolak Emran


Mendengar ucapan Emran , Jujur Sania begitu terkejut, pasalnya dia yang ingin membuat Emran membenci Annisa , justru Sania lah yang saat ini dibuat telak. Bukan semakin dekat dengan Emran, yang terjadi justru Emran semakin menjauh.


"Oke oke, Ada hal lain yang ingin aku bicarakan, bukan tentang Annisa" Ucap Sania berkelit.


"Em, katakan !"


"Bisakah ditempat lain kita bicara ?" Pinta Sania


"Oke !" Ucap Emran singkat.

__ADS_1


Emran masuk kedalam ruang kerjanya bersama Sania, dan di susul oleh Amir yang juga berjalan di belakangnya.


"Tidak bisakah kau tinggalkan kami ?" Ketus Sania pada Amir yang kini ketiganya telah berada dalam satu ruangan.


"Tidak, Amir tidak akan kemana-mana, Siapa kau berani memerintah nya ?" Ucap Emran dengan nada dingin.


Mendengar hal itu Sania hanya mendengus kesal, seolah keberuntungan tak pernah berpihak pada dirinya. Sementara Amir hanya dapat menahan tawa, melihat kepanikan di wajah Sania.


"Katakan !. Aku tidak punya banyak waktu"


Sania terlihat tampak kebingungan setelah Emran menggertak nya dengan nada tinggi. Bahkan kini dia hanya dia mematung bahkan setelah Emran menunggu Sania mengatakan sesuatu.


"Aku tidak nyaman jika ada dia di sini" tunjuk Sania pada Amir


Sementara itu Amir yang mendengar ucapan sarkasme dari Sania hanya menghela nafas dengan mulut yang mencucu.


"Benarkah begitu ?" tanya Emran pada Sania. Dengan begitu semangat Sania menganggukkan kepalanya, berharap Emran akan mengusir Amir dari ruang kerjanya.


"Sama halnya dengan diriku yang juga tidak merasa nyaman dengan kehadiranmu" Tegas Emran tanpa basa-basi.


Kedua bola mata Sania seketika membulat sempurna, mendengar ucapan menohok dari mulut Emran. Begitu juga Amir yang merasa lucu dengan perubahan wajah Sania yang menjadi pucat pasi.


Dengan gerakan cepat, dan hentakan kaki yang tak beraturan, Sania mengibaskan rambut panjangnya, pergi begitu saja meninggalkan ruang kerja Emran, setelah kehadirannya tidak sedikitpun mendapat respon baik dari sang pujaan hati.


***


Tanpa sadar tubuh ramping Annisa telah terjerembab di atas lantai, setelah tanpa sengaja dirinya bertabrakan dengan seseorang.


"Oh Im Sorry Miss"


"Its Okay" Jawab Annisa dengan mengibaskan gamisnya yang sedikit kotor.


"Are you Okay?"


"Yes" Ucap Annisa dengan senyum di balik cadar yang dia kenakan.


Tanpa sengaja tatapan Annisa tertuju pada seorang wanita yang kini tengah berdiri tepat di hadapannya.


"Tamara ?" Ucap Annisa spontan.


Sementara itu Tamara tampak menajamkan pengelihatan nya, mencari tahu siapakah sosok di balik cadar tersebut.


"Annisa?" Panggil Tamara kemudian.


"MashaAllah, Tamara. Kamu di sini ?, Sejak kapan ?" Tanya Annisa yang masih tidak percaya sosok di hadapannya adalah orang dari tanah Indonesia


"Ceritanya panjang Annisa, Tapi aku akan menceritakannya lain waktu" ucap Tamara dengan ceria.

__ADS_1


"Lalu, dimana kau tinggal disini ?" tanya Annisa


"Aku tinggal di apartemen, tidak jauh dari sini" ucap Tamara


Keduanya saling berbincang setelah pertemuan yang cukup membuat tidak percaya, nyatanya keduanya saat ini justru semakin akrab.


"Ohya. Maaf. Boleh aku bertanya ?" ucap Annisa tampak sungkan.


"Katakan saja" jawab Tamara santai.


"Apa benar kau tidak benar-benar hamil ?" tanya Annisa


Deg.


Seketika Tamara membulatkan kedua bola matanya,menatap pada Annisa yang kini berada di hadapannya.


"Kau tidak perlu menjawabnya jika tidak ingin menjawabnya. Lagi pula hal ini juga sudah tidak penting bagiku" ucap Annisa


Menyadari hal itu Tamara hanya tersenyum kecil, setelah ya dia mengajak Annisa untuk duduk di sebuah bangku yang berada di dalam mall.


"Aku memang tidak hamil, dan aku juga sengaja membuat pernikahan mu dan Zyan gagal"


"Aku tahu mungkin Zyan sudah mengatakan semuanya tentang diriku"


"Tapi percayalah, aku melakukannya hanya untuk kebaikan diantara kita, Zyan dan orang tuanya , Tidak sebaik yang kita bayangkan" tegas Tamara tanpa basa-basi.


Sejenak Annisa tertegun mendengar ucapan Tamara. Untuk saat ini mungkin Annisa belum dapat mempercayai kata-kata Tamara ataupun Zyan.


"Lalu ada keperluan apa kau berada di negara ini tam ?" Tanya Annisa yang masih tampak penasaran.


"Aku di sini ada kerjaan beberapa pemotretan produk dengan perusahaan Emran Company"


Mendengar ucapan Tamara, Annisa tampak mengerutkan dahi, berfikir jika memang benar begitu, kenapa Emran tidak memberi tahu dirinya tentang hal ini.


"Ohya ?" Tanya Annisa, dan di jawab dengan anggukan kepala oleh Tamara.


Meski masih merasa bingung, namun Annisa memilih untuk Abai akan hal ini.


"Mommy!"


Sebuah teriakan yang seketika menggema di telinga Annisa. Lambaian tangan pun Annisa ayunkan untuk memanggil sang putri ke arahnya.


Sementara itu Tamara justru tampak kebingungan, melihat seorang gadis kecil yang tiba-tiba datang dan memanggil Annisa Dengan panggilan mommy.


Masih segar di ingatan Tamara jika saat dirinya datang dan mengacaukan rencana pernikahan Annisa dengan sang mantan kekasih barulah beberapa bulan yang lalu.


Namun saat ini jelas dalam pandang mata Tamara, Annisa memiliki seorang putri.

__ADS_1


***


__ADS_2