HIJRAH CINTA ANNISA

HIJRAH CINTA ANNISA
108. Masih di Bali


__ADS_3

...Jangan Risaukan sesuatu yang tidak kita miliki. Tapi Risaukan lah Nikmat yang tidak kita syukuri...


...🍁...


Seperti biasa Annisa akan terbangun sebelum subuh tiba, beruntung kebiasaan itu selalu dia terapkan dimanapun, terlebih di tempat yang mayoritas beragama non muslim seperti di Bali.


Annisa begitu hafal kebiasaan sang suami setelah semalaman begadang maka dia akan sedikit sulit untuk di bangunkan, bukan tidak mau hanya Annisa harus ekstra untuk membangunkan sang suami.


"Mas, Bangun Sebentar lagi subuh" ujar Annisa dengan usapan lembut di pipi sang suami.


Tangan dingin Annisa selepas mandi membuat Emran mengerjap sesaat meski kembali terpejam.


"Ayo mas. Mas harus mandi wajib dulu"


Menyadari ajakan sang istri, Emran yang sejujurnya masih betah berlama-lama dengan selimutnya membuat dia harus bangun dan menjalankan rutinitasnya sebagai seorang muslim.


Setelah bangkit dari tidurnya Emran tidak langsung berjalan menuju kamar mandi, sesaat dia memilih duduk di depan sang istri dan mengusap lembut perut datar Annisa.


"Terima kasih sayang, Semalaman kau bermain bersama Daddy, Sepertinya kau jagoan mang tangguh" bisik Emran tepat di perut Annisa.


Ucapan Emran seketika mampu membuat Annisa wajah bersemu merah.


"Udah. Ayo mas, Cepetan mandi sana !" titah Annisa yang sudah jengah dengan alibi sang suami.


Meski berat hati, dan masih ingin bermanja manja dengan sang istri, nyatanya tuntutan sebagai muslim tetap harus lebih utama.


Sementara Emran tengah membersihkan diri, Annisa tengah menyiapkan pakaian yang akan di kenakan untuk sholat berjamaah, termasuk menggelar sajadah dan bersiap menunggu sang suami.


Tidak butuh waktu lama , Emran telah bersiap untuk menunaikan ibadah sholat subuh, tentu nya berjamaah bersama sang istri.


Terasa khidmat ibadah pagi ini, perasaan tenang dan damai keduanya rasakan, setelah berbagai masalah rumah tangga yang begitu menguji iman dan kesabaran.


Dua rakaat sholat telah terlampaui dengan sempurna, keduanya saling berjabat tangan dengan Annisa mencium pungging tangan sang suami dengan penuh khidmat.


Selayaknya pasangan suami istri pada umumnya, tidak ada Yasmine tidak ada Amir, atau orang lain, hanya Emran dan Annisa saja di tempat tersebut membuat suasana pagi kian syahdu.


"Boleh --"


"Tadi malam kan sudah mas"


"Masih cukup pagi untuk berjalan-jalan sayang, dan kita tidak memiliki pekerjaan lain" goda Emran yang kemudian menyandarkan dagu nya di bahu Annisa.


"Ya sudah. Yuk " ucap Annisa.


Mendapatkan persetujuan dari sang istri Emran tidak lantas menyia-nyiakan kesempatan tersebut.


Keduanya kembali menikmati suasana pagi dengan penyatuan yang begitu nikmat.

__ADS_1


***


Waktu menunjukan pukul 06.30


Baik Emran dan Annisa telah bersiap untuk sejenak menikmati indahnya pulau Dewata, Emran dan Annisa terlihat lebih segar pagi ini.


"Mas kita sarapan di luar saja ya" Ajak Annisa.


"Apa pun yang kau inginkan sayang"


Pagi ini Annisa sengaja tidak sarapan di hotel ,karena sejak semalam ingin sekali menikmati kuliner khas Bali, tentunya keduanya akan berburu masakan halal.


Meski terbiasa dengan mobil mewahnya, nyatanya Emran tidak keberatan meski harus menemani permintaan sang istri berjalan kaki, menyusuri jalanan kota Bali.


Pulau Dewata yang seakan tak pernah habis menyuguhkan pesonanya, membuat Emran dan Annisa sama-sama betah jika harus berlama-lama di pulau tersebut.


"Mas kita makan Ayam betutu yuk"


"Em. Oke ?"


Kali ini Annisa benar-benar dimanjakan oleh Emran, apapun yang Annisa inginkan akan Emran turuti.


"Sayang bagaimana kalau kita sewa motor, sepertinya menyenangkan" ajak Emran


"Mas Emran lelah?" Sejujurnya Annisa jelas tahu jika sang suami tidak nyaman berjalan kaki.


"Baiklah, kita sewa motor saja, sepertinya memang lebih baik begitu" ucap Annisa.


***


"Paman sangat serasi dengan Aunty"


Amir dan Tamara pun hanya saling pandang mendengar ucapan Yasmine yang begitu menohok.


"Kenapa kalian tidak menikah saja" ujar Yasmine dengan tawa cekikikan.


Jujur di goda anak kecil lebih memalukan bagi Amir di bandingkan dengan digoda oleh orang dewasa.


Bukan hanya Amir saja yang tampak salah tingkah, nyatanya Tamara pun juga sama hal nya, berusaha tetap menjaga wibawanya sebagai model.


"Yuk kita pulang sayang"


"Kita beli Ice Cream yuk" ajak Tamara pada Yasmine.


"Okay Aunty "


Bukan tanpa alasan Tamara segera membawa Yasmine pergi, karena hanya ice Cream lah yang dapat menutup mulut gadis kecil tersebut.

__ADS_1


Tamara hanya tidak ingin dirinya semakin dibuat salah tingkah di depan Amir.


"Hey kalian mau kemana !" teriak Amir yang merasa ditinggalkan.


Bukan menjawab pertanyaan Amir, Tamara memilih sibuk menggandeng Yasmine menuju mobil Amir yang terparkir di tempat yang lumayan jauh.


Siang cukup terik.


Ice Cream rasanya tepat untuk menyegarkan tubuh, tidak hanya itu nyatanya ice Cream juga mampu untuk menyuap gadis kecil yang tadinya usil menjadi diam tak berkutik dan kini sibuk dengan cup ice Cream di depannya.


Krik


Bukan hanya Yasmin yang terdiam, kini Tamara dan Amir pun juga hanya diam, sibuk dengan pikirannya masing masing.


Canggung ? Sudah pasti, namun keduanya memilih untuk tetap diam dan tak sedikitpun memancing perbincangan.


***


Tidak terlalu lama, 4 hari nyatanya cukup bagi Emran dan Annisa untuk singgah di pulau Dewata.


Sejujurnya Emran telah memesan untuk satu Minggu, namun Annisa tidak ingin lebih lama meninggalkan Yasmine.


Meski telah di temani oleh Tamara juga Amir, nyatanya Yasmine tetap selalu mencari keberadaan Annisa, dan menanyakan kapan dirinya akan kembali.


Hal itu lah yang membuat Annisa berfikir dua kali untuk lebih lama di Indonesia.


Waktu menunjukkan pukul 19.30 , Annisa masih sibuk dengan beberapa koper dadakan yang baru saja dia beli, bukan tanpa alasan, selama 4 hari di Bali nyatanya Annisa tak melupakan satu orang pun yang berada di dekatnya.


Annisa banyak memborong oleh-oleh, tidak hanya untuk dirinya sendiri dan keluarga, tentunya untuk para pengasuh dan pelayan yang berada di rumahnya pun tak luput mendapatkan jatah.


Dari mulai baju, sendal, makanan,dan juga mutiara yang sengaja Annisa siapkan untuk hadiah bagi para pekerja nya.


"Sayang, istirahatlah bisa kau lanjutkan besok"


"Tapi besok kita sudah berangkat mas"


"Masih ada waktu 3 jam sebelum keberangkatan"


"Tapi mas --" Ucapan Annisa terputus ketika Emran kembali menyela pembicaraan nya.


"Sudah lah, lihatlah wajahmu begitu pucat" ujar Emran yang tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak di inginkan pada sang istri.


"Okay, Siap tuan " ucap Annisa seraya bangkit dari duduknya.


Setelah perdebatan yang cukup sengit antara keduanya, dan berakhir Annisa tetap harus mengalah dan menuruti sang suami, meski sejujurnya Annisa belum mengantuk, namun dia memilih merebahkan tubuhnya disisi samping Emran.


***

__ADS_1


__ADS_2