
...Allah itu Memahami doa kita, bahkan ketika kita tidak menemukan kata-kata untuk Mengatakannya...
...đ...
Belum sampai Annisa berhadapan dengan Emran, Emran lebih dulu menghampirinya, menyadari sang istri berjalan ke arah nya.
"Apa kau baik-baik saja sayang" tanya Emran yang tampak khawatir. Annisa pun mengangguk kan kepala sebagai jawaban.
"Untuk apa mas Emran kemari ?"
"Aku mengkhawatirkan mu"
Annisa hanya melemparkan senyum tipis dibalik cadar yang dia kenakan.
Sejujurnya Annisa masih begitu tidak bersemangat menghadapi sang suami, namun sebagai seorang muslimah, Annisa jelas tahu jika hal itu tidak di benarkan.
Suasana tampak canggung, sunyi dan sepi, itulah yang Emran rasakan meski di tempat tersebut banyak saudara dan kerabat Annisa yang turut menunggu i sang Abi.
"Apa kau sudah makan ?"
"Kau terlihat pucat sayang" ujar Emran
Masih dengan mode malas nya, Annisa hanya menggelengkan kepala nya.
"Apa yang kau inginkan, aku akan membawakannya untuk mu dan anak kita"
"Tidak perlu mas "
"Tapi -- !"
"Annisa hanya ingin Abi segera pulih mas !" tegas Annisa dengan suara lirih nya.
Jawaban Annisa Seolah menyadarkan Emran, bahwa dia lah biang keladi dari semua yang terjadi pada sang Abi.
Dua setengah jam berlalu, sebuah kabar baik di sampaikan oleh dokter yang bertugas memantau perkembangan Abi.
Kondisi yang semakin membaik pasca operasi dan dinyatakan stabil, membuat seluruh keluarga bersyukur bahagia, tak terkecuali Annisa yang tanpa sadar menitihkan air mata.
Kini sang Abi telah di pindahkan ke ruang ICU, meski belum di kamar perawatan,setidaknya ICU lebih baik dari ruang operasi.
"Ummi , Ummi pulanglah dengan ka Fathur,Annisa dan mas Emran akan berjaga di sini" ucap Annisa
"Tidak nak, kau yang seharusnya pulang dan beristirahat"
"Tidak ummi, Annisa ingin tetap disini hingga Abi benar-benar sadar"
__ADS_1
Tidak ingin berdebat, terlebih kondisi umi terlihat memang cukup lelah akhirnya menyetujui usulan Annisa.
Sementara Aisha dan Khadijah telah lebih dahulu pulang karena mereka masih ada tanggungan anak anak yang mereka titipkan pada pengasuh dan beberapa santri.
Setelah kepulangan anggota keluarga dari Annisa, kini hanya ada Emran dan Annisa saja yang masih setia berjaga.
Koridor yang sebelumnya ramai, kini hanya ada mereka dan lalu lalang segelintir petugas rumah sakit yang memeriksa kondisi pasien di ICU.
Suasana seketika menjadi hening, Annisa yang masih setia dengan diamnya, sementara Emran merasa begitu berdosa dengan semua perbuatanya di masa lalu.
"Annisa Maafkan aku" sesal Emran
"Tidak ada yang perlu di maafkan mas, Masa lalu biarlah menjadi masa lalu"
"Kau tidak marah ?" . Tanya Emran, dan Annisa hanya menggelengkan kepala.
Meski Annisa mengatakan tidak namun Emran jelas tahu jika sang istri sudah pasti sangat kecewa.
***
Disaat Emran tengah berusaha memperbaiki hubungannya dengan Annisa, Sania tengah menjadi bulan bulanan Amir dan para bodyguard nya.
Sejauh apapun Sania melarikan diri, Amir dan para anak buahnya akan tetap menemukan nya.
Bodohnya Sania, dia yang tidak mengetahui jika Tamara pun ikut terlibat dalam aksi pembongkaran kejahatannya, justru datang meminta bantuan pada Tamara.
Sania benar-benar sudah kehabisan akal , nyatanya Emran tidak seperti perkiraannya. Menyesal Sania telah bermain-main dengan laki-laki tersebut.
"Tamara, Please aku sedang mengandung, aku butuh perlindungan"
"Kenapa kau tidak memintanya pada ayah dari anak mu Sania ?"
Mendengar pernyataannya Tamara, Sania hanya bergeming. Hancur sudah hidupnya saat ini, belum lagi membayangkan bagaimana jadinya Emran jika berhasil menemukannya.
Sementara Sania tengah berada di apartemen Tamara, Tamara ya g telah mengetahui semua permasalahan antara Sania, Emran dan tentunya Annisa pun segera memberitahu Amir jika kini Sania bersamanya.
Jujur mendengar cerita Sania yang selalu berusaha mengacaukan pernikahan Annisa, Tamara tampak geram dan tidak terima temanya di perlakukan seperti itu.
Tidak butuh waktu lama, Tamara yang meminta izin untuk memberi beberapa keperluan di super market pun meninggalkan Sania seorang diri.
Hingga penggrebekan Amir dan para bodyguard nya di apartemen Tamara membuahkan hasil, Kini Sania benar-benar telah berada di bawah pengawasan Emran.
Tinggal menunggu keputusan apa yang akan Emran berikan pada wanita sia lan ini.
***
__ADS_1
Satu Minggu berlalu kesehatan Abi kian membaik, bahkan kini Abi telah di pindahkan di ruang perawatan, tentunya VVIP lah yang menjadi pilihan Emran, sejujurnya Abi tidak begitu nyaman dengan bantuan Emran, namun Emran pun juga tidak bisa begitu saja membiarkan mertuanya melewati masa penyembuhan di tempat yang tidak nyaman.
Ke salah pahaman antara Emran dan keluarga pun akhirnya di luruskan, Fathur yang juga sebelumnya sempat bersitegang dengan Emran kini telah berbaikan.
Mengenai Sania dan kehamilannya, Emran pun telah menjelaskan semuanya pada Annisa dan seluruh keluarganya, termasuk niatan Sania untuk menjadikan dirinya kambing hitam atas kehamilannya dengan pria lain.
Meski tidak mengenal siapa sejatinya Sania yang begitu membenci putrinya, orang tua Annisa tetap mendoakan agar Sania lekas diberi hidayah dan segera bertaubat.
Berharap kejadian ini tidak akan terulang kembali dan semoga dapat menjadi pelajaran untuk keduanya.
Hanya satu yang belum keduanya sampaikan adalah mengenai kehamilan Annisa yang sampai saat ini masih menjadi rahasia Annisa dan Emran.
Bukan tidak ingin memberitahu hanya saja keduanya memang menunggu saat yang tepat.
Dan di saat ini lah waktu yang di rasa tepat bagi keduanya untuk menyampaikan berita bahagia tersebut.
"Alhamdulillah Nak, kamu sudah hamil"
"Ummi bahagia sekali" lirih ummi dengan tanpa sadar menitihkan air mata.
Begitu juga dengan Abi yang juga turut bahagia dengan kabar gembira yang di bawa oleh Annisa.
Kedua orang tua tersebut memberikan wejangan atau nasihat untuk Annisa dan Emran. Terutama berkaitan dengan rumah tangga. Karena sejatinya cinta saja tidak cukup untuk membangun sebuah rumah tangga.
Rasulullah mengajarkan berbagai cara agar rumah tangga tetap harmonis. Rumah tangga yang hangat, harmonis, dilandasi dengan keimanan merupakan pintu menuju surga.
Setelah menikah, untaian doa yang dilantunkan terdiri dari sakinah, mawaddah, warahmah yang artinya ketenangan, kasih sayang dan keberkahan. Untuk mewujudkannya, dibutuhkan usaha suami dan istri.
Salah satunya dengan meneladani sikap Nabi Muhammad SAW, Rasulullah mengajarkan berbagai cara agar rumah tangga tetap harmonis.
Pertama, menjalin dan menjaga komunikasi dengan baik kepada pasangan. Komunikasi merupakan bekal terbesar yang harus dimiliki oleh pasangan. Melalui komunikasi yang baik, aspirasi dan keinginan satu sama lain dapat tersalurkan dengan baik.
Pasangan suami istri hendaknya memiliki waktu khusus untuk saling berbicara dan berinteropeksi diri. Hal ini juga yang dilakukan Nabi Muhammad untuk menjaga komunikasi, yaitu bercengkerama dan bercakap-cakap dengan istrinya
Selanjutnya bersikap romantis. Nabi Muhammad SAW adalah pribadi yang romantis. Beliau memberikan panggilan khusus kepada Aisyah dengan julukan Humaira. Beliau juga minum dari gelas yang sama dengan Sayyidah âAisyah tepat di tempat Sayyidah Aisyah menggunakan gelasnya. Juga mandi bersama sebagai salah satu bentuk keromantisan.
Lalu bersikap lemah lembut. Saat sedang marah pada Aisyah, Nabi Muhammad tetaplah bersikap lemah lembut. Kisah ini sangat masyhur ketika Abu Bakar masuk ke rumah rasul karena beliau mendengar putrinya bersuara keras di depan Nabi dan menegurnya secara langsung. Akan tetapi, Nabi Muhammad justru melarang Abu Bakar untuk memarahi putrinya dan berpesan:
" Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya di antara orang mukmin yang paling mulia adalah yang paling baik akhlaknya dan paling lembut kepada keluarganya (istrinya) di antara kalianâ. (H.R. Tirmudzi)" .
Baik Emran maupun Annisa , keduanya tampak menyimak dengan baik apa yang di sampaikan sang Abi, meski dalam kondisi yang masih lemah.
"InshaAllah Abi, saya akan berusaha menjadi imam yang baik bagi Annisa" ujar Emran, Dan di balas dengan senyuman oleh Abi.
Sementara itu Annisa tampak menundukkan wajahnya, Annisa merasa begitu bersyukur, setelah semua kejadian yang menimpa rumah tangganya dan juga keluarganya, Allah masih menganugerahkan cinta. Hingga dengan begitu mudah Abi dan saudaranya memaafkan kekhilafan sang suami.
__ADS_1
***