
...Mencintaimu serupa Air laut, Pasang sudut akan selalu ada, Namun air laut tidak pernah berubah rasa....
...🍁...
Jujur Annisa masih tidak kuasa menahan rasa malu nya. Annisa memilih Menundukkan wajahnya daripada harus melihat Emran yang sedari tadi terus menatapnya dengan tatapan yang tidak dapat Annisa Artikan.
Menyadari perubahan sikap Annisa, Emran pun menggeser posisi duduknya, mengikis jarak diantara keduanya, semakin mendekat pada Annisa yang terlihat mulai canggung dengan keberadaan Emran.
"Kita masih memiliki banyak waktu untuk hal itu"
Ucap Emran dengan menatap sekilas Annisa yang duduk di sampingnya.
"Aku tahu itu"
Mendengar hal itu Emran hanya menautkan kedua alisnya. Reaksi datar dari Annisa, sungguh diluar dugaan Erman yang sempat mengira jika Annisa akan tersipu malu.
"Ya aku sadar diri Mas , dan maaf jika sebelumnya aku terlalu percaya diri" ucap Annisa lirih, dengan wajah yang semakin menunduk.
Emran sadar, nyatanya sikapnya cukup membuat Annisa tidak hanya malu namun juga begitu Insecure.
Sejenak Annisa berfikir dengan ucapan Sania tempo hari, dimana dia dengan lantang mengatakan jika Annisa tak ubahnya sebagai pengasuh Yasmine.
Dan kalimat Annisa yang baru saja Emran dengar, ternyata cukup menjadi sebuah pukulan bagi Emran , karena nyatanya Annisa menanggapinya dengan begitu serius. Emran menyadari satu hal dengan perubahan sikap Annisa, dimana Annisa begitu terluka dengan sikapnya.
"Maafkan Aku tapi--"
"Cukup mas !"
"Aku cukup tahu , mungkin benar jika alasan kita bersama Adalah hanya karena Yasmine semata"
Ucap Annisa dengan beranjak bangkit dari duduknya. Sungguh saat itu Annisa merasa sudut matanya mulai menghangat, dan Annisa tidak ingin membiarkan Emran mengasihani dirinya.
Namun gerakan Annisa nyatanya kalah cepat dengan Emran yang telah lebih dulu meraih pergelangan tangan Annisa.
Hingga tanpa di sadari Annisa terjerembab dalam pangkuan Emran.
Deg.
Dalam posisi sangat intim Annisa merasakan getaran di dadanya begitu tidak dapat di kendalikan. Sementara Emran telah mengunci tubuhnya dengan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Annisa.
Cup.
Sebuah kecupan mendarat begitu saja di bibir ranum yang selalu membuatnya penasaran.
Annisa begitu terkejut dengan gerakan Emran, bahkan Annisa hanya dapat membulatkan kedua matanya, tak percaya jika Emran akan melakukan hal itu. Kecupan yang begitu singkat namun terasa begitu hangat di bibir Annisa.
Melihat reaksi Annisa yang hanya diam dan seolah bingung, Emran kembali dengan berani meraih tengkuk Annisa dengan satu tangan telah melingkar di pinggang ramping Annisa.
Cup.
Untuk yang kedua kalinya Emran mendaratkan lagi kecupan, namun kali ini terasa berbeda, karena Emran melakukan tautan dengan lebih menuntut, melu mat bibir ranum Annisa, Menyesap, hingga menimbulkan irama decakan yang begitu menggelora.
__ADS_1
Annisa masih begitu pasif, menyadari hal itu terpaksa Emran memberikan gigitan kecil di bibir Annisa, hingga Annisa membuka mulutnya, Annisa pun mulai terbuai dengan Gerakan lembut bibir Emran yang menyusuri setiap rongga mulutnya. Terasa begitu lembut dan sangat Nikmat bagi Annisa yang merupakan pengalaman pertama nya.
Meski tidak mahir layaknya Emran, namun Annisa mulai berusaha membalas ***** An Emran, dan tentunya hal itu membuat Emran merasa terkejut sekaligus bahagia, Tidak percaya jika Annisa akan merespon dan belajar secepat itu.
Keduanya saling melepaskan tautan ketika merasa pasokan oksigen telah berkurang, Hingga nafas terasa tersengal.
Menyadari apa yang baru saja keduanya lakukan, tawa kecil pun menghiasi bibir keduanya.
"Maafkan sikap ku sebelumnya Annisa" ucap Emran semakin mengeratkan tubuh Annisa dengan tubuhnya. Mendekap erat tubuh ramping Annisa dalam pelukannya.
Dan ini juga merupakan Pelukan pertama yang Emran berani lakukan pada sang istri, dan hal ini juga tentunya merupakan pengalaman pertama bagi Annisa.
Annisa memang masih begitu gamang dengan hal percintaan , terlebih membahas mengenai sentuhan dari lawan jenis.
Menanggapi ucapan Emran sebelumnya, Annisa hanya bergeming, jujur dia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dia lakukan. Dan apakah ini merupakan pembuktian ?, Atau hanya sekedar permintaan maaf karena rasa bersalah Emran.
Jujur Annisa belum dapat mengartikan setiap sentuhan yang Emran lakukan, meski tidak di pungkiri jika Annisa pun juga sangat menikmati.
Dari Kejadian beberapa saat lalu, Emran menyadari satu hal, jika Annisa nyatanya telah mulai menaruh hati padanya. Dan tentunya hal itu baik bagi Emran.
"Maafkan Aku Annisa" ucap Emran dengan mengulangi ucapannya.
"Bisakah kita tidak membahasnya lagi" Ucap Annisa lirih.
"Tidak !" Tolak Emran . Mendengar hal itu Annisa hanya menautkan kedua alisnya.
"Aku ingin meluruskan kesalahpahaman ini"
"Maafkan aku telah menyakiti hatimu" lagi dan lagi Emran mengatakan kata maaf pada Annisa.
Cup.
Kali ini Emran yang begitu di buat kaget, bagaiman tidak, tanpa aba-aba dan permisi sebelumnya, Annisa mendaratkan sebuah kecupan di bibirnya. Bahkan Emran sampai menyentuh bibir bagian bawahnya, Memastikan apakah kecupan sebelumnya adalah sesuatu yang nyata, tidak percaya dengan Annisa yang berani melakukanya, namun hal itu nyata karena Emran begitu merasakan kecupan singkat dari Annisa.
"Kau " Panggil Emran tak percaya.
Sementara itu Annisa hanya tersipu malu dengan reflek yang dia lakukan pada sang suami.
"Itu hukuman untukmu , karena terlalu sering mengucapkan maaf" Spontan Annisa untuk mengurai rasa malunya.
"Jika begitu, aku rela jika harus selalu di hukum olehmu" ucap Emran dengan senyum smirk.
Bukan berkurang rasa malu dalam diri Annisa terhadap Emran, nyatanya kini justru Annisa yang kembali di buat telak dengan ucapan Emran.
Mendapati Reaksi Emran yang begitu menjengkelkan, Annisa hanya menghela nafas panjang.
Tanpa terasa Waktu menunjukan pukul 01.45 hampir dini hari keduanya masih saling terjaga.
Sejenak tatapan keduanya beradu mesra. Tatapan yang begitu mendalam.
"Annisa" panggil Emran dengan menatap lekat wajah sang istri.
__ADS_1
"Em"
"Bolehkan Aku mencintaimu ?"
Mendengar ucapan Emran, jujur Annisa begitu tersipu , Rona wajahnya kini sudah bersemu merah, Annisa merasa hatinya begitu bahagia, hingga dia tak lagi mampu berkata-kata. Lagi-lagi suasana terasa begitu emosional, tanpa di sadari sudut mata Annisa mulai menghangat.
Tes
Sebuah Cairan bening menetes begitu saja melalui sudut mata Annisa.
"Hey !. Kenapa kau menangis ?"
"Apa aku menyakitimu ?"
Tanya Emran dengan wajah panik nya. Sementara itu Annisa hanya menggelengkan kepala.
Annisa berusaha menyeka air mata nya yang terus membanjiri pipi.
"Aku sangat bahagia mas" lirih Annisa dengan suara terisak.
Menyadari hal itu Emran hanya tersenyum simpul , dan kembali meraih tubuh Annisa dalam pelukannya.
"Aku akan sangat bahagia jika memang itu adalah airmata tanda Bahagia, aku berharap aku akan selalu mengukir bahagia di hatimu" ucap Emran dengan begitu tulus.
Annisa menganggukkan kepala sebagai jawaban atas pernyataan yang Emran utarakan.
Sejenak suasana terasa begitu hangat.
"Annisa"
"Ya mas " jawabnya lirih
"Jika aku meminta lebih apakah kau akan mengizinkan nya ?"
Deg.
Kembali jantung Annisa terasa berdetak lebih kencang dari sebelumnya. Kedua bola matanya membulat sempurna, Annisa pun jelas tahu apa yang saat ini di maksut oleh sang suami.
"Apakan maksutnya ini tentang meminta hak Mas Emran atas diri Annisa ?" lirih Annisa dengan menundukkan wajahnya.
Begitu cepat Annisa memahami ucapan dan maksud perkataan Emran. Emran pun lantas menganggukkan kepala, Membenarkan ucapan Annisa.
Gleg.
Tidak ada jawaban, Annisa hanya kembali harus menelan salivanya.
"Tapi jika kau belum siap aku tidak akan memaksa" ucap Emran menyadari perubahan wajah Annisa
Rasa gugup Annisa begitu tergambar jelas di mata Emran, bukan apa-apa , karena ini memang sesuatu yang baru dan pertama Annisa rasakan.
***
__ADS_1