
...Mau di benci atau di Cintai , yang terpenting adalah tetap menjadi diri sendiri ...
...🍁...
Jujur Berat bagi Sania untuk bergegas meninggalkan Ruang kerja Emran, namun dia tidak cukup memiliki alasan untuk tetap bertahan, terlebih di ruangan tersebut ada Annisa.
Sania pun dengan penuh kekecewaan beranjak meninggalkan ruang kerja Emran, terlihat hentakan kaki Sania yang begitu tidak menyukai dengan situasi tersebut.
Setelah kepergian Sania, suasana ruangan terasa begitu hening, terlebih Annisa hanya diam dan tidak memberikan tanggapan apapun.
"Maafkan aku Annisa"
Mendengar hal itu Annisa pun hanya tersenyum "Kau tidak salah mas, jadi tidak perlu meminta maaf" ucap Annisa dengan lembut.
"Kau tidak marah ?"
"Untuk apa mas Annisa marah" ucap annisa kembali dengan mengulas senyum dari balik cadar yang dia kenakan.
Menyadari hal itu Emran begitu tenang, dan seketika memeluk sang istri dengan begitu erat.
"Mas"
"Em"
"Masih di kantor "
Emran pun hanya tersenyum mendengar ucapan sang istri "Baiklah kalau begitu kita lanjutkan di rumah" goda Emran dengan berbisik
Annisa pun tersenyum malu mendengar ucapan sang suami, hingga dia hanya dapat menundukkan wajahnya.
***
Siang telah berganti malam, tiba saat nya makan malam keluarga kecil Emran. Seperti biasa Annisa akan dengan sigap menyuapi Yasmine, sementara dua pengasuh Yasmine dan beberapa pelayan lain bergiliran untuk juga melaksanakan makan malam.
Emran begitu menikmati makan malam yang lagi-lagi khusus Annisa masak untuk dirinya dan juga penghuni rumah lainya.
Tak tak tak
Makan malam yang sebelumnya khidmat dan terasa nikmat harus terhenti karena suara berisik Heels Sania yang seketika memecah keheningan ruang makan tersebut.
"Maaf tuan saya sudah mencegah, namun Nona Sania memaksa" ucap seorang pengawal yang berjaga di bagian luar.
__ADS_1
Menyadari hal itu Emran pun menganggukkan kepala, dan meminta penjaga kembali berjaga di luar rumah.
Emran tidak lagi terkejut dengan kedatangan Sania, namun Annisa dan Yasmine begitu terkejut dengan kedatangan Sania di waktu malam-malam seperti ini.
"Apakah Yasmine sudah kenyang ?" tanya Emran dengan suara lembut.
"Sudah dad" jawab Yasmine dengan menganggukkan kepala.
"Baiklah, kalau begitu Yasmine sama mba asih dulu ya, sikat gigi, cuci tangan dan cuci kaki, lalu tidur" titah Emran memberi perintah pada sang putri dan tentunya pada dua pengasuh Yasmine.
"Okay dad"
Setelah mendapatkan perintah dari majikanya, dua pengasuh Yasmine pun membawa Yasmine keluar dari ruang makan.
Tersisa Annisa, Emran dan tentunya Sania yang masih setia berdiri di hadapan keduanya dengan berkacak pinggang.
Ada yang aneh dengan Sania saat ini, tidak seperti Sania yang Annisa lihat siang tadi, Sania yang penuh kemanjaan pada sang suami, namun saat ini Sania terlihat menyimpan amarah yang siap untuk dia ledakkan.
"Ada apa ?" tanya Emran dengan tangan yang masih sibuk pada sendok dan garpu.
Sementara Annisa telah menyimpan sendok dan garpu nya diatas piring kembali, Namun Annisa hanya terdiam diantara ketegangan yang terjadi antara sang suami dengan Sania saat ini.
Sania yang tidak suka diabaikan oleh Emran pun memilih segera duduk di depan Emran.
Mendengar hal itu Emran pun mendongakkan wajahnya, menatap tajam pada Sania yang kini duduk di hadapannya.
"Kenapa kau memutuskan kontrak denganku tanpa memberitahuku sebelumnya ?"
Emran pun tersenyum kecil mendengar ucapan Sania yang baru saja.
"Bagaimana bisa kau melakukan ini padaku ?" rengek Sania dengan begitu sedih
Namun bukan mengiba, Emran justru kembali menikmati makan malamnya, sementara Annisa hanya dapat melihat tanpa berani mengatakan apapun.
"Kenapa sejak perempuan ini hadir, sikapmu padaku berubah Emran ?, kenapa ?" rengek Sania dengan linangan air mata yang telah membanjiri wajahnya.
Namun lagi-lagi Emran hanya bergeming, namun kali ini Emran telah menyimpan sendok dan garpu nya, menatap lekat Sania. "Em. jadi kau datang kemari dan mengganggu makan malam ku hanya karena hal itu ?"
"Dan lagi mengenai kontrak kerjasama, seharusnya kau tidak menanyakan padaku, tanyakan saja pada dewan direksi, mungkin saja kerjamu tidak profesional, hingga mereka harus menggantimu dengan yang lain" ucap Emran dingin dengan mengelap bibirnya yang basah oleh minyak sebelumnya.
Mendengar hal itu Sania hanya dapat terdiam.
__ADS_1
"Tapi tidak seharusnya kau menyetujui hal itu" elak Sania dengan begitu lantang.
"Kenapa tidak, aku sebagai atasan mereka juga harus mendengar setiap masukan dari dewan direksi"
"Dan benar saja, nyatanya mereka ingin membuat suasana baru, mengganti mu dengan model baru, dan aku pikir itu tidak masalah" Ucap Emran dengan begitu enteng.
Sania begitu kesal dengan ucapan Emran, dia merasa Emran benar-benar tidak lagi memperdulikan dirinya.
"Tapi aku tidak terima !"
"Silahkan !. Tidak masalah kau tidak terima, lagi pula perusahaan telah memenuhi semua point' dalam kontrak kerja kita"
Mendengar hal itu lagi dan lagi Sania tidak dapat berkutik, Sania begitu dibuat telak oleh ucapan Emran. Jujur Sania ingin melakukan tuntutan, namun mengingat kembali, memang perusahaan telah memenuhi semua janji selama kontrak kerja, hingga Sania hanya dapat terdiam dan menerima semua meski dengan berat hati.
Kembali Sania harus menelan pil pahit, dirinya tidak hanya kehilangan Emran, namun juga saat ini Sania harus kehilangan kontraknya bersama perusahaan Emran group.
Sania pergi meninggalkan ruang makan dengan begitu kecewa, hentakan kaki yang terdengar jelas di telinga menandakan betapa dirinya teramat sangat marah.
Sementara itu Annisa hanya dapat menatap kepergian Sania yang semakin menghilang di balik pintu.
"Hei kau kenapa ?" panggil Emran pada Annisa yang terlihat bengong setelah kepergian Sania sebelumnya.
"Oh. maaf mas"
"Ada apa ?. apa yang sedang kau pikirkan?"
"Tidak mas, tidak ada" lirih Annisa dengan menundukkan wajahnya.
"Katakan, aku tahu ada sesuatu yang mengganjal di hatimu" Ucap Emran dengan menatap lekat wajah sang istri.
Menyadari hal itu Annisa pun memberanikan diri untuk mengatakan apa yang dia rasakan.
"Mas, aku merasa posisi Sania saat ini seperti posisi Laura saat itu, dia pasti menganggap aku lah yang menjadi dalang dari semua ini" lirih Annisa dengan mata sendu
Emran kembali mengingat kejadian di masa lalu, dimana dirinya memecat beberapa karyawan saat itu termasuk Laura yang lalu dalam tugasnya dan berlaku culas di dalam kantornya.
"Kau tidak perlu mengingat hal itu, itu terjadi karena kesalahan mereka"
"Tapi mas -- "
"Sudah lah, mereka yang menanam akan menuai hasilnya" sela Emran menghentikan ucapan Annisa, Annisa pun sadar jika Emran adalah tipe orang yang tidak suka di bantah. Namun Annisa merasa hal ini sangat mengganggu pikirannya.
__ADS_1
Untuk sesaat Annisa terdiam dan mendengar apa yang Emran ingin lakukan, meski Annisa merasa tidak begitu setuju dengan sikap sang suami.
***