
...Kepanikan Adalah separuh penyakit, Ketenangan Adalah separuh obat, Dan kesabaran adalah permulaan kesembuhan ...
...Ibnu Sina RA. ...
...🍁...
Annisa hanya orang asing bagi Emran yang mungkin memanfaatkan sang putri untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, nyatanya hal itu tidak terbukti.
Justru saat ini mungkin Emran yang sangat ingin bersama dengan Annisa.
Beberapa saat kemudian Emran telah selesai dengan ritual membersihkan diri, hari ini merupakan hari yang tidak biasa bagi Emran.
Mungkin sepanjang sejarah dia bergelut dalam dunia bisnis ini lah kali pertama bagi Emran , dimana dirinya pulang ketika matahari masih terik.
Karena melihat Annisa yang juga tengah tidur, Emran memilih untuk tidak mengganggu Annisa, dan membiarkannya beristirahat bersama sang putri.
Sementara Emran memilih untuk Menyibukkan diri melanjutkan pekerjaannya yang tertunda di ruang kerja nya.
***
Merasakan sebuah usapan lembut dari tangan kecil yang terasa begitu halus membuat Annisa terbangun, saat itu waktu menunjukkan pukul 15.23.
"Sayang, Kau sudah bangun ?" tanya Annisa dengan suara serak.
"Iya Mommy" ucap Yasmine
Annisa kembali memeluk Yasmine dan memberikan usapan lembut di puncak kepala gadis kecil tersebut.
"Mommy sedih ?" tanya Yasmine seolah mengetahui isi hati Annisa.
Sementara Annisa yang mendengar pertanyaan Yasmine hanya tersenyum simpul "tidak sayang, Mommy tidak sedang sedih" ucapnya kemudian.
"Yasmine mau mandi ?" tanya Annisa . dan di jawab dengan anggukan kepala oleh Yasmine.
Annisa pun menggendong Yasmine dalam dekapannya, keduanya berjalan menuju kamar mandi, Annisa memandikan Yasmine dengan penuh kelembutan, tidak jarang mereka saling bercanda, dan sesekali perang air pun di lakukan. Hingga baju Annisa basah oleh air yang di gunakan untuk mandi Yasmine.
"Yee.. Mommy kalah" ucap Yasmine bangga
"Ahhh iya Mommy kalah " jawab Annisa
Beberapa saat kemudian akhirnya Annisa telah menyelesaikan tugasnya, meski dengan drama pernah air bersama Yasmine.
__ADS_1
"Selesai" ucap Annisa dengan melilitkan handuk di badan Yasmine.
Annisa kemudian mengangkat tubuh kecil Yasmine dan mengganti pakaian nya dengan pakaian yang harus, sementara pengasuh Yasmine baru saja masuk setelah mendengar keributan dari dalam kamar nona kecilnya.
Dua pengasuh Yasmine begitu bahagia melihat keceriaan Yasmine dan Annisa, semenjak kedatangan Annisa, rumah tersebut seolah menemukan nyawanya kembali, tidak seperti dulu yang hanya bagaikan tempat transit para pemiliknya.
"Emm Mba " ucap Annisa
"Ya Nyonya" jawab Asih sopan.
"Tolong mba Asih ganti kan baju Yasmine, setelah itu tolong Yasmine di suapi"
"Baik Nyonya, Nyonya juga harus segera berganti pakaian, jika tidak Nyonya bisa sakit" khawatir Asih pada Annisa.
"Iya mba" ucap Annisa dengan mengulas senyum simpul.
Sementara Yasmine telah ada yang menghandle, Annisa memilih untuk kembali ke kamar, segera mandi dan mengganti pakaiannya, karena saat ini juga sudah waktunya untuk dia untuk bersiap melaksanakan sholat.
Ceklek.
Annisa masuk kedalam kamar tanpa mengetuk sebelumnya, kemudian melongok kan kepalanya di pintu kamar, memastikan adakah Emran disana, dan nyatanya Annisa tidak menemukan sosok Emran berada di sana.
Annisa berjalan pelan, dengan mengendap-endap, sudah seperti kucing yang kedapatan mencuri makanan di rumah majikanya.
Bergegas menuju kamar mandi, Annisa merasa jiwa dan raga serta otaknya belum dapat menyatu, dia memilih untuk berendam sesaat , sembari merelaksasi tubuhnya yang terasa lelah.
Berendam dalam air hangat nyatanya mampu membuat Annisa merasa tenang dan nyaman, hingga tanpa terasa Annisa kembali memejamkan matanya.
Mungkin Annisa berfikir Emran tidak mengetahui dirinya yang tiba-tiba masuk kedalam kamar, namun nyatanya semua aktifitas Annisa kini selalu di pantau oleh Emran, bukan ingin menjadi penguntit, namun entah mengapa sesuatu yang berkaitan dengan Annisa saat ini begitu menyenangkan untuk dia ketahui.
Emran sejenak mengerutkan kedua alisnya, menampakkan guratan-guratan halus disana. Mengingat kembali terakhir kali dia melihat Annisa berada di dalam kamar, kemudian dia masuk kedalam kamar mandi setelahnya, namun hingga saat ini Emran belum melihat Annisa keluar dari kamar mandi tersebut.
Emran merasa sedikit khawatir dengan hal itu. "Kenapa dia lama sekaki" gumam Emran lirih dengan pandangan fokus pada layar pipih yang terkoneksi dengan CCTV di seluruh rumah nya.
Benar Emran tidak sedetikpun memalingkan pandanganya dari layar pipih yang dia pegang, namun memang dia belum menemukan Annisa keluar dari kamar mandi.
"Sedang apa dia, kenapa lama sekali" gumam Emran khawatir
"Apa aku perlu menyusulnya ?"
"Dia tidak mungkin bunuh diri bukan ?"
__ADS_1
"Apa masalah tadi begitu menyakitkan , hingga dia harus melakukan ---" gumam Emran, dan kini otak nya telah di penuhi berbagai macam pertanyaan yang seolah menuntut jawaban.
"Ahh tidak , tidak mungkin dia melakukan hal itu"
Emran semakin gusar memikirkan sedang apa Annisa berada di dalam kamar mandi dalam waktu selama itu.
"Bagaimana ini, apa aku perlu menyusulnya ke kamar mandi ?" Gumam Emran
Kini Emran telah bangkit dari duduknya, berjalan mondar mandir di dalam ruang kerja nya, masih dengan perasaan yang entah seperti apa.
"Astaga kenapa dia tidak juga keluar" gumam Emran yang semakin merasa khawatir.
Beberapa kali memperhatikan layar pipih yang ada dalam genggamannya, namun tidak juga ada tanda-tanda pintu tersebut terbuka.
Emran pun berjalan cepat menuju kamar nya yang hanya berbatas dengan dinding kaca, sehingga hanya butuh waktu beberapa detik saja Emran telah berada di kamar tersebut.
Berjalan mendekati pintu kamar mandi Emran berencana mengetuk pintu tersebut, namun dia ragu jangan-jangan Justru nanti dia akan mengganggu Annisa, namun bagi Emran Annisa sudah cukup lama berada di kamar mandi.
"Aahh Kenapa dia membuatku gila" ucap Emran kesal namun juga khawatir
Sudah tidak lagi memiliki kesabaran, Akhirnya Emran memilih membuka handle pintu kamar mandi, dan benar saja pintu tersebut tidak di kunci, sehingga mudah bagi Emran untuk masuk kedalam.
Emran yang merasa khawatir segera mencari keberadaan Annisa, Menyibak tirai bathtub, Emran sedikit di buat terkejut dengan Annisa yang tergeletak di dalam bathtub tanpa sehelai kain menempel di tubuhnya.
Mata yang terpejam , terlihat begitu teduh dengan kulit yang basah oleh air, Hal itu menjadi pemandangan pertama bagi Emran, dan tentunya sangat menarik.
"Astaga" ucap Emran dengan membulatkan kedua bola matanya.
Bersamaan dengan itu Annisa pun kaget dan membuka mata yang sebelumnya terpejam karena nikmatnya air hangat yang menyentuh kulitnya.
"Aaaa" teriak Annisa yang merasa kaget mendapati Emran telah berada di depannya dan memperhatikannya dengan begitu intens
"Tuan !, Kenapa anda di sini ?" Ketus Annisa dengan memeluk kedua lututnya, menutupi bagian punggungnya dengan rambut panjang nya hingga ke bagian dada. Sementara bagian depan tubuhnya dia tutupi dengan lutut yang semakin erat dia peluk.
Annisa begitu malu dan tidak menyangka hal ini akan terjadi. Dengan erat Annisa memeluk lututnya, Agar Emran tidak lagi melihat asetnya yang begitu berharga.
Kini Emran hanya dapat melihat bagian punggung Annisa yang begitu putih dan mulus di balik sela-sela rambut panjang Annisa, yang menutupinya.
"Maaf , Maafkan aku, aku pikir kau kenapa kenapa, lagi pula untuk apa kau berada di kamar mandi begitu lama ?" ketus Emran juga yang merasa kesal. Mendapati Annisa nyatanya hanya tidur di bathtub.
***
__ADS_1