
...Singa tidak akan pernah Memakan Rumput walaupun dia sangat lapar....
...Begitulah Seharusnya Prinsip...
...🍁...
Annisa yang merasa tidak lagi memiliki urusan dengan Zyan memilih untuk segera membereskan barang-barangnya dan berniat segera pergi dari tempat tersebut.
Namun nyatanya gerakan Annisa kalah cepat dengan Zyan yang langsung meraih pergelangan tangannya.
"Astaghfirullah" ucap Annisa dengan mengibaskan tangannya
"Aku hanya ingin bicara denganmu saja Annisa, tidak lebih"
"Maaf mas, sepertinya sudah tidak ada lagi yang perlu di bicarakan diantara kita"
"Annisa , Tapi ini sangat penting !" Ucap Zyan dengan nada penuh penekanan.
"Maaf mas tapi Annisa tidak bisa, Annisa permisi Assalamualaikum " ucap Annisa dengan suara bergetar.
Jujur Annisa sangat tidak menginginkan berada dalam situasi seperti itu, terlebih sikap Zyan yang seolah tanpa batasan, padahal Zyan jelas tahu jika Annisa telah bersuami.
Annisa berlari kecil meninggalkan tempat tersebut, meninggalkan antrian yang hanya tinggal beberapa nomor saja, Annisa memilih segera kembali ke rumah dan akan mengurusnya kembali esok.
"Sayang kita pulang sekarang yuk" Ajak Annisa dengan nafas terengah.
Yasmine sedikit bingung dengan kedatangan Annisa yang tiba-tiba dan seolah Annisa tengah menghindari sesuatu.
"Mommy Are you okay?"
"Mommy baik-baik saja sayang, kita pulang sekarang ya" pinta Annisa lagi dengan membereskan sisa makanan yang sebelumnya masih di makan oleh Yasmine.
Meski juga merasa heran dengan sikap Annisa, namun dia pengasuh Yasmine pun menurut saja, dan membantu Annisa membereskan barang-barang yang dibawa sebelumnya.
Setelah semua rapi dan bersih, Annisa kembali meraih tubuh Yasmine dan mendekapnya dalam gendongan, berjalan menyusuri lorong kampus menuju parkiran, disusul oleh dua pengasuh Yasmine yang juga berjalan di belakang Annisa.
Sampai detik ini Annisa masih memilih untuk diam, meski Yasmin menatap penuh keheranan, begitu juga dua pengasuh Yasmin yang juga penasaran.
***
Menempuh perjalanan. beberapa saat akhirnya mobil telah terparkir rapi di kediaman Emran.
"Mommy sakit ?, kenapa Mommy ketakutan, atau ada orang yang jahat dengan Mommy?"
"Tidak sayang, mungkin Mommy hanya lelah" ucap Annisa, dan yang pasti itu bukan sebuah kejujuran. Yasmine pun menjawab dengan anggukan kepala.
Setelah tiba di rumah, Annisa menyerahkan Yasmine pada dua pengasuhnya, untuk makan siang dan tidur siang, karena sore nanti Annisa telah berjanji untuk membawa Yasmin berjalan-jalan.
Sementara itu Annisa memilih kembali ke kamarnya, menghilangkan penat di pikiran dan hatinya.
__ADS_1
Sungguh pertemuannya dengan Zyan merupakan sesuatu yang sangat tidak Annisa inginkan, dan berusaha Annisa hindari. Namun sepertinya tidak dengan Zyan, yang masih mencoba untuk mengejar Annisa.
Waktu Sholat Dzuhur pun telah tiba, Annisa yang baru saja tiba di kamar, memilih segera mengambil wudhu dan melaksanakan sholat
Selain melaksanakan kewajiban, dalam sholat juga Annisa mendapatkan ketenangan. Annisa ingat betul dimana Abi nya selalu berpesan untuk menjaga Sholat.
Ada suatu masa ketika seseorang dihadapkan pada problem hidup yang dia rasa berat dan sulit. Pada titik tertentu, problem itu membuat pikiran dan jiwanya tertekan, depresi, dan stres. Situasi terkadang menjadi lebih buruk dan berbahaya bagi diri sendiri dan orang lain.
Dalam hadis disebutkan, jika Nabi SAW tertimpa suatu masalah yang berat, maka beliau segera mengerjakan shalat (HR Abu Dawud).
Nabi SAW disebutkan juga kerap kali menyuruh sahabatnya, Bilal bin Rabah, untuk mengumandangkan azan shalat ketika Beliau merasa telah terlalu tersibukkan dengan urusan duniawi sehingga membuat Beliau letih, “Wahai Bilal, berdirilah, lantunkan azan dan istirahatkanlah kita dengan shalat.” (HR Abu Dawud). Dalam hadis lain, Nabi SAW mengatakan, “Sesungguhnya shalat dijadikan untukku sebagai penenang hati.” (HR an-Nasa’i).
Shalat dapat menenangkan hati, pikiran, dan jiwa yang gundah juga fisik yang letih akibat tenaga terlalu banyak diforsir. Sebab, dalam shalat, seseorang sejatinya tengah menghadap Allah SWT, meninggalkan sejenak kesibukan duniawi untuk memberikan kesempatan bagi rohani atau jiwanya untuk berkomunikasi dengan-Nya.
Shalat adalah ibadah yang berisi zikir (mengingat Allah) dan doa kepada Allah SWT. Shalat secara bahasa artinya doa. Dalam Alquran, zikir disebutkan dapat membuat hati menjadi tenang, “Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS ar-Ra’d [13]: 28).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
وَجُعِلَتْ قُرَّةَ عَيْنٍ فِيْ الصَّلَاةِ
“dan telah dijadikan penghibur (penghias) hatiku (kebahagiaanku) pada shalat.” (HR. An-Nasai [7/61].
Begitu khidmat dan khusyuk Annisa melaksanakan sholat, hingga tanpa di sadari Emran telah berada tepat di belakangnya.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokathu"
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokathu"
Annisa masih belum sadar jika kini di kamar tersebut dia tidak lagi sendiri. Ada Emran yang sedari tadi telah mengamati Annisa.
Hingga beberapa saat Annisa larut dalam dzikir dan doa, Annisa merasa sebuah tangan yang tiba-tiba melingkar di pinggang hingga ke perutnya, diiringi dada yang menempel pada punggungnya.
"Assalamualaikum Istriku" Sapa Emran dengan suara begitu lembut.
Mendengar hal itu Annisa pun tersenyum "Waalaikumsalam Suamiku"
"Apa urusanmu sudah selesai, kenapa kau sudah di rumah?"
Annisa sedikit terkejut dengan Emran yang menanyakan hal itu.
"Belum mas "
"Lalu ?"
Annisa sedikit bimbang untuk mengatakan jika baru saja dia bertemu dengan Zyan.
"Mas ?"
"Em"
__ADS_1
"Annisa mau bicara"
"Katakan saja sayang"
"Annisa tadi bertemu dengan Mas Zyan" ucap Annisa dengan memelankan suaranya. Namun berbeda dengan Emran , yang mendeng hal itu Emran seolah tidak terkejut.
"Aku tahu"
"Mas, Tidak marah ?"
"Untuk apa aku marah, Aku mempercayaimu " ucap Emran dengan mendekatkan bibirnya di belakang telinga sang istri.
Sensasi geli membuat Annisa beringsut, sementara itu Annisa hanya tersenyum dengan jawaban Emran, dan merasa lega, karena nyatanya Emran cukup dewasa sesuai usianya.
"Sayang" Ucap Emran dengan senyum smirk
"Em"
"Aku juga ingin mengatakan sesuatu"
"Katakan saja mas"
"Aku menginginkanmu" ucap Emran dengan senyum menggoda.
Mendengar permintaan sang suami, Annisa jelas tahu apa yang kini tengah di bicarakan, dan tentunya apa yang menjadi keinginan Emran saat ini.
"Mas ! . Ini masih siang"
"Tidak jadi masalah sayang"
"Mas !. Annisa malu " ucap Annisa dengan menundukkan kepalanya. Jujur saat ini wajah Annisa pun telah bersemu merah.
"Mau dengan siapa, Disini hanya ada aku dan kamu Annisa"
"Tapi di luar banyak pelayan, dan tentunya Yasmine yang bisa kapan saja mencari kita mas !" ucap Annisa dengan begitu lembut.
"Aku sudah mengirim mereka ke Mall, Mereka akan berjalan-jalan dan berbelanja sepuasnya, Tentunya juga bersama putri kita sayang" goda Emran dengan suaranya yang manja.
"Astaghfirullah. Mas !. Kenapa bisa begitu ?"
"Kenapa tidak ?. Semua bisa kulakukan sayang" ucap Emran dengan begitu santai
"Mas !, Tapi Kan--"
"Suuuttt" ucap Emran dengan membekap mulut Annisa.
"Aku tidak ingin ada yang mengganggu kita sayang" lirih Emran penuh damba.
***
__ADS_1