HIJRAH CINTA ANNISA

HIJRAH CINTA ANNISA
51. Kedatangan Orang Baru


__ADS_3

...Manusia Tidak akan pernah merasa cukup, Selalu Menginginkan sesuatu lebih dan lebih, Sebelum ia benar-benar tahu bagaimana Nikmatnya Syukur...


...🍁...


Mobil melaju dengan kecepatan sedang membawa Emran menuju Kantor miliknya. Perusahaan yang telah dirintis oleh kedua orang tuanya, dan kemudian dia kembangkan bersama mendiang istri nya terdahulu.


Mendiang Istri Emran adalah sosok yang sangat sederhana, mungkin jika di gambarkan karakternya hampir sama dengan Annisa, hanya saja Mendiang istri Emran tidak mengenakan hijab apa lagi cadar seperti Annisa, dan juga Tidak begitu paham agama sama halnya dengan Emran.


Emran berjalan dengan langkah panjang disusul Amir yang berdiri tepat di belakangnya, Keduanya begitu di hormati dan di kagumi oleh para karyawan di perusahaan tersebut.


Sapaan demi sapaan Emran dapatkan dari para karyawan nya, namun meski begitu Emran hanya bereaksi datar. Hanya Amir yang menyambut hal itu dengan anggukan kepala.


Tak sedikit juga para karyawan wanita yang menaruh hati pada sosok Emran Al -Fatih, meski kebanyakan mereka tahu jika Emran telah memiliki seorang putri.


Namun siapa yang akan menolak pesona duda kaya tersebut, meski memiliki anak, nyatanya Tidak menyurutkan semangat para kaum hawa untuk mendekatinya.


Namun kebanyakan karyawan Emran sadar diri, karena Emran sendiri tidak sedikit yang mendekati dari kalangan sesama pengusaha, bahkan artis dan juga model.


Hening.


Keduanya melangkah menuju Lift khusus untuk petinggi dan Presdir perusahaan tersebut. Sebuah lift yang di buat khusus dengan smart card.


Beberapa saat Emran telah berdiri tepat di depan pintu ruang kerjanya.


"Selamat pagi tuan " Ucap sekertaris Emran menyambut kedatanganya.


"Em" jawab Emran singkat


"Maaf tuan, Di dalam ruangan tuan Emran ada nona Sania"


Emran tampak menautkan kedua alisnya. Seolah menanyakan kebenaran dari ucapan sang sekertaris


"Maaf tuan saya sudah meminta Nona Sania menunggu, namun dia Bersi kukuh untuk masuk kedalam" ucap sekertaris Emran dengan menundukkan wajah karena takut.


"Maaf kan saya tuan !"


Emran hanya bergeming, dan kemudian melangkah masuk kedalam ruang kerjanya di susul oleh Amir yang juga masuk kedalam ruang kerja sang bos besar.


Benar saja disana terlihat sosok wanita cantik dan begitu anggun tengah menanti kedatangan Emran. Seorang model sekaligus rekan bisnis Emran.

__ADS_1


"Adakah yang ingin kau bicarakan, hingga kau harus menemui ku sepagi ini?" tanya Emran dengan wajah dingin.


"Sayang, Apa aku harus memberi kabar jika akan menemu i mu" ucap Sania dengan bermanja-manja di lengan Emran.


Emran mengibaskan tangannya, memberi isyarat pada Amir untuk meninggalkan ruangan nya. Menyisakan Emran dan Sania yang berada di ruangan tersebut.


Hening.


Keduanya kini duduk saling berhadapan, dengan meja kerja Emran sebagai pembatas.


"Sania !. Sudah ku katakan jika hubungan kita sudah selesai, jadi jangan pernah menemui ku lagi" Tegas Emran dengan suara dingin, tanpa basa-basi Emran mengatakan nya, karena Emran memang bukan tipe orang yang suka berbelit Belit.


"Kau tidak bisa melakukan itu sayang, aku sangat mencintaimu" kilah Sania dengan memajukan badanya. Sementara Emran tetap pada posisinya bersandar pada kursi kebesaran miliknya.


"Apa kau lupa, apa yang aku pernah katakan" Ucap Emran dingin.


"Aku tidak pernah lupa sayang, hanya saja itu bukan menjadi alasan untuk kau pergi begitu saja meninggalkan ku"


"Apa kau lupa jika kau juga pernah mengatakan jika kau akan menikahi ku ?" Ucap Sania penuh penekanan.


Emran hanya menggelengkan kepala dengan senyum simpul di wajahnya.


Emran pun tersenyum kecil, menatap tidak percaya pada sosok yang tengah duduk di hadapannya. Sengaja dia menekankan setiap kalimatnya, agar Sania tidak mengambil kesempatan dari Emran atas apapun.


"Tapi itu tidak penting sayang" ucap Sania dengan memanyunkan bibirnya.


"Kau salah !. Tentu saja hal itu sangat penting bagiku, Yasmine sangat berarti bagiku" ucap Emran penuh penekanan.


Sania merupakan sahabat dekat atau lebih tepatnya mantan kekasih Emran yang begitu getol mendekati Emran, sejujurnya Emran tidak begitu menyukai Sania. Hanya saja Sania selalu berusaha untuk mendapatkan hati Emran.


Namun Emran tidak ingin membuat Sania terluka karena penolakannya, akhirnya Emran pun memberi syarat pada Sania untuk meluluhkan hati Yasmine sang putri, maka Emran pun akan menerimanya.


Namun nyatanya setelah sekian lama, Sania tidak juga dapat meluluhkan hati sang putri dari Presdir Emran Group, justru Yasmine selalu merasa takut jika bertemu dengan Sania.


"Cih. Kau itu terlalu naif sayang" ucap Sania kesal.


"Terserah. Mungkin aku memang naif , namun Bagiku Yasmine segalanya"


"Dan kebahagiaan Yasmine merupakan yang utama"

__ADS_1


Sania hanya menatap kesal dengan ucapan Emran yang begitu menyakitkan. Terlebih ini bukan kali pertama dia mendapatkan penolakan dari Emran karena alasan putrinya.


"Sudahlah Sania, kau bisa mencari laki-laki lain, terlebih kau memiliki banyak kelebihan" ucap Emran


"Tapi aku hanya menginginkanmu sayang" ucap Sania penuh permohonan.


Jujur Emran memberi kesempatan pada hubungannya dengan Sania hanya karena alasan Yasmine, selebihnya Tidak ada sedikitpun yang membuat Emran tertarik dengan wanita yang tengah sibuk dalam dunia modeling tersebut.


"Apa ini karena kau sudah memiliki pengasuh Yasmine, yang juga telah kau nikahi?" ucap Sania


Emran sedikit terkejut dengan ucapan Sania, pasalnya tidak ada yang mengetahui jika dirinya telah menikah, namun hal itu bukan yang dia takutkan.


Karena bagi Emran orang mengetahui dirinya telah menikah atau belum itu bukan hal yang penting, justru mungkin Emran merasa lebih baik orang mengetahuinya.


"Dia bukan pengasuh Yasmine, Dia ISTRI KU !" ucap Emran dengan begitu serius.


Namun permasalahanya bukan hanya pada pernikahannya dengan Annisa, jika Sania tahu Emran telah menikah, dan Emran hanya mengkhawatirkan Annisa. Mungkin itu yang saat ini tengah ada dalam pikiran Emran.


"Omong-omong Cepat juga kau mendapatkan kabar itu" Ucap Emran dengan senyum simpul.


"Tentu saja ! , aku hanya tidak ingin kau salah memilih Mommy untuk Yasmine"


Mendengar hal itu Emran hanya terkekeh kecil, bukan tanpa sebab hanya saja ucapan Sania begitu terdengar menggelikan di telinga Emran saat ini.


"Lalu apa dengan aku memilihmu itu merupakan pilihan yang benar ?" Sindir Emran.


Sania pun gelagapan mendengar pertanyaan Emran. bukan apa-apa hanya saja Sania jelas tahu jika Yasmine pun tidak pernah menyukai dirinya. Jangankan tersenyum Yasmine akan menangis jika Sania berusaha mendekatinya.


"Sudah lah sania, hubungan kita hanya sebatas rekan kerja saat ini, Tidak lebih !" ucap Emran dengan memainkan jari jemarinya di meja kaca miliknya


"Tidak sayang, aku tidak bisa " Tolak Sania dengan wajah memelas.


"Kau tidak lupa bukan pintu keluar dimana ?" ucap Emran dingin


Sania hanya menatap tidak percaya pada Emran yang begitu banyak berubah setelah dari Indonesia, atau lebih tepatnya setelah Emran menikah dengan Annisa.


Sania pun menghentakkan kakinya kesal dengan tatapan nyalang pada Emran, kemudian berjalan menuju pintu untuk keluar dari ruangan tersebut.


Emran hanya menggelengkan kepala, melihat kepergian Sania yang terlihat begitu kesal, bahkan tidak luput dari pandangan Emran dimana Sania membanting pintu kaca ruangannya.

__ADS_1


***


__ADS_2