HIJRAH CINTA ANNISA

HIJRAH CINTA ANNISA
67. Kemarahan Emran


__ADS_3

...Aku hanya memiliki sedikit CINTA . Sehingga aku tidak bisa membaginya dengan banyak orang ...


...🍁...


Malam semakin larut, keduanya begitu terbawa suasana malam yang begitu dingin namun juga terasa begitu hangat, karena keduanya tengah memberi kehangatan satu sama lain. Sampai pada saat Terdengar dering telepon yang terasa begitu memekakkan telinga.


Awalnya Emran mengabaikan panggilan tersebut, namun Annisa meminta Emran untuk mengangkatnya, karena tidak mungkin akan berulang kali di lakukan jika memang panggilan tersebut bukan merupakan sesuatu yang penting.


Meski dengan berat hati, namun Emran segera meraihnya dan melihat sang pengganggu.


"Halo !"


"Maaf tuan , apa saya menggangu waktu anda ?" ucap Amir dari ujung telepon


"Kalau sudah tahu kenapa bertanya !" Ketus Emran


"Ada sesuatu yang penting dan harus saya segera sampaikan pada tuan !"


"Katakan !"


"Tapi saya sudah di depan, bisakah saya menghadap Tuan ?"


"Tidak bisa kah kau menungguku sampai besok ?"


"Mas " Lirih Annisa pada Emran yang terlihat mulai naik pitam.


Mendengar panggilan Annisa, Emran hanya mendengus dengan menghembuskan nafas kasar.


Tuttt...


Pada akhirnya Emran pun memutus panggilan telepon tersebut. Lagi dan lagi Emran harus mendengus kesal, bagaimana bisa asisten nya tersebut, datang di jam hampir tengah malam seperti ini.


Setelah mendapatkan pengertian dari Annisa akhirnya Emran memutuskan menemui sang asisten.


Keindahan malam yang baru saja akan di mulai harus tertunda begitu saja, hanya karena sang asisten yang sangat menyebalkan bagi Emran saat ini.


***


"Katakan !"


Ucap Emran dengan tatapan dingin pada sang asisten, keduanya kini berada di ruang kerja Emran.


"Begini tuan, proyek pembangunan Rumah sakit yang harusnya selesai dua bulan lagi ternyata harus tertunda karena ada sebuah kendala"


"Seorang pekerja melakukan tuntutan pada perusahaan dengan meminta ganti rugi yang cukup besar"


"Bagaimana bisa begitu ?" tanya Emran dengan menautkan alisnya


"Sepertinya ada yang tidak beres dengan anak perusahaan kita yang ada di barat tuan"


"Bukankah seharusnya gantintugi sudah di berikan saat kecelakaan itu terjadi ?" tanya Emran dengan berang


"Betul tuan, namun setelah saya selidiki, ada yang tidak beres dengan anak perusahaan di barat , terutama dengan direktur pelaksana tuan !"


Ucap Amir dengan begitu serius, sementara Emran pun juga mendengarkan dengan seksama apa yang akan di sampaikan oleh sang asisten.


"Sepertinya ganti rugi yang di berikan oleh perusahaan untuk kejadian kecelakaan kerja saat itu tidak sesuai ketentuan perusahaan tuan, sehingga karyawan tersebut melakukan penuntutan"


"Siapa yang bertanggungjawab atas proyek tersebut?"


"Tuan Hasan lah yang bertanggung jawab terhadap proyek tersebut tuan"


Mendengar ucapan Amir, Emran tampak menganggukkan kepala.

__ADS_1


"Baiklah, siapkan kendaraan, kita akan melakukan peninjauan langsung dan juga menemui karyawan tersebut"


"Baik tuan !"


Bergegas Amir menyiapkan kendaraan yang akan di gunakan keduanya untuk melakukan perjalanan malam.


"Tuan, apa tidak sebaiknya anda berpamitan dengan nyonya?"


Ucap Amir mengingatkan, keduanya kini telah berada dalam mobil, dan siap untuk menempuh perjalanan yang lumayan memakan waktu.


"Tidak perlu, aku akan menghubunginya nanti".


Tujuan keduanya saat ini adalah menyelesaikan masalah dengan karyawan yang melakukan gugatan. Karena mau tidak mau malam ini masalah tersebut harus selesai, baru setelah itu Emran akan mengusut tuntas dan tentunya memberi pelajaran pada dalang dibalik semua kejadian tersebut.


Sementara Annisa yang sedari tadi menunggu Emran , namun waktu hampir menunjukan dini hari , dan Emran tidak juga menampakkan batang hidungnya.


Jujur Annisa sedikit merasa khawatir, hingga dia memutuskan untuk mengecek Emran di ruang kerjanya.


Dan hasilnya nihil , karena memang Emran telah pergi meninggalkan kediamannya sejak beberapa jam yang lalu.


Annisa sejenak berfikir mungkin Emran memang tengah ada urusan dan pekerjaan penting yang memang tidak dapat di tinggalkan.


***


Menempuh perjalanan ber jam-jam lamanya Akhirnya mobil yang di kemudikan Amir pun telah tiba di kediaman karyawan.


Emran yang secara langsung datang dan menyampaikan rasa prihatin dan bersalah atas keteledoran yang di lakukan anak buahnya, juga secara khusu Emran menyampaikan permohonan maafnya.


Setelah menyelesaikan kekacauan yang di timbulkan karena ulah orang-orang yang tidak bertanggung jawab, serta mengganti seluruh kerugian bahkan lebih dari yang di janjikan oleh perusahaan. Karyawan tersebut berjanji akan mencabut laporanya.


Setelah selesai dengan urusan tersebut, Emran memilih untuk singgah sejenak di hotel untuk mengganti pakaian, karena hari memang telah pagi.


Dan rencana Emran pagi ini adalah berkunjung ke anak perusahaan untuk membereskan kekacauan yang ada, serta memastikan kinerja seluruh karyawan di sana.


"Em !"


Mendengar hal itu Amir tampak menganggukkan kepala.


Menempuh perjalanan kurang lebih tiga puluh menit akhirnya Emran telah sampai di anak perusahaanya yang ada di bagian barat.


Tujuan Emran adalah karena ingin tahu kinerja karyawan nya di tempat tersebut, karena selama ini dia memang terbilang sangat jarang berkunjung , sementara Emran hanya menerima laporan dari direktur pelaksana yang terhubung langsung dengan Amir.


"Tunggulah disini, Aku akan masuk kedalam sendiri"


"Tapi apa tidak masalah tuan !"


"Kau tenang saja "


"Tapi kebanyakan mereka tidak mengetahui siapa anda tuan !"


"Justru karena hal itu mereka akan tahu siapa aku !"


Setelah perbincangan bersama sang asisten, Emran memutuskan untuk menyelesaikan semua masalah sendiri.


Melangkah dengan begitu gagah Emran memasuki lobby kantor tersebut.


"Dimana ruang Direktur?"


"Di lantai 8 Tuan, maaf apa anda sudah membuat janji ?"


ucap salah seorang resepsionis yang berbicara dengan sopan pada Emran.


Mendengar hal itu Emran hanya mengulas senyum kecil.

__ADS_1


"Aku tidak membuat janji, dan tidak akan membuat janji "


"Maaf tuan jika memang begitu, anda tidak bisa menemui direktur kami " ucap resepsionis itu lagi.


Lagi dan lagi Emran hanya tersenyum kecil


"Baiklah, jika memang tidak bisa , maka panggilkan direktur mu untuk menemui ku" titah Emran memberi perintah.


"Tapi tuan !---" sela resepsionis tersebut yang kemudian menghentikan ucapannya setelah mendapatkan tatapan tajam penuh intimidasi dari Emran.


"Bb baik tuan, tunggu sebentar" ucap Sang resepsionis dengan begitu takut.


Meski ragu untuk menghubungi direkturnya, karena tiga resepsionis di perusahaan tersebut cukup mengenal bagaimana tuan Hasan sang direktur, namun nyatanya wibawa, dan ketegasan Emran cukup membuat nyali ketiga nya menciut.


Tuuut..


Sebuah telepon tersambung pada Ext ruang kerja sang direktur.


"Maaf tuan Hasan ada seorang tamu yang ingin bertemu dengan anda "


"Apa dia sudah membuat janji ?"


"Belum tuan "


"Tolak !"


"Tapi tuan, beliau menunggu anda di lobby"


"Katakan padanya aku tidak ingin menemuinya ! "


"Ta Tapi tuan !"


Tuttt...


Pembicaraan yang belum selesai seketika terputus karena Sang direktur anak perusahaan tersebut mematikannya.


Tiga resepsionis tersebut hanya saling sikut, mereka tidak cukup memiliki keberanian untuk melihat mata elang Emran yang sangat menakutkan.


Hingga pada akhirnya ketiganya harus suit, untuk menentukan siapa yang akan mengatakan pada Emran.


"Maaf tuan !"


Emran menatap sekilas wajah sang resepsionis yang telah berdiri tepat di sampingnya.


"Katakan !, apa dia akan menemui ku ?"


"Ma maaf tuan, tu tuan Hasan tidak berkenan menemui anda "


Tatapan tajam Emran seketika memecah keheningan di ruangan tersebut, bagai mata pedang yang siap menghunus mangsanya.


"Hubungi dia lagi, katakan jika dalam lima menit dia tidak menemuiku maka besok dia tidak perlu lagi datang ke kantor ini !"


"Ta tapi tuan !"


"Apa kau juga ingin membantah ?"


"Kau sudah bosan bekerja ?" ketus Emran pada sang resepsionis


Meski dia begitu takut pada direkturnya, namun sepertinya resepsionis tersebut lebih takut pada Emran.


"Ba baik tuan "


Ucap resepsionis tersebut dengan berlalu dari hadapan Emran

__ADS_1


***


__ADS_2