HIJRAH CINTA ANNISA

HIJRAH CINTA ANNISA
36. Detik -Detik


__ADS_3

...-AKAD-...


...Sabarlah hati, tak ada yang mau menunggu, dan tidak ada pula yang rela menahan diri untuk segera bertemu. Namun ini bukan tentang siapa cepat dia dapat, Melainkan siapa tepat dia AKAD....


...🍁...


Hening.


Tidak ada pembicaraan apapun antara Amir dan Tamara. Mereka hanya saling diam dengan pikiran masing-masing.


"Terima kasih " Ucap Tamara dengan suara datar.


Amir hanya mendengus, mendengar kata terima kasih dari Tamara. Amir merasa seolah-olah Tamara tidak benar-benar mengatakan hal itu, Amir hanya bergeming dan enggan memberikan tanggapan pada wanita yang duduk di sampingnya.


"Boleh aku minta tolong" Ucap Tamara


"Bisa kah kau mengantarku ke suatu tempat " Pinta Tamara kemudian.


"Aku tidak bisa !" Jawab Amir cepat.


Mendengar hal itu Tamara hanya menautkan kedua alisnya, tidak percaya pada sosok di hadapannya, yang dengan terang-terangan menolaknya.


"Sombong sekali kau " Ketus Tamara yang merasa kesal.


"Hey. Apa kau pikir aku supir mu ?" jawab Amir tidak kalah ketus.


Mendengar jawaban dari Amir, Tamara begitu sangat kesal. Menatap tidak percaya pada sosok Amir. Ini merupakan kali pertama orang yang baru mengenalnya menolak dirinya secara terang-terangan. Namun Tamara sadar jika tujuannya saat ini jauh lebih penting dari sekedar ego nya.


Sebisa mungkin Tamara akan menurunkan ego dan harga dirinya untuk memohon pada orang yang baru saja dia kenal saat ini.


"Turun !" Ucap Amir setelah menepikan mobilnya di depan sebuah toko.


Bukan tanpa alasan Amir menurunkan Tamara disana, hal itu dia lakukan karena di tempat tersebut dirasa cukup ramai, dan Tamara bisa meminta bantuan dan pertolongan pada orang lain untuk membantunya.


Mendengar ucapan Amir, bukan menurut Tamara justru memegang erat Seatbelt nya, dan tidak mau untuk turun dari mobil Amir.


"Turun !" Ulang Amir pada Tamara. Tamara hanya menggelengkan kepala dengan tatapan penuh permohonan.

__ADS_1


Sejujurnya bukan karena Amir yang tidak mau membantu Tamara, namun karena Saat ini Amir sendiri tengah buru-buru untuk memberikan ponsel milik Emran. Dan Melayani Emran merupakan prioritas ya sebagai Asisten pribadi.


"Aku mohon " Ucap Tamara dengan menautkan kedua tangannya di dada. Tamara tidak memiliki pilihan lain selain memohon pada Amir saat itu.


Melihat tatapan Tamara, Amir hanya mendengus kesal, tidak bisa menolak namun dirinya juga enggan untuk menerima.


"Kemana tujuanmu ?" Dengan berat hati akhirnya Amir menanyakan hal itu.


Tamara pun tersenyum bahagia "Aku ingin ke Pesantren Al ikhsan, Bisa kah kau mengantarku kesana " Ucap Tamara dengan binar bahagia di wajah cantiknya.


Mendengar hal itu sejenak Amir terdiam dan menatap lekat Tamara di sampingnya.


"Hahahaha .. " Tidak dapat menahan tawa Amir pun berusaha menutup mulutnya dengan punggung tangannya.


Bagaimana Amir tidak merasa geli, jika di lihat-lihat Tamara memang cantik, namun sepertinya Amir benar-benar menganggap Tamara gila kali ini.


"Kenapa kau tertawa !" tanya Tamara dengan menautkan kedua alisnya. Merasa heran dengan sikap yang di tunjukkan Amir. Tamara merasa tidak ada yang aneh dengan dirinya.


Mendengar hal itu Amir hanya melemparkan tatapan pada Tamara, dilihat dari atas sampai bawah, rasanya Amir tidak percaya jika Tamara memintanya untuk mengantar ke Pesantren Al ikhsan.


Beberapa detik, akhirnya Tamara menyadari, sorot mata Amir tersebut merupakan, sorot mata yang menanyakan kebenaran dari permintaan Tamara sebelumnya.


"Hey . Tuan !. Apa kau pikir meski aku mengenakan pakaian serba minim, aku tidak boleh datang ke pesantren!" Ketus Tamara yang menyadari Amir tidak mempercayai Ucapannya.


Mungkin tidak hanya Amir, namun orang lain pun juga akan beranggapan sama dengan dirinya. Jika melihat tampilan Tamara saat ini.


Dua buah gundukan yang menyembul di balik pakaian minim yang dia kenakan, dress dengan panjang sebatas lutut, rasanya dia tidak bisa mempercayai ucapan Tamara, namun lagi-lagi Amir tidak ingin ambil pusing tentang hal itu.


Amir pun hanya mengangkat kedua bahunya bersamaan. Ya meskipun ragu, Amir memilih menuruti permintaan Tamara. Lagi pula tujuan keduanya sama yaitu pesantren Al ikhsan.


"Okey" Jawab Amir singkat dengan kembali fokus pada kemudi.


Mendengar jawaban Amir, Tamara akhirnya dapat bernafas lega, dan kembali duduk manis di tempatnya semula.


***


Suasana tegang bercampur bahagia begitu terasa, terlebih setelah kedatangan Zyan di masjid. Duduk di tengah-tengah masjid dengan pakaian serba putih, menambah kesan tampan dan rupawan Zyan saat itu. Duduk diantara beberapa tamu undangan dan para santri yang turut hadir menyaksikan, termasuk salah satunya Emran yang juga ikut duduk disana.

__ADS_1


Duduk bersila di dalam masjid diantara beberapa orang di lainya, Emran memang paling mencolok diantara kebanyakan pria dewasa lainya, terlebih pakaian yang dia kenakan begitu formal, Emran duduk dengan Yasmine yang juga duduk diatas pangkuannya.


Dibelakangnya tempat Zyan duduk, Pak Malik dan Bu Rani ikut serta menunggu berlangsungnya acara ijab qobul antara Putranya Zyan dan Annisa.


Senyum yang terkembang di pipi Pak Malik seakan tidak pernah surut. Pak Malik begitu bahagia menyambut detik-detik sah nya Zyan dengan Annisa.


Tidak hanya pak Malik dan Bu Rani saja yang merasa begitu bahagia, Zyan pun tidak kalah bahagia. Bagaiman tidak dirinya akan bersanding dengan Annisa yang merupakan idaman banyak kau Adam. Dan dirinya merupakan satu-satunya pria yang beruntung itu.


Detik demi detik menunggu waktu ikrar ijab di ucapkan, Zyan begitu cemas namun hal itu tidak menyurutkan semangatnya.


"Daddy " Panggil Yasmine pada Emran.


"Em " Jawab Emran dengan mengulas senyum pada sosok sang putri yang duduk manis diatas pangkuan nya.


"Apakah paman itu yang akan menikah dengan Mommy?" Tanya Yasmine dengan suara serak dan wajah sendu.


Menyadari hal itu Emran pun merasa sedih. Namun setelahnya memberikan usapan lembut di puncak kepala sang putri.


Sejujurnya Emran ingin membawa Yasmine pergi dari tempat tersebut pagi itu juga. Namun Yasmine menolak permintaan Emran ,dengan alasan ingin melihat Mommy nya menikah,Mau tidak mau Emran yang akhirnya harus menuruti permintaan sang putri.


"Bisakah kita meminta paman itu untuk tidak menikah dengan Mommy dad" pinta Yasmine dengan wajah memelas.


"Sayang, Kita tidak bisa melakukan itu " Ucap Emran dengan suara lembut, memberi penjelasan sebisa mungkin.


Mendengar penolakan dari Emran, kembali Yasmine harus bersedih dengan menundukkan wajahnya.


Emran pun tidak dapat berbuat banyak dengan situasi dan kondisi yang terjadi saat ini.


"Sayang , Setelah ini Daddy akan membawa Yasmine berlibur" Ucap Emran mencoba menghibur sang putri.


"Apa yang Yasmine inginkan akan Daddy penuhi" Ucap nya lagi.


"Bukankah Yasmine menginginkan berlibur ke pantai ?" Tanya Emran.


Mendengar hal itu Yasmine hanya tetap tertunduk dengan wajah lesu, tidak ingin menanggapi ucapan sang Daddy.


***

__ADS_1


__ADS_2