HIJRAH CINTA ANNISA

HIJRAH CINTA ANNISA
98. Kabar Baik


__ADS_3

...Ini hanya tentang perjalanan , Jangan Pikirkan Endingnya , Pikirkan Prosesnya ...


...🍁...


Meski pada akhirnya Emran tidak dapat menemani Annisa , namun dia tetap menyempatkan waktunya untuk mengantarkan sang istri, memastikan jika Annisa sampai dengan selamat hingga ke kampusnya.


Sepanjang perjalan tidak sekalipun Emran melepaskan pegangan tangan Annisa.


Mengusap lembut punggung tangan sang istri dengan begitu lembut, meminta Annisa menyandarkan kepala pada pundaknya, tidak hanya itu, tentunya banyak hal romantis yang selalu Emran lakukan pada Annisa.


Tidak butuh waktu lama Emran dan Annisa telah tiba di kampus, Annisa berpamitan pada sang suami dan mencium punggung tangan Emran dengan takzim.


Setelah semua ritual selesai Annisa bergegas keluar dari mobil, namun Emran kembali meraihnya, dan mendekatkan tubuhnya pada sang istri, tentu hal itu begitu mengagetkan bagi Annisa, terlebih di dalam mobil tidak hanya dirinya dan Emran saja namun ada juga supir yang mengantarkan keduanya.


Nyatanya apa yang telah Annisa pikirkan tidak lah sama, Emran hanya mengusap lembut bagian perutnya, dan hal itu cukup membuat Annisa bingung dengan tingkah sang suami.


Tidak biasanya Emran melakukan hal itu, namun ketika Annisa bertanya perihal kenapa Emran melakukanya, justru Emran hanya tersenyum dan mencubit pipi sang istri.


"Assalamualaikum mas"


"Waalaikumsalam sayang" jawab Emran dengan menatap kepergian sang istri yang semakin menjauh dari tempatnya berada.


Tidak ingin membuang waktu, Annisa langsung menuju gedung dimana akan di gelar acara wisudanya. Tidak hanya Annisa , di dalam gedung tersebut banyak dari teman angkatan Annisa, dan tentu juga dari berbagai jurusan lain. Semua orang tengah bersiap untuk persiapan wisuda


Beberapa jam berlalu Annisa telah selesai dengan kegiatannya hari ini, berjalan dengan langkah cepat, Annisa bergegas menuju parkiran dimana sebelumnya dia telah meminta supir untuk menjemputnya.


Setibanya di parkiran, Annisa tidak menemukan sang supir, bahkan beberapa kali Annisa menghubungi supir tersebut tidak juga mendapatkan jawaban.


Setelah beberapa saat Annisa merasa letih, dia memutuskan untuk singgah sejenak di taman dan berteduh di gazebo, sejenak menghindar dari terik nya matahari siang itu.


"Annisa"


Sebuah suara yang terdengar begitu familiar di telinga Annisa.


Annisa pun menoleh kearah sumber suara, Benar saja dari jarak yang cukup jauh jelas terlihat disana ada Zyan yang memang dengan sengaja duduk dengan menjaga jarak antara keduanya.


Menyadari kehadiran Zyan , sedikit banyak Annisa merasa panik, terlebih jelas Zyan dengan sengaja menghampiri dirinya, meski dari jarak yang lumayan jauh, dan berjarak beberapa bangku dari tempatnya duduk.


"Apa kah kau bahagia dengan pernikahanmu ?" Tanya Zyan kemudian


Mendapati pertanyaan Zyan, Annisa hanya mengerutkan dahinya, jujur dirinya sangat enggan untuk menjawab. Namun meski begitu Annisa tetap menanggapi pertanyaan Zyan dengan menganggukkan kepala.


"Benarkah ?" Tanya Zyan lagi tampak tidak percaya.

__ADS_1


Annisa pun hanya dapat menarik nafas dengan memejamkan mata. Jengah rasanya Zyan selalu menanyakan hal itu.


"Aku sangat bahagia, dan aku sangat mencintai suamiku"


"Mungkin sebelumnya Allah mengujiku dengan mempertemukan ku dengan banyak laki-laki sebelum aku benar-benar berjodoh dengan suamiku"


"Sama seperti pertemuan kita saat itu, mungkin itu juga bagian dari ujian"


"Pendidikan Allah tentu berbeda dengan pendidikan formal, dimana Allah akan menguji hambanya dengan banyak hal, dan setelahnya kita dapat mengambil pelajaran dari ujian tersebut"


"Namun ada pendidikan formal kita akan banyak belajar baru setelah ya mendapatkan ujian"


"Tentu tidak sama bukan ?"


"Annisa harap mas Zyan paham apa maksud Annisa"


Mendengar ucapan yang juga merupakan sindiran dari Annisa, Zyan merasa tidak lagi ada kesempatan baginya untuk merebut hati sang pujaan hati.


"Annisa yakin , akan ada wanita yang jauh lebih baik dari Annisa, yang akan menemani dan menjadi jodoh mas Zyan" ucap Annisa


Kalimat panjang lebar dari Annisa nyatanya cukup mampu membuat Zyan terdiam dengan pikirannya.


Keduanya terdiam untuk beberapa saat, sampai pada saat Sebuah tangan kekar menepuk pundak Annisa. Spontan Annisa pun menoleh.


Berdiri tepat di belakangnya sosok Emran dengan senyumnya yang sungguh menawan.


"Yuk" jawab Annisa dengan meraih tangan sang suami.


Tanpa mengucapkan salam ataupun perpisahan, Annisa dan Emran berlalu begitu saja meninggalkan Zyan yang masih tertunduk lesu.


Emran dan Annisa berada dalam satu mobil, namun kali ini Emran tidak ditemani sang supir.


"Mas kok tahu Annisa masih di kampus?"


"Dan ini kenapa nggak sama supir mas ?, Tumben mas nyetir sendiri " Tanya Annisa yang tampak penasaran.


Sementara itu Emran terlihat fokus dengan kemudi, sesekali pandanganya menatap sang istri dengan penuh cinta.


"Kebetulan dijalan tadi aku bertemu dengan Samir, mobilnya mogok dan ternyata ponselnya mati, mungkin karena itu dia tidak dapat menghubungimu"


"Oh" jawab Annisa, dengan anggukan kepala.


Annisa begitu menikmati kebersamaannya dengan sang suami, terlebih saat ini mereka hanya berdua.

__ADS_1


Terlihat Emran beberapa kali menatap Annisa, sementara Annisa merasa sang suami sedikit berlebihan sedari tadi pagi. Meski begitu Annisa juga begitu menyukai sikap sang suami. Terlebih ketika dengan sengaja sang suami mengusap lembut perut datar Annisa.


"Ada apa mas ?, Annisa kan belum hamil" ucap Annisa dengan manis.


"Kita akan mengetahuinya sebentar lagi" Ucap Emran begitu semangat.


"Maksutnya ?"


Bukan menjawab pertanyaan Annisa, Emran justru hanya tersenyum. Dan tentu hal itu cukup membuat Annisa kebingungan.


Beberapa saat menempuh perjalanan, Emran tengah memarkirkan kendaraannya di sebuah rumah sakit internasional.


"Siapa yang sakit mas ?, kenapa kita harus kesini" tanya Annisa


"Tidak ada, tapi kita akan memeriksakan dirimu" jawab Emran


Meski begitu penasaran, Annisa enggan untuk bertanya kembali, dia memilih untuk diam dan menurut pada sang suami.


Tidak perlu menunggu, kedatangan keduanya telah di sambut oleh seorang dokter yang merupakan teman Emran, mempersilahkan keduanya untuk masuk kedalam ruang an nya.


Dengan ramah dokter tersebut memperkenalkan diri, seorang dokter wanita muslimah Bernama Rukhaya atau kerap disapa Aya. Selanjutnya Emran menjelaskan maksud dan tujuan keduanya datang.


Dokter Aya pun paham dengan keluhan yang di alami oleh pasien nya, setelahnya mempersilahkan Annisa untuk berbaring diatas tempat tidur dan memeriksanya.


Memeriksa dengan begitu teliti dan sangat hati-hati, Memainkan alat ultrasonogravi tepat diatas perut bagian bawah Annisa.


Sebuah senyum tergambar jelas di wajah sang dokter "Selamat Nyonya Annisa, Selamat tuan Emran"


Mendengar hal itu Annisa tampak mengerutkan dahinya, menantikan penjelasan dari dokter Aya.


"Bagaimana dok ?" tanya Annisa yang mulai tidak sabar


"Alhamdulillah, Nyonya Annisa telah mengandung, usia kehamilan kurang lebih 5 Minggu, janin dalam kandungan masih belum jelas terlihat hanya semua dalam batas normal"


Mendengar penjelasan dari sang dokter Annisa dan Emran Keduanya saling pandang dengan perasaan penuh haru, Ucapan syukur pada Allah tidak pernah berhenti terucap dari mulut Annisa maupun Emran.


"Mari Nyonya saya bantu, kita lanjutkan di meja kerja saya" Ucap sang dokter yang membantu merapikan kembali Annisa, setelah sebelumnya berbaring diatas tempat tidur.


"Terima Kasih dok"


"Sama-sama nyonya "


Kini Annisa dan Dokter Aya telah bergabung bersama Emran dalam satu meja, Setelahnya Dokter Aya menjelaskan mengenai kondisi Annisa secara mendetail. Menjelaskan apa saja yang perlu di lakukan sebagai ibu hamil muda, yang tentunya ini merupakan pengalaman pertama bagi Annisa, sementara Emran sedikit banyak telah mengetahui hal itu sewaktu kehamilan mendiang istri yang melahirkan Yasmine.

__ADS_1


Begitu juga Annisa yang tampak bahagian dan sangat antusias, dengan menanyakan beberapa hal berkaitan pantangan atau apa pun selama kehamilan.


***


__ADS_2