
...Berdamai Lah dengan hati, Apa yang kau benci belum tentu harus kau jauhi, Apa yang kau cintai tak harus kau miliki, Karena Allah Pemegang Kuasa Tertinggi, yang Maha Mengetahui....
...🍁...
Emran masih berdiri terpaku melihat Annisa yang begitu gugup berhadapan dengan dirinya, namun juga begitu berani menghadapi sosok Sania.
"Sayang !" Ulang Emran dengan senyuman yang begitu manis.
Mendengar hal itu Annisa serasa dibuat telak, sungguh dirinya sangat malu, namun mau tidak mau dia harus melakukanya.
"Aku Tidak hanya lelah sayang, Tapi aku juga sangat merindukan mu" Ucap Emran dengan menarik bahu Annisa, mengikis jarak diantara keduanya, Hingga Annisa menempel sempurna pada dada Emran.
Emran menyadari satu hal dari posisi keduanya, tubuh Annisa begitu bergetar ketika Emran mengeratkan pelukan nya pada Annisa.
Melihat hal itu Annisa pun membulatkan kedua bola matanya, tidak percaya jika Emran akan melakukan hal tersebut.
Sementara di belakang Emran, Amir sedari tadi hanya menahan tawa melihat tingkah kedua majikanya tersebut.
"Sayang, Jangan seperti ini, lihatlah disini ada teman dekatmu !" ucap Annisa menekankan pada kata Teman dekat pada Emran, namun dengan suara yang sangat lembut.
Sejujurnya Annisa sedikit kesal dengan reaksi berlebihan Emran yang begitu saja memeluknya di depan Amir dan Sania.
"Hi Sania" ucap Emran singkat.
Sania hanya tersenyum getir, melihat kemesraan antara Emran dan Annisa. Sania begitu membenci hal itu, seolah dirinya sangat tidak berarti bagi Emran.
"Baiklah aku akan menyiapkan Air hangat untukmu mandi, Kau temani lah Teman mu dulu, mungkin ada yang ingin dia bicarakan denganmu " Ucap Annisa dingin namun penuh dengan penekanan.
Setelah itu Annisa melepaskan tangan Emran dari bahunya.
Cemburu ?, entah lah namun sejujurnya Annisa begitu tidak menyukai dengan kalimat yang baru saja dia ucapkan.
Sementara itu Annisa memilih meraih mantel dan tas Emran yang akhirnya dia bawa, dan berlalu dari ruang tamu tersebut.
Sejujurnya Emran masih ingin berlama-lama bersama Annisa, terlebih Annisa seolah menabuh genderang perang dengan Sania, dengan berani membuat nya marah. Namun hal itu membuat Emran menjadi senang. Setidaknya Emran tahu jika Annisa tidak begitu mengabaikan dirinya.
Di ruang tamu menyisakan Emran, Sania , dan juga Amir. Setelahnya Emran meminta Amir untuk meninggalkan dirinya dan Sania.
__ADS_1
Amir pun menurut dan berlalu meninggalkan ruang tamu, menyisakan Emran dan Sania saja.
"Aku rasa kau sudah cukup lama disini, Jika sudah tidak ada hal penting sebaiknya kau pulang" ucap Emran dingin.
"Sayang, Kenapa kau berbicara sambil berdiri, duduklah " Ucap Sania dengan menepuk sofa di sampingnya.
Meski tidak begitu menyukai dalam situasi seperti ini, namun Emran pada akhirnya duduk, meski tidak di sebelah Sania, atau tempat yang sebelumnya Sania minta untuk Emran duduk disana.
Hening.
Melihat reaksi Emran, Sania berjalan mendekat pada Emran dan duduk di sebelah laki-laki tampan tersebut.
"Aku hanya ingin berteman dengan istrimu sayang" bisik Sania lirih hampir menyentuh telinga Emran, namun secepat mungkin Emran menepis tubuh Sania yang semakin mendekat kepadanya.
"Jaga Sikapmu !"
Mendengar hal itu Sania sedikit terhenyak, bagaiman mungkin Emran yang dia kenal lembut, bisa bersikap begitu kasar padanya. Kemana Emran yang dia kenal dulu.
"Katakan apa yang ingin kau katakan, jika tidak ada, aku rasa kau tahu dimana letak pintu keluar" ucap Emran
"Kau mengusirku ?"
Isak tangis mulai di perlihatkan Sania untuk memancing Iva dari Emran "Tidak bisakah kita berteman, meski kau telah menikah ?" pinta Sania dengan wajah memelas.
"Annisa saja tidak keberatan, kenapa kau begitu bereaksi" Ucapnya lagi.
"Hentikan Sania, Sikapmu ini membuat ku jengah" ucap Emran kesal.
Melihat Sania yang semakin terisak, jujur Emran tidak tega, namun juga begitu tidak menyukai hal itu, pada akhirnya Emran memilih untuk bangkit dari duduknya dan memilih berlalu dari ruangan tersebut.
Namun nyatanya gerakannya kalah cepat dengan Sania yang telah memeluknya dari belakang, begitu erat Sania melingkarkan tangannya hingga ke bagian dada bidang Emran. Memainkan jari jemari lentiknya disana.
Sementara itu Pandangan Emran terpaku pada satu titik yang tidak begitu jauh darinya. Pemandangan yang seketika membuat tubuhnya meremang, bukan karena dirinya Sania yang memeluknya, namun karena pandangan Emran bertemu dengan mata indah itu.
Terlihat sorot mata nanar yang tidak ingin Emran lihat saat itu. Ya, Annisa telah berdiri tepat di ujung anak tangga, menatapnya dengan tatapan yang tidak dapat di artikan. Namun Emran jelas menangkap raut wajah kesedihan disana.
Emran berusaha melepaskan eratnya pelukan Sania, Namun Annisa telah berlalu meninggalkan dirinya dan Sania yang masih berdiri di ambang pintu.
__ADS_1
Kedatangan Annisa saat itu mungkin untuk memberitahu Emran jika dirinya telah menyiapkan air hangat serta baju ganti untuk sang suami, namun nyatanya Annisa menemukan hal lain yang jujur begitu tidak terduga baginya. Sakit, Tentu saja.
***
Annisa memilih untuk tidak kembali ke kamarnya, dia lebih memilih bersama Yasmine yang tengah terlelap di kamarnya, tidur siang yang terlihat begitu nyaman.
Annisa memandang wajah teduh Yasmine, kemudian merebahkan tubuhnya di samping gadis kecil tersebut.
Hatinya begitu terasa sesak, entah karena sebab apa, yang jelas Annisa pun juga tidak mengetahui pasti.
Lelah bergelut dengan rasa yang begitu menyesakan dada, akhirnya Annisa pun juga terlelap di samping Gadis kecil yang begitu dia sayangi.
Sementara itu Emran telah berhasil mengusir Sania untuk pergi meninggalkan dirinya dan tentunya pergi meninggalkan kediamannya.
Jujur ada rasa sedih dan bersalah pula dalam hati Emran, melihat Annisa dengan sorot mata sendu.
Emran memilih segera kembali ke kamar, menyusuri satu persatu anak tangga yang ada disana, berharap segera sampai di kamar dan menjelaskan semuanya pada Annisa, namun Emran tidak menemukan Annisa tengah berada di kamar.
Melihat ke kamar mandi pun dia tidak menemukan siapapun, hanya air hangat yang telah di siapkan Annisa sebelumnya, begitu menyita perhatian Emran saat ini.
Emran menyadari satu hal dari kejadian sebelumnya, perhatian Annisa, dan rasa cemburunya.
Hal itu seketika menghilangkan rasa khawatir Emran pada Annisa, yang tergantikan dengan senyum lebar di wajah tampannya.
Emran memilih untuk tidak lagi mencari Annisa saat ini, dia memilih untuk segera membersihkan diri, dan mengganti pakaiannya, barulah nanti dia akan mencari Annisa lagi.
Tentu tidak sulit bagi Emran jika hanya mencari keberadaan Annisa saja, dia hanya perlu duduk dan berendam dalam air hangat yang sebelumnya telah di siapkan Annisa, dan melihat keberadaan Annisa melalui layar pipih yang terkoneksi dengan semua CCTV di kediamannya.
Sebuah senyum terukir di wajah tampan Emran, melihat bagaimana Annisa yang tengah memeluk sang putri.
"Kau memang berbeda Annisa" Gumam Emran lirih.
"Aku telah salah menilai mu sebelumnya"
Mengingat peristiwa beberapa bulan yang lalu, dimana dirinya begitu tidak menyukai kedekatan antara Annisa dan sang putri.
Annisa hanya orang asing bagi Emran yang mungkin memanfaatkan sang putri untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, nyatanya hal itu tidak terbukti.
__ADS_1
Justru saat ini mungkin Emran yang sangat ingin bersama dengan Annisa.
***