
...SISTEMATIKA IKHLAS ...
...1 : 2 \= 0,5 ATAU Jika kamu memberi 1 dan mengharapkan 2 maka yang kamu dapatkan adalah 0,5 (setengah)...
...1 : 1 \= 1 ATAU Jika kamu Memberi 1 dan mengharapkan 1 maka yang kamu dapatkan adalah 1 (satu)...
...1 : 0 \= ~ ATAU Jika kamu memberi 1 dan tidak mengharapkan apapun (0) maka yang kamu dapatkan adalah ~ (Tak terhingga)...
...🍁...
Pagi hari di langit Dubai, Annisa telah kembali di sibukkan dengan segala aktifitas sebagai istri.
Pagi ini Keperluan Yazmine telah di handle oleh dua pengasuh nya, dan Annisa hanya perlu menyiapkan keperluan Emran untuk ke kantor.
Annisa begitu telaten menyiapkan keperluan Erman, mencari padu padan jas , kemeja, serta dasi yang akan Emran gunakan untuk ke kantor.
"Pilihan yang bagus" ucap Emran dengan melingkarkan tangannya di pinggang Annisa.
"Astaghfirullah mas , ngagetin aja"
Emran yang begitu pelan menghampiri Annisa di Walk in closet, melihat pakaian yang di siapkan oleh Annisa, dan tentunya itu sangat sesuai dengan selera Emran.
Annisa begitu cepat mempelajari apa yang menjadi kesukaan Emran dan apa yang tidak di sukai oleh Emran.
"Mas , Cepat pakai bajunya" titah Annisa yang tidak nyaman suaminya hanya mengenakan handuk yang melilit pinggang saja.
"Tunggu sebentar, aku ingin memeluk istriku dulu"
"Mas !"
"Ya sayang " jawab Emran dengan nada menggoda
Menyadari hal itu Annisa pun akhirnya terdiam dan membiarkan Emran memeluknya hingga dia sendiri merasa lelah.
"Mas ?"
"Em "
"Annisa mau bicara"
__ADS_1
"Katakan saja sayang" ucap Emran dengan menyandarkan dagunya di bahu Annisa. Masih dalam posisi Emran memeluk Annisa dari belakang.
"Mas, haruskah mas Emran memberhentikan kontrak kerja dengan Sania ?"
Mendengar ucapan Annisa, Emran pun sejenak terdiam.
"Annisa rasa jika memang tidak ada alasan khusus, tidak perlu sampai harus memberhentikan Sania, terlebih jika ada alasan dan hal itu hanyalah karena persoalan pribadi, Annisa rasa hal itu tidak cukup bijak untuk di lakukan"
"Sayang, aku tahu apa maksud mu, Percayalah meski aku pemimpin di perusahaan, aku tidak serta Merta memberhentikan siapapun dari posisinya, semua keputusan sudah memalui kesepakatan bersama dewan direksi"
"Kau tidak perlu khawatir, kalaupun Sania mengatakan jika kau penyebab semua ini, abaikan saja, tidak perlu kau pikirkan, karena kau hanya perlu memikirkan aku saja" jawab Emran dengan nada menggoda, dan semakin erat melingkarkan tangannya di perut Annisa.
Annisa pun dapat tersenyum lega setelah mendengar ucapan sang suami, setidaknya dirinya tidak harus merasa bersalah karena kemarahan Sania.
"Baiklah" ucap Annisa singkat.
"Kenakan Pakaianmu , aku akan melihat putri kita, hari ini, hari pertama Yasmine masuk sekolah, dan mungkin nanti Annisa akan mengantar dan menunggunya hingga usai mas"
"Jadi kau tidak akan membawakan ku makan siang ?"
Annisa pun menggelengkan kepala, sebagai jawaban atas pertanyaan sang suami. Emran pun terlihat begitu tidak menyukai namun dia bahagia karena Annisa juga begitu memperhatikan putrinya dan tidak sedikitpun membedakannya.
"Baiklah, aku akan menjemput kalian setelah sekolah usia"
"Tidak masalah sayang" ucap Emran dengan melepaskan pelukannya.
Kini Emran bergegas meraih kemeja yang telah di siapkan Annisa. Sementara Annisa pun juga bergegas melihat Yasmine, memastikan dua pengasuh Yasmine telah menyiapkan semua kebutuhan Yasmine dengan baik.
Sebetulnya ini bukan hari pertama Yasmine sekolah, karena sebelumnya Yasmine homeschooling, dan hal itu juga karena tidak ada orang yang dapat Emran percaya untuk menjaga sang putri jika harus sekolah formal. namun Annisa yang merasa Yasmine butuh sosialisasi dan adaptasi dengan lingkungan luar, memaksa Emran untuk memindahkan pada sekolah formal, dan tentunya Annisa bersedia untuk menjaga sang putri.
Dan benar saja pada akhirnya Emran menyetujui usulan Annisa, tentu hal itu juga membuat Yasmine begitu bahagia, terlebih dia akan bertemu dengan banyak teman di sekolah.
***
Emran beserta Amir telah siap untuk ke kantor, sementara Annisa dan Yasmine serta dua pengasuhnya pun juga telah siap untuk berangkat ke sekolah.
Annisa tak lupa mencium punggung tangan sang suami sebelum Emran berangkat untuk ke kantor.
Setelah ritual pagi selesai, mobil yang di kendarai Emran pun melaju meninggalkan kediaman, disusul dengan mobil yang di tumpangi Annisa pun juga meninggalkan kediaman tersebut, berangkat bersama namun dengan tujuan yang berbeda.
__ADS_1
Annisa pun saat ini sudah mulai terbiasa dengan perannya sebagai istri sekaligus ibu rumah tangga, menjadi ibu sambung bagi putri semata wayang CEO Emran Company, nyatanya tidak begitu menyulitkan bagi Annisa terlebih dirinya banyak di bantu oleh para asisten dan pelayan yang ada di kediaman Emran, serta respon baik dari semua pelayan dan asisten Emran terhadap Annisa, mengingat Annisa adalah orang baru dalam kehidupan Emran.
Perjalanan pagi ini cukup lengang, supir yang mengantarkan Annisa dan Yasmine pun juga mengemudikan kendaraan dengan cukup santai.
Yasmine pun juga begitu menikmati berada dalam pangkuan Annisa, terlebih sepanjang perjalanan keduanya bermain bersama. Menikmati suasana pagi yang begitu cerah.
"Mommy"
"Em"
"Yasmine senang sekali Akhirnya bisa sekolah, dan punya banyak teman"
Mendengar hal itu Annisa put tersenyum, terharu dengan begitu semangatnya Yasmine untuk belajar.
"Alhamdulillah kalau Putri Mommy bahagia, Yasmine harus belajar dengan giat ya, Yasmine juga harus membuat Daddy dan Mommy bangga"
"Yes Mommy!"
Annisa pun memeluk dengan begitu erat sang putri yang begitu lucu dan menggemaskan.
Menempuh perjalanan beberapa saat akhirnya Annisa dan Yasmine telah tiba di sekolah yang di tuju.
Keduanya telah di sambut oleh beberapa guru, sama seperti murid baru lainya. Banyak orang tua yang turut serta mengantarkan putra putri mereka ke sekolah.
Yasmine yang awalnya begitu bersemangat, kini mulai merasa sedikit cemas, dan hal itu Annisa rasakan ketika Yasmine dengan erat menggenggam tangan Annisa.
"Sayang, are you okay?"
"Yes Mommy"
"Tenang ya, Yasmine akan segera beradaptasi, dan memiliki banyak teman disini, Mommy akan menunggu Yasmine disini samai sekolah selesai, jadi Yasmine tidak perlu khawatir ya"
Mendengar hal itu Yasmine pun menganggukkan kepala, dan menuruti ucapan Annisa.
Begitu juga dengan dua pengasuh Yasmine yang kemudian menyerahkan ransel dan tas bekal makanan untuk Yasmine.
Meski ragu namun akhirnya Yasmine dengan berani melangkah dan meraih tangan guru yang telah menunggunya untuk masuk kedalam kelas.
Sekolah yang di pilih Emran merupakan sekolah elit di kota tersebut, tidak heran jika pelayanan pun begitu istimewa karena yang bersekolah di tempat tersebut juga merupakan murid murid dari kalangan atas.
__ADS_1
Annisa dan dua pengasuh Yasmine 0un memilih untuk menuju kantin sekolah, Kantin yang lebih tepat di sebut dengan Restoran karena tempat yang begitu nyaman dan sangat luas, tidak hanya Annisa saja, disana juga banyak orang tua lain yang juga tengah menunggu putra putri mereka
***