
...Percayalah Bahwa di Setiap Gelapnya malam, Selalu di iringi terangnya Pagi. ...
...🍁...
Acara makan malam pun telah usai, Emran meraih tubuh sang putri dalam gendongannya, mengajak sang putri untuk duduk di ruang tamu.
Seperti kebiasaan yang selalu keduanya lakukan, Emran akan menanyakan hal apapun yang di lakukan Yasmine sebelum putrinya tersebut tidur. Dan Annisa pun akan mengikuti keduanya meski hanya menjadi pendengar yang baik, selama Emran dan Yasmine saling bercerita.
Namun kali ini berbeda, Annisa memilih langsung kembali ke kamar, meski Emran dan sang putri berad di ruang tamu.
Menatap kepergian Annisa, menyusuri satu persatu anak tangga, membuat Emran mengerutkan dahi.
"Asih !"
"Ya tuan !"
"Temani Yasmine, bawa Yasmine beristirahat di kamarnya"
Titah Emran pada pengasuh putrinya. Mendengar perintah dari Emran, dua pengasuh Yasmine pun menganggukkan kepala.
"Sayang, Daddy masih ada beberapa pekerjaan , Yasmine di temani Mba Asih ya " ucap Emran memberi pengertian pada sang putri.
"Ok Daddy"
Setelah memerintahkan dia asisten putrinya untuk menemani Yasmine, Emran pun beranjak dari ruang tamu.
Tujuan Emran kini adalah ke kamar, menyusul Annisa yang telah lebih dulu masuk kedalam kamar.
"Apa dia sangat lelah, sampai harus masuk ke dalam kamar, bukan kah ini masih sangat sore untuk tidur" Gumam Emran penasaran.
Ceklek
Perlahan Emran membuka pintu kamar tersebut, mengedarkan pandanganya,melihat ke seluruh ruangan. Benar saja Annisa tengah duduk di sofa kamar, mata yang terlihat fokus pada layar laptop yang ada di depannya.
"Sedang apa kau ?"
"Mas !" kaget Annisa yang baru menyadari jika Emran telah duduk di sampingnya.
"Kau sedang mengerjakan Tesis ?"
Tanya Emran dengan memperhatikan layar laptop yang tengah Annisa perhatian . Sementara itu Annisa pun menganggukkan kepala, membenarkan ucapan Emran sebelumnya.
Menyadari kesulitan yang di alami sang istri, terbersit ide jahil dalam benak Emran.
"Apakah sangat sulit ?"
"Eeemm.. Entah lah mas, terakhir laporan ini telah di nyatakan lulus, namun pagi tadi Prof Omar memanggilku dan mengatakan aku harus merevisi lagi di beberapa bagian" ucap Annisa dengan begitu frustasi.
__ADS_1
Mendengar hal itu bukan kasian, Emran justru tersenyum dengan seringai licik.
"Begitu kah ?" ucap Emran dengan menganggukkan kepala. Sementara Annisa hanya menghela nafas.
Rasanya Annisa begitu buntu dengan laporan yang harus dia perbaiki.
"Aku bisa membantumu " tawar Emran dengan senyum smirk
Mendengar hal itu Annisa pun menautkan kedua alisnya, menampakan guratan-guratan halus di dahinya.
"Benarkah ?"
"Tentu saja, kau meragukan ku" Sergah Emran tidak terima.
"Bukan, Bukan begitu Maksudku, aku percaya kemampuan Mas Emran, hanya saja aku tidak percaya kau mau membantuku" jujur Annisa yang begitu tidak percaya dengan sikap sang suami yang baru saja , terlihat naik dan sangat manis.
"Ohh..Semua tidak gratis"
"Maksutnya?" tanya Annisa yang begitu terkejut.
Baru saja dia memuji Emran dengan kebaikannya, nyatanya bantuan yang Emran tawarkan memiliki syarat yang harus di penuhi.
"Mas aku saja hidup menumpang dengan mu, bagaimana aku bisa memenuhi syarat darimu"
Mendengar hal itu sebuah senyuman terlihat jelas di wajah Emran.
Meski ragu, namun akhirnya Annisa menyetujui apa yang menjadi syarat dari Emran, meski dirinya belum mengetahui syarat apa yang diajukan oleh sang suami.
"Baiklah , Aku menerima tawaran mas Emran " ucap Annisa menyetujui kesepakatan diantara keduanya.
Mendengar hal itu Emran pun tersenyum simpul. Tidak menunggu lama, Emran segera meraih laptop yang ada di hadapan Annisa dan mulai mengerjakan note revisi yang sebelumya di berikan oleh Prof Omar.
Bukan hal sulit bagi Emran mengerjakan Tesis Annisa, selain karena memang Emran memiliki IQ diatas rata-rata, juga karena pekerjaan Emran tidak jauh dari dunia bisnis, dan jika hanya sebuah laporan tidak terasa sulit baginya.
Dengan cepat Erman menyelesaikan pekerjaan Annisa, bahkan tidak sampai satu jam, Emran telah selesai dengan semua perbaikan pada.laporan tersebut.
Kembali Emran menyerahkan laptop tersebut pada Annisa, dan Annisa pun mulai mengecek setiap bagian yang sebelumnya terdapat Note dari sang dosen.
Benar saja, semua yang Menjadi kendala dan kesulitan Annisa beberapa saat lalu, telah Emran selesaikan dengan begitu mudahnya.
Sungguh Annisa merasa kagum dengan sang suami yang tidak hanya tampan , nyatanya juga begitu pandai.
"Terima kasih mas " binar bahagia terpancar jelas di wajah Annisa yang saat itu tidak mengenakan cadar.
Melihat senyum manis dan bibir ranum Annisa, sejenak tatapan Emran mulai memudar. Entah perasaan apa yang kini dia rasakan, dadanya begitu berdetak kencang setiap kali melihat senyum Annisa yang begitu manis.
"Luar biasa, bagaiman mas Emran bisa menyelesaikan semuanya dalam waktu yang sangat cepat ?"
__ADS_1
Kagum Annisa pada sang suami. Sementara Emran yang mendapat pujian pun tersenyum kecil dengan tatapan mengarah pada Annisa.
"Baiklah, karena pekerjaan Annisa selesai lebih cepat , maka Mas Emran bisa mengatakan syarat apa yang harus aku lakukan"
Ucap Annisa dengan
mengatakan apa yang sebelumnya di ajukan oleh emran.
"Aku menginginkan bibirmu "
"Apa !"
Mendengar permintaan Emran, Annisa jelas tahu apa yang saat ini di inginkan oleh sang suami, bukan naif, tapi Annisa juga merupakan wanita dewasa yang jelas tahu apa yang di maksut sang suami, Sebuah Ciuman, ya itu lah yang kini di inginkan oleh Emran.
Awalnya Emran hanya ingin menggoda Annisa saja, namun nyatanya Annisa menanggapi hal itu dengan serius, terbukti dengan saat ini Annisa yang mulai mencondongkan tubuhnya pada Emran.
Jujur hal itu sedikit membuat Emran terkejut, hal ini mungkin merupakan sisi lain Annisa, namun Emran juga sangat menyukai sikap Annisa yang begitu responsif dengan permintaanya.
Meski awalnya hanya sekedar bercanda, namun Emran justru terbawa suasana.
Seolah terbius dengan wajah teduh Annisa, serta deru nafas lembut wanita di hadapannya, Emran begitu terbuai. Tanpa disadari kini Tangan kekar Emran telah meraih tengkuk Annisa.
Mendapati gerakan Emran yang begitu lembut mengusap belakang lehernya, Annisa merasakan begitu berdebar.
Gleg.
Susah paya Annisa menelan ludahnya, melihat wajah tampan Emran yang semakin mendekat ke wajahnya. Bagai sengatan listrik yang ber tegangan tinggi, meski hanya sentuhan lembut dari Emran.
Melihat reaksi Annisa yang begitu pasrah, Jujur Emran sangat senang, Terlihat oleh mata indah Emran, kini Annisa telah memejamkan matanya. Sebuah senyum manis terlihat jelas di wajah Emran.
Ptakkk !
"Auchh" Pekik Annisa yang merasakan sakit di bagian dahi nya.
Bagaiman tidak Annisa merasa sakit, Emran telah menjitak dahinya dengan begitu keras.
"Mas !"
"Apa kau mau menggodaku ?" ketus Emran dengan menautkan kedua alisnya.
"Apa ?" kaget Annisa dengan begitu malu nya.
Sungguh hal ini begitu memalukan untuk Annisa, pasalnya ternyata Emran tidak benar-benar menginginkan dirinya, dan begitu percaya dirinya Annisa beberapa saat tadi.
Jujur Emran begitu menginginkan hal itu, namun setelah melihat wajah teduh Annisa yang begitu menenangkan, justru Emran merasa tidak tega melakukanya, terlebih dia menginginkan hal itu karena sebuah Syarat yang dia ajukan.
Emran hanya ingin melakukan sesuatu bersama Annisa dengan beralasan cinta, bukan karena syarat, atau sebuah keterpaksaan atas sebuah imbalan.
__ADS_1
***