
..._Terkadang Orang Menatap Langit, Hanya karena ingin Air matanya Tidak Jatuh_...
...🍁...
Annisa begitu menikmati perannya sebagai istri sekaligus ibu, mulai terbiasa dengan hal hal baru yang sebelumnya tidak dia ketahui.
Hari ini merupakan hari dimana Annisa akan menyelesaikan tugasnya berkaitan dengan program pasca sarjana di kampus tempat dimana dia belajar
Pagi sekali Annisa telah siap untuk berangkat ke kampus, Namun kali ini tidak seperti biasanya Annisa yang di temani Yasmine.
Berangkat dengan diantarkan seorang supir pribadi yang di percaya Emran untuk menemani Annisa. Sepanjang perjalanan terasa begitu sepi karena memang saat ini masih begitu pagi.
"Tunggu sebentar ya pak, Annisa tidak lama"
"Baik Nyonya"
Setelah berpesan pada sang supir, Annisa beranjak dari duduknya dan bergegas menuju ruang Administrasi, menyelesaikan semua keperluan wisudanya.
Tut Tut Tut
Sering telepon yang seketika menghentikan langkah Annisa.
"Ummi ?"
Pandangan mata Annisa tertuju pada satu nama yang kini tengah menghubunginya, tidak biasanya Sang Ummi menghubunginya sepagi ini.
"Assalamualaikum Ummi"
Ucap Annisa pada sang ummi yang berada di ujung telepon.
"Waalaikumsalam Annisa"
"Ada apa ummi, tumben sekali ummi menghubungi Annisa sepagi ini"
Jawab Annisa dengan mendaratkan tubuhnya di bangku taman.
"Annisa, Ummi mau mengabarkan kalau Abi mu sedang sakit nak"
"Innalilahi wainnailaihirojiun, Abi sakit apa Ummi"
Ucap Annisa lirih dengan lelehan bening di pipinya, tanpa dia sadari saat ini hatinya begitu sedih hingga tanpa sadar cadarnya telah basah dengan air mata.
"Beberapa hari yang lalu Abi sering Merasa sesak, Tapi Abi selalu menolak Untuk ke rumah sakit, dan setelah pemeriksaan Abi mu mengalami serangan jantung "
Bagaikan di sambar petir, kabar yang baru saja Annisa dengar nyatanya cukup membuatnya sangat sedih.
"Annisa bisa bicara dengan Abi , Ummi ?"
__ADS_1
"Abi sedang di ICU , Sebelumnya juga Abi sempat berpesan pada ummi untuk tidak memberitahukan ini pada mu nak, Tapi ummi rasa Annisa juga harus tahu kondisi Abi saat ini"
Kembali Annisa menitihkan air mata, mendengar penuturan yang disampaikan sang Ummi.
"Baik Ummi, InshaAllah setelah semua selesai, Annisa akan secepatnya kembali ke Indonesia Ummi"
Tuttt Tutt Tutt
Telepon pun terputus setelah keduanya saling mengucapkan salam.
Masih di posisi semula, Annisa kembali termenung dengan sisa-sisa cairan bening yang membasahi pipinya. Kini pikiran Annisa tertuju pada sang Abi yang saat ini tengah berjuang dalam sakitnya.
***
Berjalan menyusuri Lorong-lorong kampus Annisa telah tiba di depan ruang administrasi dan segera menyelesaikan semua yang harus dia selesaikan.
Setelah selesai dengan semua urusan, Tidak ingin berlama-lama Annisa pun segera bergegas kembali ke rumah, dan tentu sebelumnya telah menghubungi sang supir pribadi untuk menjemputnya.
"Annisa ! "
Suara yang terdengar begitu familiar di teling, benar saja tampak dari kejauhan Zyan tengah berlari menghampirinya.
Annisa yang merasa tidak nyaman secepat kilat memutar pandanganya,dan berjalan menuju arah lain, namun sayang gerakannya kalah cepat dengan Zyan yang telah lebih dulu menghadangnya.
"Bisa kita bicara Sebentar"
"Sepertinya tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan!" ucap Annisa
"Aku tidak hanya tidak tenang, tapi juga tidak nyaman setiap kali harus berhadapan denganmu Mas Zyan"
"Tapi Annisa !" Sanggah Zyan
"Cukup !"
"Annisa tidak ingin mendengar apa pun lagi, Sadarlah !. Aku telah memiliki suami, dan hal semacam ini dapat menimbulkan fitnah diantara kita !"
"Cukup !! Jangan mempersulit keadaan mas !" Ucap Annisa dengan derai Air mata.
Annisa yang biasa bertutur kata lembut kini harus begitu lantang berbicara terhadap sosok yang kini tengah berdiri tepat di hadapannya.
Meski selalu menundukkan pandangan Zyan tahu jika saat ini Annisa tengah dalam situasi yang tidak baik-baik saja, sadar akan hal itu Zyan tidak lagi memaksa Annisa untuk menuruti keinginannya.
"Baiklah " Ucap Zyan dengan nada lemah.
"Tapi aku harap besok atau lusa kita bisa berbicara,ada banyak hal yang ingin aku jelaskan padamu Annisa" Ucap Zyan dengan lirih.
Begitu lirih ucapan Zyan, namun masih jelas terdengar di telinga Annisa, meski begitu Annisa memilih Abi dan segera berlalu dari hadapan Zyan.
__ADS_1
Annisa kembali melangkahkan kakinya menuju luaran kampus. Tanpa di sadari olehnya, sepasang mata nyatanya telah mendengarkan setiap ucapan yang sebelumnya menjadi perbincangan antara Annisa dan Zyan.
Senyum licik yang tanpa sengaja terlihat jelas dari balik pintu sebuah ruangan.
***
Setibanya dirumah Annisa segera menuju kamar sang putri untuk memastikan jika Yasmine baik-baik saja dibawah pengawasan dua pengasuhnya.
"Mommy!"
Sorak sorak Yasmine yang melihat kedatangan Annisa.
"Sayang !"
Keduanya saling merentangkan tangan dan berpelukan, seolah telah begitu lama terpisah, meski sejujurnya hanya hitungan jam saja keduanya tidak bersama.
Berada dalam pelukan Annisa, Yasmine merasa sangat nyaman, Begitu juga dengan Annisa yang merasa begitu bahagia, meski kesedihannya saat ini tidak bisa dia tutupi.
"Mommy kenapa ?"
"Mommy Kenapa Menangis ?"
"Mommy sedih ya" Tanya Yasmine setelah merasa lelehan bening menempel pada pipi chubby nya.
Menyadari hal itu buru-buru Annisa menghapus Air matanya "Tidak sayang, Mommy baik-baik saja, Mommy hanya terlalu bahagia memiliki putri kecil seperti Yasmine" Pungkas Annisa memberi penjelasan, agar sang putri kecil tidak berfikir tentang kesedihannya.
***
Malam berlalu begitu cepat, Tanpa terasa makan malam antara Yasmine dan Annisa pun telah selesai, Tanpa Adanya Emran yang menemani keduanya.
Tanpa kabar dan pesan sebelumnya, Amir sang asisten hanya menyampaikan jika Sang Bos tidak bisa pulang malam ini.
Jujur Annisa merasa sedih, ingin rasanya segera memberitahukan kesedihan dan kegundahan hatinya, namun Annisa sadar jika sang suami bukan orang yang banyak waktu untuk sekedar mendengar ceritanya.
Annisa memilih untuk segera menemani Yasmine tidur, karena esok hari Yasmine harus kembali bersekolah.
Tidak butuh waktu lama, Annisa pun berhasil membuat gadis kecil tersebut terlelap dalam tidurnya.
Dengan begitu pelan, dan sangat hati-hati Annisa membaringkan Yasmine di kasurnya, Menutup tubuh mungil tersebut dengan selimut, dan tak lupa memberikan kecupan pada sang putri.
Setiap tindakan manis Annisa, nyatanya tidak luput dari pandangan Emran yang mengawasi keduanya dari layar pipih yang tengah dia pegang, Meski berada dalam kejauhan namun Emran selalu memberikan pengawasan untuk keduanya.
Setelah selesai dengan Yasmine, Annisa memilih beranjak meninggalkan kamar sang putri dan kembali ke kamarnya. Menapaki satu persatu anak tangga, mengantarkan Annisa menuju kamar utama milik Emran dan dirinya.
Menatap setiap sudut kamar besar tersebut, nyatanya Annisa mulai merasa kesepian jika Emran tidak berada di tempat tersebut.
Annisa segera melepaskan Kerudung dan gamisnya, berganti dengan baju tidur yang lebih nyaman.
__ADS_1
Hal itu pun tentunya tidak luput dari pandangan mata Emran, namun terlihat jelas guratan kemarahan di wajah tampannya.
***