HIJRAH CINTA ANNISA

HIJRAH CINTA ANNISA
81. Permintaan Zyan


__ADS_3

...Tidak perlu menjadi manusia yang sempurna, Kita hanya perlu menjadi Manusia yang berguna ...


...🍁...


Sementara itu Emran tampak begitu tidak sabar menantikan kedatangan Yasmine, meski kabar mengenai hilangnya Yasmine hanya terjadi beberapa jam saja, namun Emran merasakan begitu kehilangan.


***


Semua persiapan telah siap, kini tinggal Emran dan Annisa menantikan kedatangan Yasmine. Semua persiapan dilakukan dengan begitu cepat sesuai permintaan Emran tentunya.


"Mas sebaiknya kita tunggu sambil sholat magrib yuk" Ajak Annisa pada sang suami. Emran pun menjawab dengan menganggukkan kepala sebagai jawaban.


Keduanya melaksanakan sholat berjamaah dengan Emran sebagai imam dan Annisa sebagai makmum, Emran begitu khusyuk dalam sholat, begitu juga Annisa.


Beberapa saat berlalu akhirnya Emran dan Annisa telah menyelesaikan Sholatnya.


Tok tok tok


Sebuah ketukan terdengar dari balik pintu kamar Emran


"Masuk" Jawab Emran dengan masih berada dalam posisi duduknya setelah menyelesaikan doa dan dzikir nya.


Ceklek.


Pintu pun terbuka, disusul dengan kemunculan Asih dari balik pintu.


"Maaf Tuan , Nyonya . Dibawah Nona Yasmine sudah datang" Ucap Asih dengan sopan.


Tanpa.memberikan jawaban Emran segera bangkit dan berlari menemui sang putri, meninggalkan Annisa yang masih membereskan mukena dan sajadah milik keduanya. Bahkan Asih pun sampai kaget melihat Emran yang nyelonong begitu saja keluar kamar dengan langkah seribu nya.


"Terima kasih mba Asih" ucap Annisa , Asih pun menjawab dengan anggukan kepala.


Setelah merapikan peralatan sholat, dan menempatkannya pada tempatnya, Annisa pun pergi menyusul Emran yang lebih dulu turun menemui Yasmine.


***


"Daddy !"


Panggil Yasmine dengan melompat lompat bahagia.


"Sayang "


Emran pun berjongkok dan memeluk sang putri dengan begitu erat, keduanya larut dalam suasana haru, Emran begitu bahagia putri yang paling di cintainya berdiri di hadapannya dengan baik-baik saja.


"Sayang bagaimana kau bisa terpisah dari Mba asih dan pelayan lainya ?" Tanya Emran yang masih merasa panik.


Menyadari hal itu Yasmine pun merasa takut jika Emran akan memarahinya karena kejadian ini, hingga Yasmine pun hanya dapat menundukkan wajahnya.


"Sorry Daddy "


"Yasmine Mau Ice Cream, Tapi waktu Yasmine mau kembali, Yasmine tidak tahu jalannya" Lirih Yasmine dengan wajah tertunduk.


Jelas saja Yasmine hilang begitu saja, dan tentu dia tidak mengetahui arah, karena Mall yang begitu luas dan bertingkat-tingkat, belum lagi banyaknya lautan manusia yang ada di sana. Sehingga untuk kembali ke tempat dimana Time zone berada dia tentu tidak mengingatnya.


Mendengar ucapan sang putri, Emran kembali memeluknya dengan begitu erat, Emran pun tidak memarahi Yasmine ataupun pelayan lain yang tentunya telah lalai, karena baginya dapat bertemu kembali dengan sang putri saja sudah merupakan kebahagiaan.


"Sorry Daddy"


"Daddy memaafkan mu, Tapi ingat lain kali Yasmine tidak boleh seperti ini lagi ya"


"Daddy tidak akan pernah memaafkan diri Daddy, jika sesuatu terjadi pada Yasmine"

__ADS_1


Ucap Emran dengan begitu lembut namun penuh penekanan, Yasmine pun mendengarkan dengan menganggukkan kepala, memahami apa yang di katakan oleh Daddy nya.


Sementara Emran dan Yasmine masih larut dalam suasana haru dan saling berpelukan. Annisa justru tengah begitu terkejut dengan kemunculan Zyan yang berdiri tepat di belakang Yasmine.


Deg.


Entah karena sebab apa , jantung Annisa berdebar begitu kencang, Antara percaya dan tidak percaya dengan sosok yang tengah dia lihat dengan begitu seksama.


Annisa mendadak berkeringat dingin, seolah menahan rasa takut dan kekhawatiran. Begitu juga dengan Zyan yang kini tengah begitu intim menatap Annisa dalam.


Meski Annisa tengah mengenakan cadar, namun Zyan tidak pernah salah mengenali jika sosok wanita yang berdiri tepat di depannya tersebut merupakan Annisa, sang mantan calon istrinya.


Sejenak mata Annisa dan Zyan pun bertemu dalam satu titik.


Meski keduanya hanya saling menatap dengan tatapan dingin namun terlihat jelas oleh Annisa, jika sorot mata Zyan menunjukan sesuatu yang tidak pernah bisa dia tebak.


"Asih ?"


Panggil Emran keras pada pengasuh sang putri, masih dalam keadaan posisi berjongkok.


"Ya tuan !"


"Bawa Yasmine kekamar, Mandikan , dan jangan lupa suapi, setelah itu ajak Yasmine untuk beristirahat" titah Emran dengan begitu jelas dan teliti.


"Baik tuan "


Asih pun membawa Yasmine meninggalkan tiga orang tersebut di ruang tamu. Disusul dengan bangkit nya Emran dari posisi berjongkok sebelumnya.


Hening.


Suasana ruangan mendadak begitu dingin dan terasa sangat beku.


Tatapan Emran seketika tertuju pada sosok yang sebelumnya berdiri di belakang sang putri, dan kini tengah berdiri tepat di hadapannya.


Emran dan Zyan pun saling bersitatap dengan begitu dalam, seolah menyelami isi pikiran masing-masing. Meski terlihat begitu tenang, namun aura perang dingin terlihat jelas diantara mereka.


"Selamat malam tuan Emran "


Ucap Zyan dengan begitu tenang, dan seketika memecah keheningan diantara mereka, Zyan pun kemudian mengarahkan tangannya pada Emran.


Sejenak Emran terdiam dan kemudian menyambut uluran tangan dari Zyan.


"Malam"


"Silahkan duduk"


Ucap Emran dengan nada begitu dingin.


"Ada perlu apa anda datang ke kediaman saya?"


Mendengar hal itu Zyan pun mengulas sebuah senyum di bibirnya.


"Bukankah anda yang telah mengundang saya ?"


Dua alis Emran pun saling bertautan, mendengar ucapan yang baru saja dia dengar dari Zyan.


"Jadi anda yang telah menyelamatkan putri saya ?" Tanya Emran dengan wajah dingin nya, kemudian Zyan pun menganggukkan kepala sebagai jawaban.


"Anda juga tentu tidak lupa bukan siapa saya ?" Ucap Zyan tidak kalah dingin.


Meski wajahnya tersenyum namun terlihat jelas rasa tidak suka Zyan terhadap Emran begitu juga sebaliknya Emran yang juga tidak merasa suka dengan kedatangan Zyan.

__ADS_1


Ketiganya kini telah berada di ruang tamu, duduk saling berhadapan, dengan Annisa yang juga duduk di samping Emran.


Tepok !! Tepok !!


Emran pun menepuk kan kedua tangannya, setelah itu disusul kemunculan Amir dan seorang pelayan yang membawa koper di belakangnya.


"Letakkan !"


Titah Emran pada Amir yang kini membawa koper tersebut.


Amir pun meletakkan koper berukuran sedang diatas meja, tepat dihadapan Emran, Zyan, dan tentunya Annisa.


"Buka !"


Dengan sigap Amir membuka Smart Lock koper dan kemudian membuka koper tersebut. Terlihat jelas dalam koper itu susunan lembaran yang bertumpuk, tumpukan uang dirham, tidak hanya puluhan mungkin berisi ratusan lembar uang dirham dalam koper.


Sekilas Zyan melihat uang yang ada dalam koper tersebut sangat banyak, bahkan mungkin itu juga pertama kali Zyan melihat uang tunai dalam jumlah sebanyak itu, Namun Zyan kemudian mengarahkan pandanganya pada Emran yang duduk tepat di hadapannya, dan dia pun tersenyum kecil.


"Terima kasih telah menolong, dan membawa putri saya kembali dengan selamat" ucap Emran


"Mungkin ini tidak seberapa dengan keselamatan putri saya, Anggap saja ini sebagai tanda terima kasih saya pada anda "


Sementara itu , mendengar ucapan Emran yang begitu terus terang, Zyan hanya terdiam dan tersenyum kecil.


"Jadi maksut anda, anda membayar saya Tuan Emran ?"


"Terserah apa yang anda pikirkan !"


"Katakan saja jika anda merasa kurang, saya akan menyiapkan segera" ucap Emran dengan tatapan dingin


Zyan pun terkekeh mendengar ucapan Emran.


"Saya tidak membutuhkannya tuan, Simpan saja kembali uang anda" Ketus Zyan dengan nada dingin


"Anda tidak perlu sungkan, terima saja, karena saya tidak ingin ada hutang Budi diantara kita". ucap Emran dengan mata yang begitu tajam.


"Begitu kah ?, Tapi maaf saya tidak membutuhkannya Tuan !"


Mendengar hal itu Emran hanya tersenyum kecil, tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar, Seolah Emran menangkap sinyal tidak baik dari sosok di hadapannya.


"Tidak perlu basa basi tuan Zyan, katakan apa mau anda ?" Ucap Emran pada akhirnya.


Mendengar hal itu Zyan pun mengulas senyum lebar.


"Benarkah ?"


"Tentu saja !"


"Baiklah , jika itu mau tuan Emran" Ucap Zyan dengan senyum sinis.


"Saya menginginkan Annisa kembali pada saya ! "


Deg.


Mendengar hal itu seketika mata Emran pun menyala, amarah begitu jelas tergambar di wajahnya. Seolah genderang perang telah benar-benar di tabuh.


Tidak hanya Emran yang di buat berang, Annisa pun juga begitu terkejut dengan ucapan Zyan, begitu tidak percaya jika Zyan memiliki keberanian untuk meminta dirinya dari suami sah nya.


"Lancang !!"


"Beraninya Kau !!"

__ADS_1


Tegas Emran penuh dengan kemarahan, mata yang menyala seolah Emran ingin memakan hidup hidup Manusia yang kini duduk tenang di hadapannya.


***


__ADS_2