
...Ada kuasa yang tidak pernah bisa di hitung dengan apapun, Sehebat apapun manusia bisa runtuh dengan hanya satu kalimat - Kun Faya Kun...
...🍁...
Meski berat Annisa berusaha Menatap Sejenak wajah Zyan dan kemudian Menundukkan pandanganya lagi, Annisa merasa telah betul betul yakin untuk mengambil sebuah keputusan.
"Menikah bukan hanya tentang aku dan kamu, Namun menikah merupakan tentang kita " Ucap Annisa
"Menikah Adalah ibadah terpanjang yang harus di jalani bersama-sama dan bukan hanya salah satunya"
"Bagaiman ibadah kita bisa mudah, jika di awal saja sudah banyak yang kalian tutupi. " ucap Annisa menekankan pada Kejujuran dalam sebuah rumah tangga.
"Maaf. Annisa Rasa Rencana pernikahan kita sudah cukup sampai di sini Mas, Jangan di teruskan lagi" Ucap Annisa dengan meloloskan bulir bening di wajahnya.
"Selesaikan Urusan Mas Zyan dengan tamaran yang belum selesai, Annisa ikhlas untuk merelakan semuanya" Ucap Annisa penuh keyakinan.
Deg.
Mendengar penuturan dari Annisa, Zyan merasa sangat terpukul, kecewa yang tiba-tiba muncul , Sesak di dada yang begitu kentara, karena semua tidak sesuai dengan ekspektasinya.
Rencana pernikahan impian, bulan madu dan semua rencana indah yang telah tersusun seketika hancur sudah.
"Tidak Bisa Annisa !" Tolak Zyan dengan lantang
"Pernikahan ini harus tetap di laksanakan" Ucap Zyan lagi.
"Benar. Kalian tidak bisa seenaknya memutuskan sepihak !" tolak Pak Malik dengan bersungut kesal. membenarkan ucapan sang putra.
Mendengar ucapan yang terlontar dari mulut pak Malik, Annisa merasa sedikit kecewa. Bagaiman tidak permasalahan ini terjadi juga atas kesalahan dirinya dan sang putra, namun terkesan Annisa yang justru terlihat bersalah.
"Mas Zyan, bohong jika Annisa tidak sakit dengan kenyataan ini, namun Annisa juga tidak bisa begitu saja mengabaikan nya"
"Annisa tidak bisa menjalani sebuah rumah tangga yang berdiri diatas kebohongan dan ketidak jujur an" Ucap Anissa menekankan kalimatnya jujur pada Zyan.
"Mulai hari ini, Annisa menutup semua lembaran bersama Mas Zyan " ucap Annisa lirih.
Mendengar hal itu Zyan dan pak Malik pun hanya dapat menundukkan wajah. Merasa kesal bercampur malu dengan kenyataan yang saat itu bagaikan tengah menguliti mereka.
Bukan pak Malik namanya jika dia tidak selalu menekan lawan bicaranya.
"Tapi Ali, Pikirkan bagaimana kedepannya" Ucap Pak Malik masih mencoba mencari kesempatan
"Lalu bagaimana dengan harga diri putrimu, yang batal menikah" Ucap pak Malik
__ADS_1
"Ku mohon Ali , Nissa, pikirkan semua baik baik" Ucap Pak Malik penuh permohonan.
Mendengar hal itu, Abi Ali hanya dapat terdiam, dengan ucapan istighfar yang selalu dia panjatkan dalam hati.
"Tidak pak. Semua Sudah bulat, Terlebih saat ini Tamara tengah mengandung calon anak Zyan " Ucap Annisa dengan menundukkan wajah, namun ada nada penuh keyakinan di sana.
Berat rasanya Annisa mengatakan hal itu, namun lagi-lagi kenyataan membuatnya berani berkata.
"Cih, Sombong sekali kau Annisa , Merasa dirimu paling suci" Ucap Bu Rani yang sedari tadi hanya diam.
"Dan kau wanita murahan, Dasar sialan " Umpat Bu Rani pada tamaran penuh dengan kekesalan.
"Bagaiman kamu bisa datang dan tiba-tiba merusak semuanya" Ucap Bu Rani dengan menunjuk wajah Tamara , merasa kesal dengan semua masalah yang tiba-tiba saja datang dan menghancurkan semuanya.
Pak Malik dan Zyan pun hanya terdiam mendengar ucapan Bu Rani saat itu.
"Ingat ya Annisa, Kau tidak akan mendapatkan laki-laki seperti putraku, Jika kau menolaknya saat" Ketus Bu Rani penuh ancaman.
"Aku pastikan , Jika kau menolak Putraku, makan tidak akan ada laki-laki yang akan Sudi untuk menikah denganmu " ucap Bu Rani dengan suara lantang
"Ma!" Sergah Zyan yang sejujurnya tidak menyukai ucapan Sang ibu.
Meski Zyan juga merasa sakit dengan semuanya, namun tidak benar jika Bu Rani Menyalahkan Annisa atas keputusannya. Karena Zyan pun sadar semua ini terjadi juga atas kesalahan dirinya.
"Cih. Beruntung Zyan mau menikah denganmu" ketus Bu Rani.
" SAYA !"
Suara lantang yang seketika memecah suasana tegang di ruang tamu kediaman Abi Ali.
Semua mata tertuju pada sosok laki-laki tampan yang berdiri gagah di ambang pintu.
"SAYA LAKI-LAKI YANG AKAN MENIKAH I ANNISA !" ucap Emran lantang pada setiap orang yang ada di sana.
"Tuan Emran " Gumam Annisa lirih dengan menautkan kedua alisnya.
Mendengar hal itu Annisa pun seketika dibuat kaget, bagaimana Emran bisa tiba-tiba muncul dan mengatakan jika dirinya akan menikahi Annisa.
Tidak jauh beda dengan Annisa, Zyan dan kedua orang tuanya pun hampir-hampir tidak percaya dengan ucapan yang baru saja dia dengar dari sosok yang baru saja muncul di ruangan tersebut.
Emran mengambil posisi duduk di kursi yang kosong, duduk di hadapan para orang-orang yang sebelumnya bersitegang.
Bukan tanpa alasan Emran tiba-tiba muncul dan berkata demikian, Nyatanya Emran telah berdiri di ambang pintu sedari tadi, dan mendengar semua perbincangan tersebut.
__ADS_1
Awalnya Emran tidak berminat menanggapi situasi tersebut, saat itu niatnya hanya ingin pergi untuk mengangkat panggilan dari seorang kolega penting, dan tanpa sengaja mendengar obrolan Annisa dan calon suaminya beserta keluarga.
Hening.
"Kenapa diam ?"
Tanya Emran dengan suara datar.
"Sebelum saya datang, sepertinya banyak obrolan yang kalian bahas "
"Kenapa setelah saya datang kalian hanya diam ?" Tanya Emran dengan mengarahkan pandangan pada Zyan dan kedua orang tuanya.
Bukan mereka tidak berani melawan Emran, Mereka jelas tahu siapa Emran. Karena hal itu lah pak Malik dan istri memilih untuk diam, dan tidak berniat memberikan jawaban.
Pak Malik dan Zyan pun jelas tahu siapa Emran, Siapa yang tidak mengenal Emran Al-Fatih seorang CEO Emran Company, pengusaha kaya yang tengah menyandang status sebagai duda beranak satu, memiliki berbagai bisnis, tidak hanya di bidang Ekspor dan impor, Namun juga bisnisnya merambah pada dunia kesehatan, pendidikan, dan lembaga Amal.
Lembaga Amal yang salah satunya di kelola oleh Pak Malik, dan saat ini tengah mengalami gonjang ganjing korupsi besar-besaran.
"Tuan Emran" Sapa Pak Malik sungkan, dengan rasa takut dan tidak enak hati.
Emran hanya tersenyum simpul.
"Saya pikir anda telah lupa siapa saya Pak Malik" Ucap Emran masih dengan mengulas senyum di wajah tampannya.
Pak Malik pun hanya dapat tertunduk lesu, dengan kenyataan siapa yang saat ini tengah berhadapan dengannya.
Hening.
"Nak Emran Serius ?" Tanya Abi Ali memecah keheningan
"Saya tidak pernah main main dengan ucapan saya pak Ali" Jawab Emran dengan tegas.
Abi Ali tersenyum dan menganggukkan kepala, mendengar jawaban dadi Emran.
"Annisa telah Membatalkan pernikahan ini, jadi tidak ada salahnya untuk saya melamar dan menikahi Annisa bukan ?" Tanya Emran.
"Bagaiman bapak penghulu ?" Tanya Emran meminta pendapat pada yang lainya.
"Saya rasa tidak masalah, selama kedua belah pihak sudah saling setuju atas pembatalan yang di lakukan" Ucap bapak penghulu.
Mendengar hal itu Emran pun Emran mengukir senyuman yang tidak dapat di artikan.
"Bagaimana Annisa, Apa kau bersedia menikah dengan Nak Emran" Tanya Abi Ali seketika.
__ADS_1
Sejenak Annisa berfikir dan Berusaha mencari kebenaran dan kejujuran dari ucapan Emran saat itu.
***