HIJRAH CINTA ANNISA

HIJRAH CINTA ANNISA
56. Menggoda Annisa


__ADS_3

...Seorang bijak berkata, Hidup itu syukur, Ingkar itu kufur, Jika ingin teratur, Jadilah manusia yang mudah diatur, Namun jika hidupmu selalu mengukur, Bersikaplah untuk jatuh tersungkur...


...🍁...


Suasana terasa begitu canggung, dengan Emran yang masih berdiri terpaku dengan kemolekan tubuh Annisa. Sementara Annisa hanya bisa pasrah dengan menutupi tubuhnya sebisa nya.


"Lagi pula bisa bisa nya kau tidur di kamar mandi, merepotkan saja" dengus Emran yang merasa kesal namun juga lega mendapati Annisa baik-baik saja.


"Kenapa saya yang di salahkan, Apa tuan tidak bisa mengetuk pintu dulu !" Kesal Annisa pada Emran yang juga masih terus berdiri memandanginya.


"Astaga, Bisa bisanya kau berkata seperti itu" kesal Emran


"Lihatlah kau sudah lebih dari satu jam berada di tempat ini" ucap Emran dengan menunjukan smartphone miliknya yang nyatanya benar waktu telah berganti.


Namun meski bagaimana pun, Benar juga apa yang di katakan Annisa, kenapa sebelumnya Emran tidak berinisiatif untuk mengetuk pintu sebelum masuk, ahh.. Emran terlalu khawatir hingga tidak memikirkan hal itu.


"Pakai Ini" ucap Emran dengan menyerahkan selembar handuk pada Annisa.


Annisa pun secepat kilat menyambar handuk tersebut dari tangan Emran. Dan mengenakannya setelah Emran berlalu dari kamar mandi tersebut.


"Ishh memalukan sekali" gumam Annisa


Rasanya dia tidak cukup memiliki keberanian untuk berhadapan dengan Emran setelah ini.


"Apa dia melihatnya?" Gumam Annisa


"Aaa.... Semoga saja tidak, Ya Allah. Bagaimana ini " Kesal Annisa merutuki dirinya sendiri.


Annisa juga menyalahkan dirinya, bagaimana dia bisa se ceroboh itu sampai harus tertidur di kamar mandi. Karena memang tidak sepenuhnya semua salah Emran.


Annisa bergegas keluar dari kamar mandi dan berganti pakaian di Walk in closet, sementara Emran terlihat tengah berdiri di balkon kamar menatap jauh kesana.


Berada di Walk in closet Annisa menatap lekat wajahnya yang bersemu merah, masih dengan rasa malu yang mendominasi hatinya saat itu.


Meski begitu Annisa tetap memberikan sedikit riasan pada wajahnya, entah Emran akan merasa bahagia tau justru sebaliknya, namun tujuan Annisa hanya untuk membuat Emran merasa senang melihatnya dengan wajah segar.


Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik isteri adalah yang menyenangkan jika engkau melihatnya, taat jika engkau menyuruhnya, serta menjaga dirinya dan hartamu di saat engkau pergi.”


Menambahkan Sedikit bedak dan lipstik yang dia aplikasikan begitu tipis dan sangat samar, namun sudah cukup membuat perubahan pada wajah Annisa yang memang dasarnya sudah sangat cantik.


Ingin rasanya Annisa menemui Emran yang tengah berada di balkon, namun rasanya dirinya tidak memiliki cukup keberanian. Ingin rasanya mengatakan maaf telah berburuk sangka pada Emran.


***


Senyum simpul terlihat di wajah Emran, senyuman yang baru beberapa hari ini menghiasi wajahnya, setelah sekian lama senyum itu menghilang dari wajah tampan tersebut.

__ADS_1


Mengingat kembali momen dimana Annisa begitu kaget dengan semburat merah di wajahnya, Membuat Emran tak henti hentinya membayangkan wajah lucu tersebut.


Namun seketika wajahnya berubah tegang ketika melihat sisi lain dari Annisa yang begitu berbeda, beberapa kali dia menggelengkan kepala, menepis ingatan yang selalu meracuni jiwanya.


Jiwa jiwa pujangga yang telah lama bersemayam seolah menuntut untuk segera di hidupkan kembali.


"Ehem" Deheman Annisa yang seketika itu membuyarkan lamunan Emran


Menyadari kedatangan Annisa, Emran segera berbalik, jujur dia ingin sekali tertawa ketika mengingat momen sebelumnya, namun rasanya Emran tidak cukup sanggup melihat Annisa dengan rasa malu nya.


Semat sekilas Emran menatap Annisa dari atas sampai bawah, bagaimana tubuh itu saat ini telah terbalut dengan gamis dan hijab besar yang menutup bagian indah yang sempat Emran lihat sebelumnya.


"Ternyata yang kau tutupi lebih indah dari bayanganku" ucap Emran dengan nada menggoda.


"Apa ?, Bayangan nya ?"


"Apa dia sedang membicarakan tubuhku ?"


"Apa dia tengah berfantasi dengan hal itu?. Aaaa... Tidak, Tidak mungkin, Memalukan sekali" Batin Annisa dengan membulatkan kedua matanya tak percaya Emran mengatakan hal itu.


Menyadari perubahan wajah pada Annisa, jujur Emran merasa ingin sekali tertawa, namun dia mencoba tidak membuat Annisa semakin tertunduk dalam rasa malu nya.


"Kau tidak perlu merasa berdosa, lagi pula bukankah itu halal jika aku melihatnya ?" goda Emran


"Jangankan hanya melihatnya Annisa, melakukan yang lebih saja bukankah itu juga halal?" Tanya Emran dengan senyum menggoda.


Hal itu semakin membuat Annisa telak, tak sanggup kini dirinya untuk hanya mengangkat kepala, rasanya ingin sekali menenggelamkan wajahnya dan menghilang saat itu juga.


"Aku tahu itu, Tapi ---"


"Tapi kau belum siap ?" Ucap Emran, memotong kalimat Annisa sebelumnya.


Emran pun terkekeh kecil, melihat kepolosan Annisa saat ini.


"Aku sudah pernah mengatakan kamu harus membiasakan hal itu, Karena aku tidak akan menunggumu siap jika untuk melakukanya" Goda Emran, masih dengan senyum smirk.


"Aku bukan laki-laki yang ada dalam novel online yang sering kau baca Annisa, Aku tidak akan sanggup menahan nya, dan menunggu sampai kau siap" Lagi lagi ucapan Emran semakin membuat Annisa gemetar dengan rasa gugup.


"Siapa bilang aku tidak siap !" Ketus Annisa dengan berani.


Rasanya Annisa sudah cukup gugup dan ingin segera meninggalkan Emran, namun entah keberanian dari mana justru dia mengucapkan kalimat tantangan.


"Ohh.. Jadi kau sudah siap ?" Goda Emran lagi, kini dengan pandangan Emran yang menatap lekat Annisa.


"Bukan tuan, bukan begitu maksut ku" sergah Annisa dengan menepuk jidatnya, merasa apa yang dia ucapkan baru saja merupakan kesalahan.

__ADS_1


"Ternyata kau lucu juga" Ucap Erman


"Apa ?, Jadi dia hanya menggodaku sedari tadi" batin Annisa, namun jujur dia merasa lega, Nyatanya Emran hanya bermaksud menggoda saja, dan tidak berniat sesungguhnya.


Terlihat dalam pandang mata Emran, Annisa yang menghela nafas lega dengan senyum yang terlihat begitu jelas di wajah cantiknya, wajah yang tidak mengenakan cadar saat ini. Wajah yang begitu menggoda Emran untuk selalu menatapnya.


"Apa kau sedang berfikir aku hanya menggoda mu ?" ucap Emran seolah mengetahui isi hati Annisa


"Apa ?" ucap Annisa tak percaya


"Terserah jika kau menganggapnya sebuah candaan, namun aku akan tetap meminta mu bersiap, karena aku tidak tahu Samapi kapan aku bisa menahannya" ucap Emran dengan sedikit berbisik.


Mendengar kalimat lirih yang terdengar jelas di telinganya, membuat Annisa semakin gugup, baru saja dia merasa lega, kini harus kembali merasakan jantungnya bergejolak lagi.


"Tuan, Saya mohon jangan membicarakan hal itu lagi" pinta Annisa dengan suara penuh permohonan.


Sungguh Annisa begitu sangat malu dalam situasi seperti ini, rasanya hal ini masih menjadi sesuatu yang tabu baginya.


Sementara Emran yang mendengar permintaan Annisa pun tak kuasa menahan tawa nya, hingga suara tawa Emran lepas begitu saja.


"Oke baiklah, aku tidak akan melakukanya lagi, tapi ada satu syarat" ucap Emran setelah mampu menguasai dirinya.


"Syarat ?"


"Ya "


"Syarat apa yang tuan ingin ajukan pada saya ?" tanya Annisa dengan berani menatap Emran


"Jangan memanggilku tuan !"


"Kau bukan pelayan atau bawahan ku"


"Panggil lah aku seperti Suami istri pada umumnya !" Ucap Emran penuh penekanan.


Jujur Annisa terharu mendengar ucapan Emran yang begitu indah menurutnya, bagaimana tidak Annisa merasa senang, dimana sebelumnya Emran begitu menekankan kata Suami dan istri.


"Lalu aku harus memanggil tuan seperti apa ?" tanya Annisa


"Jangan panggil aku tuan !"


"Oh iya maaf "


"Lalu Ku harus memanggilmu bagaimana?" ucap Annisa dalam kebingungannya.


***

__ADS_1


__ADS_2