HIJRAH CINTA ANNISA

HIJRAH CINTA ANNISA
68. Keributan


__ADS_3

...Tulus itu tanpa pamrih , Jika masih mengharap imbalan Koreksi Lagi hati , Mungkin ada yang salah....


...🍁...


Sesuai dengan perintah Emran, Amir pun tetap pada tempatnya, di dalam mobil menunggu bos besarnya yang akan menyelesaikan semua kekacauan yang ada secara langsung.


Sudah dapat Amir bayangkan bagaiman Emran akan menangani semua masalah ini, Amir jelas tahu bagaimana Emran dengan segala sikap disiplin dan keberanian yang dia miliki.


Terlihat dari pasang mata Amir, Emran masih setia duduk di sofa lobby kantor tersebut. Menyilangkan kakinya dengan ekspresi wajah yang tidak dapat di tebak. Terlihat pula Emran tengah memainkan Smartphone miliknya.


***


💌 Siapkan dirimu malam ini , karena aku sedang ingin memangsa seseorang.


Sebuah pesan singkat masuk kedalam benda berbentuk pipih milik Annisa.


Mendengar sebuah notifikasi yang masuk kedalam handphone miliknya Annisa segera meraih smartphone miliknya dan bergegas melihat sang pengirim pesan.


"My Hubie" gumam Annisa lirih.


Mata annisa membelalak sempurna melihat sebuah nama yang begitu dia pikirkan sejak semalaman, Sebuah senyum terukir jelas di wajah Annisa yang tengah bermain bersama Yasmine. Menemani gadis kecilnya yang begitu menggemaskan.


Meski belum membuka pesan tersebut, nyatanya Annisa telah merasa begitu bahagia, pesan pertama yang di kirim Emran, tentunya itu adalah sebuah kabar yang sedari tadi malam sangat dia nantikan.


"Mommy kenapa senyum senyum" celoteh Yasmine yang melihat Annisa begitu bahagia.


Mendengar pertanyaan dari sang putri , pipi Annisa pun langsung bersemu merah.


"Tidak sayang, yuk lanjutkan menggambarnya " titah Annisa dengan suara lembut. Memberikan usapan pada puncak kepala sang putri.


Sementara Yasmine pun menjawab dengan anggukan kepala, dan kembali sibuk dengan pensil warnanya.


Annisa begitu terkejut dengan pesan yang baru saja dia baca, "Apa ?, Mangsa ?, Apa dia juga memakan manusia ?" gumam Annisa dalam hati, seketika dia pun bergidik ngeri dengan pesan yang di kirim oleh sang suami.


💌 "Tidak bisakah anda memakan yang lain ?"


Pesan balasan yang di kirim oleh Annisa.


Tidak butuh waktu lama, Emran pun membalas pesan tersebut.


💌 "Apa kau benar-benar ingin aku memakan yang lain ?"


💌 "Tentu !, Jika anda mangsa ku , bagaimana dengan Yasmine?, lagi pula anda akan di penjara karena hal itu, dan bagaimana karir anda ?, tentu anda tidak menginginkannya bukan !"


Balasan yang di kirim annisa dengan begitu cepat terkirim, dan di terima serta di baca oleh Emran.


Di tempat yang lain terlihat Emran yang terkekeh kecil membaca pesan yang di kirim oleh sang istri, nyatanya Annisa begitu polos, hingga bahasa mengenai ranjang pun dia betul betul Tidak mengetahui.

__ADS_1


💌 "Tapi aku tidak takut !"


💌 "Aku rasa anda salah minum obat, Otak anda sedang ada masalah, atau mungkin karena tidak tidur semalaman?"


💌 "Bisa jadi !" Balas Emran singkat.


💌 "Ohya bagaimana jika nanti malam kau menidurkan ku, Mungkin dengan begitu otak ku akan sembuh"


Sebuah pesan balasan yang di kirim lagi oleh Emran pada Annisa, sementara itu Annisa hanya tersenyum senyum kecil membaca balasan dari Emran.


Saat ini mungkin Annisa baru menyadari maksut pesan yang di kirim Emran sebelumnya. Menyadari hal itu Annisa pun lagi dan lagi hanya tertunduk malu dengan pipi yang tentunya sudah bersemu merah.


Nyatanya Annisa baru menyadari maksut Emran adalah meminta nya untuk sebuah pertempuran diatas singgasana rumah tangga.


💌 "Bagaiman apa kau keberatan?"


Sebuah pesan yang di kirim Emran untuk yang kesekian kalinya, karena Annisa tidak juga membalas pesan darinya.


💌 "Bagaimana aku keberatan jika memang pemilik diri ini telah meminta nya"


Sebuah pesan balasan yang di kirim oleh Annisa setelah beberapa saat mendiamkan pesan dari Emran sebelumnya.


Jujur Annisa begitu malu untuk membalas pesan Emran , namun Annisa tidak mungkin mendiamkan Emran dengan begitu saja, sementara menyenangkan hati suami merupakan pahala.


Namun pesan tersebut nyatanya tidak lagi mendapatkan balasan dari Emran. Tidak seperti sebelumnya Emran begitu cepat membalas pesan nya, dan bahkan dia mengulangi mengirim pesan saat Annis tidak segera membalas pesan dari nya.


Dan hal itu cukup membuat Annisa sedikit khawatir, namun perasaan tersebut segera di tepis oleh Annisa, mengingat bagaimana sibuknya sang suami.


***


Suara bariton yang jelas terdengar oleh Emran dari arah belakang.


Tanpa menoleh pun Emran jelas tahu suara siapa itu, karena tidak akan ada orang yang berlaku congkak seperti itu jika dia tidak memiliki jabatan yang tinggi di kantor tersebut.


Mendapati direktur anak cabang perusahaannya duduk dengan begitu angkuh di hadapannya, Emran pun hanya tersenyum sinis.


"Oh jadi anda direktur disini ?"


"Cih. Jika tidak ada keperluan lain sebaiknya anda pergi !" ketus Hasan dengan begitu berani.


Mendengar hal itu Emran hanya tersenyum geli.


Hasan yang duduk di hadapan Emran pun cukup merasa emosi dengan sikap Emran yang seolah menertawakan dirinya.


"Bagaimana anda bisa mengusir saya jika anda tidak mengenal saya , Tuan Hasan !" ucap Emran dengan tatapan dingin.


"Hei !" sergah Hasan dengan menunjuk wajah Emran penuh kemarahan.

__ADS_1


Mendengar keributan yang di ciptakan oleh Hasan sang direktur dan Emran ,seketika hal itu mengundang perhatian banyak karyawan disana.


Hingga banyak diantara mereka menghentikan sejenak aktifitasnya untuk melihat perdebatan direktur mereka dengan seseorang yang tidak mereka ketahui identitasnya , namun sejujurnya memiliki peranan penting bagi seluruh karyawan disana.


Bagaimana tidak memiliki peran penting, sementara yang menggaji mereka termasuk direktur kantor tersebut merupakan Emran, sosok yang kini duduk di hadapan banyak orang di ruangan tersebut.


Sementara itu Amir terlihat menajamkan penglihatannya, mencari sosok bos besarnya yang mulai tidak terlihat karena banyaknya orang di lobby kantor tersebut.


Menyadari suasana di dalam sana tidak lagi baik-baik saja , Amir yang merasa khawatir dengan Emran segera bergegas menemui sang bos besar dan memastikan kondisinya baik-baik saja.


"Anda terlalu lancang tuan !, Saya peringatkan sekali lagi, jika tidak ada yang perlu anda bicarakan makan segera tinggalkan kantor ini !"


Ketus Hasan dengan begitu arogan, sangat berani dan seolah tidak pernah takut dengan apapun dan siapapun.


Mendapat ucapan yang begitu tidak sopan Emran hanya terkekeh kecil, masih dengan sikapnya semula, menyilangkan kakinya dengan sesekali menatap tajam pada Hasan.


"Anda cukup berani tuan Hasan !"


"Tentu saja, aku tidak pernah takut dengan siapapun !"


Mendengar hal itu Emran pun bertepuk tangan, dengan senyum yang menghiasi wajah nya.


"Waw luar biasa sekali ya Anda taun Hasan" ucap Emran masih dengan tepuk tangan yang terdengar menggema di seluruh ruangan.


Ruangan yang mendadak menjadi mencekam. Tidak ada satupun karyawan yang beranjak dari tempat tersebut, meski mereka begitu takut dengan tatapan Emran yang sangat menakutkan tersebut.


"Taun Hasan ! , Anda memiliki seorang putri yang baru saja di pecat dari perusahaan dimana dia bekerja sebelumnya, anda memiliki dua anak gadis lain yang juga masih membutuhkan biaya untuk kuliah, dan juga anda memiliki seorang istri yang sangat cantik, dan juga tentunya sangat suka berbelanja barang mewah"


"Em , bagaimana tanggapan mereka jika anda tiba-tiba bukan lagi direktur ?"


"Bagaimana jika hal itu terjadi ?, apa anda masih memiliki cukup keberanian ?"


"Bahkan aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi istri anda yang begitu glamor dengan gaya sosialitanya, mendapati suaminya bukan lagi siapa-siapa "


Ucap Emran dengan suara dingin , menatap tajam pada Hasan yang telah berdiri dan menunjuk Emran dengan sombongnya. Sementara Emran masih dengan posisi duduk sebelumnya.


"Kau !, Beraninya !"


Ucap Hasan dengan melayangkan sebuah bogem kearah wajah Emran, namun gerakannya kalah cepat dengan sebuah tangan yang tiba-tiba mencekalnya dari belakang.


Hasan pun menoleh sekilas pada Sosok yang tiba-tiba datang dan mengacaukan semuanya.


Begitu kagetnya Hasan mendapati sosok Amir yang berdiri tepat di belakangnya, mencengkeram kuat pergelangan tangannya.


Tatapan Amir begitu menakutkan dan terasa menguliti setiap bagian tubuh Hasan.


"T-tuan Amir "

__ADS_1


"Aa anda di sini taun !, Maafkan atas kekacauan ini !" sungkan Hasan pada Amir yang menyadari Sosok petinggi perusahaan utama datang ke kantornya secara tiba-tiba.


***


__ADS_2