
...Sudah aku Langit kan Semua inginku, sekarang tinggal Allah bagaimana baiknya....
...🍁...
Susah payah Annisa bangkit dari duduknya, meski tidak ada luka luar Annisa masih merasa begitu terkejut.
Benar saja Sosok yang kini berusaha membantu dirinya adalah Zyan. Annisa merasa tidak nyam ketika dirinya harus kembali berhadapan dengan Zyan, memilih untuk segera berlalu meninggalkan Zyan.
Namun bukan Membiarkan Annisa pergi justru Zhan mengejar Annisa.
"Annisa kau terluka !"
Ucap Zyan dengan mengemudikan mobilnya, menyusul Annisa yang berjalan cepat di trotoar.
Merasa jengah Annisa selalu mengabaikan dirinya, Zyan pun memarkirkan mobilnya di pinggir jalan, dan mengejar Annisa yang berjalan menjauhinya.
"Annisa !"
"Annisa !" panggil Zyan dengan meraih pergelangan tangan Annisa.
Merasa kaget dengan tindakan Zyan , Annisa pun berusaha menepis, namun nyatanya tenaga Zyan jauh lebih besar dibandingkan dengan dirinya.
"Lihatlah tanganmu berdarah, aku akan mengobati mu " Ucap Zyan dengan menarik Annisa untuk duduk di sebuah kursi yang kebetulan ada di trotoar tersebut.
Benar saja, rasa gugup yang Annisa rasakan, nyatanya membuat dirinya tidak sampai merasakan sakit yang ada di telapak tangannya, padahal darah telah banyak keluar dari luka tersebut.
Dengan sigap Zyan mengambil kotak obat,dan menghampiri Annisa,Zyan pun berinisiatif untuk membantu Annisa untuk membersihkan dan mengobati lukanya.
"Berikan padaku, Aku bisa melakukanya sendiri" ucap Annisa dengan dingin.
Meraih kasa yang akan Zyan gunakan untuk membersihkan tangannya.
Merasa tidak memiliki hak, Zyan pun akhirnya menuruti ucapan annisa, tidak mengobati Annisa lebih baik bagi Zyan daripada harus di tinggalkan karena Annisa merasa tidak nyaman dengan sikapnya.
Zyan hanya memperhatikan Annisa yang begitu hati-hati membersihkan lukanya. Sementara Annisa hanya menundukkan wajahnya, menahan agar Zyan tidak dapat menatapnya dengan leluasa.
"Annisa" lirih Zyan dengan hati-hati.
Mendengar hal itu Annisa pun hanya bergeming. Enggan baginya untuk menjawab panggilan dari Zyan.
"Aku hanya ingin mengatakan, Tamara tidak benar-benar hamil saat itu"
"Dia hanya memfitnahku, untuk menggagalkan pernikahan kita"
Deg.
Mendengar hal itu Annisa begitu terkejut, namun bukan itu yang lebih mengejutkan Annisa, tapi ucapan Zyan yang mengatakan jika Tamara tidak benar-benar hamil. Namun meski begitu Annisa tidak perduli akan hal itu, yang dia pikirkan hanya mengenai apa tujuan Zyan mengatakan hal itu padanya.
Annisa hanya terus berfikir dan tidak satu kalimat pun keluar dari mulutnya.
__ADS_1
"Aku masih sangat mencintaimu Annisa, Bisakah kau memberiku kesempatan untuk kedua kalinya"
Annisa pun mendongakkan wajahnya, menatap nanar pada Zyan yang baginya bukan lah siapa-siapa.
"Apa penjelasanku malam itu tidak cukup membuat mu Paham ?"
"Perlukan aku kembali mengatakan, Jika bagaimana pun keadaan saat ini, tidak akan pernah merubah keputusan ku"
"Berhentilah untuk berharap, Aku telah Membuka lembaran baru bersama Mas Emran, Suamiku !!" Ucap Annisa dengan tatapan menghujam
"Kalian menikah tidak dengan cinta Annisa!!" Tegas Zyan dengan begitu lantang.
"Cinta ?"
"Terkadang dalam pernikahan tidak butuh sebuah cinta untuk dapat bersama"
"Annisa --"
"Stop !!" Annisa yang mulai jengah dengan pembicaraan Zyan, akhirnya mengehentikan nya dan menyudahi obrolan diantara keduanya.
Menyadari Annisa akan beranjak pergi, Zayn pun dengan sigap menarik pergelangan tangan Annisa.
Namun tanpa disadari gerakan Zyan kalah cepat dengan Emran yang tiba-tiba muncul dan menarik Annisa dalam pelukannya.
"Berhentilah mempermalukan dirimu sendiri !"
"Aku peringatkan kau, untuk berhenti mengganggu istriku !!" tegas Emran dengan begitu mantap.
Mendengar ucapan Emran, Zyan hanya terdiam, ingin melawan namun dirinya tak memiliki cukup hak untuk tetap bertahan.
Emran pun membawa Annisa masuk kedalam mobil nya, meninggalkan Zyan yang masih berdiri menatap kepergiannya.
Terlihat jelas oleh pasang mata Emran dimana Zyan masih sangat mengharapkan Annisa. Namun Emran juga tidak akan pernah menyerahkan Annisa pada siapapun, sekalipun itu pada orang tuanya.
Pernikahan baginya adalah sesuatu yang sakral dan tidak bisa dia abaikan meski keberadaan Zyan cukup menjadi ancaman.
Selama berada di dalam mobil Annisa hanya terdiam, menatap lurus kearah luar jendela, entah apa yang tengah Annisa pikirkan.
"Annisa"
Mendengar panggilan dari sang suami Annisa hanya menatap sekilas, dan kembali membuang pandanganya.
"Apakah tanganmu terluka ?"
Lagi-lagi Annisa hanya diam, dan enggan memberikan tanggapan atas pertanyaan sang suami.
Hening.
"Maafkan aku"
__ADS_1
"Kau tidak perlu meminta maaf"
"Aku tau kau marah karena kejadian tadi"
"Aku tidak marah" Sela Annisa
"Lalu ?"
"Aku hanya kecewa"
"Bagaimana seorang suami bisa dengan begitu mudah membiarkan wanita lain menyentuhnya"
"Di dalam sebuah hadist, Rasulullah SAW menyampaikan bahwa kebanyakan penghuni neraka adalah wanita. Namun meski begitu, neraka bisa menjadi tempat bagi banyak pria"
"Bahkan kaum pria bisa dengan mudah masuk ke dalam An-Nar atau neraka bila mereka berbuat dzalim dan mengabaikan tanggung jawabnya sebagai pria"
Jika golongan pertama adalah ayah yang lalai akan tanggung jawabnya, maka Golongan kedua yang akan menjadi penghuni neraka yaitu suami yang durhaka dan dzalim kepada istrinya. Istri merupakan amanah yang dititipkan walinya kepada seorang pria yang bernama suami. Wali wanita itu tentu mau melepaskan anak, saudara mereka karena mereka yakin suaminya dapat menjaga anak dan saudara mereka dengan baik.
Pesan berbuat baik kepada wanita bukan saja harapan setiap wali, tetapi perintah yang jelas ditegaskan oleh Allah dan Rasul-Nya dalam kitab dan sunnah.
ۚ وَعَاشِرُوهُنَّ بِٱلْمَعْرُوفِ ۚ فَإِن كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًٔا وَيَجْعَلَ ٱللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا
Dan bergaullah dengan mereka secara baik, kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, maka bersabarlah karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kepadanya kebaikan yang banyak. (QS Annisa:19).
Emran hanya terdiam mendengar ucapan Annisa yang begitu datar namun syarat akan sindiran. Emran pun sadar dirinya telah begitu melukai hati sang istri.
"Aku janji tidak akan terjadi lagi kejadian seperti tadi"
"Tidak perlu menjanjikan apapun mas"
"Janji pun berat pertanggung jawabannya, kau hanya perlu melakukan tugasmu sebagai Suami dan imam yang baik dalam keluarga"
Meski terus berbicara nyatanya Annisa masih saja mengabaikan Emran yang ada di sampingnya, hingga Emran pun meraih tangan sang istri dan mengecupnya dengan lembut.
"I love you"
Mendapatkan kalimat mujarab dari sang suami, wajah Annisa pun bersemu merah,meski tak tampak oleh Emran, namun jelas terlihat sorot wajah Annisa yang begitu bahagia.
"Apa kau ingin ke suatu tempat ?" Tanya Emran berusaha mencairkan suasana.
"Tidak"
"Baiklah jika begitu kita pulang ?"
"Terserah"
Mendengar jawaban singkat dari Annisa, Emran pun hanya menggelengkan kepala, jujur makhluk tersulit untuk di kendalikan di muka bumi adalah makhluk yang bergelar wanita.
***
__ADS_1