HIJRAH CINTA ANNISA

HIJRAH CINTA ANNISA
87. Kecelakaan


__ADS_3

...Dihina itu tidak berbahaya untuk diri kita, yang paling berbahaya adalah kita yang tidak merasa hina diatas dosa-dosa kita ...


...🍁...


Menunggu beberapa saat akhirnya kelas pun telah usai, dan kini Annisa telah siap menunggu Yasmine di tempat sebelumnya dia mengantarkannya.


Benar saja Yasmine begitu bahagia ketika melihat Annisa, terlihat Yasmine melambaikan tangannya setelah berpisah dengan teman-teman barunya serta para pengajar yang terlihat begitu ramah dan kompeten.


Bersamaan dengan itu Dering telepon Annisa pun terdengar memekakkan telinga, meraih smartphone miliknya dan melihat satu nama yang tertera disana, cepat cepat Annisa menggeser ikon tanda hijau dan menyambungkan Telepon tersebut.


"Assalamualaikum mas ?"


" Waalaikumsalam Annisa, Maaf sepertinya hari ini aku tidak bisa menjemput mu dan Yasmine, aku telah meminta supir untuk menjemput kalian"


"Oh, baiklah mas tidak masalah, kami akan langsung pulang"


Tuttt


panggilan telepon pun diakhiri setelah keduanya saling mengucapkan salam.


***


Sementara itu di langit yang sama dan tempat yang berbeda Emran tengah di sibukkan dengan beberapa pekerjaan dan agenda tahunan perusahaan, banyak berkas yang harus dia bubuh i tanda tangannya.


Tidak hanya Emran, tentunya seluruh karyawan di perusahaan Emran juga sama sibuknya membuat laporan akhir tahun yang begitu banyak dan harus selesai sesuai target.


Brak !!


Kembali fokus Emran harus terpecah karena pintu ruangannya kembali dibuka paksa oleh seseorang.


Dan benar saja, setelah mendongakkan wajahnya, Emran mendapati Sania telah berdiri tepat di ambang pintu dan berjalan mendekat kearahnya.


"Maaf tuan, Saya --"


Mendengar ucapan sekertaris nya Emran pun hanya mengibaskan tangannya, memberikan isyarat untuk meninggalkan keduanya.


"Ada apa lagi Sania ?"


"Apa penjelasanku belum cukup membuatmu paham ?"


Mendengar hal itu Sania hanya bersungut kesal, namun dia yang begitu pandai dalam tipu muslihat tidak sedikitpun menjawab ucapan Emran dan hanya menampakkan air mata buaya.


Sania terlihat begitu sedih meski dalam balutan makeup tebal dan baju seksi yang dia kenakan.


"Hentikan Sania , Katakan apa yang kau inginkan, karena aku tak memiliki banyak waktu untuk meladeni mu " ketus Emran yang mulai merasa kesal karena Sania hanya diam dan menangis di hadapannya.


"Aku masih tidak terima, kenapa kau melakukan ini padaku Emran?"


"Apa wanita itu telah mencuci otakmu , sampai kau begitu mudah melupakanku ?"

__ADS_1


Sania begitu sarkas menyebut Annisa dengan begitu tidak suka. Menampakkan kebenciannya pada sosok istri baru laki-laki yang sangat dia cintai.


"Apa kah kebersamaan kita tidak ada artinya untukmu ?"


"aku pernah mengatakan jika ingin menikahi ku !, lalu kenapa kau menikahi wanita yang sudah seperti tero ris itu !!" ketus Sania dengan begitu sinis


"Stop !!"


Emran yang tidak terima Sania mengatakan kalimat rasis pada sang istri pun akhirnya bereaksi, setelah sebelumnya diam dan mendengar kan apa yang ingin Sania katakan.


"Jika kau kesini hanya ingin menjelekkan istriku, sebaiknya urungkan niat mu, karena aku tidak akan pernah segan untuk memberi pelajaran pada siapapun termasuk dirimu !!"


"Dan lagi aku hanya menjanjikan pernikahan padanya disaat kau telah mampu meluluhkan hati putriku"


"Namun nyatanya bukan luluh, Yasmine justru merasa takut padamu ?"


"Dan menurut mu apakah janji itu masih berlaku"


"Aku rasa kau cukup cerdas untuk berfikir tentang hal itu"


Tegas Emran dengan tatapan tajam pada Sania, dan tentunya ucapan Emran begitu melukai hati Sania. Sania tetap menganggap jika semua yang terjadi padanya adalah ulah dari Annisa.


"Tapi aku tidak bisa Sayang"


"Aku mohon beri aku kesempatan"


"Aku berjanji akan melakukan yang terbaik untuk mu dan tentunya untuk Yasmine" ucap Sania penuh permohonan.


Melihat sikap acuh Emran Sania begitu dibuat geram dan merasa terabaikan.


Tap tap tap


Tidak gentar Sania melangkah maju dan menarik kursi kebesaran Emran, hingga Emran pun sedikit merasa kaget akan hal itu.


Sania yang sudah lepas kendali pun akhirnya duduk di pangkuan Emran, memeluk Emran dengan begitu erat, menyandarkan kepalanya di dada bidang Emran.


"Aku mohon sayang, aku tidak bisa untuk jauh darimu"


"Aku sangat mencintaimu !"


Mohon Sania dengan begitu yakin Emran akan tergugah hatinya untuk kembali melihat Sania.


Namun bukan dia merasa bahagia, Emran justru merasa risih, hingga dia pun mencoba untuk melepaskan pelukan Sania dan mencoba menyingkirkan wanita tersebut dari pangkuannya.


Bukan merasa malu , Sania justru semakin berani membuka kancing kemeja Emran dan mencium leher jenjang Emran dengan begitu beran, sontak hal itu membuat Emran menjadi marah, sekuat tenaga Emran mencoba melepaskan pelukannya, namun disaat bersamaan Sania pun juga semakin erat memeluknya.


Hingga pada saat mata Emran terbelalak sempurna, menatap sosok Annisa dan sang putri telah berdiri tepat di ambang pintu ruangan.


Terlihat sorot mata Annisa yang mulai melelehkan cairan bening dari sudut matanya.

__ADS_1


Begitu juga dengan sang putri Yasmine yang begitu terkejut.


"Daddy sedang apa dengan Aunty Sania?" celoteh Yasmine.


Annisa begitu kalut dan merasa serba salah berada di situasi yang tidak tepat, kedatanganya saat ini nyatanya justru membuat hatinya begitu kecewa dan terluka.


Menyadari hal itu Emran pun dengan keras mendorong bahu Sania, hingga wanita tersebut terjatuh ke lantai, namun saat ini yang dia dapati adalah Annisa telah pergi meninggalkan ruangan tersebut, meninggalkan Yasmine dan Emran dalam kebingungan.


"Amir !"


"Ya tuan !"


"Bawa Yasmine pulang !"


"Baik tuan"


Setelah memberi perintah pada asisten pribadinya, Emran bergegas meninggalkan kantor dan menyusul Annisa yang entah pergi kemana.


Sementara itu Sania yang masih tertunduk diatas lantai begitu merasa puas, terlihat jelas guratan senyum bahagia di bibirnya, menganggap bahwa Dewi Fortuna kini tengah berpihak pada dirinya.


***


Diwaktu bersamaan Annisa yang merasakan kesedihan yang teramat sangat, berlari entah kemana, bahkan diapun juga tak tahu kemana tujuannya saat ini.


Srak !!!


Brak !!!


Terdengar decit Rem mobil yang berhenti mendadak di jalanan kota yang lumayan lengang.


Annisa yang merasa kaget pun hanya dapat tertunduk lemas di atas jalanan. Bersyukur dirinya tidak tertabrak kendaraan yang melintas.


Nyaris Annisa mengalami kecelakaan setelah dirinya yang tidak berhati-hati ketika menyebrang jalan.


"Nona tidak papa ?"


"Apa nona baik-baik saja"


Mendengar hal itu Annisa hanya bergeming, hatinya saat ini tidak hanya sakit namun juga diliputi rasa takut akan kecelakaan yang hampir saja menimpanya.


Annisa yang hanya diam pun, akhirnya di papah oleh seseorang yang sebelumnya hampir saja menabrak dirinya.


Namun sentuhan tangan tersebut segera Annisa tepis tatkala menyadari seorang laki-laki lah yang akan menolong dirinya.


"Tidak , maaf saya bisa sendiri" tolak Annisa dengan sopan .


"Annisa !"


Sebuah panggilan yang seketika mengagetkan Annisa, suara yang terdengar begitu familiar di telinganya.

__ADS_1


***


__ADS_2