
...Kau boleh jadi Kalah , Namun Ingat jangan pernah menyerah...
...🍁...
Dua Minggu sudah Emran dan Annisa berada di Indonesia, kini kondisi Abi jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya. Sudah dapat duduk dan berjalan ke kamar mandi meski masih dengan bantuan orang di sekitarnya.
Sempat merasa khawatir, namun doa nyatanya jauh lebih kuat diatas segalanya, dan Allah maha penentu takdir umatnya.
Bahkan hingga detik ini ucapan syukur pada Allah SWT tidak pernah sekalipun Annisa lupakan.
Meski masih berada di rumah sakit namun Annisa jauh lebih tenang karena sang Abi hanya membutuhkan beberapa hari lagi untuk pemulihan, setelahnya bisa kembali lagi ke pesantren.
Hari ini tepat di mana keduanya memutuskan untuk kembali ke Dubai, mengingat kesibukan Emran yang tidak dapat di tinggalkan lebih lama lagi. Juga karena Yasmine yang sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan Annisa.
Dan lagi masih ada satu urusan Emran yang belum selesai di negara tersebut, membuatnya harus segera kembali ke Dubai.
"Abi, jaga kesehatan ya, jangan lupa selalu berkabar jika ada sesuatu" ujar Annisa, dengan usapan lembut di pipi yang sudah tidak lagi mulus.
"Iya Annisa, InshaAllah" ucap Abi dengan lembut.
Senyum teduh sang Abi yang selalu membuat Annisa kuat menghadapi apa pun, itu yang selalu Annisa rindukan dari sosok Abi nya itu.
Tidak hanya Abi dan Ummi, di ruangan tersebut ada pula Fathur dan Khadijah, juga Aishah dan sang suami, tak lupa Annisa dan Emran berpamitan pada semuanya.
Sedikit wejangan yang Fathur khusus sampaikan pada Emran.
"Jangan pernah menyakiti hati Annisa, dia adalah kebanggan keluarga kami, Jika dia berbuat salah maka nasihati lah, Namun jika kau sudah tidak kuat maka kembalikan lah"
"Kami akan selalu terbuka menerima Annisa" lirih Fathur dengan mengusap sudut mata nya yang tanpa di sadari melelehkan cairan bening.
Tentu hal itu tak luput dari pendengaran Annisa, Annisa tahu jika kakak laki-lakinya tersebut sudah seperti Abi kedua baginya, dia teramat menyayangi Annisa bahkan setelah Annisa telah menikah.
"Baik Ka Fathur"
"InshaAllah saya akan selalu menjaga Annisa sesuai amanah yang telah kakak dan keluarga percayakan pada saya" Ujar Emran. Mendengar hal itu Fathur tampak lega.
***
Tiket keberangkatan Annisa dan Emran telah di siapkan Amir dari sejak beberapa hari yang lalu.
Setelah berpamitan pada seluruh keluarga, keduanya beranjak meninggalkan rumah sakit, meninggalkan seluruh keluarga yang masih setia menjaga sang Abi.
Berat sejujurnya meninggalkan tempat tersebut, namun Annisa tidak bisa mengabaikan begitu saja suami nya.
__ADS_1
Annisa yang memang kurang istirahat dalam beberapa hari terakhir, membuatnya langsung tertidur ketika masuk kedalam cabin pesawat.
Emran sendiri paham dengan apa yang di alami sang istri, selain harus mengurus Abi, Emran juga paham Annisa harus mengurus bayinya yang masih dalam kandungan.
Beruntung Annisa tidak mengalami mual dan muntah seperti kebanyakan wanita hamil lainya, namun hal itu tidak lantas membuat Emran tenang-tenang saja.
"Sayang kita sudah sampai" Ucap Emran dengan lembut.
Sentuhan lembut Emran di pipi Annisa nyata nya mampu membuatnya terjaga, sejenak mengerjakan mata, menatap dirinya yang tertidur di dalam pesawat entah sejak kapan.
"Kenapa rasanya cepat sekali mas?" Tanya Annisa yang merasa sepertinya baru saja rasanya dia tidur.
Bukan menjawab Emran justru hanya melemparkan senyuman.
"Kita turun yuk" Ajak Emran dengan meraih tangan sang istri dalam genggaman. Annisa hanya menurut saja sang suami.
"Ngurah Rai Internasional Airport" Lirih Annisa dalam kebingungannya.
"Mas kita di Bali ?" . Tanya Annisa yang tampak tak percaya.
"Iya sayang"
"Bukankah seharusnya kita di Dubai?"
"Sepertinya sejak menikah kita tidak pernah pergi berlibur apa lagi bulan madu"
"Anggap saja ini bukan madu kita yang tertunda. Hanya kita sayang" bisik Emran di telinga sang istri.
Mendengar ucapan Emran, seketika wajah Annisa pun memerah, beruntung kini dia mengenakan cadar, hingga Emran tidak dapat melihat betapa Annisa merasa sangat malu.
Sebuah mobil yang sebelumnya telah menunggu keduanya kini membawa mereka menuju hotel yang juga telah di siapkan oleh sang asisten yang berada jauh di sana. Ya, siapa lagi jika bukan Amir.
"MashaAllah" ucap Annisa ketika melangkahkan kaki masuk kedalam kamar hotel.
"Kau suka sayang ?"
"Sangat mas"
Annisa sampai tak dapat mengedipkan mata, ketika pemandangan pertama yang dia lihat adalah hiasan dua ekor angsa putih yang terlihat menyatu diatas tempat tidur berukuran king size.
Menyusuri setiap ruangan di dalam kamar , begitu banyak taburan mawar merah serta lilin-lilin yang menambah kesan romantis.
Lebih jauh melangkah, Annisa mengedarkan pandangan pada kolam renang yang begitu luas dengan taburan mawar merah serta hiasan Namanya dan Emran yang dibuat menggunakan lembaran kelopak mawar putih.
__ADS_1
Sungguh semua ini diluar dugaan Annisa, jika sang suami akan seromantis ini.
Mengingat jika Emran yang dulu adalah seseorang yang begitu arogan dan kasar, rasanya tidak mungkin dia memiliki sisi romantis, tapi nyatanya hal itu terpatahkan hari ini.
Tepat berada di depan kolam, Emran yang sebelumnya berdiri tepat di belakang Annisa kini telah bersimpuh dengan satu lututnya.
"Mas , Mau ngapain ?"
Bukan menjawab Emran justru memberikan sebuah kotak pada Annisa.
"I Love You Istriku " Ucap Emran dengan menyematkan sebuah cincin berlian di jari manisnya.
Annisa begitu bahagia dengan sikap romantis sang suami.
"I Love You Too Suami ku"
Begitu bahagia , hingga Annisa menghambur dalam pelukan sang suami.
Tidak hanya Annisa, nyatanya Emran pula begitu menikmati momen tersebut, setelah beberapa hari dirinya harus terpisah dengan Annisa, sejujurnya Emran teramat sedih dan kesepian.
Bukan tanpa alasan Emran singgah di Bali, karena jika langsung berangkat ke Dubai, sedah dapat di pastikan jika sang istri akan di kuasai oleh putrinya.
Bukan apa apa, hanya saja sebagai laki-laki normal, Emran sangat membutuhkan Annisa untuk mengobati kerinduan nya.
Emran merasa sudah tidak lagi dapat menahan hasrat untuk bersama sang istri, terlebih selama di rumah sakit Annisa selalu meminta untuk tidur di rumah sakit, tidak sekalipun keduanya pulang ke rumah, dan tentu hal itu yang membuat Emran semakin tersiksa.
Kali ini Emran terlihat begitu manja, hingga Annisa merasa sangat geli, sedari tadi Emran terus saja membenamkan wajahnya di celekuk lehernya.
"Sayang "
"Em. Iya mas"
"Apa bo---"
"Boleh mas , Asalkan mas Emran hati-hati" ucap Annisa dengan lembut.
"Benarkah ?" girang Emran penuh semangat.
"Iya"
Annisa begitu paham apa yang saat ini sangat di rindukan sang suami, dia juga bukan anak polos yang tidak paham apa kebutuhan suami ya saat ini.
Mendengar jawaban sang istri, Emran seolah mendapatkan lampu hijau. Jujur ingin sekali saat ini juga dia terobos, namun mengingat sang istri terlihat begitu pucat, Emran pun mengurungkan niatnya. Dia memilih untuk mengajak Annisa makan dan berjalan-jalan terlebih dahulu.
__ADS_1
***