
...Cinta itu Seperti sebuah JANJI, dan Kesetiaan adalah BUKTI...
...🍁...
Nyata ya tidak hanya itu saja yang Amir bawa untuk Emran, Amir sendiri telah menangkap Pelaku yang membantu Sania untuk melancarkan aksinya.
"Bawa dia masuk !" titah Amir pada beberapa bodyguard yang telah berjaga di bagian depan serta membantunya menangkap sang pelaku.
Seorang laki-laki bak preman yang nyatanya juga seorang Broker IT , Meringis menahan sakit akibat tangannya yang di ikat ke belakang, serta di seret paksa menghadap Emran.
Wajah laki-laki tersebut terasa asing bagi Emran. Laki-laki yang memang mungkin saja belum pernah Emran temui sebelumnya.
"Ampun tuan, Jangan bunuh saya , Saya hanya menjalankan perintah" ujar sang preman merasa takut.
"Katakan Jika benar Sania lah yang telah memintamu melakukan semua ini !!" Tegas Emran dengan suara lantang.
Tanpa keraguan preman tersebut menganggukkan kepala "I iya tuan, ma maafkan saya " Ujar sang preman dengan wajah pucat pasi, serta wajah yang babak belur akibat hantaman bogem dari beberapa bodyguard Amir.
"Kurung dia ,dan beri dia pelajaran !!" Titah Emran pada bodyguard nya.
"Baik Tuan !" Jawab serentak para bodyguard di sana.
Setelah kepergian para bodyguard dan preman yang entah dibawa kemana, kini tinggal lah Emran dan Amir yang masih berada di ruangan yang sama.
Setelahnya Obrolan diantara keduanya adalah mengenai Sania yang akan menjadikan Emran sebagai kambing hitam atas kehamilannya.
Tentu dugaan Amir ini bukan tanpa alasan, karena niat Sania adalah memisahkan Annisa dari Emran dengan cara mengusik keluarga Annisa.
Dan benar saja nyatanya rencana Sania tersebut berhasil sempurna, diluar dugaan Orang tua Annisa tidak sadarkan diri, dan nahasnya hubungan Emran dan Annisa pun juga berantakan.
"Tuan Secepat mungkin kita harus menghubungi Nyonya Annisa, karena jika tidak saya khawatir informasi kehamilan Nona Sania akan sampai ke tangan Nyonya Annisa"
"Hal itu tentu akan semakin berdampak buruk" ujar Amir
Emran tampak mengeratkan kepalan tangannya, andai saja dia tidak ingat jika Sania seorang wanita, mungkin dia akan menghajarnya habis-habisan.
"Apa kau sudah menemukan pria yang telah menghamili Sania ?" Tanya Emran
"Untuk yang menghamili Nona sania saya belum dapat memastikan tuan, karena dari informasi yang saya peroleh Nona Sania menjalin hubungan dengan banyak pria"
__ADS_1
"Bahkan salah satu dari pria yang bersama Nona Sania adalah Laki-laki yang baru saja saya tangkap"
"Untuk memastikan siapa yang menghamilinya, perlu dilakukan tes DNA terlebih dahulu tuan " Ujar Amir lagi
Emran tampak menghembuskan nafas kasar, menyadari langkahnya akan sedikit sulit, namun bukan berarti tidak mungkin, kekuatan Emran tidak dapat di remehkan begitu saja.
"Baiklah, lakukan tes DNA pada semua laki-laki yang pernah tidur bersama wanita ****** itu" titah Emran
"Aku ingin hasilnya besok !"
"Baik Tuan !"
Hal ini sedikit mustahil, namun bukan berarti tidak mungkin, Meski akan sedikit berat , namun Amir mengiyakan saja apa yang menjadi titah dari bos nya. Tidak sulit bagi Amir untuk menghubungi rumah sakit dan mendapatkan apa yang dia inginkan malam ini juga, tentunya hal itu dengan nama besar Emran.
Benar saja malam itu juga semua bodyguard, Amir kerahkan untuk menangkap satu persatu laki-laki yang sempat menjelajah bersama Sania.
Sementara itu Sania masih terkapar tak berdaya akibat obat tidur yang telah Amir siapkan sebelum rencana nya di mulai.
Untuk yang satu itu Amir sebelumnya meminta bantuan pada Tamara, yang sempat beberapa kali bertemu dengan Sania dalam rangka pekerjaan bersama perusahaan Emran sebelumnya.
Nyatanya tidak sulit bagi seorang Tamara untuk mengelabuhi Sania dan membuatnya terkapar begitu saja, hingga jalannya membawa Sania ke rumah sakit begitu mulus.
***
Waktu menunjukan pukul 09.15 Cukup terik bagi seorang Amir untuk bangun.
Tidak seperti biasa Amir akan siap di jam-jam pagi , bahkan sebelum bosnya terjaga, dia telah siap untuk melayani bosnya.
Namun malam tadi dia terpaksa untuk tetap terjaga, hal itu dia lakukan bukan tanpa alasan, Amir ingin benar-benar memastikan hasil dari tes DNA tersebut tidak ada yang menyabotase.
Setelah membersihkan diri dan mengganti pakaian, Amir terlihat cukup segar, kini saatnya bagi Amir untuk menuju ruang dokter dan menerima hasil kerja keras para dokter semalaman.
Sama hal nya dengan Amir, semua dokter yang bertugas semalam juga sama-sama tidak tidur.
Setelah cukup mendapatkan penjelasan dari hasil pemeriksaan sebelumnya, Amir bergegas menuju kediaman Sang bos besar.
Sesuai dugaan Amir, benar jika hati ini Emran tidak ke kantor, mengingat malam sebelumnya Yasmine begitu murka atas kepergian Annisa.
Emran dan Amir telah duduk bersama di ruang kerja, kini ada setumpuk kertas yang Amir sodorkan pada Emran.
__ADS_1
Satu persatu lembaran kertas Emran baca dengan seksama, tiba pada sebuah lembaran kertas yang menyatakan kecocokan DNA antara janin milik Sania dan sang laki-laki.
Sebuah nama yang terasa tidak asing di benak Emran , Harun. Seorang rentenir yang Emran ketahui kerap kali bertemu dan terlibat cekcok dengan Sania beberapa hari yang lalu.
Dan ternyata dia lah yang menjadi Ayah biologis dari anak yang saat ini tengah di kandung oleh Sania.
"Siapkan keberangkatan ku ke Indonesia!" titah Emran
"Tapi tuan !"
"Apa kau sudah bosan bekerja denganku ?, Pernahkan aku menerima kata tapi ,!"
"Baik Tuan !"
Lagi dan lagi Amir hanya dapat menahan kemarahannya tatkala sang bos selalu memintanya melakukan sesuatu yang tak terduga.
"Maaf tuan perlukah saya siapkan untuk nona Yasmine?"
"Tidak !. Bahkan dirimu pun juga tidak !. Hanya aku saja yang akan berangkat" Tegas Emran
"Baik Tuan !"
Setelah mendapatkan tugas baru dari sang bos Amir bergegas berlalu meninggalkan ruang kerja Emran, dan menyiapkan segala keperluan Emran selama di Indonesia.
Nyatanya bukan hanya penerbangan saja yang harus Amir siapkan, termasuk baju dan lain lain haruslah Amir siapkan pula.
Sementara Amir tengah dibuat sibuk, Emran tengah bersama sang putri yang masih begitu sedih atas kepergian Annisa.
"Apa Daddy janji akan membawa mommy kembali ?" lirih Yasmine dengan sesenggukan
"Tentu sayang, kita akan bersama lagi dengan mommy"
"Janji ?"
"Janji !" Tegas Emran tanpa sedikitpun keraguan.
Meski masih begitu menyimpan kemarahan terhadap sang ayah, namun Yasmine menurut saja pada Emran tatkala Emran mengatakan akan menyusul Annisa ke Indonesia, namun tidak dengan membawa Yasmine serta bersama nya.
Tidak masalah bagi Yasmine jika harus menunggu, asalkan sang Mommy bisa bersamanya kembali, Yasmine pun berjanji akan menjadi anak yang baik dan penurut.
__ADS_1
***