HIJRAH CINTA ANNISA

HIJRAH CINTA ANNISA
41. Kamar Annisa 2


__ADS_3

...Perkara Jodoh itu Seperti "Alif Lam Mim" Merupakan Ayat pertama Surah Al-Baqarah, maknanya "Hanya Allah Yang Tahu"...


...🍁...


Biasa dan datar itulah ekspresi yang saat ini jelas tergambar di wajah Emran. Hanya sesekali tersenyum pada tamu yang memberi selamat padanya dan Annisa.


Bukan tidak menerima, hanya keputusan yang dia ambil secara dadakan dan tanpa persiapan ini cukup membuatnya merasa masih tidak percaya.


"Selamat tuan " ucap Amir dengan suara datar.


"Em" Jawab Emran singkat dengan menatap sekilas wajah Sang asisten pribadinya tersebut.


"Anda akan Terbiasa setelah ini" Ucap Amir lagi.


"Apa aku menanyakan pendapatmu" ketus Emran yang merasa Amir banyak bicara padanya.


Menyadari tatapan tajam dari Emran, Amir pun hanya mendelik menyembunyikan wajahnya dan memilih segera berlalu dari hadapan sang bos besar.


"Yasmine di mana mba asih " orang pertama yang di tanyakan Annisa setelah dirinya sah menjadi Nyonya Emran Al-Fatih.


"Sama Sari Nyonya, dikamar " jawab Mba Asih sopan.


Annisa pun menganggukkan kepala. Setelahnya bergegas menuju rumah untuk menemui putri kecilnya.


Melihat kepergian Annisa, Emran pun menyusul dan mengekor dadi arah belakang. Mengingat tamu-tamu juga telah banyak yang pulang.


Acara resepsi yang sebelumnya akan digelar, kali ini Abi Ali hanya akan melakukan syukuran dengan mengundang para tetangga, saudara, dan seluruh santri di pesantren karena memang acara tidak berjalan sesuai konsep awal.


"T-tuan" Ucap Annisa ketika menyadari Emran ada di belakangnya.


"Apa ?" Jawab Emran dengan mengangkat dagunya.


"Tidak, Silahkan " Jawab Annisa dengan meraih Handel pintu kamar, mempersilahkan Emran untuk masuk.


Ini merupakan kali kedua Emran memasuki ruangan tersebut, dimana pertama kali Emran masuk ke kamar tersebut sebagai orang asing, Namun saat ini dia masuk lagi kedalam ruangan tersebut sebagai suami dari sang pemilik kamar.


Annisa pun bergegas menghampiri Yasmine yang masih lelap dalam tidurnya. Mengusap lembut pipi gadis kecil tersebut. Ada rasa haru di hati Annisa ketika melihat wajah polos tersebut.


"Mommy" Panggil Yasmine dengan mengerjabkan mata, menggeliatkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri.


Annisa pun tersenyum melihat Yasmine yang begitu manis . Sementara Emran masih duduk di kursi yang ada di depan meja rias kamar tersebut, tidak ada sofa dan sejenisnya, karena memang kamar tersebut cukup biasa dan sangat sederhana.


"Mommy sudah menikah ?" Tanya Yasmine dengan wajah polos. Annisa pun menjawab dengan anggukan kepala.


"Kenapa Mommy tidak memberitahuku, aku ingin melihat Mommy menikah" Ucap Yasmine dengan mata berkaca-kaca.


"Sayang , Yasmine kenapa ?" Tanya Annisa yang menyadari raut wajah gadis kecil tersebut berubah sendu.

__ADS_1


Yasmine hanya menggelengkan kepala, Emran pun juga ikut mengarahkan pandangan kepada Yasmine.


"Daddy ! , Kenapa Daddy tidak mengatakan kalau Mommy telah menikah, kenapa Daddy tidak membangunkan Yasmine" Kesal Yasmine pada sang Daddy.


Emran menarik kursi yang dia gunakan untuk duduk sebelumnya, untuk lebih dekat dengan tempat tidur.


"Sayang, Apa Yasmine berfikir Mommy menikah dengan Paman itu ?" Tanya Emran yang paham tentang suasana hati sang putri.


Yasmine pun menganggukkan kepala, dan setelahnya terdiam dengan kepala menunduk.


"Yasmine, Mommy tidak menikah dengan Paman itu " ucap Emran lembut.


Mendengar hal itu Yasmine pun mendongakkan wajahnya, mencari kebenaran dari ucapan Daddy nya.


"Benarkah Mommy?"


Annisa menganggukkan kepala, dengan mengulas senyum di balik cadar yang dia kenakan.


"Lalu Mommy menikah dengan siapa ?" Tanya Yasmine dengan polos


"Mommy. Menikah dengan Daddy" Ucap Emran lagi.


Yasmine pun membulatkan kedua bola matanya, lagi-lagi gadis kecil tersebut mencari kebenaran di mata Emran.


"Benarkah Mommy?" tanya Yasmine. Dan Annisa menjawab dengan anggukan kepala.


"Iya sayang " Jawab Annisa dengan menatap sekilas wajah Emran yang telah sah menjadi suaminya.


"Hore ! "


"Hore !"


"Hore !"


Binar bahagia terpancar jelas di wajah gadis kecil yang kini tengah melompat kegirangan di hadapan Emran dan Annisa.


"Sayang Hati-hati, kau bisa jatuh" ucap Annisa yang merasa khawatir


Melihat reaksi Annisa , Emran pun mengulas senyum tipis di wajahnya, sangat tipis hingga Annisa tidak dapat melihatnya.


***


Acara syukuran akan di lakukan setelah sholat Isya. Semua persiapan telah siap dengan hidangan yang tersaji dalam jumlah yang cukup banyak.


"Hei , Pakai ini " Ucap Amir dengan mengulurkan Jas miliknya.


Iba Emran melihat Tamara yang masih mengenakan dress yang sama dengan pertama kali mereka bertemu. Sebetulnya ada kakak Annisa yang memberikannya gamis, namun Tamara menolaknya, Tamara beralasan jika dirinya tidak pantas mengenakan pakaian itu, atau itu hanya menjadi alasan karena sejujurnya Tamara tidak nyaman mengenakannya.

__ADS_1


"Orang akan memandangku rendah jika kau mengenakan pakaian seperti itu, Lagi pula sudah berapa hari kau tidak mandi ?" Tanya Amir yang merasa kesal dengan sikap Tamara


Dengan berat hati Tamara menerima jas yang di berikan padanya, karena merasa apa yang di katakan oleh Amir ada benarnya juga.


Tamara mengenakan jas tersebut, sementara Amir mengambil tempat duduk di samping Tamara dengan jarak dua bangku di tengahnya.


Keduanya duduk di teras rumah Abi Ali, menikmati silir angin, dan lalu lalang beberapa orang dan para santri.


"Apa kau benar-benar hamil ?" Tanya Amir tanpa.basa basi.


Tamara menatap tidak percaya pada sosok yang baru dia kenal dan saat ini tengah duduk di sampingnya.


"Apa aku perlu menjawabnya ?" Tanya Tamara jengah.


"Tidak harus "


"Hanya saja aku merasa kau tidak benar-benar hamil" Ucap Amir, dan lagi-lagi pernyataan itu sukses menyita perhatiannya.


"Jika kau tahu kenapa harus bertanya ?" Jawab Tamara dengan suara datar. Masih dengan wajah yang menatap lurus ke depan.


"Apa kau gila ?"


"Sudah sejak lama !" ucap Tamaran dengan mengulas senyum getir.


Beberapa hari yang lalu Tamara mengaku tengah hamil pada Zyan hanya untuk menarik perhatiannya, namun saat ini Tamara mengaku hamil nyatanya bukan karena dirinya ingin menarik Zyan.


Entah keberanian dari mana hingga dirinya mengatakan hal itu di hadapan banyak orang sebelumnya.


Yang jelas tujuan Tamara hanya untuk memberi pelajaran tua Bangka yang tidak tahu diri, Ya. Siapa lagi jika bukan pak Malik, mantan calon mertuanya, yang begitu tidak menyukainya.


***


Beberapa saat berlalu akhirnya acara syukuran pun berlangsung, banyak para tamu yang mulai berdatangan. Memberikan doa dan selamat pada kedua pasang pengantin baru.


Sementara Yasmine kembali di bawa oleh dua orang pengasuhnya untuk beristirahat.


"Nis, Sepertinya suamimu belum makan sama sekali Kaka lihat" Ucap Aisha mengingatkan.


Annisa pun mengerutkan dahi , sejujurnya dia tidak begitu memperhatikan hal itu, namun saat ini situasinya berbeda, Annisa menyadari status nya saat ini merupakan istri dari mantan Atasannya.


"T-tuan apa anda membutuhkan sesuatu ?" Tanya Annisa sedikit canggung.


"Tidak terima kasih " jawab Emran datar.


Krukkk...


Terdengar bunyi keroncongan yang jelas dari perut Emran.

__ADS_1


Menyadari hal itu Annisa hanya tersenyum simpul "Tunggulah di kamar, aku akan siapkan makanan dan membawanya kesana " ucap Annisa, dan setelahnya berlalu meninggalkan Emran yang masih berdiri menyambut tamu.


__ADS_2