HIJRAH CINTA ANNISA

HIJRAH CINTA ANNISA
48. Kesan Pertama


__ADS_3

...Dibalik hati yang sabar, Ada harapan yang begitu Besar....


...🍁...


Semua keperluan Emran telah Annisa siapkan. Sejujurnya dia sangat gugup ketika harus berada di kamar tersebut, dengan hanya ada dirinya dan Emran saja.


Ingatkan Annisa kembali pada beberapa bulan lalu ketika Emran begitu keras menolak dirinya yang dekat dengan Yasmine, karena alasan Annisa adalah orang asing baginya. Mungkin kah Emran akan melakukan hal itu lagi saat ini.


Segala macam pertanyaan muncul begitu saja di pikiran Annisa, tanpa ada satupun jawaban yang dapat menenangkan hati dan pikirannya.


Lelah bergelut dengan pikirannya, Annisa memilih untuk mengambil selimut dan bantal yang kemudian dia akan tata di sofa, untuk dia pergunakan tidur malam ini, dan mungkin malam-malam selanjutnya.


"Sedang apa kau ?" ucap Emran yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk yang masih melilit di pinggang. Annisa sedikit terkejut dengan kedatangan Emran, dan tiba-tiba saja telah berdiri tepat di belakangnya.


Annisa menatap sekilas Emran yang hanya mengenakan Handuk, Segera dia menundukkan pandanganya, meski itu halal baginya, namun Annisa tidak tahu apakah Emran akan suka, dan mengizinkan dia untuk melihat atau kah justru sebaliknya. Maka dari itu Annisa memilih menundukkan wajahnya.


"Apa aku menyuruhmu tidur di sini ?" Tanya Emran tegas


"Tidak "


"Lalu kenapa kau ingin tidur di sini !"


Mendengar hal itu Annisa hanya dapat menghela nafas dalam, selain dirinya gugup juga karena kini dia berdiri sangat dekat dengan Emran.


"Tidak, hanya saja, Aku tahu kau mungkin tidak akan nyaman jika ada aku di tempat tidurmu" Jawab Annisa


"Lebih baik aku tidur di sini " Lirih Annisa namun penuh penekanan.


Emran yang mendapatkan jawaban itu pun tersenyum kecil. Nyatanya Annisa begitu lucu bagi Emran.


"Begitu kah !, Aku atau dirimu yang tidak nyaman ?" Sergah Emran dengan menatap lekat pada Annisa.


Mendapatkan respon yang begitu mengejutkan dari Emran, Annisa pun sedikit gelagapan. Sejenak tatapan keduanya saling beradu, tatapan yang entah mengisyaratkan apa.


"Tidurlah disana " Pinta Emran dengan menunjuk tempat tidur besar miliknya.


Mendengar hal itu, Annisa pun mengerutkan dahi, ini merupakan perintah atau ajakan ?. Namun pada akhirnya Annisa pun menurut ucapan Emran, dan kemudian membawa kembali bantal dan selimut yang sebelumnya dia bawa.


Annisa melakukanya karena jelas dia tidak memiliki alasan apapun untuk menolak perintah Emran.


Berjalan dengan pelan , kemudian Annisa merebahkan dirinya di sisi ujung tempat tidur, dengan posisi membelakangi tempat nantinya Emran akan tidur.


Emran pun hanya menggelengkan kepala, melihat tingkah istri barunya. Sementara dia memilih segera mengenakan baju yang telah di siapkan oleh Annisa.


Hening.

__ADS_1


Namun Emran tahu jika Annisa juga belum tidur


"Apa kau akan selalu memakai benda itu ?" tanya Emran


"Aku tahu kau belum tidur"


Annisa hanya bergeming meski sejujurnya dirinya enggan untuk menjawab "Apa cadar yang anda maksut?"


"Bukan begitu, Aku hanya berfikir sebaiknya kau melepasnya saat tidur, bukankah akan terasa tidak nyaman jika tidur pun kau mengenakannya" Sergah Emran


"Oh. Sejujurnya saya biasa saja tuan. Mungkin bukan saya Tapi anda yang tidak nyaman" sela Annisa dengan lirih.


Emran serasa dibuat telak oleh Annisa, Dengan begitu berani Annisa mengatakan ucapan yang sama seperti yang dirinya ucapkan sebelumnya. Namun hal itu justru membuat Emran merasa kagum.


Annisa pun segera menyibak selimut yang dia kenakan, dan bergegas bangkit dari tidurnya.


"Kau mau kemana"


"Tenang saja tuan, aku tidak akan pergi hanya karena anda mengatakan hal itu " Ucap Annisa dengan suara lembut.


Emran pun hanya menautkan kedua alisnya, menatap heran pada Annisa yang buru-buru masuk kedalam kamar mandi.


"Kenapa dia lama sekali" Gumam Emran yang beberapa kali terlihat memandangi Pintu kamar mandi tersebut.


Jujur ada rasa bersalah di hati Emran, Sejenak berfikir mungkinkah Annisa tersinggung atas ucapannya.


Emran yang semula berbaring pun kini telah duduk dengan posisi bersandar ada sandaran temat tidur.


"Ahh.. Kenapa dia lama sekali" Emran semakin gusar, memperhatikan pintu kamar mandi yang tidak juga kunjung terbuka.


"Apa dia benar-benar tidur disana ?"


Emran yang sudah tidak sabar akhirnya menyibak selimut yang menutupi kaki hingga paha nya, kemudian turun dari tempat tidur tersebut, dan bergegas berjalan menuju kamar mandi.


Belum juga sempat Emran mengetuk kamar mandi tersebut, Pintu tersebut telah lebih dulu terbuka. Di susul kemunculan sosok Annisa yang tidak mengenakan cadar.


Tidak hanya tak mengenakan cadar, nyatanya Annisa juga melepaskan hijab nya, terlihat Annisa begitu manis dengan balutan baju tidur muslimah dengan outer berbahan Satin.


Sejenak tatapan Emran tertuju pada wajah Annisa yang begitu anggun, kulit yang terlihat bersih dan terawat, bibir merah muda tanpa polesan lipstik.


Terlihat rambut panjang yang menjuntai dengan indah, serta leher jenjang yang juga begitu menggoda iman.


"Ehem"


Deheman Annisa yang seketika membuyarkan lamunan Emran.

__ADS_1


"Maaf. Apa dengan seperti ini anda juga masih merasa tidak nyaman ?" tanya Annisa.


Bukan apa-apa hanya saja tatapan Emran padanya, membuat Annisa kembali berfikir apakah Emran juga tidak nyaman dengan penampilan Annisa kali ini.


"Tidak "


"Oh. Baiklah " Annisa berbalik dan segera melangkah kan kaki kembali ke kamar mandi.


"Bukan. Bukan begitu Maksudku" Ucap Emran cepat dengan menarik pergelangan tangan Annisa.


Melihat tingkah mantan bos besarnya tersebut, Annisa sedikit dibuat bingung, namun Annisa hanya menautkan kedua alisnya.


"Maksutnya, Kau lebih baik seperti ini" ucap Emran lirih.


Lagi-lagi Annisa merasa Emran sungguh aneh dengan sikapnya yang sungguh sangat kontras ketika dirinya di kantor dan saat ini ketika bersama dirinya.


"Maksutnya ketika kau tidur saja. Ya. Lepaslah hanya ketika di kamar ini saja. Begitu.." Pinta Emran .


Entah permintaan, anjuran atau perintah, yang pastinya Annisa tidak lagi mengerti ucapan sosok gagah yang kini berdiri tepat di hadapannya.


"Terimakasih" ucap Annisa. Emran menganggukkan kepala, dengan tatapan masih lekat pada Annisa.


Hening.


"Tuan" Panggil Annisa dengan suara lembut dan begitu lirih.


"i iya"


Jawab Emran Gugup, karena mendengar suara Annisa yang begitu lembut, saking Begitu lembutnya sampai Emran merasa dadanya begitu berdebar.


"Apa tuan akan terus berdiri di sini" Tanya Annisa


Gleg.


Emran hanya dapat menelan Saliva nya, tersadar dengan ucapan Annisa, betapa bodohnya dia , yang sedari tadi masih berdiri di depan pintu kamar mandi. Hal itu tentu saja akan menghalangi Annisa.


"Oh Em. Apa kau sungguh berfikir aku menahan mu ?, Aku juga akan ke kamar mandi" Kilah Emran, bukan Emran namanya jika dia tidak pandai menjaga image nya.


"Oh. Baiklah, silahkan" Ucap Annisa dengan memberi jarak antara keduanya untuk Emran masuk, dan kemudian Annisa pun keluar.


Sungguh selama berhadapan dengan Emran , Annisa merasa begitu gugup dan jantungnya terasa ingin copot dari tempatnya.


Annisa hanya mencoba menutupi ke gugupnya dengan sikap tegas nya selama ini.


***

__ADS_1


__ADS_2