
...Jodoh...
...Tidak butuh sebuah alasan untuk dapat bersama...
...🍁...
Waktu menunjukan pukul 14.09 wib.
Annisa tengah berada di dalam kamar untuk menidurkan Yasmine, gadis kecil yang baru dua hari ini menjadi putri nya secara sah.
Meski bukan berstatus sebagai ibu kandung, namun Annisa merasa ada ikatan tersendiri antara dirinya dengan Yasmine, Rasa sayang yang dia miliki untuk gadis kecil tersebut begitu besar.
Ceklek.
Pintu kamar terbuka , di susul kemunculan Emran balik pintu tersebut.
"T tuan , Adakah sesuatu yang anda butuhkan ?"
Emran menatap sekilas pada Annisa "Ya" jawab Emran singkat.
"Katakan "
"Aku ingin kau menjaga putriku dengan baik, Karena aku akan kembali ke Dubai Sore ini"
Annisa tampak mengerutkan kedua alisnya sehingga menampakkan guratan-guratan halus di kening nya. Jujur Annisa tidak paham dengan Maksut dari perkataan Emran tersebut.
"Apa anda tidak akan membawaku ?, Atau Yasmine Maksut ku ?" ucap Annisa begitu penasaran.
Mendengar pertanyaan Annisa, Emran hanya tersenyum tipis, senyum yang hanya Emran sendiri lah yang bisa melihatnya.
"Apa kau sungguh ingin aku membawamu ke Dubai ?"
Annisa membulatkan kedua bola matanya, "Bukan. Bukan seperi itu maksut ku, hanya saja benarkah kau akan meninggalkan putrimu ?" Ucap Annisa penuh rasa penasaran.
Emran menatap lekat wajah Annisa yang tertutup cadar, mendekatkan wajahnya hingga hanya menyisakan se jengkal jari, sudah pasti hal itu membuat jantung Annisa berdegup kencang.
"Dia Putri kita " Ucap Emran lirih.
Setelah mengatakan itu Emran menarik kembali wajahnya, dan Annisa pun terlihat bernafas lega.
"Jika memang begitu, tidak perlu anda meminta nya, saya pasti akan melakukan itu" ucap Annisa masih dengan debaran jantung yang tidak menentu.
Emran menganggukkan kepala.
"Aku telah meminta seseorang mengurus semua berkas pernikahan kita"
"Setelah selesai Amir akan menjemput kalian semua"
Tegas Emran, meski dengan suara dingin, namun jelas terdengar merupakan kalimat penjelasan sebuah alasan dari sebuah tindakan yang di lakukan Emran, seolah Emran ingin agar Annisa tidak berfikir macam-macam. Annisa menjawab dengan anggukan kepala.
"Bolehkah saya bertanya satu hal ?" Tanya Annisa
"Em katakan "
"Kenapa Anda menikahi saya Tuan Emran Al-Fatih?"
Pertanyaan yang sejak dua hari lalu selalu memenuhi kelapa Annisa, Akhirnya dengan berani dia utarakan, karena jujur Annisa sangat membutuhkan jawaban atas hal itu.
__ADS_1
Emran tersenyum menatap Annisa, Senyum yang begitu manis, hingga sejenak Annisa pun terlena akan senyuman itu, dan sudah dapat di pastikan jika jantung Annisa tidak baik-baik saja saat ini.
Deg.
Deru jantung yang terdengar sangat keras hingga, ketika Annisa menyentuh dadanya, dia bahkan dapat merasakan dengan begitu jelas detak yang ada di sana.
"Untuk apa kau menanyakan hal itu?"
Bukan memberi jawaban , Emran justru melemparkan pertanyaan.
"A aku hanya i ingin tahu, Apa alasan Anda ?"
Emran kembali tersenyum, Dan kini anggukan kepala menjadi jawabannya.
Hening.
"Tentu saja bukan karena rupa, Anda saja belum pernah melihat bagaimana wajah saya"
"Tentu juga bukan karena alasan cinta" Lirih Annisa dengan menundukkan wajahnya.
"Kau tepat sekali"
"Lalu ?"
"Apa kau sungguh bertanya ?" Emran kembali menegaskan ucapan sebelumnya.
"Tentu saja, sudah hal lumrah jika seorang wanita membutuhkan penjelasan, dan kejelasan" Tegas Annisa menuntut jawaban.
Emran terkekeh kecil mendengar pernyataan Annisa, namun dia juga tersenyum melihat kegigihan Annisa yang mencoba memaksanya untuk sebuah jawaban.
"Cinta itu sering kali bukan menjadi alasan untuk dua orang saling hidup bersama" Jelas Emran dengan suara datar.
"Takdir !"
Deg.
Kembali jantung Annisa berdegup kencang mendengar penuturan Emran , pada kalimat terakhir seolah Emran menjelaskan jika Emran lah jodoh Annisa.
"Apa itu sudah cukup membuatmu tenang Ny. Emran Al-Fatih?
Ucap Emran dengan mendekatkan wajahnya pada Annisa, memberikan penekanan pada kalimat Nyonya Emran Al-Fatih.
Lagi lagi annisa merasa jantungnya tidak baik-baik saja ketika terpaksa harus berdekatan dengan Emran.
"E em ada yang anda butuhkan " Ucap Annisa seketika, mengurai rasa gugup di dalam dirinya.
"Tidak. Amir sudah mengurus semua untukku"
Annisa menganggukkan kepala, jelas saja Emran tidak membutuhkan apapun, Amir selalu ada di dekatnya kapanpun dan di manapun
"Baiklah"
***
"Kenapa Buru-buru nak Emran?" Ucap Abi Ali
"Ada beberapa pekerjaan yang memang harus segera saya selesaikan Abi. Saya titip Annisa dan Yasmine sementara"
__ADS_1
"Tenang saja, InshaAllah kamu akan menjaga Yasmine " Ucap Abi Ali Dengan ramah.
Emran menganggukkan kepala, Setelah berpamitan dan menitipkan Annisa serta putrinya pada sang Abi.
Bukan tanpa alasan Emran melakukan hal itu, hanya saja sebagai seorang ayah yang memiliki putri, Emran berfikir bahwa mungkin saja Abi Ali berfikir hal yang sama dengan dirinya, jika sang putri di tinggalkan begitu saja oleh suaminya.
Emran tidak ingin di cap sebagai laki-laki yang tidak bertanggung jawab. Justru Emran memberikan kesempatan pada Annisa dan keluarganya untuk bersama sebelum Annisa benar-benar bersama Emran.
16.17 wib.
Annisa, Dan Yasmine telah berada di bandara untuk mengantarkan kepulangan Emran dan sang asisten. Ditemani oleh Abi Ali, Umi Fatimah serta dua Pengasuh Yasmine yang turut serta ke Bandara sore itu.
"Sayang, Daddy pulang dulu ya"
"Okay Daddy" ucap Yasmine dengan senyum di wajah nya.
"Kamu nggak papa Daddy pulang" Tanya Emran yang terkejut dengan reaksi sang putri, Biasa dan seolah tidak ada rasa sedih sedikitpun.
"Nggak dong dad, Kan ada Mommy" Ucap Yasmine dengan mendongakkan wajahnya menatap Annisa yang berdiri di sampingnya.
Mendengar penuturan Yasmine, Annisa pun mengulas sebuah senyum di balik cadar yang dia kenakan.
"Kata Mommy, Daddy mau kerja, Jadi Yasmine tidak boleh nakal" ucap Yasmine dengan nada celotehan.
Emran tersenyum mendengar ucapan Sang putri kecil. Sebuah kecupan mendarat tepat di puncak kepala Yasmine.
"Tuan , Waktu keberangkatan sebentar lagi " Ucap Amir yang baru saja muncul.
Emran menaikan tangan kanannya , isyarat dia paham dengan apa yang di katakan Sang asisten pribadi.
"Abi, Ummi, Sekali lagi Emran titip mereka"
"Setelah semua urusan berkas pernikahan selesai,secepatnya Amir akan menjemput Annisa dan Yasmine" Ucap Emran
Abi Ali tampak menganggukkan kepala "Jaga dirimu baik-baik nak Emran " ucap Abi Ali. Emran pun menjawab dengan anggukan kepala.
Kini giliran Emran yang berpamitan pada Annisa.
"Aku titip putri kita " Ucap Emran dengan suara datar
Annisa menganggukkan kepala, kemudian mengulurkan tangannya.
"Ada apa ?" ucap Emran bingung.
Tidak mengatakan apapun Annisa meraih tangan Emran dan kemudian mencium punggung tangan Emran dengan takzim.
Deg.
Desiran aneh kini Mulai di rasakan oleh Emran ketika tangannya bersentuhan dengan tangan Annisa , gadis yang baru dua hari berstatus sebagai istrinya.
Mendapatkan perlakuan seperti itu, jujur hati Emran merasa hangat, sebuah senyum kecil terbit di wajahnya, sangat kecil sampai irang-orang di sekitarnya tidak dapat melihat senyuman itu.
Sejenak tatapan Annisa dan Emran pun beradu mesra, tatapan yang entah mengisyaratkan apa.
Hanya Amir yang paham , Meski hanya sedikit dan sangat kecil, Amir sangat paham dimana saat Emran merasa bahagia dan dimana saat Emran merasa biasa-biasa saja.
"Sudah siap tuan " Ucapan Amir , yang seketika memecah canggung diantara keduanya.
__ADS_1
"Em " Ucap Emran singkat dengan menganggukkan kepala.
***