
...Hargai sesuatu yang sederhana, kadang kala itu lah yang membuat kita bahagia....
...🍁...
Waktu menunjukan 09.17 matahari terik yang telah menyinari bumi. Sejak beberapa jam yang lalu kehangatannya mulai terasa, sinar yang masuk melalui cela-cela dinding Kaca apartemen yang kini tengah di tempati oleh Sania.
Dengan tubuh yang lemah, serta rasa sakit di sekujur tubuh, Sania berusaha memulihkan kesadarannya setelah semalaman bertempur entah dengan siapa, meski dalam pikirannya ia tengah bersama Emran. Laki-laki yang begitu dia kagumi dan sangat dia cintai. Meski kini Sang pujaan hati telah bersama wanita lain, namun rasa di hati Sania tak pernah berkurang.
Deg.
Sania begitu terkejut mendapati dirinya yang tanpa sehelai benang pun menempel di tubuhnya. Meraba setiap bagian yang terasa pegal, terlebih bagain inti tubuhnya terasa sangat sakit dan perih. Ngilu yang terasa bagai dihujam benda tumpul berkali-kali Sania rasakan.
Tidak hanya itu, beberapa tanda merah dan bekas luka cakar pun juga terlihat di sana sini, memenuhi bagian putih yang terpampang jelas.
Belum juga Sania sadar akan perbuatanya semalam, dia kembali harus merasa terkejut dengan sebuah jaket kulit yang tertinggal diatas lantai , jaket kulit yang sebelumnya menutup tubuh bagian bawahnya.
Jelas segar di ingatan Sania jika barang-barang seperti itu tentu bukan milik Emran, Emran tidak akan pernah keluar mengenakan pakaian seperti itu, karena Sania jelas paham apa yang di sukai sang pujaan hati. Emran hanya akan keluar mengenakan setelan jas atau kemeja saja, dan tidak dengan yang lainya.
"Aaaghhh"
Seketika Sania berteriak, menangis histeris meratapi dirinya yang begitu bodoh , bahkan dia pun tak ingat bersama siapa dia semalaman.
Laki-laki mana yang telah berani menjamah nya dengan begitu ganas. Segar dalam ingatan Sania ketika dirinya pun juga begitu menikmati permainan semalam.
Kini hanya rasa sesal dan kemarahan yang ada dalam benak Sania, dengan sisa sisa tenaga yang di miliki, serta langkah gontai mengantarkan Sania ke dalam kamar mandi.
Melalui pantulan kaca kamar mandi, Disana jelas Sania melihat betapa semalam merupakan malam panas antara dirinya dengan laki-laki yang tidak dia ketahui asal usulnya.
Dalam titik tersebut, Sania hanya dapat menangis sejadi jadinya, menyesali apa yang semalaman dia lakukan, menjambak rambut dan memukul seluruh bagian tubuhnya, merasa jijik dengan dirinya sendiri.
Meski bukan pertama kalinya Sania melakukan hal itu, mungkin terhitung Sania telah melakukan hal kotor seperti itu beberapa kali dengan banyak lelaki, namun Sania selalu mengenakan pengaman, tapi malam tadi dirinya tidak mengenakan pengaman, jangankan untuk mengingat menggunakan pengaman, untuk mengingat siapa yang telah menggagahi nya semalaman suntuk saja Sania tidak dapat mengingatnya, hal itu cukup membuat Sania merasa sedih bercampur marah.
Mungkin akan sangat sulit mencari siapa yang telah bersamanya semalam, namun hal itu tak membuat Sania lantas menyerah begitu saja.
__ADS_1
Dalam kemarahan Sania bertekad akan menemukan siapa yang telah lancang menggagahi dirinya dengan tanpa ampun semalaman.
Dengan kasar Sania mengusap sisa air mata yang masih membasahi pipi, melihat tajam kearah pantulan dirinya dalam cermin, mengobarkan api kemarahan dalam dirinya untuk mencari laki-laki tersebut.
Sejujurnya ada rasa tidak siap di hati Sania, jika benar siapa yang bersamanya semalaman bukanlah Emran, mengingat kehidupannya saat ini telah kacau balau. Sania begitu frustasi.
***
Kediaman Emran.
Meski matahari semakin meninggi, dan Yasmine pun telah berangkat sekolah dengan diantar oleh dia pengasuhnya, namun baik Annisa maupun Emran belum ada satupun yang keluar dari kamar.
Walaupun demikian , tidak ada satupun pelayan yang berani untuk membangunkan atau mengetuk pintu kamar sang majikan.
Para pelayan jelas tahu diri untuk tidak mengganggu kesenangan sang bos besar.
Memang hal ini tidak sering para pelayan saksikan, namun sejak Sang majikan memiliki istri dan itu Annisa, kepribadian sang bos banyak berubah, termasuk kebiasaan bekerja di pagi hari.
Saat ini Annisa dan Emran, Keduanya tengah menikmati indahnya cinta, bercerita tentang banyak hal dan bertanya tentang apapun yang tidak keduanya ketahui dari diri masing-masing.
Ditengah-tengah obrolan keduanya Annisa merasakan sensasi yang tidak menyenangkan.
Entah mengapa Air liurnya seolah membanjiri rongga mulut, sehingga Annisa merasa kan mual.
"Sayang, Kamu nggak papa ?" tanya Emran yang menyadari Annisa berusaha menahan rasa tidak nyaman nya.
"InshaAllah nggak papa mas" jawab Annisa terbata.
"Hanya saja beberapa hari terakhir Nissa merasa tidak nyaman dengan perut Nissa mas"
"Apa perlu ke dokter ?"
"Nggak usah mas, InshaAllah baik-baik saja, mungkin karena sering telat makan, jadi asam lambung Nissa kambuh" ucap Annis memberi penjelasan.
__ADS_1
Keduanya kembali berbincang disela rasa tidak nyaman Annisa yang semakin lama semakin parah.
"Hoekkk "
Hingga Annisa merasa tidak dapat menahan sesuatu yang ingin segera dia keluarkan.
Secepat kilat Annisa beranjak dari tempat tidurnya, dan berlari menuju kamar mandi.
Hal itu tentu membuat Emran merasa khawatir, hingga dia pun mengikuti Annisa ke dalam kamar mandi.
Benar saja, disana Annisa tengah membungkuk diatas wastafel dengan usahanya untuk mengeluarkan isi perutnya,meski yang keluar hanyalah cairan bening.
Annisa merasa tubuhnya begitu lemas dan tak bertenaga, hingga hampir saja tubuhnya terhuyung dan jatuh ke lantai, namun dengan sigap Emran memapah sang istri, dan menidurkan nya kembali di atas tempat tidur.
"Aku akan minta pelayan siapkan minuman dan sarapan untuk kita" ucap Emran dengan beranjak dari duduknya, setelah sebelumnya membantu Annisa kembali tidur diatas tempat tidur.
Namun gerakan Emran kalah cepat dengan Annisa yang kembali menarik tangan sang suami.
"Mas Maaf" ucap annisa dengan wajah sendu.
Hal itu tentu membuat Emran merasa bingung " Untuk apa meminta maaf sayang"
"Karena tidak menjalankan kewajibanku melayani Mas dengan baik" lirih Annisa merasa sedih. Karena kini dirinya lah yang harus di layani oleh Emran.
Menyadari hal itu, Emran pun tersenyum manis dan memberikan kecupan mesra diatas puncak kepala Annisa. Sedikit mengacak rambut panjang Annisa yang tergerai indah, DNA tentunya kini berantakan akibat ulah Emran.
"Tidak perlu sungkan, bukan karena kewajiban, aku melakukannya karena itu memang tugasku sebagai suami, " jelas Emran dengan begitu tenang.
Sedikit banyak tentu ucapan Emran melegakan bagi Annisa . Meleburkan setiap rasa canggung yang Annisa rasakan.
"Beristirahatlah" ucap Emran sebelum kembali meninggalkan Annisa untuk menyiapkan sarapan.
Annisa menganggukkan kepala "Terima kasih mas " ucapnya kemudian.
__ADS_1
Annisa pun menatap punggung sang suami yang semakin menghilang di balik megahnya pintu kamar tersebut.
***