
...Yang datang biarlah datang, Yang pergi biarlah pergi. Karena hakikatnya Semuanya akan tetap pergi walau telah berjanji. ...
...🍁...
Setelah cukup mendapatkan penjelasan dari dokter , Emran dan Annisa undur diri, keduanya beranjak meninggalkan ruang kerja sang dokter.
Meski tak terlihat, namun Emran jelas dapat merasakan melalui sorot mata teduh Annisa jika dirinya begitu sangat bahagia dengan kehamilannya. Sosok keibuan memang telah melekat pada diri Annisa, terlihat bagaimana dia sangat menyayangi Yasmine meski Yasmine buka lah putri kandungnya.
Keduanya telah berada di mobil, Annisa yang sedari tadi begitu bahagia hanya dapat mengusap lembut perut datarnya, seraya mengucap Rasa syukur terhadap Allah SWT, jujur masih tidak percaya jika saat ini dia tengah mengandung buah cintanya bersama sang suami.
"Sayang "
"Ya mas ?"
"Alhamdulillah, Terima kasih ya"
"Untuk apa mas ?"
"Aku sangat bahagia" ucap Emran dengan mengecup punggung tangan Annisa
"Tentu, Annisa juga sangat bahagia mas, Rasanya tiada kata seindah kata syukur"
"Tidak lama lagi Annisa akan menjadi ibu, Allah percayakan anak ini pada kita mas" lelehan bening seketika mengalir dari sudut mata Annisa. Meski begitu Annisa merasa sangat bahagia.
"Didalam perut itu sekarang ada Calon anak kita sayang, aku akan menjaga kalian dengan kekuatanku" ucap Emran.
Perasaan haru bercampur bahagia kini tengah dirasakan keluarga baru tersebut, nyatanya tidak butuh waktu lama, Allah mempercayakan rumah tangga keduanya dengan anugerah seorang calon jabang bayi.
"Kita harus memberitahukan kabar baik ini pada putri kita mas, Yasmine pasti sangat bahagia" Ucap Annisa
"Tentu sayang"
Tak butuh waktu lama untuk berkendara, mobil yang di kemudikan oleh Emran telah terparkir di halaman Rumah. Beberapa pelayan menyambut kedatangan keduanya, tidak terkecuali Yasmine yang juga berlari menghambur pada kedua orang tuanya.
"Mommy ! Daddy!"
Teriak Yasmine penuh semangat, seperti biasa Yasmine akan melakukan hal itu ketika baik Emran atau Annisa tidak berada di rumah.
__ADS_1
Dengan sigap Emran memapah tubuh kecil sang putri, mengendong dalam pelukannya dan membawanya kedalam kamar bersama Annisa ayang mengekor dibelakang Emran.
Kali ini Ketiganya menggunakan Lift untuk ke kamar , Pasalnya Emran menjadi lebih over protektif setelah mengetahui kehamilan sang istri.
Jika sebelumnya Annisa lebih suka untuk menggunakan tangga, karena ingin sekalian berolah raga di sela-sela kesibukannya mengurus Yasmine, Namun kali ini Emran sudah tidak lagi mengizinkannya.
Tidak butuh waktu lama , Ketiganya telah berada di kamar, dan Emran dengan begitu antusias memberitahukan kabar gembira mengenai kehamilan Annisa pada Yasmine, benar saja respon dari putri kecil nya tersebut begitu luar biasa mengetahui jika dirinya akan menjadi seorang kakak.
Bagi Yasmine memiliki adik adalah keinginannya yang sudah sejak lama, bahkan sejak sang Daddy belum menikah dengan Mommy nya.
Sorak gembira dan teriakan dari mulut kecil Yasmine, menambah suasana bahagia diantara Emran dan Annisa. Pernikahan yang tak pernah terduga dan di sangka oleh keduanya, Nyatanya kini benar-benar sempurna dengan hadirnya calon jabang bayi yang masih berada di dalam rahim Annisa.
"Mommy, lalu kapan Yasmine bisa menggendong adik?" tanya Yasmine yang begitu tidak sabar.
Mendengar pertanyaan sang putri annisa lantas tersenyum manis.
"InshaAllah sembilan bulan lagi sayang, Yasmine doakan mommy dan adik bayi ya supaya selalu sehat" Tutur Annisa dengan lembut
Yasmine tampak berfikir, setelah mendengar ucapan Annisa.
Emran dan Annisa pun saling melemparkan pandangan dengan senyum yang merekah di wajah keduanya. Raut bahagia jelas tergambar di wajah mungil Yasmine, sampai dia begitu tidak sabar menantikan kehadiran sang adik.
"Lumayan sayang, tapi sebelum adik bayi lahir, Yasmine bisa menyentuh dan mendengar detak jantungnya, Caranya seperti ini" Ucap Emran dengan meraih tangan Yasmine kemudian meletakkannya di atas perut Annisa yang sebenarnya masih terlihat datar.
Tentu saja hal itu cukup membuat Yasmine senang, setidaknya dia akan memiliki adik, meski belum sepenuhnya tahu adiknya seperti apa.
"Horeeee"
"Yasmine Senang sekali mommy, Sebentar lagi Yasmine akan punya adik" teriak Yasmine penuh semangat.
Yasmine yang begitu girang sampai dia berlari keluar kamar untuk sekedar memberitahukan kabar gembira tersebut pada para penghuni kediaman Emran.
"Apa kita akan memberi tahu Abi sekarang ?" Tanya Emran
"Em, Sejujurnya iya mas, tapi sepertinya memberitahu kabar ini secara langsung itu lebih baik, satu Minggu lagi kita akan ke Indonesia, sepertinya saat itu waktu yang tepat untuk mengabarkan tentang kehamilan Annisa mas" ujar Annisa.
Emran setuju saja dengan usulan sang istri, terlebih beberapa hari ini akan sangat sibuk dengan acara wisuda Annisa.
__ADS_1
Bukan tidak mengundang atau pun orang tua Annisa yang tidak ingin, hanya saja kesehatan Abi yang memang kurang baik, sehingga baik Annisa maupun Emran memutuskan untuk tidak memaksakan kedua Orang tua nya untuk hadir dalam acara wisuda Annisa.
***
Di sebuah Coffeshop terlihat Sania duduk dan tengah menanti seseorang, janji yang telah keduanya buat sebelumnya. Entah apa kali ini yang tengah Sania pikirkan.
Setelah cukup lama menunggu, seorang laki-laki dengan perawakan tinggi besar menghampiri tempat dimana Sania duduk. Lantas menarik sebuah kursi, dan laki-laki tersebut duduk tepat di hadapan Sania.
Sekilas Sania menatap laki-laki di hadapannya dari atas sampai ke bawah. Laki-laki yang masih mengenakan kacamata hitam dan sebuah amplop coklat di tangannya.
"Tidak bisakah kau datang sesuai perjanjian ?" Ketus Sania pada sang lelaki.
Mendengar perkataan Sania, lelaki di hadapannya hanya menampakkan senyum kecil, terlihat wajah licik yang menatap dengan tatapan nakal.
"Berikan !!" ketus Sania dengan mengayunkan jari telunjuknya tanpa basa basi.
"Tentu Nona Sania, Pasti akan ku berikan, tapi sebelum itu kau harus memberikan setengah uang kekurangan dari perjanjian kita tempo hari" ucap lelaki tersebut dengan senyum seringai
"Kau tidak percaya padaku ?, Apa kau tidak tahu siapa aku !! Akan aku bayar kekurangannya !!" Ketus Sania.
"Aku jelas tahu siapa anda nona, tapi siapa anda sekarang semua orang juga tentu tahu nona" Sindir sang lelaki tanpa rasa takut.
"Sial" Gumam Sania dalam hati
Sania yang enggan berlama-lama dengan laki-laki tersebut pun segera mengeluarkan sebuah amplop dari dalam tas yang sedari tadi berada dalam pangkuannya, tentu saja amplop tersebut berisikan uang.
Laki-laki dihadapan Sania nyatanya bukanlah orang bodoh, sebelum dia menyerahkan apa yang di minta oleh Sania, terlebih dahulu dia menghitung jumlah uang dari kesepakatan antara keduanya.
"Kenapa ini tidak sesuai perjanjian kita nona ?" Tanya sang lelaki yang merasa di bohongi.
"Aku akan membayarnya pekan depan" ketus Sania dengan mencelos
"Mana bisa begitu nona, Jika tidak sesuai kesepakatan maka aku tidak bisa memberikan informasi ini pada anda"
Mendengar ucapan sang lelaki di hadapannya, jujur Sania begitu sangat kesal, namun nyatanya saat ini memang Sania tidak berdaya untuk melakukan apapun.
***
__ADS_1