
..."Seorang bijaksana Ditanya tentang wajahnya yang selalu riang dan ceria, Maka dia menjawab. Aku malu untuk menampakkan wajah sedih ku, ketika aku tahu Allah-lah pengatur segala urusanku"...
...🍁...
Keduanya Masih terus terlibat dengan obrolan yang entah bagaimana , karena se pemahaman Annisa kalimat sindiran dan cemoohan lah yang begitu mendominasi Sania, meski dengan Dali Pertemanan yang dia tawarkan.
"Ohya Annisa apa kau tahu aku dan Emran sangat dekat sebelumnya, Bahkan kami juga berencana menikah" Ucap Sania dengan menekankan kalimat Menikah.
Deg.
"Benarkah?" gumam Annisa dalam hati, seolah tidak mempercayai ucapan tamunya, Namun mau tidak percaya bagaimana Annisa juga tetap seorang wanita biasa.
"Oh ya ?, Tapi suamiku tidak pernah mengatakan itu" ucap Annisa menekankan pada kata suami ku.
Bukan Annisa ingin membalas ucapan Sania sebelumnya, dia mengatakan sebuah kejujuran bukan, jika memang sebelumnya Emran tidak pernah sekalipun membahas hal itu.
Namun nyatanya Kalimat Annisa mampu membuat telak Sania, dan terlihat jelas raut wajah marah disana. Meski setelahnya di tutup senyum yang penuh kepura-puraan.
"Hanya bagian dari masa lalu Annisa, kau tidak perlu Sedih atau kecewa ya" Ucap Sania dengan penuh percaya diri.
Sedih ?, Kecewa ?, Lucu sekali tamunya itu, bahkan Annis memikirkannya saja tidak, bagaimana Sania bisa begitu percaya diri.
"Tentu saja tidak !, Aku sangat mempercayai Suamiku !" Ucap Annisa begitu lembut namun penuh penekanan.
"Oh haha.. Baguslah" ucap Sania
Sementara itu Emran tengah menatap layar pipih yang kini tengah ada dalam genggamannya.
Jelas terlihat Annisa yang duduk berhadapan dengan seorang wanita yang begitu dia kenal.
"Lancang sekali dia" Gumam Emran lirih
"Ada apa tuan ?" tanya Amir yang seolah mendengar Emran berucap.
Sementara Emran hanya menggeleng kecil sebagai jawaban pada sang asisten.
"Jadi untuk proyek pembangunan kurang lebih akan memakan waktu selama sembilan bulan" ucap tuan Adam yang merupakan rekanan bisnis Emran.
Sementara Emran hanya mendengarkan dan menganggukkan kepala, terlihat fokus Emran yang terpecah setelah mengetahui kedatangan Sania ke kediamannya.
"Bagaimana tuan Emran ?"
"Ya saya setuju !" Ucap Emran tegas tanpa basa-basi.
Mendengar jawaban Emran hal itu sungguh membahagiakan bagi Tuan Adam, pasalnya sepengetahuan nya Emran merupakan sosok Pemimpin yang sangat kritis dan teliti, bahkan dia sangat alot jika soal kerjasama, namun kali ini terasa begitu mudah dan langsung saja Emran menyetujuinya.
__ADS_1
"Baiklah jika sudah tidak ada hal lain yang perlu di bahas saya rasa rapat ini bisa kita tutup" ucap Emran
"Baik pa terima kasih sebelumnya" ucap Tuan Adam ramah dengan menjabat tangan Emran
Sementara Emran menerima jabatan tangan rekan bisnisnya dengan menganggukkan kepala.
Setelah itu Emran bergegas meninggalkan ruang rapat.
"Maaf tuan, Apa tuan sedang ada masalah" Tanya Amir yang seolah menangkap raut wajah berbeda dari bos besarnya.
Emran hanya bergeming, dan tidak memberikan jawaban.
Namun sejujurnya tanpa bertanya pun Amir jelas tahu apa yang sedang ada di pikiran Tuan besarnya tersebut, terlebih setelah pertemuannya dengan sosok Sania tadi pagi.
"Kita pulang sekarang !" Titah Emran.
"Tapi tuan !, Kita masih memiliki dua agenda lagi" ucap Amir yang begitu kaget.
"Jadwalkan ulang, atau jika tidak batalkan !" Tegas Emran tanpa ingin di bantah.
"B baik tuan " ucap Amir
Amir jelas tahu bagaimana karakter Emran, meski begitu Amir selalu menuruti perintah tuan nya tersebut. Meski lagi lagi dirinya haru s dibuat kerepotan dengan jadwal yang harus dia rubah, dan pastinya dia akan mendapatkan Omelan dari rekan bisnis tuan besarnya.
"Siapkan mobil, kita pulang sekarang " tegas Emran lagi.
***
Sementara itu Sania masih betah bertamu di kediaman Emran.
"Ohya Annisa kau jangan kaget, Emran itu sangat perkasa" ucap Sania dengan suara lirih, sangat lirih hampir setengah berbisik, namun jelas terdengar oleh pasang telinga Annisa , karena Sania mengatakan dengan penuh penekanan.
Sania benar-benar ingin menunjukkan jika dirinya sangat dekat dengan suami Annisa.
Sementara Annisa saya bereaksi dengan sebuah senyum tipis di bibirnya, meski jujur saat ini dia begitu terkejut.
"Benarkah ?" Tanya Annisa dengan mengulas senyum
"Tentu saja, Emran sangat Kuat Annisa. " Sumbar Sania dengan begitu percaya diri.
"Wah aku rasa kau sangat mengenal suamiku" Ucap Annisa dengan suara dingin.
Kini Sania tampak menyilang kan Kakinya, dengan senyum penuh percaya diri.
"Tentu saja !"
__ADS_1
Annisa tampak menganggukkan kepala, seolah mengiyakan apa yang di ucapkan Sania.
"Wau luar biasa ya, Bagaimana kau bisa tahu , jika suami ku sangat perkasa"
Sania semakin besar kepala melihat Annisa yang seolah begitu antusias mendengarkan ucapannya.
"Sudah lah, kita sama-sama wanita dewasa, bukankah tidak harus aku menceritakan nya" ucap Sania dengan senyum sinis.
Kali ini sasaran Sania adalah membuat Mental Annisa drop karena menikah dengan sosok Emran yang tentunya tidak sebanding dengan Annisa. Karena menutut Sania , Annisa sangat tidak cocok dengan Emran.
Lagi-lagi Annisa hanya menganggukkan kepala. Masih dengan senyum tipis menghiasi bibirnya.
"Ohya, Sayang sekali ya , Namun suamiku hanya tidur dengan wanita yang benar-benar dia nikahi"
"Dan aku sangat yakin itu !" Ucap Annisa penuh keyakinan dan dengan kalimat yang begitu menekan.
Sejujurnya Annisa tidak tahu pasti dengan apa yang dia ucapkan, benar begitu kah, atau justru sebaliknya, hanya saja sebagai istri Emran, Annisa hanya ingin menjaga harga diri suaminya. Dan hal itu merupakan kewajibannya sebagai wanita muslimah.
Rasanya tidak rela jika sang suami di jadikan ajang untuk berfantasi liar meski sejujurnya Annisa tidak benar-benar mengetahui kebenarannya.
Mendengar pernyataan Annisa, Sania sedikit dibuat telak, Sania pun merasa jika Annisa bukan wanita biasa-biasa saja.
"Dan Nona tentu tahu bukan siapa wanita yang di nikahi oleh Suami saya. Hanya Mendiang Istri Pertamanya dan juga TENTUNYA SAYA !" ucap Annisa yang semakin membungkam Sania.
"Atau maksut anda, Anda sedang bersama laki-laki lain, namun membayangkan bersama suami saya ?" Ucap Annisa dengan suara lembut, dan senyum manis di wajahnya.
"Kau !!" ucap Sania dengan menunjuk wajah Annisa.
"Nona Kenapa anda serius sekali, Percayalah saya hanya bercanda" ucap Annisa membalikkan kata-kata Sania sebelumnya. Tidak lupa Annisa tertawa kecil, dan hal itu semakin membuat Sania kebakaran jenggot.
"Yah biarlah Masa lalu suami saya, akan tetap menjadi masa lalu. Dan yang jelas saya tahu, saat ini dia bersama Saya MASA DEPANNYA !" Ucap Annisa. Ucap Annisa dengan nada suara begitu lembut.
Sania hanya menatap penuh Amarah pada Annisa yang begitu santai setelah usahanya untuk menghancurkan kepercayaan diri Annisa.
Tap tap tap.
Suara langkah kaki Erman di susul Amir yang berjalan dengan langkah cepat memasuki Kediaman Emran.
Melihat Emran yang telah berdiri di ambang pintu baik Annisa maupun Sania sangat terkejut. Namun sebisa mungkin Annisa segera menguasai pikiran dan hatinya.
Annisa berjalan menghambur pada Emran yang tengah berdiri dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Sayang Kau sudah pulang, kau terlihat sangat lelah ?" ucap Annisa dengan nada suara sangat lembut.
Sejujurnya dia teramat sangat gugup mengatakan hal itu, namun Annisa sangat ingin menunjukan pada Sania, Sang sahabat dekat suaminya itu, jika dirinya dan Emran baik-baik saja. Dan sangat bahagia tentunya.
__ADS_1
Sementara Emran yang mendapat sambutan tidak biasa hanya dapat menahan tawa. Namun juga ada rasa bahagia dalam dada.
***