HIJRAH CINTA ANNISA

HIJRAH CINTA ANNISA
95. Kebahagiaan Annisa


__ADS_3

...Jika keduanya saling cinta, Maka keduanya akan saling berusaha, Namun jika hanya kamu yang berusaha, Itu bukan cinta ...


...🍁...


Melihat kebingungan Tamara, Annisa pun tersenyum kecil di balik cadar yang dia kenakan. Jelas dia paham apa yang kini tengah temanya pikirkan tentang dirinya.


"Dia putri ku Tam" Ucap Annisa dengan lembut.


Usapan lembut tangan Annisa membelai puncak kepala Yasmine yang tengah duduk diatas pangkuan Annisa. Sementara itu Tamara tampak Bengong dengan mulut sedikit menganga.


"Kau ?" Ucap Tamara masih begitu kaget, dan di jawab Annisa dengan anggukan kepala.


"Hallo Tante !" sapa Yasmine dengan begitu manis.


Mendengar hal itu Tamara pun tertegun "Hallo.. Em-"


"Yasmine.Namanya Yasmine tam" ucap Annisa memberi tahu.


"Oh. Hallo Yasmine, Kau manis sekali" puji Tamara


"Terima kasih Tante"


Ketiganya kembali berbincang, selain Tamara, Annisa Pun juga memberitahu jika Yasmine merupakan putri sambungnya dari sang suami yang bernama Emran al-Fatih.


Dan tentu hal itu lagi-lagi membuat Tamara terkejut, pasalnya Suami Annisa merupakan bos besarnya, yang tentunya Annisa pun juga merupakan bos nya.


Namun Annisa berusaha membuat Tamara tetap nyaman, meski status Annisa merupakan istri dari bos nya.


***


Hari menjelang petang, dan Emran belum juga kembali ke rumah, hal itu cukup membuat Annisa merasa khawatir, terlebih sedari tadi ponsel Emran tidak dapat di hubungi, begitu juga sang asisten.


"Mommy"


Terdengar suara Yasmine yang seketika membuyarkan lamunan Annisa.


"Sayang, sudah selesai makan nya ?" Tanya Annisa dengan lembut, Yasmine pun menjawab dengan anggukan kepala.


"Yasmine mau tidur sama Mommy" rengek Yasmine dengan begitu memohon.


"Benarkah ?"


"Yes Mommy. Please!" pinta Yasmine


"Okay sayang, kita tidur bareng yah, tapi sebelumnya kita sholat sama-sama yuk"

__ADS_1


"Okay Mommy"


Keduanya berjalan beriringan menuju kamar Yasmine, canda tawa selalu menghiasi obrolan antara Annisa dan Yasmine. Sementara itu dua pengasuh Yasmine akan beristirahat ketika Yasmine bersama sang Mommy.


Setelah menyelesaikan sholat, keduanya beranjak menuju tempat tidur, beberapa dongeng pengantar tidur Annisa bacakan untuk sang putri.


Tidak butuh waktu lama , nyatanya berada dalam dekapan Annisa, Yasmine seolah terbius dan tidur dengan nyenyak nya.


Namun tidak hanya Yasmine nyatanya annisa pun juga ikut tertidur bersama sang putri.


Waktu menunjukan pukul 22.45.


Hampir tengah malam, namun Annisa tidak juga mendapati suara mobil sang suami datang, hal itu kembali membuat Annisa merasa cemas, namun Annisa berusaha selalu berfikir positif.


Lelah menunggu dan rasa kantuk pun mulai menyerang kembali, Annisa memutuskan untuk kembali tidur di sebelah Yasmine.


Tap tap tap.


Sayup-sayup Annisa mendengar langkah kaki yang begitu pelan, tidak hanya itu namun dirinya juga merasa kini tubuhnya bagai melayang.


Antara sadar dan tidak, Annisa berusaha mengerjap kan matanya beberapa kali, dan benar saja Annisa kini berada dalam dekapan sang suami. Menyusuri satu persatu anak tangga di dalam kediaman Emran


"Mas !" kaget Annisa. Sementara itu Emran hanya tersenyum


Annisa yang telah betul-betul sadar berusaha untuk turun, tidak ingi Emran lelah memapah nya sampai ke kamar.


"Tapi aku kan berat mas!"


"Jangankan hanya kamu sayang, jika nanti kau berbadan dua, aku masih akan tetap menggendong mu"


Mendengar gombalan sang suami, Annisa sampai di buat terkekeh.


"Memangnya nggak lelah ?"


"Em, Selama itu untuk Kamu dan Yasmine, aku tidak pernah lelah"


Semakin meleleh hati Annisa , mendengar semua kata-kata manis yang keluar dari mulut sang suami.


"Ohya mas, Kenapa baru pulang jam segini ?" Tanya Annisa tampak penasaran.


"Ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan, dan tidak bisa ku tunda" jawab Emran.


Meski masih menyimpan rasa penasaran perihal tidak adanya kabar dari sang suami, namun Annisa memilih untuk tidak membahasnya lagi.


Setelah berjalan beberapa saat dengan obrolan singkat antara keduanya, Kini tibalah mereka di kamar, tidak sedikitpun terlihat wajah lelah dari Emran meski telah menaiki anak tangga dengan menggendong Annisa.

__ADS_1


"Mas Nissa siapkan Air hangat dulu ya"


"Ohya Mas Emran sudah makan?"


Semua pertanyaan Annisa sebelumnya dijawab Emran dengan anggukan kepala dan senyum manis yang senantiasa terukir di wajah tampannya.


Segera Annisa bergegas menyiapkan keperluan untuk Emran mandi.


Selama Emran membersihkan dirinya, Annisa memilih untuk menyiapkan segelas teh hangat untuk sang suami. Minuman yang selalu Emran minta ketika dirinya pulang dari kantor. Meski kali ini Emran tidak memintanya, namun Annisa tetap menyiapkan nya untuk sang suami.


Dan tentunya hal hal kecil seperti itu lah yang membuat Emran dapat dengan cepat menerima Annisa , yang notabene bukan tipe Emran. Bahkan membayangkan memiliki istri seperti Annisa saja mungkin Emran tidak pernah.


***


Di Langit yang sama namun tempat yang berbeda.


Sania tengah kebakaran jenggot, meratapi nasib dan kesialannya, Sania terlihat begitu frustasi, dengan di temani beberapa botol Vodka.


"Aaawasss ya kaaamu " ucapan yang tidak lagi dapat terkontrol akibat alkohol yang di minum dalam jumlah besar.


Sania melampiaskan kemarahannya dengan mengumpat dan menyumpahi Annisa dengan sumpah serapahnya.


"Aakuuu tidakkk akan membiarkan kalian bahagia" ucap Sania dengan menunjuk ke sembarang arah.


Sania begitu kacau , nyatanya kehidupannya saat ini sangat menyedihkan, terlebih tanpa keluarga angkatnya yang dulu selalu mencukupi kebutuhan hidupnya.


"Brakk!!"


Sebuah dobrakan dari arah pintu utama, terdengar begitu memekakkan , namun terasa biasa saja bagi Sania yang kini tengah berada di bawah pengaruh minuman alkohol.


Sayup-sayup terlihat oleh pandang mata Sania , seorang laki-laki bertubuh gempal berdiri tepat dihadapannya, menatapnya dengan begitu intens.


Penglihatan yang tidak begitu baik, membuat Sania berfikir sosok dihadapannya saat ini adalah Emran.


Tanpa sadar Sania meraih pergelangan tangan sang lelaki, dan menariknya kedalam pelukan, tanpa ba-bi-bu Sania melahap bi bir sintal sang lelaki dengan begitu rakus.


Bukan menolak, sosok laki-laki tersebut pun juga begitu menikmati permainan model cantik di hadapannya. Tidak kalah rakus laki-laki tersebut pun juga dengan sigap melucuti pakaian yang di kenakan oleh Sania.


Diatas lantai dingin apartment tersebut menjadi saksi kebrutalan dua anak manusia yang tengah dalam pengaruh hasrat yang membara.


Malam panjang berlalu begitu saja , hingga pergumulan panas tersebut selesai, dan entah berapa kali laki-laki yang melayani nafsu Sania telah menyemburkan benih-benih kehidupan di rahim sang model.


Meski begitu Sania masih tetap saja Abai terhadap sosok di hadapannya, dirinya yang sama sekali tidak sadar hanya meracau memanggil nama Emran.


Senyum licik terlihat jelas di wajah lelaki tersebut, sementara Sania dengan pandanganya yang kabur membalasnya dengan ciuman penuh kemenangan, seolah Sosok di hadapannya benar-benar Emran sang pujaan hati.

__ADS_1


***


__ADS_2