
...Apa yang Hilang darimu, Percayalah akan kembali dalam bentuk yang berbeda namun tidak di sangka-sangka....
...🍁...
Tentu saja, dengan senang hati Annisa akan selalu mendoakan Emran. Tidak perlu Emran meminta pun Annisa telah melakukanya sejak dirinya di nyatakan sah menjadi istri dari Emran Al Fatih.
Beberapa saat berlalu akhirnya Emran telah selesai dengan ritual membersihkan diri, sementara Annisa terlihat telah menyiapkan baju tidur untuk Emran kenakan.
Mengedarkan pandanganya ke seluruh ruangan, Nyatanya Emran tidak menemukan Annisa di manapun. Padahal terakhir Emran meninggalkannya, Annisa tengah duduk diatas sajadah yang belum sempat dia lipat.
Namun entah dorongan dari mana, Emran selalu ingin berada dekat dengan Annisa, dan naluri Emran mengatakan untuk mencari keberadaan istrinya tersebut.
Terlihat dari lantai dua, Annisa tengah dengan sangat hati-hati menutup pintu kamar Yasmine. Dan sebuah senyum tergambar jelas di wajah tampan Emran mendapati perhatian Annisa yang begitu besar terhadap putrinya.
Sementara itu setelah keluar dari kamar sang putri, Annisa tidak langsung menaiki tangga, terlihat oleh pasangan mata Emran, Annisa tengah berjalan menuju Dapur. Dan seketika hal itu mengundang rasa penasaran Emran.
Terlihat Annisa yang tengah sibuk membuat masakan yang entah apa itu.
"Sedang apa kau disini?"
Pertanyaan Emran yang seketika mengagetkan Annisa, serasa jantungnya akan copot, mendapati Emran telah berdiri tepat di sampingnya.
"Sepertinya enak" ucap Emran dengan melongok masakan yang dibuat oleh Annisa. Annisa pun tersenyum mendengar pujian dari sang suami.
Sebuah omelette yang Annisa buat untuk Emran dan dirinya.
"Duduklah mas , Sebentar lagi siap" pinta Annisa dengan suara lembut.
Sementara itu Emran hanya menurut ucapan Annisa, dan setelahnya duduk di meja makan, memperhatikan dari kejauhan Annisa yang sibuk dengan pekerjaannya.
Terlihat begitu manis dan mempesona Wajah Annisa ya terlihat dalam cahaya lampu, wajah Annisa yang belum leluasa untuk dia pandang meski telah sah menjadi istrinya, wajah yang selalu membiusnya untuk selalu menatap wajah tersebut.
***
Pagi hari.
Seperti hari-hari sebelumnya Annisa akan ikut membantu kegiatan pelayan menyiapkan sarapan untuk dirinya, Emran dan juga Yasmine tentunya.
Emran telah siap mengenakan setelan jas berwarna Navy dengan sepatu hitam yang menambah pesona laki-laki dewasa tersebut.
Beberapa saat akhirnya Annisa bergabung bersama Emran dan juga Yasmine yang telah lebih dulu duduk di meja makan.
Dengan telaten Annisa melayani Emran, mengambilkan sarapan untuknya.
"Sayang mau yang mana ?" tanya Annisa pada Yasmine, setelah dirinya selesai dengan tugas sebagai istri, kini peran Annisa beralih menjadi ibu.
"Mau Itu Mommy" ucap Yasmine dengan menunjuk Soup jamur yang Annisa siapkan.
__ADS_1
Dengan telaten Annisa menyuapi Yasmine, tidak seperti dulu setiap pagi hanya ada drama dengan Yasmine yang selalu rewel dengan makanan yang ingin dia makan, tapi kini sejak bersama Annisa , Yasmine seolah tidak pernah memilih makanan, apa pun yang di siapkan oleh Annisa , Yasmine akan dengan senang hati memakainya.
Figur seorang Annisa nyatanya benar-benar mampu menggantikan mendiang sang istri untuk menjaga putrinya, dan Emran merasa bahagia dengan hal itu.
"Mas ?"
"Ya" jawab Emran di sela-sela makanan yang masuk kedalam mulut.
"Hari ini aku harus ke kampus, ada beberapa hal yang harus aku selesaikan" ucap Annisa. Sementara Emran tampak menghentikan sarapannya, menatap sejenak Annisa.
"Kau tidak perlu mengantarkan ku, aku hanya butuh Izin darimu" ucap Annisa lagi.
"Em"
"Pergilah, aku akan meminta supir mengantarkan mu dan menunggumu sampai kau selesai" ucap Emran
Sebuah senyum terlihat jelas di wajah cantik Annisa yang tertutup oleh cadar yang dia kenakan.
"Terima kasih"
Emran tampak menganggukkan kepal, dan setelahnya kembali fokus dengan sarapan paginya.
***
Seolah tidak membiarkan Mommy nya hilang, Yasmine selalu mengikut kemana Annisa pergi, bahkan kali ini untuk pertama kalinya Annisa mengajak sang putri ke kampus karena sebelumnya Yasmine benar-benar tidak mau di tinggal bersama pengasuh nya.
"Mommy apa kamus Mommy sangat besar?" Tanya Yasmine di sela-sela perjalanan mereka.
"Tentu saja sayang, di kampus Mommy, ada taman yang juga sangat luas, Yasmine bisa bermain disana nanti" ucap Annisa dengan begitu lembut.
"Benarkah?"
"Tentu sayang"
"Asyikk hore, kalau begitu Yasmine mau ikut Mommy terus kalau ke Kampus" ucap Yasmine dengan celotehan
"Dengan senang hati tuan Putri" ucap Annisa dengan begitu manis .
Keduanya pun tertawa bersama , menikmati udara pagi yang terasa hangat.
Menempuh perjalanan beberapa saat akhirnya mobil yang di kendarai sopir pribadi Emran telah terparkir di sebuah parkiran luas kampus Annisa.
"Yasmine ingat kan pesan Mommy tadi ?" tanya Annisa sebelum dirinya meninggalkan sang putri dengan dua pengasuhnya.
"Ya mommy, Yasmine tidak boleh rewel dan harus bersikap baik" ucap Yasmine mengulangi ucapan Annisa sebelumnya.
"Anak pintar" ucap Annisa dengan membelai lembut pipi chubby Yasmine.
__ADS_1
Setelah berpamitan, dan menitipkan putri kecil tersebut pada dua pengasuh ya, Annisa bergegas menuju ruang profesor Omar untuk membahas mengenai Tugas Akhir Tesis nya.
"Assalamu'alaikum, Selamat pagi Prof" sapa Annisa dengan melangkahkan kaki masuk kedalam ruangan profesor Omar.
"Waalaikumsalam" jawab prof Omar dengan ramah.
Keduanya kini terlibat obrolan seputar Tugas Akhir Tesis Milik Annisa, yang masih memerlukan beberapa perbaikan.
Nyatanya semua tidak berjalan semulus yang Annisa bayangkan, dirinya harus kembali menerima revisi untuk tugasnya, meski sebelumnya telah dinyatakan lulus dan tinggal mengajukan jadwal wisuda, namun ternyata masih ada perbaikan di beberapa sisi laporan.
Meski begitu Annisa tidak di buat pusing, karena hal itu lumrah terjadi. Dan tidak banyak tentunya yang harus Annisa perbaiki.
Annisa pun menerima revisi dari sang dosen, dan berencana segera merevisi kembali laporan miliknya. Karena Prof Omar pun juga mengatakan untuk segera menyerahkan kembali laporannya secepatnya.
Setelah cukup dengan semua yang dia perlu tanyakan pada dosen pembimbingnya, Annisa pun berpamitan untuk undur diri dari ruang dosen tersebut.
Annisa bergegas untuk meninggalkan ruangan sang dosen, dan mencari keberadaan Yasmine, Mengingat cukup lama dirinya meninggalkan sang putri.
Tujuan Annisa kali ini langsung ke taman yang sebelumnya Annisa tunjukkan pada kedua pengasuh Yasmine.
Mengedarkan Pandanganya ke seluruh taman, mencari sosok yang begitu dia sayangi, benar saja dari kejauhan tampak Annisa melihat Yasmine tengah melambaikan tangan padanya.
"Mommy" panggil Yasmie dengan sedikit berteriak.
Annisa pun membalas lambaian tangan Yasmie dan berjalan cepat kearah gadis kecil tersebut.
"Kita pulang sekarang ?" tanya Annisa setelah keduanya saling berhadapan. Yasmine menjawab dengan anggukan kepala.
Annisa Dan Yasmine berjalan bersama beriringan dan saling bergandengan tangan, disusul dua pengasuh Yasmine yang berjalan di belakangnya.
Sepanjang jalan menuju parkiran, Mata Annisa tertarik melihat dinding kaca yang menyimpan banyak informasi penting seputar kampus dan mahasiswa.
Mata Annisa tertarik pada selembar kertas informasi yang disana bertuliskan penerima beasiswa baru dari luar negri yang salah satunya juga dari Indonesia, sama seperti dirinya.
Masih segar di ingatan Annisa jika pertama kali dirinya menginjakan di bumi Dubai ini dulu karena bantuan seorang teman Jang juga sebelumnya telah mendapatkan beasiswa lebih dulu.
Annisa menghentikan langkahnya , sejenak membaca informasi yang tertempel di dinding kaca mengenai penerima beasiswa dari Indonesia.
Mata Annisa jeli membaca satu persatu nama yang tertera di sana, dan tanpa sengaja mata Annisa tertuju pada sebuah nama yang begitu dia kenal sebelumnya.
"Zyan Malik Abdullah ?" gumam Annisa dalam hati
Berulang kali Annisa membaca tulisan nama yang ada di sana, benar saja sebuah nama yang dia baca merupakan nama mantan calon suaminya yang gagal menikah dengannya.
Namun benarkah jika itu adalah Zyan, membaca informasi lebih lanjut nyatanya Annisa tidak salah melihat, Zyan terdaftar sebagai penerima beasiswa program Doktor di Universitas yang sama dengan Annisa. Hal itu cukup meyakinkan Annisa jika Zyan yang namanya tertulis di lembar informasi tersebut benar adanya merupakan Zyan Malik Abdullah sang mantan calon suami.
***
__ADS_1