
...Sabar , adalah kunci dari setiap permasalahan hati...
...🍁...
Melihat Tamara tidak seperti yang selalu dia lihat membuat Amir merasa bersalah. Wajahnya tertunduk lesu, tentu juga saat ini Tamara tidak sedang baik-baik saja.
Tamara terlihat begitu kacau dengan mata yang terlihat sembab, sudah dapat di pastikan jika sejak siang tadi dia telah menghabiskan literan air mata.
Tanpa babibu Amir pun berlari menghampiri Tamara yang belum menyadari kehadirannya.
Entah apa yang akan Tamara lakukan atau katakan pada dirinya, yang jelas Amir telah siap jika Tamara akan memukul atau memakai dirinya. Dan Amir berjanji akan diam meskipun Tamara menghajar nya habis habisan.
"Tamara !"
Terdengar kaku, namun memang baru kali ini Amir memanggil Tamara dengan nama yang benar.
Sementara Tamara yang merasa di panggil, menatap nanar pada Amir yang terlihat terengah setelah sebelumnya berlari an menghampiri dirinya. Sejenak tatapan keduanya saling beradu.
Kini Amir pun bersiap menerima apa pun yang akan di lakukan Tamara, Namun bukan pukulan atau makian yang Amir terima, nyatanya Tamara justru memeluknya dengan sangat erat.
Amir yang tidak tahu kenapa Tamara berbuat demikian, hanya dapat membalas pelukan Tamara dengan usapan lembut di punggung serta rambut panjang Tamara.
Erat dan semakin erat Tamara memeluknya, bahkan Amir merasakan jika tubuh Tamara saat ini tengah bergetar.
Terdengar pula oleh Amir , Tamara tengah terisak dalam pelukannya, Menenggelamkan wajahnya dalam pelukan Amir, hingga beberapa saat Amir berusaha menenangkan Tamara.
Cukup lama keduanya dalam posisi berpelukan, hingga banyak pasang mata memandangi aktifitas keduanya dengan tatapan penuh tanya. Hal itu tentu cukup membuat Amir merasa tidak nyaman.
Dengan sigap Amir menuntun Tamara yang masih dalam pelukannya untuk menuju mobil, Selamat berjalan menuju mobil, tidak sedikitpun Tamara melepaskan pelukan dari Amir.
Amir tentu sangat merasa bersalah, namun saat ini dia juga penasaran kenapa Tamara terlihat begitu ketakutan dan sangat kacau.
Namun meski demikian, Amir tetap membiarkan Tamara sejenak menenangkan dirinya, baru setelahnya dia akan bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Meski Amir tahu akar dari semua permasalahan adalah dirinya, tentu karena dirinya terlalu kasar pada Tamara.
"Tenanglah . Ada aku disini " ucap Amir dengan usapan lembut di punggung Tamara.
Mendengar ucapan Amir yang begitu meneduhkan, Tamara sedikit mengurai pelukannya, hingga menengadahkan wajahnya menatap Amir yang kini tengah tersenyum padanya.
"Masuklah, ku antar kau pulang" titah Amir.
Meski telah berkata dengan begitu lembut, nyatanya Tamara juga tidak sekali pun mengucapkan kata-kata.
Keduanya kini telah berada dalam satu mobil, sementara itu Tamara terlihat lebih tenang dari sebelumnya. Namun Amir masih belum berani untuk menanyai Tamara, hingga dia memilih untuk diam.
"Bisa kau mengajakku ke tempat makan ?" ucap Tamara lirih
Sekolah Amir menatap Tamara, Satu kata kalimat yang baru saja dia dengar setelah beberapa menit lalu Tamara selalu diam.
"Apa kau lapar ?"
Tamara menoleh. Kekesalan mulai tampak di wajah cantiknya.
"Apa aku terlihat akan menginap di sana ?, Perlukah aku menjelaskan jika memang aku saat ini sedang kelaparan ?" meski dalam kondisi lemah nyatanya intonasi Tamara tetap sama.
Dan Amir harus kembali mengorek telinganya untuk meredakan rasa sakit di sana.
"Pelan kan suaramu, kau tidak perlu berteriak !" ucap Amir kesal.
Keduanya tampak terdiam beberapa saat, hingga mobil yang di kemudikan oleh Amir terparkir di depan sebuah restoran.
Tidak ada basa basi, Tamara bergegas menuju restoran tersebut, bahkan dia melupakan Amir yang masih berada di dalam mobil.
"Baik pesanan sudah kami tulis, ada tambahan lagi ?" ucap pelayan
"Tidak, terima kasih " jawab Tamara
__ADS_1
Secepat itu Tamara meninggalkan Amir, secepat itu pula dia memesan makanan, hingga Amir tiba pelayan telah selesai mencatat semua pesanan Tamara, sungguh luar biasa. Lagi-lagi Amir harus kembali menggelengkan kepala, mengalah dengan sosok makhluk terkuat di dunia yaitu Wanita.
***
Tidak butuh waktu lama pesanan yang sebelumnya di pesan telah siap tersaji di meja, semua makanan yang di pesan oleh Tamara berjumlah sama yaitu 2.
"Kenapa kau memesan makanan yang sama ?" tanya Amir.
"Apa aku juga masih harus menjelaskannya ?" sindir Tamara
"Tapi tidak masalah aku akan menjelaskannya" ucapnya lagi masih dengan nada sindiran.
Bukan tanpa alasan Tamara mengatakan hal itu, dia hanya ingin membalas Amir, dan secara tidak langsung mengatakan pada nya , jika memberikan pengertian pada orang lain juga tidak lah harus selalu menggunakan ucapan dan tindakan kasar.
"Em. Jadi begini , Jika kita memesan menu yang berbeda, tentu koki di sini akan membutuhkan banyak waktu untuk menyiapkan makanan yang berbeda jenisnya, tapi ketika pesanan kita sama maka koki akan lebih cepat menyiapkannya karena pesanan kita sama" tutur Tamara panjang lebar
"Intinya aku tidak ingin menunggu lama, karena aku lapar " ucap Tamara lagi tanpa rasa malu sedikitpun pada Amir.
Tentu hal itu membuat Amir terkekeh, nyatanya tidak hanya dapat membuat nya kesal, namun juga Tamara dapat membuat Amir tertawa geli.
Setelah cukup memberi penjelasan pada Amir, tanpa rasa sungkan Tamara segera melahap makanan di depan matanya, seolah memang dia telah tidak makan dalam waktu yang cukup lama.
"Tadi kenapa kau menangis ?" Tanya Amir di sela-sela makan.
"Aku takut"
"Takut" ulang Amir
"Ya "
"Tapi aku pikir kau lebih menakutkan dari apapun"
"Sial An !!"
"Haha maaf, aku hanya bercanda"
Mendengar hal itu Amir tampak menganggukkan kepala, tentu dia sangat paham kondisi sulit yang sebelumnya di alami Tamara, dia tidak membawa uang sepeserpun dan tidak ada alat komunikasi, karena memang Tamara meninggalkan Tas dan handphone miliknya di toko.
"Terima kasih " ucap Tamara lirih namun masih dapat jelas terdengar di telinga Amir.
"Untuk ?"
"Karena kau telah menemukan ku" ujar Tamara
Mendengar hal itu Amir hanya tersenyum simpul, rasanya terlalu menggemaskan bagi Amir, Tamara yang merupakan seorang strong woman mengatakan kata terima kasih dengan begitu imut.
"Tutup mata mu, dasar Kucing" ujar Tamara
"Kenapa ?"
"Karena jika kau tidak menutupnya maka kau tidak akan pernah bisa menghindarinya" ucap Tamara dengan sinis.
Amir tentu tahu apa maksut dari ucapan Tamara, bukan tidak mungkin memang bagi keduanya untuk saling jatuh cinta.
Semakin Amir menatap Tamara ,semakin pula Tamara merasa tidak nyaman , sejujurnya juga merasa sedikit malu.
Keduanya tampak merasa canggung dan serba salah, hingga obrolan yang sebelumnya tegang mulai terasa konyol dengan obrolan-obrolan yang di selingi ejekan.
Tidak banyak yang berubah, hanya Amir lebih mentolerir Tamara dengan segala kekurangannya, sementara Tamara juga bersikap lebih manis setelahnya.
***
Beberapa Minggu berlalu, Hari yang di nantikan oleh Emran dan Annisa nyatanya akan segera tiba. Detik demi detik penantian panjang 9 bulan dan 10 hari.
Sungguh perjuangan yang tidak lah mudah, banyak menguras tenaga, pikiran, perasaan, dan tentu hati. Namun hadirnya Emran sebagai suami, mampu membuat kepayahan yang di rasakan Annisa menjadi lebih mudah.
__ADS_1
Sebuah keutuhan cinta dan kesempurnaan rumah tangga yang telah dinantikan oleh keduanya. Kehadiran buah hati yang tentu akan semakin memberikan kekuatan dalam ikatan pernikahan.
Waktu menunjukan pukul 10.45 jadwal dimana Annisa akan melangsungkan operasi Caesarea. Tentu dengan Emran juga akan setia menemani sang istri di dalam ruang operasi.
Sementara Yasmine dan semua keluarga akan berjaga di luar ruang operasi. Berharap semua akan berjalan dengan lancar, kalimat-kalimat doa tidak pernah lekang dari masing-masing orang disana.
Tidak hanya Yasmine dan keluarga Annisa saja yang ada disana, namun ada pula Opa dan Oma dari Yasmine, yang merupakan mertua Emran dari mendiang istri Emran yang telah meninggal. Turut hadir untuk memberikan dukungan dan semangat pada Emran dan Annisa.
Tidak hanya itu, nyatanya Amir dan Tamara pun telah berada di sana, sejak se hari sebelumnya Emran memberikan kabar jika jadwal persalinan Annisa akan dimajukan.
Hingga waktu menunjukan pukul 11.55 Sepasang bayi kembar berjenis kelami laki-laki telah lahir dengan keadaan sehat dan selamat.
Tangisan yang terdengar begitu merdu di telinga sepasang suami istri yang baru saja berbahagia.
Sungguh besar kuasa Allah SWT, tiada kata seindah Syukur, hanya itu yang dapat Emran dan Annisa ucapkan atas segala nikmat yang saat ini mereka dapatkan.
Kebahagiaan seketika menyeruak tidak hanya Annisa dan Emran, Namun semua orang yang ada di sana turut pula merasakan kebahagiaan tersebut.
Annisa memang tidak akan langsung terlibat dalam pengasuhan putra putra nya, karena dia harus kembali fokus terhadap penyembuhan luka pasca operasi. Namun tentu hal itu tidak menjadi masalah besar bagi Annisa.
***
7 hari berlalu , tepat setelah dua hari yang lalu Annisa diperbolehkan untuk kembali ke rumah sang Abi.
Meski tidak semewah di rumah sakit, nyatanya rumah tersebut jauh lebih nyaman bagi Annisa.
Meski tidak sebesar dan semegah kediaman Emran di Dubai , Namun bagi Annisa tetap Rumah itu idaman baginya. Akan selalu menjadi tujuan ketika pulang.
Kondisi Annisa memang belum sembuh total, namun Annisa telah mampu beraktifitas secara normal.
Persiapan Aqiqah twin boy akan di laksanakan sore nanti. Semua persiapan telah direncanakan secara matang. Dengan kekuatan Emran semua berjalan dengan begitu mudahnya. Namun semua itu juga tidak lepas dari peran Amir serta Tamara.
Tidak hanya keluarga , Emran juga mengundang seluruh santri untuk turut serta mendoakan anak nya , tidak hanya 4 ekor Kambing yang di sembelih seperti ketentuan dalam Islam yang mengharuskan 2 ekor kambing untuk anak laki-laki.
Sementara anak Emran kedua nya laki-laki, Memnag sebenarnya cukup hanya 4 saja. Namun tidak hanya itu yang Emran siapkan nyatanya Emran menyiapkan 45 ekor kambing yang akan di sembelih secara bersama, bukan tanpa alasan hal itu dilakukan Emran, karena tentu untuk mencukup kebutuhan semua tamu undangan yang hadir mulai dari keluarga , kerabat teman, dan tentu semua santri yang ada di pesantren pula tidak lupa Emran undang.
Semua prosesi telah berjalan dengan lancar Mulai dari Doa, wejangan dari sesepuh, pemotongan rambut, dan banyak runtutan kegiatan lain berjalan dengan begitu lancar dan tentu sangat khidmat.
Tiba saat acara makan bersama yang juga terlihat tertib teratur, acara makan diadakan secara prasmanan, dengan menu yang tentu tidak hanya kambing, namun banyak pula menu lain yang telah di siapkan.
Emran Dan Annisa tampak begitu bahagia dengan apa yang telah mereka dapatkan, meski begitu keduanya tetap sadar jika semata semua hanya titipan, Akan kembali jika masanya telah tiba.
...------ TAMAT ------...
...🍁 ***WAHAI MUSLIMAH :...
...IBU RUMAH TANGGA*** 🍁...
...Berbahagialah jika Allah takdirkan jalan jihadmu ada didalam rumahmu. Dia memuliakan mu , Dia sibukkan engkau dengan madrasah dan keluarga kecilmu. Jangan gundah, karena lelah akan berbalas JANNAH. Maka bersyukurlah karena Allah tidak jadikan dirimu seperti mereka, wanita-wanita Pekerja yang banyak berbaur dengan para pria di luar sana, dan bahkan sebagian wanita-wanita itu adalah kepala keluarga, yang harus bertaruh nyawa hanya untuk sekedar menegakkan tulang punggungnya....
...🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁...
...Nabila.id...
...🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏...
Assalamualaikum wr wb.
MashaAllah Tabarakalla Author ucapkan kepada seluruh Readers Fillah , Yang tentu datang karen Allah.
Terima kasih untuk setiap Like, Komen, Subscribe , Vote, Koin yang kalian berikan.
Semoga Allah membalas semua dengan berlipat ganda kebaikan.
Mohon maaf apabila dalam penulisan Masih terdapat banyak kesalahan dan kekurangan.
__ADS_1
Sampai Jumpa di Judul Novel Lainya 🥰🙏
Wassalamu'alaikum wr.wb.