HIJRAH CINTA ANNISA

HIJRAH CINTA ANNISA
79. Panas


__ADS_3

...Sekeras apapun kamu berjuang, Jika bukan kamu yang di Takdirkan, Maka kamu akan tetap terbuang. ...


...🍁...


Dengan jantung begitu berdebar, Annisa mendaratkan tubuhnya tepat diatas pangkuan Emran. Meski telah menundukkan wajahnya Annisa tetap saja merasa gugup.


Sementara itu Emran meraih dagu Annisa, mengarahkan pandangan Annisa agar menatapnya. Terasa begitu dalam Emran menatap Wajah bidadari ya tersebut.


"Kau cantik sekali sayang"


Mendengar pujian dari Emran, Annisa pun tersipu malu. Emran pun membingkai wajah Annisa yang terlihat begitu menggemaskan.


"Aku telah melaksanakan kewajiban ku, bolehkan saat ini aku melakukan yang sunah ?" ucap Emran dengan menatap lekat wajah Annisa yang terasa begitu hangat di tangan Emran.


Tanpa paksaan dan dengan begitu penuh keikhlasan, Annisa kembali menganggukkan kepalanya. Mengiyakan permintaan sang suami.


Emran pun tersenyum simpul melihat Annisa dengan kesuka rekapanya menyerahkan seluruh hak nya atas diri Annisa.


"Terima kasih sayang" ucap Emran dengan mendaratkan kecupan mesra di bibir Annisa.


Mendapatkan perlakuan hangat dari sang suami, Annisa begitu merasa tersanjung, seketika hati nya bergetar, diiringi semakin merah nya wajah Annisa saat ini.


"Kita lanjutkan disana" tunjuk Emran ada tempat tidur yang berukuran king size dikamar itu. Annisa pun kembali mengangguk kan kepala sebagai jawaban.


Dengan penuh kehati-hatian Emran membaringkan Annisa diatas tempat tidur. Emran pun menyadari jika Annisa begitu gugup.


"Santai saja sayang, tidak perlu tegang, aku akan melakukanya dengan lembut" ucap Emran dengan berbisik tepat di telinga Annisa.


Annisa pun hanya menatap pasrah pada sang suami, meski sejujurnya dia memang begitu tegang.


Emran memulai dengan memberikan kecupan mesra, bibir Annisa yang selalu membuat Emran merasa ingin selalu berada disana.


Dengan lembut Emran me Lum at bibir ranum itu, memberikan sensasi hisapan lembut. Annisa yang mulai terbuai pun mulai membalas kecupan Emran, meski masih begitu amatir namun Annisa mulai belajar untuk memuaskan sang suami.


Melingkarkan tangannya di leher sang suami, Memberikan hisapan dan kecupan di bibir Emran yang terasa semakin menggai rah kan.


Tidak lupa Emran memberikan sentuhan di beberapa tempat, sampai pada saat Emran telah meletakkan telapak tangannya di salah satu bukit milik Annisa.


Entah sejak kapan tangan besar tersebut berada di sana, Sakin Annisa begitu menikmati tautan kedua bibir tersebut, Annisa tidak menyadari jika tangan Emran telah berada pada bagian yang paling dia sukai.


Memberikan usapan lembut, kemudian Me re m@s lembut bagian kenyal itu membuat semangat Emran begitu memuncak.


Bagian yang selalu membuat Emran merasa pas ketika menyentuhnya. Emran pun melepaskan tautan nya ketika merasa Annisa telah kesulitan bernafas.


Keduanya kini tersenyum penuh kasih sayang, dengan tatapan lekat.

__ADS_1


Emran yang merasa semakin panas, bergegas melahap benda kenyal di genggamannya, Menyesap bagaikan bayi yang menyusu pada ibunya, Sementara itu Annisa semakin menggelinjang merasakan sensasi geli dan nikmat yang diberikan oleh sang suami.


"Auchh. Emm Mass!"


Sebuah Des ah An lolos begitu saja dari bibir Annisa, Mendengar hal itu Emran semakin bersemangat dan semakin ber gai Rah. Sungguh setiap bagian dari Annisa membuat Emran semakin menggila.


Mulut yang masih aktif menyesap dua buah kenyal Annisa, sementara itu satu tangan Emran telah berhasil menyentuh inti tubuh Annisa.


"Aaaaehh"


Lagi lagi Annisa tanpa sadar mengeluarkan suara kenikmatan, merasakan sensasi sentuhan lembut yang di berikan Emran.


"Stop mas, An annisa--"


Cup.


Susah payah Annisa berusaha mengatakan sesuatu yang ingin dia katakan, namun Emran lebih cepat menyesap kembali Bi bir Annisa.


"Tenanglah sayang, kau hanya perlu menikmatinya, aku akan membuatmu semakin terbiasa sayang" pinta Emran dengan suara serak, terlihat sorot mata penuh damba.


Mendengar hal itu Annisa pun hanya mengangguk pelan, meski tubuhnya menggelinjang merasakan kenikmatan. hingga pada saat Emran telah menyatukan inti tubuhnya didalam milik Annisa seutuhnya.


"Auchh Ehmmss"


Emran merasakan Annisa begitu kuat mencengkram Punggungnya, namun hal itu menjadi sebuah kenikmatan yang Emran sukai, meski terasa perih dan sedikit sakit namun Emran sangat menikmati wajah Annisa yang terlihat begitu menikmati permainannya siang itu.


Namun yang jelas pasti Emran rasakan saat ini adalah sempitnya milik Annisa, masih terasa begitu mencengkeram kuat , dan hal itu tentunya semakin membuat Emran merasa semakin bersemangat.


Sampai pada saat keduanya merasakan pelepasan yang begitu luar biasa, Annisa tak kuasa menahan gejolak tubuhnya, begitu juga Emran yang seketika membusungkan dadanya, merasakan setiap pelepasan yang menyebar sempurna di dasar rahim Annisa.


Hingga Emran merasakan tubuhnya begitu lemas dan seketika terjatuh diatas Annisa.


Emra6yang sadar diri bobot tubuhnya dia kali lipat bobot tubuh Annisa pun langsung membaringkan tubuhnya di samping Annisa.


Mendekap lembut tubuh Annisa , dan membenarkan selimut yang dia kenakan hingga menutup sebatas dada.


Cup.


Sebuah kecupan mendarat di bibir Annisa "Terima kasih sayang" ucap Emran dengan begitu puas.


Annisa pun tersenyum dengan menganggukkan kepala.


"Apa kau lelah ?" tanya Emran dengan mengusap peluh yang membasahi wajah Annisa.


"Sedikit" jawab Annisa dengan malu-malu.

__ADS_1


Mendengar kejujuran Annisa , Emran hanya dapat tersenyum geli, Annisa begitu lucu bagi Emran. Annisa yang dia kenal begitu memiliki prinsip kuat dan tangguh , serta merupakan wanita mandiri di kantornya dulu, kini terlihat begitu menggemaskan dengan malu malu yang terlihat jelas di wajahnya.


"Mas ?"


"Em"


"Apa Yasmine tidak papa jika kita tidak bersamanya ?"


"Apa kau begitu mengkhawatirkannya?"


"Tentu saja mas !, Bagaimanapun Yasmine juga merupakan putriku" ketus Annisa jujur.


Mendengar jawaban Annisa , Emran pun tersenyum lebar, hal itu lah yang begitu di sukai Emran dari kepribadian Annisa, begitu lembut, penyayang, dan sangat tanggung jawab terhadap putrinya.


Karena hal itu lah, tidak butuh waktu lama, Emran begitu jatuh hati pada Annisa, meski Pernikahannya tidak di mulai dengan cinta, namun Emran dapat memastikan jika kini hatinya hanya ada Annisa saja.


"Apa perlu kita menyusulnya?"


"Em, terserah mas saja"


"Kau bilang tadi lelah ?" Tanya Emran


"Untuk Yasmine aku tidak pernah lelah mas" ucap Annisa dengan mengulas senyum manis di wajahnya.


Menyadari hal itu Emran pun kembali tersenyum, dengan mendaratkan sebuah kecupan di puncak kepala Annisa.


Emran yang menyadari kekhawatiran Annisa, terhadap Yasmine pun segera meraih Handphone miliknya, menekan sebuah tombol, yang seketika terhubung dengan Asih, sang pengasuh Yasmine


"Hallo Tuan Emran" Ucap Asih dari ujung telepon


"Bisa kau berikan teleponnya pada putriku ?" ucap Emran dengan suara dingin


"Baik tuan"


"Hallo Daddy!" suara teriakan Yasmine yang seketika mengagetkan Emran dan Annisa, karena memang Emran mengubah panggilan menjadi loud speaker.


"Sayang, Apa kau bahagia ?" tanya Emran


"Tentu Daddy !"


"Sayang sekali tidak ada Mommy, akan lebih seru jika ada mommy " ucap Yasmine dari ujung telepon. Sementara itu Annisa hanya diam mendengarkan celotehan Yasmine yang begitu dia rindukan.


"Tapi tidak masalah Daddy, Setelah Mommy sembuh kita akan bermain bersama" ucapnya lagi.


Mendengar ucapan Yasmine yang begitu menohok di benak Annisa, dan mengarahkan pandangan nya ke sang suami yang tersenyum penuh arti, Annisa sadar jika sang suami telah mengelabuhi putrinya.

__ADS_1


Annisa hanya menatap dengan memutar bola matanya, menyadari tingkah sang suami yang begitu konyol.


***


__ADS_2