
...Bergantung lah hanya pada Allah, karena bayanganmu saja akan meninggalkan mu ketika kamu dalam Kegelapan....
...🍁...
Hasan begitu takut melihat Amir dengan wajah yang begitu merah padam. Kemarahan Amir yang tidak lagi dapat di tutupi.
"Tuan Hasan , Jaga sikap anda !" Tegas Amir memberi peringatan.
Sementara Emran hanya tetap duduk masih dengan posisi kaki bersilang, menyaksikan apa yang akan terjadi setelah itu.
"Tu Tuan maafkan saya, saya akan segera membereskan kekacauan ini "
Ucap Hasan dengan begitu takut, dia sangat sungkan pada Amir yang terlihat tidak menyukai sikapnya. Sikap kasar dan arogan yang baru saja dia tunjukkan.
"Apa yang ingin anda bereskan Tuan Hasan?"
"Katakan!!"
"Apa maksut anda akan membereskan tuan Emran Al-Fatih?"
Mendengar nama yang begitu familiar di pikirannya, sejenak Hasan merasa begitu ketakutan, otaknya serasa mendidih dengan sebuah nama yang baru saja di sebut oleh Amir.
"Apa anda memiliki cukup keberanian untuk melakukanya ?"
"Apa anda sadar siapa orang yang telah memperkerjakan dan menggaji anda selama ini "
"Dan apa anda sadar, dengan siapa anda berhadapan saat ini ?"
"Dialah tuan Emran Al-Fatih Presdir Emran Group!" ucap Amir dengan begitu menekankan kalimatnya.
Amir yang begitu marah hingga menghempaskan begitu saja tangan Hasan, hingga Hasan terpelanting kebelakang dan nyaris terjungkal.
Namun keseimbangan Hasan mampu menyelamatkan dirinya, hingga dia tidak sampai jatuh tersungkur ke lantai.
"A apa ?"
"Ja jadi , anda tuan Emran!"
Kaget Hasan dengan suara bergetar, membayangkan bagaimana nasib dirinya setelah ini.
"Ma maaf tuan, maaf atas kelancangan saya"
Ucap Hasan dengan berlutut di samping Emran. Hasan begitu takut, dan tidak lagi mampu mengangkat wajahnya di hadapan Emran.
Sementara itu , semua karyawan semakin banyak yang berkumpul dan menyaksikan keributan tersebut, dan mereka pun begitu terkejut, nyatanya sosok yang tengah berdebat dengan direktur mereka merupakan Presdir dari Emran Group.
Semua orang yang ada di ruangan tersebut merasa suasana sangat mencekam, seketika udara menjadi panas, namun tidak ada satupun dari mereka yang berani untuk membuka mulut.
Emran hanya bergeming, dan mengabaikan ucapan Hasan yang tengah Menundukkan wajahnya, dengan segudang rasa bersalah dan penyesalan yang memenuhi relung hatinya.
"Kau denganku saja begitu berani"
Ucapan Emran yang terdengar begitu dingin. Sementara Hasan haya terdiam dengan keringat yang bercucuran membasahi kemeja nya.
"Aku tidak membayangkan bagaimana waktu itu kau begitu menindas karyawan yang tengah dalam kesulitan karena kecelakaan kerja yang dialami"
"Dia seorang pekerja lapangan, seorang suami yang memiliki empat orang anak, seorang tulang punggung keluarga, menghidupi dua orang tuan yang sudah renta"
"Seseorang yang saat ini telah kehilangan sebelah tangannya, tangan yang merupakan bagian terpenting baginya untuk bekerja"
"Apa kau ingat siapa dia ?"
__ADS_1
Ucap Emran dengan begitu dingin, sangat dingin hingga suasana mendadak menjadi beku.
"Ma maaf tuan , dan saya tidak bermaksud --"
"Cukup !" Sergah Emran, tidak ingin lagi mendengar ucapan direktur dari anak perusahaanya tersebut.
"Kau memecatnya begitu saja setelah dia kehilangan segalanya, dan tanpa memberikan hak nya sebagai karyawan yang telah cukup lama mendedikasikan dirinya untuk perusahaan ini"
Ucap Emran lagi, ucapan yang begitu terdengar sangat menakutkan.
"Ma maaf kan saya tuan , Tapi saya telah memberi yang semestinya !" Kilah Hasan berusaha membela diri.
Mendengar hal itu Emran hanya tersenyum getir, masih berani juga nyatanya Hasan menjawab ucapannya.
"Ohya , benarkah ?, Aku ingin tahu berapa yang kau berikan padanya ?"
Hening.
Suasana seketika menjadi hening , dengan Hasan yang hanya dapat menundukkan wajahnya merasa bersalah pada sosok di hadapannya.
"Katakan !!!" ucap Emran dengan meninggikan suaranya.
"Tu Tuan , saya bersalah, mohon maafkan saya " ucap Hasan dengan terbata, menyadari kini nasib nya sudah di ujung tanduk.
"Cih. Setelah semua ini kau baru meminta maaf !"
"Memalukan !"
Ketus Emran dengan wajah dingin nya, sedikitpun Emran tidak ingin melihat wajah Hasan, jangankan melihat dan menatap, mendengar suaranya saja Emran merasa sudah sangat tidak ingin.
"Tuan Maaf kan saya tuan Emran , Maaf kan saya , saya berjanji tidak akan mengulangi perbuatan saya lagi "
"Saya berjanji tuan !!"
Ucap Hasan dengan begitu memohon dan wajah yang sudah lagi tidak menghiraukan rasa malunya. Keringat mengucur deras dari sudut pelipisnya.
Bahkan terlihat sesekali Hasan yang hanya menunduk dengan mengelap keringatnya menggunakan dasi yang dia kenakan.
Sementara itu semua karyawan disana tampak kaget mendengar apa yang baru saja di ucapkan Emran. Seolah tidak percaya jika Hasan begitu tega dan jahatnya memperlakukan seseorang yang tidak berdaya dengan perlakuan begitu tidak baik.
Tidak jarang diantara mereka mengecam keras perbuatan Hasan yang nyatanya baru mereka ketahui.
"Saya mohon tuan , Jangan pecat saya tuan !"
"Saya tidak bisa membiarkan keluarga saya menderita taun , Saya mohon tuan !"
Mendengar ucapan Hasan Yang begitu menyedihkan, Emran hanya tertawa geli.
"Kau tidak bisa membiarkan keluarga mu menderita, sementara kau bisa melihat orang lain menderita"
"Apa kau manusia ?"
"Bagaimana bisa manusia bisa berlaku sepertimu ?"
Ketus Emran seolah tidak pernah ada ampun bagi sang direktur dari anak perusahannya.
Mendengar ucapan Emran, Hasan begitu gemetar menahan rasa takut yang dia rasakan, keringat berukuran besar jelas mengucur begitu deras dari wajah nya.
Menyadari kepanikan dari sosok yang kini tengah berlutut di hadapannya, Emran pun juga merasa hatinya tidak cukup mampu untuk melihatnya.
"Tenang saja tuan Hasan , aku tidak akan memecat mu" Ucap Emran dingin dengan pandangan lurus kedepan.
__ADS_1
Ucapan Emran yang baru saja keluar dari mulutnya, cukup membuat telak banyak pasang telinga yang mendengar, tidak terkecuali Amir yang juga merasa begitu terkejut dengan keputusan Emran yang tidak akan memecat Hasan.
"Tuan !" Ucap Amir dengan menautkan kedua alisnya.
Mendengar hal itu, Emran hanya mengangkat kedua jarinya, meminta Amir tetap diam dan mendengarkan.
Sementara itu Hasan Terlihat mengulas senyum keceriaan di wajah nya, ketakutan yang sebelumnya dia rasakan, seketika sirna begitu saja, Rasa lega dan Bahagia menyeruak di dalam dada. Dengan keputusan Emran yang terdengar begitu bijaksana.
Emran yang melihat perubahan wajah Hasan pun hanya tersenyum kecil, sangat kecil hingga siapapun tidak dapat melihat senyuman itu.
"Tapi aku tidak lagi bisa menempatkan mu di posisi direktur cabang "
"Kau akan aku tempatkan di bagian kebersihan "
Ucap Emran dengan begitu dingin, ucapan yang seolah mengoyakkan hati Hasan saat itu juga. Hingga Hasan tertunduk lemas mendengarnya.
Bagaiman dia tidak begitu terkejut, diusianya yang tidak lagi muda, kini dirinya harus di hadapkan dengan situasi terburuk baginya, terlebih mengingat bagaimana keluarga nya nanti, dengan statusnya yang tidak lagi sebagai direktur.
"Ta tapi tuan, anda tidak bisa melakukan itu !" tolak Hasan dengan tegas
"Kenapa Tidak !" ucap Emran dingin
"Jika kau keberatan kau bisa angkat kaki dari tempat ini" ucap Emran lagi dengan menatap sekilas Emran.
"Tu tuan saya mohon "
"Saya akan memperbaiki kesalahan saya, saya janji akan bekerja dengan baik tuan !"
"Saya mohon tuan !"
Mendengar hal itu Emran hanya mengulas senyum ramah, dengan menganggukkan kepala.
"Buktikan saja Ucapanmu itu, bekerjalah dengan baik di bagian kebersihan " ucap Emran
Mendengar keputusan sang Presdir, Hasan tidak lagi dapat berbuat apa pun, rasanya dunianya saat ini telah runtuh, dia sudah tidak memiliki cukup keberanian untuk menjawab ataupun menatap sang Presdir.
Belum lagi Hasan harus menyiapkan tenaga dan pikiran menerima kemarahan dari istri dan anaknya nanti.
***
...-ALHAMDULILLAH- ...
Sebelumnya Assalamualaikum wr wb.
Dear Seluruh Reader Fillah Kesayangan Author, Yang tentu datang karena Allah. Selamat datang di Karya saya yang Masih receh ini.
Terima kasih Sudah membersamai Author hingga sejauh ini.
Untuk Setiap Like,Komen Subscribe, vote ,Follow, dan hadiah2 yang Reader semua berikan untuk author ,Author ucapkan banyak terima kasih, Dan semoga Allah membalas nya dengan berlipat ganda.
Disini Author mau sedikit cerita. Saat saat ini mungkin Author Sedang Down , Jarang Up, dan Sering Hiatus, Mohon pengertianya 🙏🙏
Terus terang , untuk Readers yang telah memberi ulasan buruk atau bintang 1 , Itu cukup dan sangat menyakitkan untuk Author.
Entah kakak sengaja atau tidak saya juga tidak tahu, yang jelas apa yang kakak lakukan cukup membuat down.
Sekedar Saran saja ka, kalau memang tidak suka dengan karya saya, mohon untuk tidak memberikan ulasan Buruk apa lagi bintang 1, 2 ,3 . Itu sangat menyakitkan.
Saya di sini menulis tidak hanya untuk sekedar hobi, Tidak hanya sekedar menyalurkan imajinasi, tidak hanya sekedar mengisi hari-hari, Tapi Disi saya juga mengais rezeki.
Jadi tolong Bijaklah dalam bertindak, Saya tidak meminta Karya saya untuk di baca, kalau mau baca silahkan kalau tidak tinggalkan !!!. Jangan memberi ulasan buruk apalagi penilaian buruk. !!!
__ADS_1
🙏🙏🙏🙏🙏