HIJRAH CINTA ANNISA

HIJRAH CINTA ANNISA
38. Tabayun


__ADS_3

...Allah tidak Membebani seseorang, melainkan sesuai dengan kemampuannya...


...🍁...


Semua orang yang berkepentingan telah duduk di ruang tamu kediaman Abi Ali. Dengan sorot mata tajam Pak Malik menatap Tamara. Sorot mata penuh kebencian dan amarah.


Begitu juga Tamara yang menganggap hal itu biasa saja,tidak ada sedikitpun rasa takut di hatinya. Sorot mata kebencian pun saat itu mulai tumbuh di hati Tamara. Entah mengapa saat ini tidak hanya pada pak Malik saja Tamara merasa kesal, namun juga pada Zyan.


Tidak berselang lama Akhirnya Annisa pun ikut bergabung di ruangan tersebut.


Annisa yang telah mendapatkan kabar mengenai pembatalan sementara acara Ijab qobul nya, sedikit merasa terkejut namun Dirinya juga ingin mengetahui sebab dari pembatalan sementara itu.


Ada debaran aneh yang saat itu muncul di hati Zyan, menatap sosok di hadapannya yang terasa begitu teduh dan anggun. Namun Raut wajah Zyan seketika padam tatkala melihat Tamara yang juga duduk disana.


Setelah semua berkumpul, Abi Ali memimpin acara raat kecil tersebut.


Abi Ali seolah berlaku sebagai penyidik, yang meminta keterangan dari berbagai pihak. Tidak terkecuali Tamara dan yang lainya.


Abi Ali memulai meminta keterangan dari Tamara, yang merupakan sumber utama, awal mula adanya kejadian tersebut.


Tidak ada sedikitpun rasa takut, Tamara dengan lantang mengatakan apa yang dia ketahui pada semua orang yang ada di ruangan tersebut.


"Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, Pernikahan ini harus di batalkan !" Ucap Tamara dengan suara dingin.


"Lancang !" Sergah pak Malik yang tidak terima. Menatap tajam Tamara.


Melihat situasi mulai tidak kondusif, Abi Ali meminta Pak Malik untuk tenang.


"Saya mengandung anak Zyan !" Ucap Tamara lantang. seolah tanpa beban.


Deg.


Seketika Hancur sudah hati Annisa saat itu, bukan kebohongan, nyatanya itu merupakan kebenaran, Jika itu merupakan sebuah kebohongan Annisa rasa Tamara akan berfikir dua kali untuk melakukanya. dan Tamara pun telah mengatakan untuk yang kedua kalinya dan di hadapan Zyan dan keluarganya pula.


Terlebih siapa yang tidak mengenal Tamara, model terkenal yang sedang berada di puncak kejayaan. Tidak mungkin Tamara akan mengorbankan harga dirinya untuk masalah ini.


Sudut mata Annisa seketika berembun, dan meloloskan bulir bening disana.


"Bohong !" Sergah Zyan yang merasa tidak terima dengan ucapan Tamara.


"Sebelumnya kami memang menjalin hubungan, namun kami tidak pernah melakukan lebih, terlebih Samapi saya menghamili nya " Ucap Zyan lantang, dan tidak ada keraguan sama sekali.


"Cih" Mendengar ucapan Zyan, Tamara hanya medecih malas.


"Apa buktinya jika aku menghamili mu " ucap Zyan lantang. Seolah meminta pertanggung jawaban dari ucapan yang di katakan oleh Tamara.

__ADS_1


Terlihat Tamara menarik nafas dalam dan terasa berat, Kemudian pandanganya tertuju pada Annisa yang duduk di sampingnya.


"Aku memang tidak memiliki bukti, Namun aku tidak pernah berbohong Annisa" Ucap Tamara pada Zyan namun pandangan mata menatap lekat pada Annisa.


Deg.


Semakin hancur lah hati Annisa saat itu. Rasanya sudah tidak ada lagi yang dia harapkan dari pernikahan ini.


Plak !


Sebuah tamparan melayang begitu saja di pipi mulus Tamara.


Pak Malik yang merasa geram, serasa emosinya telah di ubun-ubun tanpa sadar melayangkan sebuah tamparan pada Tamara.


"Astaghfirullah" Gumam Annisa dan beberapa orang disana.


"Malik tenang kan dirimu " Ucap Abi Ali yang terkejut melihat tingkah sahabat lamanya tersebut. Dengan berani dia melayangkan tamparan kepada seorang wanita. Terlepas bagaimana sikapnya saat itu.


Tidak di benarkan dimana seorang laki-laki yang sangat ringan tangannya untuk berlaku kasar pada wanita. Dan Abi Ali pun mengecam keras hal itu.


Mendapatkan sebuah tamparan, Tamara hanya tersenyum getir, menyadari sikap arogan calon mantan mertuanya. Begitu juga dengan Zyan yang merasa shock dengan perlakuan Pak Malik pada mantan kekasihnya.


Ada sedikit rasa iba yang di rasakan Zyan ketika dia melihat Tamara yang memperoleh sebuah tamparan dari Orang tuanya. Namun kembali Zyan abai dengan hal itu.


"Karena Saya dan keluarga saya tidak cukup memiliki nama besar seperti anda pak ustadz" Ucap Tamara dengan menatap lekat wajah Abi Ali.


Abi Ali yang mendapatkan tatapan dari Tamara, merasa sedikit heran dan ada rasa bingung dengan ucapannya.


"Anda tidak perlu khawatir, Tenang saja pak ustadz saya akan menjelaskan semuanya" Ucap Tamara yang menyadari kebingungan dari Abi Ali, dan juga orang-orang yang ada di sana.


"Bukankah sudah menjadi rahasia umum jika Nama Pak Malik saat ini mulai redup karena kasus korupsi yang menjerat dirinya"


"Secara tidak langsung, Pernikahan ini hanyalah menjadi kedok baginya untuk meningkatkan pamornya di dunia politik, dan membersihkan namanya di masyarakat umum"


"Siapa yang tidak mengenal ustadz Ali, Kiai kondang yang namanya sangat di junjung di seluruh Indonesia " Ucap Tamara serius dan tatapan tajam.


"Dan ya saya rasa,Saya tidak perlu lagi menjelaskan panjang lebar kemana arah nya bukan ?" Ucap Tamara dengan wajah sinis, menatap lekat wajah pak Malik yang telah bersungut kesal, dengan amarah yang memuncak.


"Beraninya kau !" Ucap Pak Malik yang juga hampir saja melayangkan bogem pada Tamara saat itu.


Namun aksinya kalah cepat dari Abi Ali yang segera menangkis tangan sahabat lamanya, untuk tidak lagi mengangkat tangan pada wanita.


"Sudah, turunkan tanganmu Malik, duduklah kembali" Punya Abi Ali menginterupsi.


Meski dengan gemuruh dada yang begitu meluap, Pak Malik memilih kembali duduk.

__ADS_1


"Baiklah Cukup Nak !, Abi sudah cukup banyak mendengar penjelasan darimu " Ucap Abi Ali pada Tamara dengan wajah teduh dan suara lembut. Meski di hatinya saat ini tengah begitu sakit.


"Sekarang giliranmu Malik, dan Nak Zyan, katakan apa yang ingin kalian katakan" Ucap Abi Ali memberikan kesempatan yang sama pada keduanya.


"Apa !. Aku hanya akan mengatakan hal yang sama. Wanita ini gila, kita tidak perlu mempercayai Ucapannya" Ketus pak Malik dengan suara keras.


Melihat hal itu Tamara hanya menggelengkan kepala, mengingat betapa konyolnya sikap dari sang calon mantan mertuanya tersebut.


"Benar Abi, Zyan merasa ini tidak benar, wanita tersebut terlalu banyak mengarang cerita" Ucap Zyan yang membenarkan ucapan orang tuanya.


Didalam situasi ini, Abi Ali di buat sedikit bingung, pasalnya tidak ada satupun yang mengalah, dan tetap mempertahankan Argumen masing-masing.


Bukan Abi Ali tidak ingin segera mengambil keputusan, atau menyimpulkan, namun dirinya tidak ingin suudzon pada keduanya. Karena semua tidak ada yang tahu mana yang benar dan mana yang salah.


Diatas kebingungannya, Abi Ali akhirnya meminta pendapat Annisa yang saat itu hanya menundukkan wajahnya.


"Annisa !" Panggil Abi Ali.


Annisa pun mendongakkan wajahnya. Menatap sang Abi dengan sorot mata sendu.


"Abi tahu ini berat untuk mu, namun kamu juga telah mendengar pengakuan dari kedua belah pihak" Ucap Abi Ali dengan sangat hati-hati.


"Keputusan untuk menerima rencana perjodohan dan pernikahan ini memang dari Abi"


"Namun saat ini Abi Ingin Annisa sendiri yang mengambil keputusan yang &terbaik dan benar menurutmu " Ucap Abi Ali ada putrinya dengan suara lembut.


Sejujurnya ada rasa bersalah, pada Abi Ali terhadap Annisa. Namun kembali lagi mungkin memnag semua telah di gariskan dari Allah, dan mereka harus menjalani dengan ikhlas setiap alurnya.


Ucapan Abi Ali pun di benarkan oleh bapak penghulu, karena mau bagaimana pun sebuah pernikahan harus di dasari ke ikhlasan.


Dan kembali lagi jika pernikahan itu berdiri diatas dua orang yang saling melengkapi, Sehingga perlu benar-benar di pikirkan secara matang, karena nantinya mereka lah yang akan menjalaninya, begitu kata pak penghulu.


Mendengar hal itu Seketika Keberanian dalam diri Annisa mulai tumbuh, tidak mudah baginya untuk mengambil sebuah keputusan.


Terlihat Annisa yang menghela nafas panjang dan terasa berat.


"Terima kasih Abi. Abi telah memberi kesempatan pada Annisa untuk mengambil keputusan dari peristiwa besar ini" ucap Annisa lirih


Abi Ali menjawab dengan anggukan kepala,dan senyuman yang terukir di wajahnya.


"Mas Zyan " Panggil Annisa lirih namun masih dengan wajah yang menunduk.


Mendengar hal itu, desiran aneh seketika muncul di relung hati Zyan, Menatap lekat sosok di hadapannya yang selalu Menundukkan wajah.


***

__ADS_1


__ADS_2