
...Sabar. Mungkin Bukan menjadi jawaban dari setiap Permasalahan, Namun dengan menjadikan rasa Sabar sebagai teman, mungkin akan sedikit melegakan....
...🍁...
Setelah berpamitan pada sang putri, dan berpesan untuk tetap menjaga Yasmine dengan baik pada dua pengasuh sang putri , Akhirnya dengan tenang Annisa meninggalkan mereka di taman.
Annisa begitu menyayangi Yasmine hingga setiap saat dia tidak pernah bosan untuk mengingatkan pada kedua pengasuh Yasmine untuk selalu menjaga Yasmine dengan baik.
Berjalan sendiri, menyusuri setiap lorong yang ramai dengan banyaknya mahasiswa baru, tidak hanya mahasiswa dalam negri , nyatanya wajah-wajah asing banyak Annisa jumpai hari itu.
Tidak jarang Annisa melihat Wajah-wajah Asia di kampus tersebut. Mungkin beberapa diantaranya berasal dari negara yang sama dengan Annisa, Yaitu Indonesia.
Brug.
"Astaghfirullah" gumam Annisa yang telah tersungkur di lantai.
"Oh I'm Sorry"
Ucap seorang laki-laki yang baru saja menabrak Annisa, hingga Annisa terjerembab ke lantai. Kemudian Mengulurkan tangannya, untuk menawarkan bantuan pada Annisa.
"Yes I'm Okay"
Ucap Annisa menolak uluran tangan lelaki tersebut. Annisa meyakini jika lelaki tersebut bukan mahasiswa dalam negri, pasalnya dia tidak menggunakan bahasa Arab, dan menggunakan bahasa Inggris.
Susah payah Annisa bangkit, menahan rasa ngilu di bagian pinggangnya yang terasa semakin sakit.
Deg.
Betapa terkejutnya Annisa setelah matanya bersitatap dengan sosok yang baru saja menabraknya. Sungguh Annisa tidak sedang salah melihat atau bermimpi, jika sosok di hadapannya saat ini benar merupakan Zyan.
"Mas Zyan !" lirih Annisa dengan tatapan terkejut.
"Annisa !" Balas Zyan, dengan ekspresi yang juga tidak kalah terkejut.
"Maaf Annisa, Aku tidak sengaja"
"Tidak masalah mas, Annisa juga minta maaf" ucap Annisa dengan menundukkan pandanganya.
"Ohya Annisa. Bisakah kita --"
"Maaf mas Annisa buru-buru, Assalamualaikum " ucap Annisa cepat, dengan berlalu meninggalkan tempat tersebut, meninggalkan Zyan yang masih berdiri terpaku.
__ADS_1
"Waalaikumsalam " jawab Zyan dengan memandangi punggung Annisa yang semakin menghilang.
Merasakan sinyal yang tidak baik, Annisa pun memilih menghindar, karena mungkin itu lebih baik untuk menghindari fitnah, meski tidak banyak yang mengetahui statusnya yang telah menjadi seorang istri dari Emran Al Fatih, Namun Annisa jelas paham jika berlama-lama dengan lawan jenis bukan merupakan sesuatu yang baik untuk dilakukan.
Berjalan dengan sedikit berlari, Annisa merasa takut jika Zyan akan mengejarnya, meski nyatanya tidak, namun tetap saja dengan kejadian ini Annisa begitu merasa tidak nyaman.
Tok tok tok
Sebuah ketukan Annisa layangkan pada pintu ruang Kerja Prof Amer.
"Masuk"
Terdengar sebuah jawaban dari dalam ruangan.
Ceklek
"Assalamualaikum Prof"
"Waalaikumsalam Annisa"
Annisa pun berjalan masuk, dan duduk di bangku tepat didepan Prof Amer. Kemudian Annisa menyerahkan hasil Revisi laporan nya yang masih dalam bentuk Soft file.
Prof Amer pun meminta Annisa untuk menunggu, karena memang tidak banyak yang harus Annisa kerjakan saat revisi terakhir, jadi prof Amer akan langsung memeriksa pekerjaan Annisa.
Sungguh Annisa mengkhawatirkan hal itu, lebih dari apapun saat ini.
Tidak kurang 30 menit Annisa menunggu Prof Amer membaca laporannya, akhirnya prof Amer pun selesai dengan tugasnya.
"This is perfect Annisa, you can submit your thesis to the administration section" ucap Prof Amer
" Alhamdulillah, Thanks Prof" jawab Annisa dengan mengulas senyum dibalik cadar yang dia kenakan.
"Oh yes you do so well, how can you do it, this is a very perfect plan according to me, even you can be immediately accepted at a big company. ( Ohya kau mengerjakan dengan begitu baik, bagaimana bisa kau melakukanya, ini perencanaan yang sangat sempurna menutut ku, bahkan kau bisa langsung di terima di perusahaan besar)"
Puji Prof Amer setelah membaca keseluruhan laporan Annisa yang menurutnya begitu bagus.
Annisa pun tersenyum manis, mengingat hal itu tidak lepas dari bantuan sang suami yang telah membantunya mengerjakan semua revisinya, bahkan Annisa tidak menyangka jika bantuan sang suami membuat dirinya mendapatkan pujian dari Prof Amer.
"Thank you prof, I just do my best for this final project. (
Terima kasih prof , saya hanya melakukan yang terbaik untuk tugas akhir ini)" ucap Annisa dengan mengulas senyum.
__ADS_1
Setelah cukup berbincang dengan sang dosen, Annisa bergegas untuk berpamitan, dan meninggalkan ruang prof Amer.
Seperti yang telah di infokan oleh prof Amer jika dirinya sudah bisa untuk mengurus semua di bagian administrasi berkaitan dengan wisuda nya.
Annisa begitu bahagia, awalnya Annisa sempat mengira jika mungkin saja masih akan ada perbaikan, namun nyatanya Annisa mendapatkan kabar sebaliknya, dan langkahnya untuk kelulusan tidak akan lama lagi tentu nya.
Sebelum ke ruang administrasi, Annisa menyempatkan untuk menemui Yasmine yang berada di taman, memastikan jika gadis kecil tersebut tidak merasa bosan dengan kegiatannya menunggu.
"Mommy"
Panggil Yasmine dengan melambaikan tangan, ketika mendapati Annisa berjalan ke arahnya.
"Sayang"
"Mommy sudah selesai ?" Tanya Yasmine
"Sudah sayang di ruang dosen Mommy, Tapi ini masih ada beberapa hal yang harus mommy selesaikan" Ucap Annisa dengan suara lembut, Yasmine pun menjawab dengan menganggukkan kepala.
"Em, Atau Yasmine pulang dulu, Mommy takut jika Yasmine akan bosan menunggu Mommy" ucap Annisa memberi pilihan
"No Mommy, Yasmine mau disini menunggu Mommy" ucap Yasmine dengan celotehan.
Mendengar hal itu Annisa sedikit merasa lega, meski juga dirinya tetap mengkhawatirkan Yasmine.
"Baiklah, mommy pergi dulu ya, setelah selesai Mommy akan langsung kembali" ucap Annisa dengan menghujani kecupan di wajah putri kecilnya.
"Ok Mommy" jawab Yasmine penuh semangat.
Annisa pun berlalu meninggalkan Yasmine dan dua pengasuhnya, berjalan menuju ruang administrasi untuk mengurus beberapa persyaratan wisuda yang memang harus Annisa lengkapi yang salah satunya adalah tugas Akhir Annisa.
Seperti mahasiswa lainya, Annisa berbaris rapi menunggu antrian dengan duduk di kursi tunggu yang telah di sediakan.
Suasana memang cukup ramai, tidak seperti hari-hari biasanya yang cukup lengang.
Menyadari situasi tersebut ingatan Annisa kembali pada tahun dimana dirinya menjadi mahasiswa baru di kampus tersebut, mengurus beberapa administrasi juga, terlebih berkaitan dengan beasiswa yang Annisa dapatkan. mungkin salah satu atau kebanyakan dari mereka merupakan mahasiswa baru seperti Annisa saat itu.
"Annisa ",
Deg.
Tanpa menoleh pun Annisa jelas tahu siapa yang saat ini menyapa dirinya, jujur situasi seperti ini sangat tidak Annisa inginkan, Annisa begitu merasa takut dengan kedatangan Zyan.
__ADS_1
Tidak mungkin tanpa tujuan, jika dengan sengaja Zyan menemui Annisa di tempat tersebut, sudah dapat di pastikan jika Zyan memiliki maksut dan tujuan yang belum Annisa ketahui.
***