HIJRAH CINTA ANNISA

HIJRAH CINTA ANNISA
102. Dalang


__ADS_3

...Di Setiap proses kehidupan pasti ada pembelajaran, Jika dipercepat Allah ingin kita bersyukur, Namun jika diperlambat Allah ingin kita bersabar ...


...Proses...


...🍁...


Udara malam cukup dingin meski berada di ibu kota, musim penghujan tahun ini datang lebih awal, sehingga titik titik hujan yang membasahi jalan masih cukup terasa menyegarkan.


Annisa baru saja tiba di bandara Soeta ketika malam tiba, Kabar tentang kepulangan Annisa nyatanya telah di beritahukan pada sang kakak.


Bahkan hingga malam tiba Kakak nya dan sang istri Khadijah telah siap menantikan kepulangan sang adik.


"Assalamualaikum Annisa"


"Waalaikumsalam" jawab Annisa dengan mencium tangan kedua kakaknya dengan takzim.


Terlihat dari raut wajah Annisa yang begitu lelah, hingga kakak dan kakak iparnya tersebut tidak sampai hati untuk terus mengajak Annisa mengobrol.


"Beristirahatlah, setelah sampai kakak akan membangunkan mu" ujar Khadijah, dan di jawab dengan anggukan kepala oleh Annisa.


Ketiganya berada dalam satu mobil dengan Annisa duduk pada bangku penumpang, sementara dia Kakak nya duduk di bagian kemudi dan samping kemudi.


Menempuh perjalanan beberapa saat akhirnya mobil yang di tumpangi Annisa dan sang kakak telah tiba di halaman pesantren.


Suasana berbeda Annisa rasakan ketika rumah utama tampak sepi dan terlihat hanya beberapa lampu saja yang menyala. Sementara di bagian masjid dan asrama terlihat beberapa santri tengah asyik dengan mushaf nya masing-masing.


"Annisa " Panggil sang umi dengan suara parau.


"Ummi"


Pelukan hangat antara ibu dan anak tersebut terasa begitu haru. Tidak seperti biasanya sang Abi juga akan segera menemuinya, namun kali ini berbeda karena Abi masih berada di ICU dengan kondisi tak sadarkan diri.


Bahkan ummi pun pulang hanya untuk mengambil beberapa baju ganti untuk dia kenakan di Rumah sakit, selain juga karena Annisa akan pulang.


Keduanya larut dalam tangis pilu yang sulit untuk di jabarkan, betapa hati seorang ibu merasa sakit tatkala sang putri terluka.


Sebelum kedatangan Annisa , ummi berusaha untuk menahan diri untuk tidak menitihkan air mata, namun nyatanya hal itu sia-sia saja tatkala melihat sang putri begitu sedih.


"Ummi , Annisa ingin ke rumah sakit sekarang" ucap Annisa di sela-sela Isak tangisnya.


"Besok saja Nissa, sebaiknya kamu istirahat dulu"


"Tidak ummi, InshaAllah Annisa tidak papa"

__ADS_1


Sejujurnya berat bagi Ummi untuk membiarkan sang putri ikut serta, Namun meskipun meninggalkan Annisa di rumah hal itu juga tentu tidak akan membuatnya tenang.


Annisa, ummi bersama kakak dan Kakak iparnya bersama-sama berangkat menuju rumah sakit malam itu juga. Sepanjang perjalanan hanya di hiasi dengan keheningan. Sementara Kakak nya Aisha telah berada di rumah sakit sejak sang ummi pulang untuk sejenak membersihkan diri dan menyiapkan keperluan untuk menginap di rumah sakit.


Seolah tidak sedikitpun terlihat guratan lelah di wajah Annisa, hanya sesekali tampak Annisa menyeka hidungnya yang terasa meleleh.


Menempuh perjalanan beberapa saat, akhirnya mobil yang di kendarai sang kakak terparkir di besment rumah sakit.


***


"Abi"


Lirih Annisa yang hanya dapat memandangi sang Abi dari balik jendela kaca, kondisi yang tak sadarkan diri nyatanya begitu membuat Annisa merasa sedih.


Ingin rasanya Annisa mendekat dan mengatakan permohonan maaf atas kejadian yang terjadi, Namun apalah daya alat-alat yang menopang kesehatan sang Abi membatasi keduanya untuk saling berinteraksi.


"Kita doakan Saja Abi nak"


Annisa hanya dapat menganggukkan kepala sebagai jawaban atas ucapan sang Ummi.


"Annisa, sejak kedatanganmu kakak belum melihat mu makan ataupun minum" Ujar Khadijah


"Sebaiknya kau mengisi perutmu dulu, kau terlihat begitu pucat" Ujarnya lagi. Namun Annisa secepat itu menggelengkan kepalanya. Tak sampai hati rasanya meninggalkan sang Abi, meski hanya dapat menemani dari jarak yang cukup jauh, namun Annisa seolah tak ingin sedikitpun beranjak dari tempatnya saat ini.


"Assalamualaikum Ummi" Sapa Aisyah yang baru saja tiba dari masjid selepas sholat bersama sang suami.


Menyadari sang Kakak datang Annis Apun menghambur dalam pelukan Aishah. Tangis yang sempat tertahan kini tumpah sudah bagai lahar yang baru saja meleleh.


"Kuatkan hatimu Annisa, Abi hanya membutuhkan dia dari kita semua" bisik Aishah pada sang adik.


Setelah beberapa saat Aisha dan sang suami serta Khadijah memutuskan untuk pulang, karena kali ini yang akan berjaga adalah Ummi, Annisa, dan sang Kakak Fathur.


Meski sang Abi masih belum sadarkan diri, namun tidak lantas hal itu membuat mereka harus berjaga semuanya, karena hal itu tentu juga tidak memungkinkan, melihat Aishah yang juga baru saja melahirkan, sementara Khadijah memiliki putra yang baru berumur 3 tahun.


Ketiganya akan kembali esok hari untuk bergantian berjaga.


***


Di langit yang sama , namun pada tempat yang berbeda Emran tengah gusar menantikan kabar dari sang istri.


Suasana hatinya benar-benar tidak baik kali ini, seolah keberuntungan betul-betul tidak sedang berpihak pada nya.


Banyak pesan dang panggilan yang Emran layangkan pada sang istri, namun sedari perpisahannya dengan Annisa di bandara, tidak sekalipun Annisa membuka pesan nya, apa lagi mengangkat panggilan darinya, hal itu tentu membuat Emran semakin tidak karuan.

__ADS_1


Belum lagi Emran harus menghadapi sang putri yang mendadak histeris karena Kepergian Annisa.


Yasmine begitu marah pada Emran, menangis meraung ,memohon untuk dipertemukan dengan sang Mommy.


Bahkan alasan apapun yang Emran katakan seolah hal itu tak lagi mampu mengalihkan perhatian Yasmine terhadap Annisa.


Tidak hanya Emran nyatanya dua pengasuh Yasmine pun juga kalahkan menghadapi kemarahan sang nona kecil.


Setelah cukup lama usaha Emran untuk menenangkan Yasmine, akhirnya gadis kecil tersebut tertidur sembarang diatas kasurnya, entah karena telah lelah sekian lama menangis atau karena hal lain, setidaknya Emran diuntungkan akan hal itu.


Emran yang juga telah lelah, memilih untuk keluar dari kamar sang putri, meninggalkan Yasmine bersama dua pengasuh ya yang siap menemani 24 jam.


Tok tok tok.


Suara ketukan pintu ruang kerja yang seketika membuyarkan lamunan Emran


"Masuk !"


Perlahan pintu pun terbuka, menampakkan Amir yang berdiri di ambang pintu.


Seperti kebiasaan yang selalu Amir lakukan tatkala bertemu sang bos, dia akan membungkukkan badanya untuk memberi hormat.


"Katakan. Informasi apa yang kau dapatkan !"


Dengan sigap Amir menyerahkan beberapa informasi penting yang telah dia cetak menjadi lebaran bukti kejahatan dari dalang dibalik semua kejadian yang telah membuat mertuanya kembali jatuh sakit.


Nyatanya tidak sedikit yang Amir dapatkan, bahkan sang asisten dapat menguak semua penyelidikannya hingga ke bagian akar-akarnya.


Tidak sia-sia Emran menggajinya dengan gaji yang tinggi, hal itu sebanding dengan loyalitas Amir yang begitu cekatan dalam bekerja.


"Sania !"


Ujar Emran tatkala mendapati dalang dibalik semua kejadian ini merupakan dirinya.


Gigi yang meng erat, serta tangan yang mulai mengepal, menandakan jika kali ini Emran tengah berada di puncak kemarahannya.


Sorot mata Emran yang memerah seolah benar-benar menegaskan bagaimana dirinya saat ini.


"Benar tuan, semua ini adalah ulah nona Sania"


"Tidak hanya itu tuan Saya juga mendapatkan kabar jika saat ini nona Sania tengah mengandung"


"Berdasarkan informasi yang saya peroleh, hal itu akan nona Sania manfaatkan untuk menjebak tuan"

__ADS_1


Mendengar penuturan Amir, Emran kembali tersulit emosi, sejatinya kesabaran Emran memang hanya setipis kertas yang akan habis begitu saja setelah mendapatkan kabar tersebut.


***


__ADS_2