
...Dan bersabarlah Kamu,Sesungguhnya janji Allah adalah Benar ...
...(Q.S.Ar-Rum. 60) ...
...🍁...
Malam pun tiba.
Masih sama, jangankan telepon, bahkan Annisa tidak sekalipun membuka pesan yang Emran kirimkan, hal itu masih saja menjadi beban pikiran bagi Emran saat ini. Terlebih mengingat jika saat ini sang istri tengah mengandung.
8 jam setelah perintah Emran, Amir telah menyiapkan segala keperluan Emran untuk keberangkatannya ke Indonesia, tentunya dengan menumpangi pesawat jet pribadi miliknya.
Bukan tanpa alasan Emran tidak membawa siapapun bersamanya, selain Karena faktor kenyamanan juga karena pekerjaan, Amir harus mengurus semua urusan di kantor, sementara Yasmine harus tetap tinggal di Dubai dengan alasan kesehatan sang putri yang sempat menurun sebelumnya.
Menempuh perjalanan cukup lama, terhitung kurang lebih 9 jam lamanya, pesawat yang di tumpangi Emran telah mendarat sempurna di bandara internasional Soekarno Hatta.
Di sana Emran telah di tunggu oleh beberapa orang yang telah Amir perintahkan untuk menemani sang bos.
Tujuan Emran kali ini adalah langsung menemui sang istri yang kini tengah berada di Bandung.
***
Sementara Emran tengah berkutat dengan macetnya jalanan ibu kota, Annisa tengah begitu khawatir dengan kondisi sang Abi.
Tidak hanya Annisa saja nyatanya ummi, juga semua saudara Annisa tengah berkumpul, berdoa bersama demi kesembuhan sang Abi. Kondisi yang semakin memburuk selepas sholat subuh membuat semua anggota keluarga termasuk para santri harus ketar-ketir.
Sempat mengalami gagal nafas, dan beruntung team dokter cekatan dalam menangani Abi, hingga kondisinya kembali stabil meski belum menunjukan perubahan yang signifikan.
Tidak hanya kekhawatiran, nyatanya tangisan juga begitu terdengar menyayat hati, tatkala tangisan tersebut hanya dapat di rasakan dengan mulut tertutup.
Tidak sedetikpun Annisa beranjak dari jendela kaca yang membatasi dirinya dan sang Abi selain untuk urusan ibadah.
Annisa tetap setia menemani sang Abi sejak kedatanganya, bahkan tatkala sang umi memintanya untuk pulang dan beristirahat Annisa tegas menolaknya.
Indikator gawat darurat kembali menyala, disusul dengan datangnya pasukan dokter dan perawat yang bersiap menuju ruang operasi sang Abi.
Setelah beberapa saat lalu keputusan operasi akhirnya di sepakati oleh keluarga, meski kemungkinan selamat tidak 100 % Namun segala upaya akan di lakukan untuk kesembuhan sang Abi.
Operasi pemasangan ring yang akan berjalan cukup lama nyatanya cukup membuat semua anggota keluarga semakin panik dengan rasa khawatirnya.
" Ka " Lirih Annisa pada sang kakak Aisha
"Kita doa sama-sama ya dek" ujar Aisha.
__ADS_1
Karena begitu merasakan kesedihan, sampai Annisa melupakan, jika ada yang lebih sedih dari dirinya atas kejadian ini, tentunya sang umi yang juga lebih sedih dari dirinya.
"Ummi , Maafkan Annisa Ummi" ucap Annisa Sesenggukan.
Bukan bagiamana, Annisa hanya merasa semua kejadian ini berawal dari dirinya yang menikah dengan Emran.
"Takdir Nak, jangan menyalahkan dirimu"
Annisa pun menghambur dalam pelukan sang Ummi, untuk menguatkan satu sama lain.
Satu jam berlalu, belum juga ada tanda-tanda jika operasi akan segera selesai. Sudah puluhan kali Annisa menatap pada lampu indikator yang akan menyala jika operasi selesai. Namun nyatanya lagi-dan lagi sama.
Hingga dua jam berlalu pun masih sama , Annisa dan seluruh keluarganya semakin cemas akan hasil dari operasi yang tengah berlangsung.
Tidak tampak satu dokter atau perawat pun yang keluar untuk sekedar mengabarkan tentang kondisi sang Abi di dalam sana.
Semua orang hanya dapat berdoa dan harap-harap cemas dengan semua keputusan dan ketetapan dari Allah.
Tap tap tap.
Sebuah suara sepatu yang seketika mengalihkan fokus para orang yang berada di koridor ruang operasi.
Ya, benar saja sosok tinggi dan gagah tersebut adalah Emran yang datang lebih awal dari perkiraan nya.
Brug.
"Mas Fathur !" Teriak Annisa
Belum juga Emran menyapa Annisa ataupun keluarga yang ada di sana, Sebuah bogem mentah seketika melayang begitu saja di wajah tampan Emran.
Fathur yang telah diam beberapa hari terakhir, terutama sejak tumbangnya sang Abi yang diyakini akibat ulah Emran, merasa begitu marah tatkala melihat wajah Emran yang datang bak pahlawan kesiangan.
"Bagaimana menurutmu ?, Apakah sakit ?" tanya Fathur dengan wajah memerah.
Mendapati kemarahan sang kakak ipar, Emran sangat sadar dan tidak sedikitpun ada niatan untuk membalas.
Emran tetap diam dan menerima semua perlakuan Fathur terhadapnya, sakit yang Emran rasakan saat ini tidak lah lebih sakit dibandingkan rasa sakit keluarga ini yang harus merasa sedih berjamaah.
Meski para bodyguard di belakangnya bersiap untuk menahan Fathur, namun Emran menghentikan langkah mereka.
Setelah sebuah bogem mendarat di pelipis Emran , kini lagi dan lagi Fathur melampiaskan kemarahannya dengan menghajar wajah Emran sekenanya.
Beruntung tindakan Fathur segera di cegah oleh suami Aisha yang sigap memegangi Fathur agar tidak semakin membabi buta.
__ADS_1
"Fathur ! Sadar nak, Abi lebih membutuhkan doa kita semua" lirih sang umi dalam Isak tangisnya.
Tak kuat rasanya menyaksikan perpecahan antara saudara yang kini tengah berada di tempat yang sama.
Sementara Emran di bantu oleh beberapa bodyguard nya untuk bangun, Annisa tetap bergeming, meski dalam hatinya merasa khawatir terhadap sang suami. Karena sadar saat ini yang lebih membutuhkan dirinya adalah sang Ummi.
Meski di abaikan oleh Semua orang, nyatanya Emran juga setia untuk menunggui sang mertua hingga jalannya operasi.
Setelah 3 jam berlalu, akhirnya lamu indikator di ruang operasi menyala hijau.
"Alhamdulillah"
Ucap serentak orang-orang yang berada di koridor tersebut, tidak terkecuali Emran.
Meski belum mendapatkan kabar pasti mengenai kondisi kesehatan sang Abi, setidaknya masa-masa sulit telah terlewati, dan kini tinggal menunggu dokter yang akan keluar dan menyampaikan perihal hasil operasi tersebut.
Ceklek.
Pintu Ruang operasi dengan engsel yang sedikit aus hingga suaranya terdengar lebih nyaring membuat semua mata tertuju padanya.
"Bagaiman dokter kondisi abi ?" tanya Annisa yang lebih dulu menyapa seorang dokter yang baru saja keluar dari ruangan operasi.
Tidak terlihat jelas ekspresi wajah sang dokter, dikarenakan tengah mengenakan masker.
"Alhamdulillah, meski sedikit ada hambatan, namun operasi berjalan lancar"
"Saat ini pasien dalam kondisi Stabil, meski masih dalam keadaan koma, kita tunggu saja perkembangannya dua sampai tiga jam lagi"
"Kami akan pantau bagaimana perkembangan pasien" ujar sang dokter memberi penjelasan.
Meski jawaban tersebut tidak sepenuhnya membahagiakan, namun setidaknya cukup melegakan bagi Annisa dan keluarga.
Meski masih harus tetap menunggu, setidaknya sang Abi telah menjalani masa sulit dan kini dalam kondisi Stabil.
"Annisa , temui suami mu nak, Kasihan dia juga pasti lelah" ucap sang umi memerintah.
"Tapi ummi "
"Tidak perlu sungkan, Kakak mu juga akan mengerti " Ujar Ummi dengan mengarahkan pandanganya pada Fathur.
"Baik Ummi "
***
__ADS_1