HIJRAH CINTA ANNISA

HIJRAH CINTA ANNISA
93. Kemarahan Sania


__ADS_3

...Jika tolak ukurmu adalah Rupa dan Harta, Makan Makan Sepiring Berdua hanyalah Khayalan Belaka ...


...🍁...


Sarapan pagi sederhana yang di siapkan oleh Annisa, nyatanya mampu membuat Emran merasa begitu bahagia dengan suapan demi suapan yang masuk kedalam mulut.


Sesekali pandangan Emran melirik pada Annisa yang tengah duduk di hadapannya dengan khusyuk pada santapan pagi nya.


"Ketika sedang bersama seperti ini, aku merasa hal ini tidak pernah terbayangkan sebelumnya" ucap Emran tiba-tiba.


Mendengar ucapan sang suami, Annisa menghentikan gerakan tangannya. Menatap jeli pada Emran


"Mungkin kau menganggap ku seorang yang begitu keras dan arogan"


"Tidakkah kau ingat disaat saat perdebatan kita saat itu ?"


Lagi-lagi Emran mengingat kebersamaan nya bersama dengan Annisa yang dulu hanyalah bawahan dan karyawannya di kantor.


Sebuah senyum terukir jelas di wajah Annisa tatkala mendengar penuturan sang suami.


"Jika di ingat-ingat diantara kita tidak pernah terjalin hubungan baik apa lagi rasa cinta, tapi sekarang ?, bahkan kita duduk bersama dan menikmati sarapan bersama" Ucap Emran dengan wajah berseri-seri mengingat kembali masa-masa sebelum keduanya sah menjadi suami dan istri.


"Tidak hanya itu mas, Bahkan sekarang kita juga berbagi tempat tidur bersama" Goda Annisa dengan wajah memerah.


Ucapan Annisa tersebut seketika membuat Emran terkekeh kecil. Langka bagi Emran mendapat godaan dari Annisa yang begitu polos.


Keduanya saling pandang dengan senyum yang merona menghiasi wajah.


"Kebetulan yang Unik sih " ucap Emran dengan mengangguk angguk kan kepala.


Mendengar ucapan sang suami, Annisa lantas tersenyum.


"Tidak mas, Tidak ada yang unik, apa lagi kebetulan yang unik"


"Semua yang terjadi dalam hidup kita tidak akan pernah terjadi jika tanpa kehendak Allah" jelas Annisa dengan begitu lembut.


"Jika persoalannya karena cinta, itu juga kurang tepat mas"


"Kenapa ?" tukas Annisa


"Karena sejatinya sebuah pernikahan tidak hanya sekedar cinta, namun lebih pada takdir Allah yang nyata adanya" tutur Annisa dengan lembut.


Mendengar hal itu Emran mengangguk angguk kan kepala, seolah memahami apa yang di katakan oleh sang istri.


"Banyak pasangan di luar sana yang menjalin cinta begitu lamanya, namun sekeras apapun seorang hamba berusaha, jika Allah tidak meridhoi nya, maka hasilnya tidak akan sama" Ucap Annisa


"MashaAllah, Semakin kagum dengan istriku ini" Puji Emran


"Terimakasih sayang kau telah menjadi cahaya dalam hidupku dan Yasmine " Tukas Emran

__ADS_1


"Alhamdulillah mas, takdir Allah begitu indah"


Setelah obrolan singkat, Keduanya kembali menikmati sarapan yang hanya tinggal tersisa beberapa suap saja.


***


"Sialan !"


"Dasar benalu, pengganggu, awas ya..!!"


Hujatan dan makian yang terus saja keluar dari mulut Sania, mengingat betapa Emran begitu menyayangi Annisa. Sementara usahanya untuk memisahkan keduanya gagal begitu saja.


Dok dok dok.. !!


Terdengar suara pintu yang di ketuk dengan begitu keras, hal itu seketika membuat Sania merasa ketakutan. Pasalnya dia jelas tahu siapa sosok yang tengah berada di balik pintu saat ini.


"Buka pintunya !"


"Buka !"


"Sania Keluar Kau !!"


Mendengar teriakan seorang laki-laki yang begitu dia kenal, Sania merasa begitu ketakutan.


Namun mau tidak mau dia pun harus tetap menemui orang tersebut.


Ceklek.


"Ada apa kalian kesini !" tanya Sania dengan suara terbata


"Cih. Sudah lupa rupanya !!" Ucap sang lelaki.


"Jangan menguji kesabaran ku !. Ingat Sania , kau hanya punya waktu 1 bulan, jika kau tidak bisa melunasi semua hutang-hutangmu, maka Aku akan melakukan apapun yang tentu hal itu tidak bisa kau bayangkan !" ketus sang lelaki dengan amarah.


Mendengar ucapan sosok di hadapannya, Sania merasa begitu gemetar dan sangat takut, meski yang terlihat di wajahnya adalah keberanian.


Setelah menyampaikan maksut dan tujuannya, lelaki tersebut beranjak meninggalkan kediaman Sania, begitupun dengan Sania yang merasa lega setelah kepergian tamu nya.


Namun nyatanya hal itu tidak berselang lama, nyatanya Sania harus kembali memutar otak untuk mendapatkan uang yang tentu jumlahnya tidak sedikit.


"Sial !" Ucap Sania dengan begitu frustasi


"Arghhhh !!"


Tidak hanya marah, namun Sania juga meraung meluapkan isi hatinya, melempar setiap benda yang ada di dekatnya.


"Jika tidak ada wanita sialan itu, tentu aku sudah menjadi Nyonya Emran, dan tentu seluruh harta Emran telah aku kuasai"


"Sial" umpat Sania terus menerus.

__ADS_1


"Lagi pula kenapa tua Bangka itu harus mengusirku dari rumahnya!" Ketus Sania dengan kemarahan.


Mengingat kembali kejadian beberapa bulan lalu, dimana status Sania nyatanya hanyalah anak tiri dari seorang pengusaha sukses Dubai.


Sikap dan perilakunya yang selalu berulah,dan berurusan dengan orang lain, tidak hanya terjadi satu atau dua kali, namun berkali-kali, hal itu lah yang membuat orang tua angkat Sania jengah dengan kelakuannya, sehingga mereka memutuskan untuk mengusir Sania dari kehidupan mereka.


Sehingga saat ini Sania harus menuai hasil dari apa yang telah dia perbuat, termasuk berhutang pada rentenir untuk mencukupi gaya hidupnya yang begitu luar biasa.


***


Diwaktu yang sama namun tempat yang berbeda Emran dan Annisa tengah berada dalam satu mobil untuk menuju kediamannya, Karena sedari tadi Yasmine terus saja menghubungi dan menanyakan keberadaan Annisa.


Sepanjang perjalanan Emran tidak pernah melepaskan genggamannya pada tangan Annisa. Seolah peliharaan yang telah jinak oleh pawangnya.


Meski terasa aneh bagi Emran, nyatanya Annisa memang betul-betul dapat merubah sikap, sifat dan pemikiran Emran.


Dan tentu hal itu lah yang membuat Emran tidak butuh waktu lama untuk mencintai Annisa seutuhnya.


"Fokus mas !" ketus Annisa yang merasa tidak nyaman dengan perlakuan Emran, sementara saat ini keduanya tengah berada di jalanan.


"Iya istriku" Jawab Emran singkat.


Meski telah mendapatkan jawaban dari Emran, nyatanya Annisa tidak juga merasa lega, pasalnya tetap saja Emran tidak melepaskan genggaman tangannya.


Beberapa saat menempuh perjalanan Annisa dan Emran telah tiba di kediaman mereka, tentu juga Yasmine telah menyambut kedatangan keduanya.


Menyadari kedatangan sang Daddy dan mommy, Yasmine pun berlari untuk menghambur kearah keduanya.


Tampak dari kejauhan Emran telah berjongkok dan merentangkan kedua tangannya, bersiap menyambut pelukan sang putri kecil.


Namun nyatanya Annisa lah yang mendapatkan pelukan pertama dari Yasmine. Melihat hal itu Emran hanya dapat mendengus kesal, meski setelahnya tersenyum haru.


"Mommy, I miss You" celoteh Yasmine dengan manja.


"Ohya ?" goda Annisa.


"Em" jawab Yasmine dengan anggukan kepala.


"Mommy juga sangat merindukan Yasmine, Mommy janji malam nanti mommy akan temani Yasmine tidur "


"Janji ?"


"InshaAllah sayang"


"Horay !!"


Melihat keceriaan sang putri, Emran merasa sedikit tidak senang , pasalnya kenapa harus Annisa menjanjikan untuk tidur bersama sang putri, sementara dirinya juga begitu membutuhkan Annisa.


Namun meski begitu Emran tetap merasa bahagia dengan kedekatan antara Yasmine dan Annisa, keduanya lebih tampak seperti anak dan ibu kandung.

__ADS_1


***


__ADS_2