HIJRAH CINTA ANNISA

HIJRAH CINTA ANNISA
46. Kamar


__ADS_3

...Jangan lupa perbaiki diri dari rasa ingin di puji, dan perbaiki hati dadi rasa iri dan Dengki...


...🍁...


Setelah cukup tenang, Annisa berjalan keluar kamar dengan menggandeng Yasmine, disusul dua pengasuh Yasmine yang juga berjalan di belakang keduanya.


Benar saja terlihat Amir yang tengah berbincang bersama Abi Ali di ruang tamu.


"Sudah siap Nyonya ?" Ucap Amir yang segera bangkit dari duduknya dan membungkuk sopan.


Annisa mengulas senyum dari balik cadar yang dia kenakan. "InshaAllah sudah" Jawabnya kemudian


"Baik, Mari Nyonya kita berangkat sekarang" Ucap Amir.


Annisa menganggukkan kepala.


"Mba Tolong Yasmine di bawa masuk ke mobil ya" Pinta Annisa


Kedua Pengasuh Yasmine pun segera mengikuti perintah Annisa.


Sementara Amir, Yasmine dan dua Pengasuh Yasmine telah berada di dalam mobil, Annisa tengah berpamitan pada seluruh keluarganya yang kala itu ikut mengantarkan diri nya hingga ke teras.


"Abi , Ummi, Annisa Berangkat ya, Annisa mohon doa dan restu kalian, Agar Rumah tangga Annisa selalu di berkahi"


Pinta Annisa dengan menundukkan wajahnya, sungguh rasa sedih tidak dapat di tutupi. Berat namun Annisa tetap harus kuat dan ikhlas.


"Tentu saja Nak, Abi dan Ummi akan selalu mendoakan kalian, Tidak hanya Annisa namun juga Emran" Ucap Abi Ali.


Annisa Mengulas senyum manis dengan menyeka air mata yang hampir saja tumpah meski telah di tahannya.


"Jadilah Istri dan Ibu yang baik dan Solihah Nak" Ucap Abi Ali dengan suara lembut.


"InshaAllah Abi"


Annisa pun memeluk kedua orang tuanya bersamaan kemudian mencium punggung tangan keduanya dengan takzim.


Tidak lupa Annisa juga menyalami semua keluarganya yang berada di tempat tersebut.


Dengan mantap Annisa melangkah masuk kedalam mobil, lambaian tangan menjadi tanda perpisahan sementara diantara mereka.


Deras air mata tak dapat tertahan ketika mobil mulai melaju, meski di iringi dengan senyum kebahagiaan dan lambaian tangan, nyatanya tidak juga mampu menutup kesedihan.


Mobil pun melaju meninggalkan kediaman Abi Ali dan Ummi Fatimah.


Hening.


"Mommy" panggil Yasmine dengan menatap lekat Annisa yang terlihat menyeka Air matanya.


Yasmine pun memeluk Annisa dengan erat "Mommy jangan sedih ya" Celoteh Yasmine

__ADS_1


Mendengar ucapan gadis kecil yang tengah duduk di sebelahnya, Annisa segera mengulas senyum manis di balik cadar yang dia kenakan, Annisa pun tidak ingin Yasmine ikut bersedih..


"Tidak sayang, Mommy bahagia " Jawab Annisa dengan membalas pelukan Yasmine.


Sungguh Annisa Tidak ingin Yasmine ikut sedih melihat nya yang menitihkan Air mata, Annisa pun meraih tubuh kecil Yasmine dan mendudukkannya di atas pangkuannya. Semakin mengeratkan pelukannya.


Sementara Yasmine yang berada dalam dekapan Annisa pun merasa tenang dan senang. Menyandarkan kepalanya di dada Annisa.


Perjalanan yang di lalui cukup lengang, Mereka tiba di bandara 30 menit sebelum keberangkatan. Amir dengan sigap mengurus semua keperluan keberangkatan mereka.


Tidak butuh waktu lama mereka telah berada di dalam pesawat, Karena memang bukan pertama kali bagi Yasmine naik pesawat jadi Annisa tidak begitu kerepotan untuk mengarahkan gadis kecil tersebut.


Yasmine begitu menurut dan selalu bersikap baik, bahkan perjalanan panjang dan melelahkan pun Yasmine tetap tenang. Sesekali tertidur dan juga beberapa kali memakan makanan yang di siapkan Annisa sebelumnya.


Sementara Annisa lebih memilih menyibukkan diri dengan membaca buku yang dia bawa selama Yasmine tidur. Meski tak jaran dirinya juga ikut tertidur.


Menempuh perjalanan yang hampir memakan waktu 12 jam lamanya di dalam pesawat, meski bukan kali pertama namun tetap saja hal ini terkadang membuat Annisa tidak nyaman.


Akhirnya pesawat yang di tumpangi mereka pun mendarat di Bandara Internasional Dubai (DXB), Rasa syukur selalu Annisa panjatkan atas kelancaran dan keselamatan setelah menempuh perjalanan panjang yang lumayan melelahkan.


Di bandara Rombongan Annisa telah di sambut oleh supir pribadi Yang khusus bertugas di Mansion Emran.


"Selamat Malam Tuan Amir" Sapa sang supir


"Malam pak "


"Selamat Malam Nyonya" Sapa sang supir pada Annisa.


Setelah memasukkan barang-barang kedalam mobil Annisa bersama Yasmine berada dalam satu mobil bersama Supir pribadi Emran, Sementara Amir dan dua pengasuh Yasmine berada dalam satu mobil milik Amir.


Menempuh perjalanan kurang lebih 20 menit, akhirnya mereka pun tuba di kediaman Emran.


Sejenak Annisa menatap kagum dengan bangunan yang terlihat begitu megah dan indah. Rasanya belum pernah dirinya bertandang ke rumah sebesar dan Se indah ini.


"Mari Nyonya" Ajak Amir pada Annisa yang masih bengong di luar rumah.


"Mommy"


Annisa pun tersadar setelah Yasmine meraih tangannya dan Menggandengnya masuk kedalam rumah.


Bersamaan dengan itu terlihat dari lantai dua Emran menuruni satu per satu anak tangga dengan binar wajah penuh bahagia, menyambut kedatangan sang putri tercinta yang telah berpisah sejak beberapa hari yang lalu.


"Daddy" panggil Yasmine dengan berlari menghambur pada Emran yang telah siap berjongkok


Keduanya berpelukan, saling melepas rindu, Emran pun menghujani pipi chubby Yasmine dengan ciuman.


Melihat interaksi antara ayah dan anak tersebut Annisa pun merasa sangat bahagia, Entah mengapa Annisa begitu menikmati momen kebersamaan antara Yasmine dan Emran.


Annisa masih setia berdiri tepat di belakang Yasmine dan Emran yang juga masih setia berjongkok memeluk sang putri.

__ADS_1


Tidak berselang lama Emran pun meraih gadis kecil di hadapannya dan kemudian di gendong Yasmine dalam pelukannya.


"Mba bawa Yasmine ke kamar nya" Ucap Emran memberi perintah


"Baik Tuan"


Emran pun menyerahkan Yasmine kepada pengasuhnya.


Annisa memilih mengikuti pengasuh Yasmine Yang akan membawa gadis kecil tersebut ke kamarnya.


"Sini mba kopernya biar saya bawa sendiri" Ucap Annisa sebelum melangkahkan kakinya, mengikuti sang penagsuh Yasmine.


Emran tampak heran melihat Annisa yang ingin mengikuti pengasuh sang putri, Melihat hal itu Emran ingin sekali tertawa. Hanya senyum kecil terlihat di wajah nya, dan yang pasti Annisa tidak melihatnya.


"Mau kemana ?" Tanya Emran dengan mengerutkan dahi.


"Saya akan tidur di kamar Yasmine" Ucap Annisa


Emran tampak terkekeh kecil, namun segera dia tutup dengan tangannya, hal itu membuat Annisa menjadi bingung.


"Apa kau pikir aku akan mengizinkanmu tidur di kamar putriku ?" Ucap Emran dengan suara dingin dan tatapan yang juga tidak kalah dingin.


Mendengar ucapan Emran Annisa hanya dapat memejamkan mata dan menghirup dalam dalam udara di sekitarnya. Kemudian Menganggukkan kepala sebagai jawaban atas pernyataan Emran sebelumnya.


"Mba. Tolong tunjukan pada saya dimana kamar tamu nya ?" Ucap Annisa lembut pada seorang pelayan yang masih berdiri di sana.


"Baik nyonya, Mari saya Antar " Ucap sang pelayan dengan sopan dan segera meraih koper di tangan Annisa


Tidak menunggu jawaban atau persetujuan dari Emran, Annisa memilih mengambil keputusan untuk tinggal di kamar tamu, dan segera berlalu dari hadapan Emran.


"Tunggu !" Ucap Emran lantang, dan seketika menghentikan langkah Maryam dan seorang pelayan yang sudah berjalan beberapa langkah.


Annisa sungguh paham dengan arti dari tatapan Emran, sudah dapat di pastikan jika dia juga tidak akan mengizinkan Annisa berada di kamar tamu.


"Antarkan saya ke kamar pelayan Mba" Ucap Annisa dengan sadar diri,mengingat mungkin itu lah yang di inginkan oleh Emran saat ini.


Sang pelayan yang membawa koper Annisa pun tampak bingung dan takut, tidak mungkin dia membawa koper majikanya ke kamar pelayan sementara melihat tatapan Emran yang menakutkan dia juga merasa sangat takut.


"B baik Nyonya Say-- "


"Siapa yang mengizinkan mu tinggal di kamar tamu ? , apa lagi kamar pelayan ?" Ketus Emran dengan wajah dingin.


"Lalu saya harus di mana tuan !" Ucap Annisa lirih namun penuh penekanan.


"Bawa koper itu ke kamar ku !" ucap Emran tegas. Dan melenggang pergi meninggalkan Annisa dan sang pelayan yang masih kebingungan.


Annisa begitu kaget mendengar ucapan Emran, sejenak kedua alisnya berkerut dan menampakkan guratan guratan halus di keningnya.


Tidak hanya Annisa,bahkan sang pelayan pun juga begitu terkejut, namun secepat kilat dia melaksanakan perintah dari Emran.

__ADS_1


"Mari Nyonya, Saya antar ke kamar " Ucap Sang pelayan sopan. Annisa menjawab dengan anggukan kepala.


***


__ADS_2