
...Ibadah terlama adalah berumah Tangga, maka dari itu Carilah Pasangan Yang menerima mu apa adanya. Karena kau tak akan bisa berpura-pura sepanjang hidupnya...
...🍁...
Sejujurnya sangat tidak menyenangkan harus kembali terlibat perdebatan dengan Tamara, namun Apa boleh buat Amir juga tidak mungkin bisa membiarkan kopi favoritnya menguap begitu saja.
Dua orang yang sebelumnya tengah perang dingin kini harus bersatu karena keadaan, Kopi yang semula panas kini juga menjadi hangat.
Suasana masih tampak canggung, terlebih tidak adanya obrolan diantara mereka, namun meski begitu, setidaknya mereka tidak berdebat seperti sebelumnya.
Keduanya hanya tampak fokus menikmati makanan masing-masing, sejujurnya lebih terlihat seperti sebuah pasangan kekasih yang tengah saling terlibat pertengkaran.
"Mas hati-hati ya"
"Tentu sayang" ucap Emran dengan mengusap lembut perut buncit Annisa.
Tamara dan Amir Tempak melihat kearah yang sama, disana ternyata Emran telah menyelesaikan urusannya dengan Annisa, dan bergegas kembali ke kantor setelah sebelumnya terlihat berpamitan.
Menyadari hal itu Amir pun juga bangkit dari duduknya, Berlalu meninggalkan Tamara begitu saja , seolah sebelumnya dia memang tengah sendiri, dan setelahnya menghampiri sang bos.
"Kita ke kantor sekarang tuan ?"
"Em"
Emran dan Amir pun berlalu meninggalkan toko Desert tersebut, tentu dengan perasaan berbeda. Emran yang terlihat begitu bahagia setelah menemui sang istri, sementara Amir terlihat dengan wajah masam nya seperti baru saja bertemu dengan sekelompok preman.
Setelah kepergian Emran dan Amir, Annisa tampak berseri mendapati sahabatnya tengah duduk dengan secangkir kopi, melambai pada nya dengan senyum terbaik.
"Tamara ?" Sapa Annisa dan di balas dengan lambaian tangan.
"Sudah lama ?"
"Lumayan"
"Ada apa , apa ada masalah ?" Tanya Annisa yang menyadari wajah Tamara terlihat masam.
"Tidak, hanya saja Asisten suami mu itu selalu membuatku pusing" ucap Tamara
Sejujurnya Tamara memiliki hati yang lembut dan baik, namun nada bicara nya memang selalu suka asal. Terlebih pada orang yang baru dia kenal, mungkin akan menganggap jika Tamara sosok yang judes dan acuh, namun sejujurnya sangat baik.
"Jangan terlalu membenci, takut nya nanti jodoh" goda Annisa
"Eitssss No. !!" tolak Tamara dengan menghilangkan tangan.
Melihat reaksi sahabatnya , Annisa hanya terkekeh kecil dibalik cadar yang dia kenakan.
Begitu jelas di ingatan Annisa ketika dulu sempat satu sekolah bersama Tamara, tidak sekalipun keduanya bertegur sapa, apa lagi mengobrol akrab seperti saat ini.
Namun sejak insiden Kegagalan pernikahan Annisa sebelumnya, membuat kedua wanita tersebut menjadi akrab, bahkan setelah Tamara mendapatkan kontrak kerja dari Emran, keduanya tampak semakin akrab.
"Lusa sepertinya aku akan kembali ke Indonesia Nis" ujar Tamara
"Benarkah ?, Kenapa cepat sekali ?"
__ADS_1
"Kontra kerja ku bersama tuan Emran telah selesai, untuk apa aku berlama-lama di sini" ucap Tamara
Dan nyatanya waktu 4 bulan terasa begitu singkat bagi keduanya. Tak terasa kontrak kerja Emran dan Tamara telah habis dan kini sahabatnya tersebut akan kembali ke Indonesia.
Annisa tampak menganggukkan kepala, dengan kening yang berkerut, seolah tengah memikirkan sesuatu yang teramat penting.
"Apa kau sudah menerima kontrak baru di Indonesia?" tanya Annisa tampak penasaran.
"Em , Belum karena aku belum memberitahu siapapun termasuk agensi ku jika aku akan kembali ke Indonesia"
"Lagi pula setelah kembali, aku akan vakum sebentar Nis, aku ingin menenangkan diri di Bali" ujar Tamara.
"Kenapa begitu ?"
"Otak ku terlalu lelah dan pusing untuk berfikir soal calon suami"
"Usiaku sudah cukup matang, sementara semua teman-teman kita sudah menikah, dan Papa dan mama selalu menanyakan hal itu" ucap Tamara seraya menghela nafas panjang
Annisa sangat memahami apa yang di rasakan Tamara, bukan tanpa alasan sahabatnya mengatakan hal itu, usia 28 bukanlah kategori usia muda terlebih bagi wanita Indonesia. Usia yang tidak jarang sering orang pandang sebelah mata karena anggapan prawan tua.
"Em. Bagaimana kalau kau bekerja denganku ?" celetuk Annisa dalam lamunan Tamara
"Apa ?"
"Iya kau bekerja denganku, itu juga kalau kau mau Tam"
"Bekerja denganmu ?, dimana ?" tanya Tamara dengan bingung.
"Disini " ucap Annisa Dengan mengulas senyum seraya menunjuk toko Desert miliknya ini.
"Dan aku membutuhkan orang yang bisa mengelola Toko ku ini Tam"
"Pikirkan saja dulu Tam, jika kau mau aku akan sangat senang, tapi jika kau tidak mau Tidak papa, dan kau tidak perlu sungkan" jelas Annisa dengan ramah.
Tamara tampak tengah memikirkan tawaran sahabatnya tersebut. Dengan dahi berkerut dan ketukan hati di meja, seolah tengah memikirkan pilihan hidup.
"Tenang saja aku tidak memaksamu, kau pikirkan saja dulu Tam" ujar Annisa lagi.
"Berapa kau akan menggaji ku?" tanya Tamara spontan
Tentu pertanyaan tersebut membuat Annisa terkekeh , jujur sekali sahabatnya tersebut, tanpa basa basi dan tanpa beban sedikitpun menanyakan hal itu.
"Em. Tentu tidak akan sebanyak suami ku menggaji dirimu, tapi InshaAllah cukup jika hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup, mungkin lebih" jawab Annisa.
Tamara tampak mengangguk angguk kan kepala, sejujurnya apa yang di katakan sahabatnya ada benarnya juga, karena yang perlu dia pikirkan hanya kebutuhan hidup, bukan gaya hidup.
"Okay , Deal !" ucap Tamara dengan mengulurkan tangan pada Annisa.
"Deal !!"
Setelah Jabatan tangan antara dua sahabat tersebut, keduanya tampak kembali melanjutkan obrolan lain. Yang tentu membuat keduanya betah berlama-lama duduk di tempat tersebut.
***
__ADS_1
Pagi hari.
Cukup awal untuk Annisa bersiap hari ini, karena dia akan berangkat ke toko pagi-pagi. Tentu hal itu juga sudah atas izin Emran dan tentu dia juga yang akan mengantarkan Annisa ke toko.
"Kita berangkat sekarang tuan?" tanya Amir pada sang bos.
"Ya"
Emran berjalan dengan meraih tangan Annisa dalam genggamannya, bagai pengantin baru yang baru saja merasakan indahnya cinta.
Begitu juga Amir yang dengan sigap membuka kan pintu mobil untuk kedua bos besarnya.
Sepanjang perjalanan di hiasi obrolan ringan antara Emran dan Annisa, sementara Amir tetap menjadi pendengar setia yang terkadang harus merana karena kemesraan bos nya.
Setelah beberapa saat menempuh perjalanan,mobil yang di kemudikan Amir telah terparkir di depan toko Desert Annisa.
Belum banyak karyawan yang datang karena memang belum waktunya mereka untuk datang, hanya segelintir orang yang telah berada di sana untuk membersihkan toko. Ada juga Tamara yang telah tiba menantikan kedatangan Annisa.
"Astaga dia lagi !" gumam Amir dala hati
Begitu juga Tamara yang mendadak juga terkejut dengan kedatangan Amir bersama Emran dan Annisa.
"Ya Tuhan !, tidak bisakah Kau pertemukan aku dengan orang lain, kenapa harus selalu Dia !!" Tamara bermonolog dalam hati.
"Tam sudah lama ?"
"Tidak. Aku juga baru saja sampai Nis" jawab Tamara.
Tamara tampak menganggukkan kepala, dan mengajak sahabatnya untuk masuk ke toko. Tamara dan Emran berjalan lebih dulu, disusul Amir dan Tamara yang mengekor di belakang.
"Tam kamu tunggu sini ya, ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan dengan mas Emran"
"Oh. Ok!" jawab Tamara dengan mengulas senyum.
Annisa dan Emran pun bergegas untuk masuk kedalam ruang kerja, Meninggalkan dua orang yang selalu ber perang dingin tersebut.
"Apa kau selalu mengikuti ku ?" tanya Amir dengan kesal.
"Hellow , Mengikuti mu ?, jangan harap yaa " jawab Tamara dengan sinis.
"Ck. Aku i saja , Jika Memnag kau mengikuti ku, Oh atau kau menyukai ku?"
Dua bola mata Tamara pun membulat sempurna, seolah akan lepas dari tempat nya.
"Astaga !!, kalaupun di dunia ini hanya kau laki-laki satu satunya, aku juga tidak akan pernah mau denganmu !!" ketus Tamara dengan bersungut kesal.
Mendengar ucapan Tamara , Amir juga merasa begitu kesal.
"Ck. Sombong !"
Baik Amir dan Tamara hanya saling melemparkan pandangan kekesalan, bagai tom and Jerry yang selalu bermusuhan hanya karena hal-hal kecil sekalipun.
Keduanya masih tampak mengulas kekesalan dalam hati , tatapan yang terasa begitu tajam, tanpa adanya percakapan, hingga pada saat Annisa muncul bersama Emran.
__ADS_1
Keduanya tampak berusaha kembali ke mode awal,sekolah olah tidak terjadi apa pun sebelumnya.
***