
...Sederhana dalam Ucapan , Hebat dalam tindakan ...
...🍁...
Setelah membersihkan diri, dan bersiap. Emran mengajak Annisa untuk berjalan-jalan santai di sekeliling hotel.
Pemandangan pantai yang begitu indah membuat Annisa tak henti hentinya mensyukuri nikmat ciptaan Allah.
Keduanya berhenti tatkala Emran berada di depan sebuah restoran.
"Tuan Emran?" sapa salah seorang pelayan. Emran pun menjawab dengan anggukan kepala.
"Mari tuan saya antar ke meja anda" Ucapnya lagi. dan lagi - lagi Emran menganggukkan kepala nya.
Kembali Annisa dibuat melongo, Entah sejak kapan sang suami menyiapkan makan malam romantis, yang bagi Annisa masih agak ke sorean.
"Mas Siapin ini ?"
"Cuma pesen aja sayang" Jujur Emran pada sang istri.
Meski bukan secara langsung di siapkan oleh sang suami, namun setidaknya Semua yang telah di persiapkan oleh Emran sangat berkesan.
Emran menarik sebuah kursi, dan mempersilahkan bidadari nya untuk duduk disana.
"Terima kasih mas"
"Sama-sama sayang"
Keduanya duduk saling berhadapan dengan pemandangan pantai yang menjulang sejauh mata memandang.
Beberapa pelayang datang menyiapkan beberapa makanan pembuka untuk keduanya, iringan musik yang terasa begitu lembut menusuk telinga Annisa.
"Kau menyukainya ?"
"Sangat"
Keduanya menikmati setiap makanan yang di hidangkan oleh para pelayan, hingga tanpa terasa hari mulai gelap.
"Astagfirullah mas"
"Kenapa sayang"
"Sudah magrib mas, yuk kita sholat"
Pikir Emran ada apa, nyatanya sang istri begitu taat ibadah, hingga di suasana seperti ini pun tak sekali Annisa melupakan Tuhannya. Tentu hal itu yang membuat Emran semakin jatuh hati padanya.
"Baiklah yuk " ajak Emran yang kemudian meraih tangan Annisa dalam genggamannya.
Keduanya berlalu begitu saja meninggalkan restoran yang sebelumnya telah menjamu keduanya.
__ADS_1
Mereka tidak bayar ?
Tenang. Ada asisten Amir yang telah mengatasi semuanya.
***
Sementara Emran dan Annisa tengah bersenang senang.
Tamara yang seharusnya menjalani kontrak kerja dengan perusahaan Emran harus tertunda lantaran Emran justru bertandang ke Indonesia. Alhasil Tamara hanya menganggur saja selama itu.
Namun bagi Amir yang begitu loyal terhadap Emran, memilih memperkerjakan Tamara untuk menjadi asisten nya sementara terlebih ketika dirinya harus mengurus Nona muda sang bos.
Untuk urusan Yasmine terkadang Amir merasa kewalahan mengatasinya, terlebih ketika sudah menanyakan Annisa. Namun adanya Tamara nyatanya mampu sedikit mengurangi tingkat stress nya. Meski tak jarang Tamara juga justru membuatnya stress.
Disebuah pusat perbelanjaan Tamara tampak tengah asyik memilih beberapa mainan bersama Yasmine ditemani Amir yang telah lelah menenteng paper bag milik keduanya.
"Apa kalian tidak lapar ?" tanya Amir dengan kesal.
"Ayo lah, kita baru sebentar tuan Amir " ujar Tamara.
"Sebentar kata mu ?, lihatlah berapa banyak tas belanjaan yang sudah ku bawa!" ketus Amir yang sudah mulai tidak sabar.
Sementara itu Yamsine hanya menikmati pertengkaran dua pengasuh dadakan nya itu.
Tamara yang begitu kekeh masih ingin mengajak Yasmine berkeliling dan bermain, namun Amir begitu gigih menolak ajakannya.
"Terserah !, aku akan pulang sekarang juga" ucap Amir.
Melihat pemandangan di sampingnya, jujur Amir begitu kagum, jika mengingat sosok Tamara dalam benaknya tidak akan bisa mengurus anak kecil seperti Yasmine, nyatanya tidak hanya mengurus menidurkan pun dia bisa.
"Bangun !. Kita sudah sampai"
"A Apa ?"
"Sudah sampai !" ucap Amir dengan sedikit meninggikan suaranya.
Tidak hanya Yasmine, nyatanya Tamara juga ikut terlelap sepanjang perjalanan, hingga Amir harus membangunkan berkali-kali.
Menyadari mobil yang di kemudikan Amir telah terparkir di kediaman Emran dan Annisa, Tamara bergegas mengangkat Yasmine, menggendong dalam pelukannya. Namun nahasnya saat ini Tamara tengah kesemutan, kaki sebelah kakak ya seolah tak bisa di gerakkan.
"Kenapa ?"
"Auch . Kakiku kesemutan" lirih Tamara menahan rasa sakit
Amir yang menyadari hal itu, dengan sigap keluar dari mobil dan membuka pintu samping, mengambil alih tubuh mungil Yasmine dalam dekapannya.
Deg.
Berada dalam jarak sedekat itu membuat jantung Amir terasa berdesir lebih kencang.
__ADS_1
Jika saja tidak ada Yasmine sudah di pastikan wajah keduanya akan menempel, namun sayang seribu sayang keduanya sadar secepat itu.
"Singkirkan wajah mu !" ketus Tamara yang juga mendadak grogi berhadapan dengan Amir.
Amir hanya bergeming, dan kembali meraih tubuh Yasmine,Membawanya masuk, dan langsung menidurkannya di kamar, setelahnya Amir menyerahkan kembali tugas pada dua pengasuh Yasmine yang sedari tadi telah menunggu nya.
Amir pun berpamitan pada dua pengasuh Yasmine, dan kini menghampiri Tamara yang tengah berdiri di luar tepat di samping mobil milik Amir.
Kini tersisa Amor dan tamara yang berada dalam satu mobil, jujur saat ini ingin rasanya Tamara kembali tertidur seperti sebelumnya. Nahas bukan mengantuk justru dia sangat segar.
Canggung.
Itu lah yang di rasakan oleh Tamara, sementara Amir terlihat biasa saja dan seolah cuek , bahkan mungkin menganggap seolah-olah tidak ada Tamara di sampingnya.
***
Di langit yang sama , namun di tempat dan waktu yang berbeda. Emran tengah bersama sang istri yang baru saja dia temukan kembali.
Sempat terfikir jika seandainya terjadi sesuatu dengan Abi, mungkin saja hubungannya dengan Annisa akan terhambat, terlebih mengingat Fathur yang begitu menjaga Annisa.
"Sayang kenapa lama sekali" panggil Emran yang sudah tujuh kali menatap pintu kamar mandi sejak masuk nya Annisa kedalam sana
"Sebentar mas"
Cukup lama Emran menunggu , tidak sabar lagi, Emran pun bangkit dari tempat tidur dan berencana membuka pintu kamar mandi.
Baru saja Emran akan membuka handle pintu, Annisa lebih dahulu membukanya dari dalam.
Meski sudah beberapa bulan bersama, dan tentu sudah puluhan malam panjang keduanya lewati, namun Annisa tidak pernah gagal membuat Emran kagum.
Tak sedikitpun pandangan Emran menjauh dari Annisa, Emran begitu menginginkan Annisa, jika dilihat mungkin tubuh Annisa sedikit lebih kurus dari terakhir kali keduanya berhubungan.
Namun justru Emran menangkap sesuatu yang lain dari Annisa, dan hal itu tentu yang paling dia sukai terlihat lebih menonjol.
Tak ingin buang-buang waktu, Emran yang sudah kepalang tanggung langsung saja memboyong Annisa dalam kukunagnya.
"Mas ?"
"Em. Apa sayang "
"Pelan pelan saja ya" bisik Annisa Tepat di telinga Emran.
Mendengar permintaan sang istri, Emran pun terkekeh kecil, menyadari betapa menggemaskan istrinya itu.
"Aku akan melakukanya dengan sangat hati-hati, aku hanya ingin perkenalan dengan junior disana" goda Emran
Tentu ucapan nya membuat Annisa bersemu merah. Sementara Emran masih betah bermain-main di bagian kenyal yang sudah beberapa hari dia tak melihat bahkan menyentuhnya.
Annisa yang juga merasakan kerinduan, kini mulai sedikit jahil pada Emran, dengan mengalungkan tangannya di leher sang suami, mencium bibir Emran dengan lembut, menggoda dengan senyuman manja, hingga keduanya larut dalam indahnya malam yang begitu menyenangkan.
__ADS_1
Beberapa kali penyatuan , hingga keduanya merasa dunia bak milik berdua.
***