HIJRAH CINTA ANNISA

HIJRAH CINTA ANNISA
60. Rumah Sakit.


__ADS_3

...Terkadang yang membuatmu gelisah bukan lah musibah musibah yang menguji. Tetapi bahasa Rindu Allah yang gagal kau Fahami....


...Al Habib Ali Zainal Abidin Al-kaff...


...🍁...


"Aku nyaman , Dan aku senang mengenakannya, justru yang sebaiknya berbenah itu adalah kau nona, Benahi hatimu, dan tentunya benahi juga Ucapanmu" Ucap Annisa dengan suara dingin namun penuh dengan penekanan.


Sania semakin dibuat berang dengan ucapan Annisa.


***


Sania begitu terbakar api kemarahan, meski wajahnya menampakkan sebaliknya. Hati dan jiwanya begitu di kuasai dengan amarah, dan hal itu jelas terlihat oleh Annisa, namun Annisa memilih abai, karena jujur dia tidak ingin berurusan dengan wanita yang ada di sampingnya.


"Annisa, Kau itu lucu sekali ternyata " ucap Sania masih tidak jengah untuk menyakiti hati Annisa. Annisa hanya tersenyum tipis.


"Apa kau tidak berfikir jika Emran mungkin saja akan malu berjalan bersama wanita sepertimu ?" ucap Sania penuh ejekan.


"Lalu apa Suamiku juga akan bangga berjalan dengan wanita sepertimu ?" Ucap Annisa dengan suara dingin.


"Kau ---"


"Sania Hentikan !" Ucap Emran memotong ucapan Sania sebelumnya.


"Kau terlalu banyak bicara Sania !"


"Jangan kau pikir aku diam, karena aku tidak tahu, aku diam hanya untuk menjaga perasaan mu, tapi sepertinya kau salah mengartikannya, Annisa istriku, dan akan selalu seperti itu. Hentikan sikap konyol dan kekanak-kanakan mu ini" ucap Emran dengan penuh penekanan.


Mendengar hal itu Sania begitu sedih, seketika sudut matanya mulai berair, tidak menyangka jika laki-laki yang begitu di cintainya akan mengatakan hal itu di depan umum.


"Sayang, Tidak Seperi itu, aku tahu kau hanya menginginkannya karena Yasmine begitu nyaman bersama nya, tapi aku tahu jika kau tidak mencintainya" ucap Sania berkilah.


"Wanita ini tidak ubahnya seperti pengasuh Yasmine yang lain" ucap Sania lagi dengan begitu sarkas.


gleg.


"Pengasuh ?" Gumam Annisa dalam hati. Sudut mata Annisa mulai menghangat, Cairan bening pun mulai berkumpul di sudut mata Annisa.


Mendengar hal itu jujur hati Annisa begitu sakit, benarkah apa yang di ucapkan Sania, jika dirinya tidak ada bedanya dengan pengasuh Yasmine lainya. Apakah benar jika tidak ada Annisa sedikit saja di hati Emran.


Begitu banyak pertanyaan yang kini lagi-lagi menyita perhatian Annisa. Sania Seolah begitu bangga mengolok dan mencemooh Annisa.


Sementara itu tanpa sengaja Emran menangkap raut wajah kesedihan Annisa, meski tertutup oleh cadar.

__ADS_1


"Cukup !"


"Hentikan Sania !" Ucap Emran penuh dengan kemarahan.


"Tidak ada hak kau berkata seperti itu, Mau kau menolak seperti apa pun, Annisa tetap istri ku !" ucap Emran.


Mendengar hal itu Annisa hanya menundukkan wajahnya, tak kuasa mendengar ucapan Sania sebelumnya yang begitu menyakitkan.


"Mas Sudah, jangan berdebat di tempat umum, Tidak baik" ucap Annisa menengahi.


Annisa yang merasa hatinya begitu sakit dan tidak lagi ingin terlibat perdebatan dengan Sania maupun Emran, karena Annisa merasa hubungan diantara keduanya mungkin memang belum selesai, Annisa memilih untuk beranjak meninggalkan tempat tersebut.


"Nyonya !"


Annisa menggantikan langkahnya setelah seorang wanita memanggil nya dengan sedikit berteriak karena kepanikan.


"Maaf Nyonya, Apa gadis kecil itu putri nyonya ?, Dia sedang muntah-muntah" ucap seorang wanita seusia Annisa yang tiba-tiba bertanya pada Annis.


"Apa ?,Yasmine" ucap Annisa dengan suara memekik


Annisa pun melihat kearah wanita tersebut menunjuk, dan benar saja disana Yasmine tengah tertunduk dengan berusaha mengeluarkan isi perutnya.


Emran dan Sania pun melakukan hal yang sama, Keduanya tampak melihat Yasmine yang sedang muntah-muntah meski dari jarak yang cukup jauh.


Emran yang begitu panik bergegas mengambil langkah seribu untuk menghampiri putrinya, disusul Annisa dan Sania yang juga berlari menghampiri Yasmine


Sementara Yasmine tengah menangis karena begitu takut di dikerubungi banyak orang. Serta menahan sakit yang dia rasakan.


"Mommy " Teriak Yasmine pada Annisa


Yasmine pun menghambur pada pelukan Annisa, terlihat jelas wajah takut dari Yasmine dengan tatapan banyak orang yang mengkhawatirkan dirinya.


"Sayang kita pulang ya" ucap Annisa dengan suara lembut.


Sementara itu Emran menatap sang putri dengan penuh kecemasan, namun nyatanya Putrinya lebih memilih Annisa di banding dirinya.


Annisa bergegas meraih tubuh kecil Yasmine dan dia dekap dalam gendongannya.


"Apa kita perlu ke rumah sakit ?" tanya Emran pada Annisa.


"Sebaiknya begitu" ucap Annisa.


"Benar sebaiknya kita bawa ke rumah sakit, lebih baik memastikan kondisi Yasmine" ucap Sania yang tiba-tiba ikut unjuk gigi.

__ADS_1


Emran dan Annisa serta Yasmine kini telah berada dalam satu mobil, suasana mobil terlihat begitu hening dengan Annisa yang hanya mengusap lembut punggung Yasmine.


"Sayang apa kau masih merasa kan sakit perut ?"


"No Mommy, tadi Yasmine sakit perut, tapi sekarang sudah tidak" ucap Yasmine.


Meski Yasmine mengatakan demikian, namun Annisa tetap saja merasa khawatir, terlebih melihat wajah Yasmine yang begitu pucat setelah sebelumnya semua isi dalam perutnya keluar begitu saja.


Memahami kepanikan di wajah Annisa, Emran pun mengarahkan kemudi nya ke arah rumah sakit terdekat di daerah itu.


Beberapa saat menempuh perjalanan kini Annisa dan Emran telah tiba di rumah sakit.


Segera beberapa petugas kesehatan yang menghampiri keduanya dan memastikan tengah mengalami kesulitan apa.


Dan tidak menunggu lama dokter dan para petugas kesehatan lain segera menangani Yasmine dengan baik.


Emran dan Annisa pun ikut serta masuk kedalam ruang pemeriksaan untuk memastikan kondisi sang putri.


"Tuan, Nyonya Apa Ini putri anda ?" tanya seorang dokter yang menangani Yasmine.


Mendengar hal itu baik Emran maupun Annisa, kompang menjawab "Ya Dok !"


Dokter tersebut pun tersenyum dengan menganggukkan kepala nya.


"Baiklah, Jadi begini tuan dan Nyonya, kondisi putri anda baik-baik saja, dan tidak ada yang perlu di khawatirkan, hanya saja muntah yang di alami sebelumnya karena faktor makanan yang berlebihan"


"kalau pun putri anda ada kecenderungan makan makanan tertentu, saya rasa tidak masalah, hanya saja porsinya harap di perhatikan"


"Karena memang mobilitas anak anak sangatlah banyak, jadi berkaitan dengan makanan sebaiknya sangat di perhatikan" ucap dokter tersebut dengan begitu baik.


Annisa dan Emran hanya menganggukkan kepala, memahami apa yang sebelumnya di sampaikan oleh dokter tersebut.


"Ada yang perlu di tanyakan berkaitan kondisi putri anda tuan, Nyonya"


"Tidak dok, terima kasih banyak dok atas bantuanya" ucap Emran


"Sudah menjadi tugas dan tanggung jawab kami pak" jawab dokter tersebut dengan sopan.


Setelah mendapatkan penjelasan dari pihak dokter yang menangani sang putri Emran dan Annisa merasa lega, dan kini mereka bersiap untuk kembali pulang ke kediaman Emran.


***


Mohon Maaf ya ka sehati Karin Off up Bab nya.

__ADS_1


Ada beberapa pekerjaan yang memang harus Author selesaikan.


Terima kasih Atas pengertian ya untuk para reader kesayangan Author semuanya. Jangan lupa untuk selalu memberi dukungan ya 🤗🙏


__ADS_2