HIJRAH CINTA ANNISA

HIJRAH CINTA ANNISA
113. Kepanikan Amir


__ADS_3

...Orang yang tidak menguasai Matanya , Maka hatinya tidak ada harganya...


...🍁...


Setelah kepergian sang suami, Annisa bergegas memberikan pengarahan dan penjelasan pada Tamara apa saja yang nantinya akan dia kerjakan dan lakukan selama Annisa cuti.


Mungkin untuk satu atau dua bulan ke depan Annisa masih akan tetap di Dubai, namun dia tidak akan stay di toko seperti saat sebelumnya, dan hanya akan memantau sesekali saja, itu rencana Annisa bersama Emran yang telah keduanya bicarakan sebelumnya.


Sementara untuk kembali ke Indonesia telah Emran dan Annisa rencanakan jika telah mendekati waktu persalinan, selain untuk mempersiapkan secara matang segala sesuatunya, juga karena Yasmine yang juga perlu persiapan untuk home schooling selama di Indonesia.


Annisa tampak sabar dan telaten memberikan penjelasan pada Tamara, begitu juga Tamara yang begitu antusias mendengarkan setiap ucapan Annisa. Bahkan tamaratidak.segan untuk selalu bertanya pada Annisa tentang ini dan itu, karena dunia perdagangan adalah sesuatu yang baru baginya.


Bisa di bilang bukan hanya baru, namun juga merupakan pengalaman pertama nya, kesulitan sudah pasti akan selalu ada, namun Annisa meyakinkan sahabat ya tersebut, jika meskipun sulit, bukan berarti tidak mungkin untuk di lakukan.


Meski banyak hal yang tentu tidak Tamara ketahui Namun dia tidak pernah sekalipun malu untuk bertanya pada Annisa.


Begitu juga Annisa tidak pernah ada ucapan atau kata katanya yang seolah menjatuhkan kemampuan Tamara, keduanya tampak saling melengkapi. Annisa begitu sabar memberikan pengarahan hingga Tamara paham. Meski belum sepenuhnya.


Hari ini Annisa merasa cukup memberikan pemahaman seputar stock, untuk yang lain akan dia ajarkan esok hari.


Bukan hal mudah bagi orang awam seperti Tamara untuk memahami, dan tentu Tamara pun juga membutuhkan proses untuk belajar.


Annisa tidak ingin membuat sahabatnya itu kebingungan dan merasa jenuh apabila terlalu banyak memberikan arahan.


Annisa hanya ingin sahabatnya benar-benar memahami apa yang dia sampaikan meski baru sedikit.


***


Dua bulan berlalu Tepat pada usia kehamilan Annisa yang menginjak sembilan bulan, tinggal menghitung hari saja dia akan melahirkan.


Tentu sesuai rencana awal, Annisa akan melahirkan di Indonesia, dekat dengan Abi dan Ummi nya.


Semua persiapan telah Emran lakukan jauh jauh hari, seperti menyiapkan pengasuh dan juga merenovasi rumah sang Abi, agar nantinya muat di tempati banyak penghuni baru.


Tidak sedikit bajet yang harus Emran keluarkan, namun itu tidak menjadi masalah demi kenyamanan Istri dan anak-anaknya selama di Indonesia.


Bukan hanya itu saja , Dokter spesialis yang akan menangani Annisa juga telah Emran persiapkan sejak sebelum nya.

__ADS_1


Tentu tidak hanya persiapan di Indonesia saja, di Dubai pun sama hal nya, semua pekerjaan penting telah dia rampungkan dan agendakan ulang untuk yang jadwalnya pekerjaannya berjauhan.


Semua persiapan telah siap. Sesuai rencana awal, hari ini merupakan jadwal keberangkatan Emran, Annisa beserta rombongan yang akan bertolak ke Indonesia.


Tidak hanya Emran , Annisa dan yang lain, tentu disana ada pula Amir dan Tamara yang juga ikut dalam mengantarkan keberangkatan bos mereka yang tentunya tidak akan sebentar di Indonesia.


Kurang lebih 3 Minggu lamanya mereka akan di Indonesia, tentu Annisa membutuhkan sedikit waktu untuk masa pemulihan pasca persalinan.


Setelah berpamitan pada pengantar termasuk Amir dan Tamara, semua rombongan bersiap untuk menuju pesawat. Karena tidak lama lagi pesawat akan lepas landas.


***


Sementara Toko desert telah Annisa percayakan pada Tamara sang sahabat, tentu tidak sepenuhnya Annisa percayakan pada Tamara, karena masih banyak hal yang belum Tamara pahami.


Tentu Amir akan selalu mendampingi Tamara, termasuk menjadi guru dan mentor seperti yang di lakukan Annisa sebelumnya.


Minggu Minggu berlalu , meski tidak semudah perkiraan Tamara, namun dia tetap berusaha semaksimal mungkin untuk mengelola usaha sahabatnya dengan baik, dan tentu Tamara tidak ingin sahabatnya tersebut kecewa.


Apa lagi nyatanya sahabatnya tersebut tidak serta Merta mengaji nya dengan alakadarnya karena kemampuan yang juga masih apa adanya, namun Annisa benar-benar memberikan gaji diluar perkiraan nya, meski tak sebanyak ketika dia menjadi model, namun nominal yang di berikan Annisa cukup besar dan tidak sanggup rasanya jika Tamara harus bekerja asal-asalan.


Amir begitu kesal pada Tamara, bukan tanpa alasan, Tamara selalu saja mengalami kesulitan dan tak jarang mengalami kesalahan dalam menghitung keuangan.


Mendapatkan Omelan dari Amir, nyatanya Tamara hanya tetap diam, hal itu karena Memnag kesalahan yang terjadi atas perbuatanya.


"Aku pikir kau seperti tikus pada umumnya , yang bahkan bisa korupsi, nyatanya kau menghitung angka saja tidak becus, Oh Tuhan !!"


"Apa di otak mu itu hanya ada Catwalk saja, tidakkah kau sedikit saja mengisinya dengan angka ?"


"Kau itu bisanya apa ?"


"Otak ku hampir meledak mengajari tikus seperti mu, Rasanya lebih baik mengajari Yasmine" ucap Amir


Hening.


"Tikus tikus !!" kesal Tamara yang selalu di Katai oleh Amir.


"Jika aku tikus maka kau adalah kucingnya, Selalu menindas !!"

__ADS_1


"Lagipula kenapa kau menghinaku seperti kau paling benar !!"


"Aku tahu kekuranganku, tapi kau tidak lantas bisa menghinaku seperti itu!! ucap Tamara yang kini pelupuk matanya sudah berembun.


"Aku memang selalu berada diatas catwalk, tapi seperti yang kau tahu aku terbaik dalam hal itu"


"Dan kau !! Kau tidak bisa mengatakan aku tidak bisa apa-apa hanya karena kita berkembang dalam keahlian yang berbeda " tegas Tamara.


"Aku juga memiliki sesuatu yang patut untuk ku banggakan, hanya hal itu memang tidak ku butuhkan saat ini"


"Oh ya, Jika kau merasa mampu melakukan segalanya dengan baik, maka lakukan semua sendiri !!" tegas Tamara dengan menghambur keluar dari toko.


Sudah jengah rasanya Tamara harus selalu mendengarkan ocehan Amir yang selalu menyakitkan, menghina dirinya, dan seolah menganggapnya rendah, karena tidak bisa melakukan apapun dengan baik.


Setelah kepergian Tamara, Amir tampak termenung, menyadari jika dirinya terlalu keras pada Tamara.


Sungguh saat itu Amir merasa khawatir dengan Tamara yang tak juga kunjung kembali setelah perdebatan sebelumnya.


15 menit berlalu, Tamara juga tidak kunjung menampakkan batang hidungnya, tentu hal itu membuat Amir semakin khawatir, bahkan Tamara tidak membawa tas ataupun handphone miliknya.


"Ya Tuhan, kenapa.tikus ini selalu membuatku marah" ucap Amir bermonolog, meski merasa kesal namun Amir juga begitu mengkhawatirkan Tamara.


Amir bergegas menuju ruang kerja Tamara sebelumnya dan mengambil Tas serta handphone milik Tamara.


"Safi , Kau jaga toko, aku akan mencari Tamara" titah Amir pada salah seorang karyawan toko.


"Baik Tuan !"


Setelah berpamitan, Amir pun bergegas mencari keberadaan Tamara, jujur Amir begitu khawatir tentang keadaan Tamara, bahkan setelah berkeliling kota nyatanya Amir tidak juga menemukan Tamara.


"Ya Tuhan, kemana lagi aku akan mencari nya" gumam Amir


Amir yang merasa frustasi lantas memarkirkan mobilnya di sembarang tempat.


Hingga temaram lampu menyadarkannya jika orang yang sedari siang hingga petang dia cari tengah duduk di sana.


***

__ADS_1


__ADS_2