HIJRAH CINTA ANNISA

HIJRAH CINTA ANNISA
111. Kekesalan Amir.


__ADS_3

...Pada akhirnya kita akan mengerti dengan sendirinya, Bahwa jodoh bukanlah tentang yang terbaik. Tetapi yang menerima kita dengan baik....


...🍁...


Bukan egois , namun juga bukan tanpa alasan Annisa meminta hal tersebut pada sang suami.


Sejujurnya kekuatan sang suami saja sudah cukup baginya untuk tidak repot dan kesulitan dalam mengurus anak pasca melahirkan.


Namun naluri Annisa sebagai seorang anak juga menginginkan kasih sayang seorang ibu, bahkan ketika dirinya nanti juga akan menjadi seorang ibu.


Banyak dari teman-teman Annisa yang juga demikian, tak jarang meski suami-suami mereka mampu menggaji perawat, pengasuh atau pelayan pun, banyak diantara mereka yang ingin dekat dengan sang ibu saat melahirkan.


Begitu juga Annisa yang juga menginginkan dukungan dari Ummi nya saat proses kelahiran nanti.


"Terima kasih mas"


"Kau sudah mengatakannya berulang kali sayang" ujar Emran


Begitu bahagianya hingga Annisa lupa jika dia telah berterima kasih berkali-kali pada sang suami.


***


Malam pun tiba.


Ada beberapa pekerjaan lapangan yang harus Emran selesaikan saat itu juga, hingga membuatnya terpaksa harus meninggalkan Annisa.


Sementara itu Annisa memilih untuk tidur bersama Yasmine di kamar sang putri.


"Mommy"


"Ya sayang"


"Kapan mommy adik Yasmine akan lahir?" tanya Yasmine yang memang sudah tidak sabar.


"Sabar ya sayang, tinggal beberapa bulan lagi InshaAllah" ujar Annisa.


"Apa aku boleh menciumnya ketika dia lahir ?"


"Tentu sayang, tidak hanya itu, bahkan Yasmine juga boleh menggendongnya" ucap Annisa yang seketika memeluk sang putri kecil.


Keduanya tampak asyik berbincang, hingga malam semakin larut, sementara baru saja Annisa mendapat kabar jika sang suami belum menyelesaikan pekerjaannya, sudah di pastikan Emran akan menginap di kantor.


Sementara setelah mendapatkan kabar dari sang suami, Annisa sedikit lega, hingga dia bergegas mengajak sang putri untuk lekas tidur. Karena tentu esok hari Yasmine harus kembali sekolah.


***


Waktu menunjukan pukul 03.45


Annisa tengah duduk bersimpuh diatas sajadah miliknya, mencurahkan segala isi hatinya, mengucapkan syukur atas nikmat yang tiada Tara.


Hingga Alarm Azan subuh pun berkumandang, Annisa lantas menyelesaikan Amalan pagi nya, dan bergegas untuk melaksanakan sholat subuh.


Annis setelah berpindah ke kamarnya sendiri sejak beberapa menit yang lalu, karena untuk melaksanakan Qiamullail, bukan tanpa alasan Annisa tidak melakukanya di kamar sang putri, Annisa hanya tidak ingin mengganggu tidur lelapnya Yasmine.

__ADS_1


Beberapa saat , Annisa telah selesai dengan sholat Subuh nya, masih dengan mukena yang membalut tubuhnya. Annisa pun meraih ponsel yang dia letakkan diatas meja kecil di samping tempatnya sholat. Annisa bergegas mencari kontak sang suami.


Tut


"Assalamualaikum mas Emran"


"Waalaikumsalam Sayang"


"Mas sudah sholat subuh ?"


"Iya sayang ini baru mau sholat, Kau sudah sholat"


"Alhamdulillah mas"


"Baiklah Annisa tutup telponnya ya, mas segera sholat" titah Annisa


Tut.


Masih ada sedikit waktu menjelang fajar, Annisa pergunakan saat saat itu untuk berdzikir pagi.


Rutinitas yang harus Annisa jalani setelah bangun tidur lumayan padat, selain untuk mengurus sang putri, dia juga harus pergi ke toko, meski hanya untuk mengecek stock stock barang dan juga tentunya persediaan produk.


Cukup sibuk memang aktifitas Annisa sejak setelah memiliki toko, dan karena hal itu lah yang membuat Emran merasa tidak tega melihat sang istri selalu kelelahan.


Grek


"Assalamualaikum sayang"


Terlihat sosok sang suami yang begitu mempesona, Emran terlihat sudah segar dengan kemeja baru, tentu itu adalah hasil dari kerja keras Amir melayani sang suami.


"Pagi sekali mas datang ke sini ?" Tanya Annisa yang tampak penasaran.


"Tidak sayang, aku hanya merindukanmu" ujar Emran


"Astaga !!" batin Amir


Mendengar gombalan sang bos sejujurnya Amir yang masih berada di ambang pintu merasa ingin geli. Emran saat ini memang bukanlah Emran yang dulu dia kenal, banyak perubahan dari sang bos, hingga terkadang dia lupa Mana Emran yang sebenarnya.


Bagaimana bisa Emran mengabaikan Amir begitu saja, Melupakan Amir begitu saja setelah dia menemukan sang istri.


"Oh tuhan, beri aku kesabaran" gumam Amir dengan mengusap dadanya.


Tidak ingin mengganggu sang bos yang tengah bermesraan Amir pun memilih untuk meninggalkan keduanya, memilih menuju toko dimana banyak desert yang begitu menggoda tengah dipajang dengan begitu cantik.


"Saya mau ini !"


Suara yang terdengar bersamaan antara Amir dan sosok yang tengah berdiri di sampingnya.


Keduanya tampak sibuk memandangi Etalase kaca di hadapannya hingga tanpa sadar memiliki pilihan yang sama.


"Kamu !"


Tatapan Amir terkunci pada sosok wanita cantik yang akhir-akhir ini kerap dia temui, dan tak jarang pula terlibat cek Cok dengan nya.

__ADS_1


"Kau !" Kesal Tamara


Sejenak terasa perang dingin antara keduanya akan di mulai.


"Siapkan ini untuk saya !" Titah Amir pada sang pelayan namun dengan pandangan menatap pada Tamara.


"Saya juga mau satu " ujar Tamara.


"Maaf tuan, nona, Desert ini sudah habis, hanya tinggal tersisa 1 saja" ucap sang pelayan dengan ramah.


"Baiklah jika begitu siapkan untuk saya !" ucap Amir


"Tidak !. Ini milik ku, Enak saja kau !"


"Jelas jelas aku dulu yang memilihnya !" ucap Amir dengan santai.


"Tidak, apa mata mu tidak melihat aku dulu yang memilihnya" ketus Tamara.


Menyadari perdebatan diantara dua orang di hadapannya, seorang pelayan yang tengah berada di sana pun ikut dibuat bingung.


"Bagaiman jika kalian berbagi saja" ujar sang pelayan.


Mendengar ucapan sang pelayan, baik Tamara maupun Amir seketika menatap pada Pelayan tersebut. Hal itu tentu membuat sang pelayan hanya tersenyum pasi.


"Sudah lah untuk dia saja, aku bisa memilih yang lainnya" ucap Amir dengan berlalu meninggalkan Tamara.


Setelah perdebatan kecil antara Tamara dan Amir, kini Amir mulai menjelajah lagi setiap sudut etalase, mencari makanan yang dia rasa cocok dengan seleranya.


"Menjengkelkan sekali" gumam Amir lirih


Sementara Amir masih terus saja mencari-cari, Tamara justru menikmati secangkir kopi hangat bersama makanan yang sebelumnya dia pilih.


Seolah begitu bahagia dapat mengalahkan Amir, Tamara pun tersenyum kecil penuh kemenangan.


Hingga pada saat Amir telah memesan makanan pilihannya, tentu juga tak lupa dengan secangkir kopi favoritnya.


Namun ketika mengedarkan pandanganya, meja meja dan kursi yang sebelumnya kosong kini justru telah berpenghuni.


Tak ada satu meja atau pun kursi yang tersisa, kecuali sebuah kursi yang tepat di depan Tamara


Sungguh hari yang sangat sial bagi Amir, sudah sejak pagi dia di pusingkan dengan Emran yang bingung memilih kemeja, setelah itu harus melihat kebucinan sang bos.


Belum juga otaknya beristirahat kini sudah harus terlibat perdebatan dengan Tamara, hingga untuk menikmati Kopi kesukaannya saja dia juga harus tidak memiliki Temat.


"Oh Tuhan, lengkap sudah penderitaan ku" monolog Amir dalam hati.


Jelas terlihat oleh Tamara,bagaimana wajah Amir saat ini begitu tertekan dan sangat tidak sedap di pandang.


"Aku tidak memiliki tempat ini, jadi kau bebas duduk di sini" ucap Tamara dengan begitu entengnya.


Tentu ucapan Tamara bukan menyenangkan hati Amir, justru malah seolah membuat Amir semakin kesal atas ketidakberdayaannya.


***

__ADS_1


__ADS_2