HIJRAH CINTA ANNISA

HIJRAH CINTA ANNISA
57. Taman Bermain


__ADS_3

...Bahkan ketika pikiranmu sendiri meremehkan mu, Allah tetap Mendukungmu dengan mengatakan Kau ciptaan-Nya yang terbaik...


...🍁...


Melihat Kebingungan di wajah Annisa, seketika muncul ide konyol dalam pikiran Emran.


"Oh.. Aku ada ide " ucap Emran seolah telah menemukan sesuatu yang indah dalam pikirannya.


Melihat hal itu Annisa hanya menautkan kedua alisnya, berharap jika kali ini Emran tidak membuatnya semakin malu.


"Mungkin kau bisa memanggilku SAYANG !"


"Seperti siang tadi kau memanggilku, Ya . terdengar menyenangkan sepertinya" ucap Emran dengan senyum menggoda.


"Apa ? Sayang ?" batin Annisa


"Tapi tuan,Kedengarannya itu sangat berlebihan " Sergah Annisa yang tidak setuju dengan ide Emran.


"Atau kau bisa memanggilku Honey atau Daddy, atau ---"


"Cukup Mas Emran " Ucap Annisa memotong ucapan Emran sebelumnya.


"Mas !. Kedengarannya sangat lucu, tapi tidak masalah , daripada aku mendengar mu memanggilku tuan "


"Bagaimana orang akan menilai hubungan kita jika kau terus memanggilku tuan !, oke mulai sekarang kau panggil aku dengan sebutan itu, MAS , ya MAS Emran !" ucap Emran dengan menahan rasa ingin tertawa.


Kedengarannya memang sangat lucu, namun Annisa tidak memiliki pilihan lain selain kata itu, karena Aisha dan Khadijah mereka memanggil suami nya dengan sebutan Mas.


Hening.


"Mommy" suara ketukan pintu di iringi suara Yasmine yang begitu terdengar jelas di balik pintu kamar.


Kaget sudah pasti, namun Annisa merasa lega, setidaknya kedatangan Yasmin mampu menyelamatkan dirinya dari Emran yang selalu ingin menggodanya.


Tanpa permisi Annisa segera berlalu dari hadapan Emran dan berjalan meninggalkan balkon untuk membuka pintu kamar.


"Sayang" ucap Annisa dengan penuh rasa bahagia.


"Mommy, Yasmine mau jalan-jalan " pinta Yasmine dengan penuh permohonan


"Jalan-jalan ?, Tapi apa Yasmine sudah makan ?" tanya Annisa.


"Sudah Nyonya, Nona Yasmine sangat menurut, dan dia makan banyak sekali " ucap sang pengasuh jujur


Annisa pun tersenyum mendengar penuturan pengasuh putrinya "Makasih ya mba Asih" ucap Annisa.


"Sama-sama Nyonya"


"Mba asih boleh mengerjakan yang lain, biar Yasmine disini" ucap Annisa memerintah.


Asih dan satu pengasuh Yasmine pun menjawab dengan menganggukkan kepala, dan setelahnya mereka berlalu dari hadapan Annisa.


Annisa membawa Yasmine masuk kedalam kamar tersebut, disana Emran juga tengah berjalan masuk kedalam kamar setelah sebelumnya berada di balkon.


"Daddy" Sapa Yasmine yang masih ada dalam gendongan Annisa.

__ADS_1


Emran pun mendekat dan meraih tubuh sang putri dari gendongan Annisa. "Daddy dengar tadi Yasmine mau jalan-jalan ya ?" tanya Emran


"Iya Daddy" ucap Yasmine penuh permohonan. Berharap sang Daddy mau mengabulkan permintaan nya.


"Yasmine mau ke taman Daddy"


"Taman ?" ucap Emran . Yasmine pun menjawab dengan menganggukkan Kepala.


"Kalau Daddy sibuk, Yasmine sama Mommy dan mba asih aja dad" ucap Yasmine begitu memelas, memohon agar Emran mengizinkan nya jalan-jalan sore itu.


"Tentu sayang, tapi dengan satu syarat " ucap Emran pada sang putri.


"Syarat apa dad ?"


"Syarat nya Yasmine pergi sama Daddy dan Mommy, Nggak ada mba Asih " ucap Emran


"Horeyy, Daddy serius ?" tanya Yasmine memastikan. Emran pun menjawab dengan anggukan kepala.


Sementara itu Annisa hanya menatap keduanya dengan senyum manis di wajahnya.


"Bersiaplah aku akan menunggumu di bawah" ucap Emran pada Annisa. Annisa pun menjawab dengan anggukan kepala "Baiklah"


Setelah kepergian Emran dan Yasmine dari kamar, Annisa bergegas mengenakan cadar kembali tanpa menambahkan riasan atau apa pun lagi dan mengambil Sling bag miliknya. dan segera menyusul Emran dan Yasmine.


***


Ketiganya kini telah berada dalam satu mobil, hanya ada Emran, Annisa dan juga Yasmine saja, tidak Ada pengasuh Yasmine, seperti yang Emran katakan sebelumnya.


Emran menuju sebuah taman yang terletak di pusat kota, tidak jauh dari kantornya, Taman yang dulu kerap Yasmine dan Annisa melakukan pertemuan di sela-sela sibuknya pekerjaan Annisa. Namun tentunya terdapat perbedaan dulu dan sekarang, dimana dulu Annisa dan Yasmin datang ke taman ketika Emran sangat menentang putrinya untuk dekat dengan Annisa, namun saat ini justru ketiganya datang ke taman tersebut bersama-sama dan dengan status sebagai keluarga.


Sepanjang perjalanan Yasmine begitu bahagia, bersenandung dengan lagu lagu yang hanya terdengar nadanya saja.


Rasa haru dan bahagia begitu terasa di hati Emran, melihat sang putri yang begitu bahagia, rasanya memang Annisa lah yang menjadi obat bagi kegalauan sang putri.


"Yasmine suka ?" tanya Emran


"Yes Daddy, Yasmine bahagia" ucap Yasmine dengan nada celotehan.


"Apa kau juga bahagia. SAYANG ?" tanya Emran dengan nada menggoda pada Annisa.


"Astaghfirullah" batin Annisa, Annisa pun membulatkan kedua bola matanya menatap tidak percaya pada Emran yang mengatakan hal itu di depan Yasmine.


"Mommy ?" panggil Yasmine. Sontak hal itu membuyarkan lamunan Annisa.


"Iya sayang , ada apa ?" tanya Annisa tanpa dosa.


"Daddy kan nanya Mommy, kenapa Mommy diam saja ?" ucap Yasmine dengan mengerutkan wajahnya.


Mendengar hal itu Emran pun hanya tersenyum geli, mendapati perubahan raut wajah Annisa.


"Ohh, iya sayang, Mommy sangat ba bahagia" ucap Annisa gugup.


Sepanjang perjalanan obrolan di dominasi oleh Yasmine yang tak henti bertanya tentang banyak hal pada Annisa dan juga Emran.


Setelah menempuh perjalanan beberapa saat, akhirnya mereka telah tiba di taman bermain, tidak hanya taman dan tempat duduk saja, disana banyak gazebo dan juga tempat bermain yang tentunya ramah untuk anak-anak.

__ADS_1


Annisa menggelar Karpet yang sebelumnya di siapkan oleh Asih, dan menyiapkan beberapa makanan yang juga sebelumnya dia siapkan sebelum berangkat.


Annisa sengaja tidak memilih untuk duduk di gazebo, karena dia lebih suka duduk di bawah rindangnya pohon di taman tersebut dengan menggelar karpet.


Sementara Emran tengah menemani Yasmine yang asyik bermain ayunan dan permainan lain di sana.


Terlihat Emran dan Yasmine yang berjalan ke arah Annisa, keduanya terlihat begitu lelah setelah banyak permainan yang di coba.


Annisa pun dengan sigap menyiapkan Air mineral untuk Emran dan Yasmine yang terlihat begitu kehausan.


Sementara Emran yang tidak biasa berlari mengejar Yasmine pun begitu dibuat kewalahan dengan tingkah putri kecilnya. Ternyata tidak semudah bayangannya menjaga seorang anak di taman bermain. Emran lantas merebahkan tubuhnya diatas karpet tersebut. Menatap langit langit sore yang begitu indah.


"Yasmine mau makan buah ?" tanya Annisa, dan Yasmine pun menganggukkan kepala sebagai jawaban.


Setelah itu Annisa mengupas beberapa buah untuk sang putri tercinta. Dan dengan sabar Annisa menyuapi gadis kecil tersebut.


"Mommy"


"Daddy"


Panggil Yasmine lirih, dengan menundukkan wajah.


"Ya sayang ?" jawab Emran, sementara Annisa menjawab dengan senyuman, menatap lekat wajah gadis kecil di yang tengah merebahkan kepala di pangkuannya.


"Yasmine mau punya adik kecil, Seperti Zahra " ucap Yasmine polos


Zahra merupakan tetangga kompleks perumahan elit dimana tempat Emran tinggal , disana kerap pengasuh Yasmine membawa berjalan jalan dan Zahra merupakan satu satunya teman Yasmine di tempat tersebut.


Zahra memiliki seorang adik bayi yang begitu menggemaskan, dan Yasmine pun juga kerap bermain bersama adik nya Zahra ketika mereka bertemu saat sore hari.


Mendengar permintaan sang putri, Emran pun hanya tersenyum getir, sementara Annisa sendiri juga bingung harus bereaksi seperti apa.


"Zahra ? Siapa Zahra sayang ?" tanya Emran mengalihkan topik pembicaraan


"Zahra, teman Yasmine dad, dia punya adik kecil, lucu sekali, Yasmine ingin punya adik kecil seperti Zahra" ucap Yasmine dengan wajah penuh permohonan.


"Ohh... Begitu ya" jawab Emran singkat.


"Tapi kata mba Asih kalau Yasmine mau punya adik kecil, Yasmine tidak boleh sering-sering sama Mommy" ucap Yasmine dengan menundukkan wajahnya, sejujurnya Yasmine begitu tidak menyukai hal itu, terlebih jika harus berjauhan dengan Annisa.


Namun Yasmine juga sangat menginginkan memiliki adik kecil.


"Sayang, Mba Asih bilang begitu kah ?" Tanya Annisa yang menangkap perubahan wajah dari sang putri.


Sementara itu Yasmine hanya menjawab dengan menganggukkan kepala.


"Oh, bukan begitu maksut mba Asih, Yasmine boleh tetap bersama Mommy kok" ucap Annisa menenangkan.


"Tapi kata mba Asih kalau mau punya adik kecil tidak boleh sering sering sama Mommy" ucap Yasmine lagi.


Sementara Emran hanya mendengarkan percakapan Antara Annisa dan Yasmine dengan senyum geli , sesekali menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal.


Jujur Emran tidak menyangka jika putrinya akan mengatakan hal itu pada nya dan Annisa. Lalu jawaban apa lah yang harus keduanya berikan sementara mereka tidak memiliki jawaban atas pertanyaan sang putri.


***

__ADS_1


__ADS_2