HIJRAH CINTA ANNISA

HIJRAH CINTA ANNISA
70. Harapan


__ADS_3

...CINTA...


...Pujangga berkata Banyak yang datang menawarkan, harta, tahta, dan kuasa. Namun dia mengatakan Cintaku Padanya Membuatku Lupa Akan Selain Nya. ...


...🍁...


Suasana masih terlihat cukup tegang dengan semua orang yang hanya diam menyaksikan. Meski sudah tidak sepanas dan menegangkan seperti sebelumnya, namun kini berubah menjadi begitu dingin dan mencekam.


Tidak hanya Emran dan Amir nyatanya seluruh karyawan pun ikut membisu. Tidak satupun berani menatap bahkan mengeluarkan suara.


Hening.


Melihat Hasan yang terlihat begitu lemah dan tak berdaya, jujur semua orang yang ada di sana merasa iba.


Namun merekapun tidak ingin mengabaikan bagaimana Hasan telah berlaku tidak adil pada orang yang tidak berdaya. Mengingat nasib karyawan yang telah dia pecat begitu saja.


Sementara itu Amir terlihat cukup lega dengan keputusan Emran yang telah dia ambil. Setidaknya meski tidak memecat namun Emran memberikan efek jera bagi Hasan dan seluruh karyawan yang bekerja pada perusahaan Emran tentunya, agar kejadian semacam ini tidak lagi terulang di kemudian hari.


Amir pun begitu kagum dengan sikap dan kebijaksanaan Emran, sungguh apapun yang ada dalam diri Emran mampu membuat Amir begitu kagum.


"Aku tidak memaksamu untuk menerima keputusanku, jadi kau berhak memilih untuk itu" ucap Emran


Sementara Hasan hanya terlihat menundukkan wajah tanpa memberikan jawaban atas pernyataan Emran sebelumnya.


Jujur Hasan masih ingin mempertahankan jabatannya, namun lagi-lagi dia tidak memiliki cukup keberanian untuk menyanggah Emran, kalaupun dia nekat, Hasan tahu persis konsekuensi apa yang akan dia dapatkan, mungkin saja tidak akan dapat bekerja lagi di perusahaan tersebut.


Terlebih mengingat usianya yang tidak lagi muda, bagaimana dia bisa mencari pekerjaan di perusahaan lain, dengan reputasinya yang telah hancur.


Hasan sungguh menyesali kebodohan nya sendiri, sementara kini dirinya harus bersiap menghadapi keluarganya.


"Semoga dengan ini, kau akan lebih banyak belajar menghargai siapapun"


"Mungkin kita memiliki jabatan, namun tidak di mata tuhan"


"Semua orang sama !"


"Tidak hanya dirimu, itu juga berlaku pada diriku"


Ucap Emran mengakhiri pembicaraanya, dan bergegas beranjak dari duduknya, meninggalkan kerumunan orang-orang di lobby yang menyaksikannya dengan wajah menunduk.


"Ohya Satu Minggu lagi aku akan mengumumkan direktur baru di perusahaan ini "


Ucap Emran menghentikan langkahnya, dan berbalik memberi informasi pada seluruh karyawan yang ada di sana, tanpa terkecuali.

__ADS_1


***


Waktu telah menunjukkan pukul 16.45 , Hari mulai petang namun Emran masih juga di perjalanan. Sungguh Emran telah merasa sangat risau dengan pikirannya, entah mengapa dan karena sebab apa dia ingin segera sampai ke Mansion nya.


Tidak seperti Emran yang dulu, dia yang sangat betah berlama-lama di kantor, terlebih jika Yasmine tengah ngambek karena sesuatu, Emran tak jarang memilih menginap di kantor, untuk menghindari kemarahan sang putri, dan tentunya Amir pun harus siap juga menginap, menemani bos besarnya tersebut.


Tapi kali ini, sungguh aneh rasanya Emran yang selalu pulang tepat waktu, tak jarang juga Emran pulang awal.


Cukup jauh memang jarak tempuh mereka untuk Sampai di kediaman mewah Emran. Menempuh perjalan kurang lebih 3-4 jam di dalam mobil, karena akses yang tidak bisa di jangkau dengan pesawat. Hal itu mengharuskan keduanya harus berkendara di darat dalam waktu yang cukup lama.


"Tuan apa tidak sebaiknya Singgah di hotel untuk beristirahat" ucap Amir memecah kesunyian dalam mobil.


"Anda terlihat sangat lelah"


"Tidak !"


Tolak Emran dengan wajah menatap jendela luar.


Mendengar penolakan dari sang bos, Amir pun hanya diam dan menganggukkan kepala.


Sementara itu Emran tengah meraih smartphone miliknya, smartphone yang dia letakkan di saku jas, yang dia letakkan disana sejak perdebatan kecil antara dirinya dan Hasan di anak perusahaan sebelumnya.


Membuka sebuah pesan masuk yang nyatanya merupakan pesan yang di kirim oleh Annisa beberapa jam yang lalu. Belum sempat Emran membuka, dan membaca pesan dari Annisa.


Senyum yang begitu merekah dari wajah Emran pun tak luput dari pandang mata Amir yang tanpa sengaja melihat melalui kaca spion.


"Jaga matamu, jika besok masih ingin tetap bekerja !"


Ucap Emran ketus, mendapati Amir yang tersenyum geli melihat tingkahnya, yang mungkin bagi Amir sangat lucu.


"Ma maaf tuan " gugup Amir merasa takut.


Setelah itu Amir pun memilih kembali fokus dengan kemudi, tidak ingin mencari masalah dengan bos besarnya tersebut.


***


Menempuh perjalanan beberapa saat akhirnya mobil yang di tumpangi Emran telah terparkir sempurna di halaman depan Mansion.


Kini waktu menunjukan pukul 20.30 malam, tentunya semua penghuni rumah telah kembali ke kamar masing-masing. Tidak terkecuali Yasmine sang putri tentunya.


Emran sangat hafal bagaimana sang putri, Yasmine paling tidak bisa jika harus menahan kantuknya di malam Hari.


Tanpa menunggu Amir membukakan pintu, dengan cepat Emran meraih Handel pintu dan langsung keluar begitu saja dari mobil. Sontak hal itu mengundang rasa bingung dari Amir, hingga dia hanya dapat menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Apa ini yang namanya cinta ?" gumam Amir lirih menatap punggung Emran yang semakin jauh.


"Entah lah , aku sendiri tidak tahu apa itu cinta"


Kesal Amir pada dirinya sendiri, di usianya yang saat ini nyatanya Amir belum juga menemukan tambatan hati yang mampu meluluhkan hatinya.


Bukan dia tidak mencari, hanya Emran belum memberinya kesempatan untuk mencari sang tambatan hati.


***


Benar saja suasana rumah begitu hening, dengan hanya beberapa pelayan yang masih tetap terjaga karena memang masih memiliki pekerjaan hingga malam hari.


"Selamat malam tuan !" sapa beberapa pelayan yang Emran lewati.


"Em " jawab Emran singkat, dengan berlalu begitu saja.


Emran terus melangkah maju, menyusuri satu persatu anak tangga, berharap segera sampai di kamarnya, mengingat pesan terakhir yang di kirim Annisa, Emran begitu tidak sabar ingin segera membuka segel Annisa. Senyum manis begitu merekah dan terlihat jelas disana.


Hatinya begitu berdebar, membayangkan bagaimana indahnya malam ini bersama seseorang yang telah mengisi tidak hanya hari hari namun juga hati Emran saat ini.


Indah sungguh indah dan begitu menyenangkan meski hanya sekedar membayangkan.


Ceklek.


Dengan begitu pelan dan sangat hati-hati , Emran membuka pintu, dan memasuki kamar tersebut.


Suasana kamar begitu redup, rasanya Emran begitu tidak sabar. Emran pun mengedarkan pandanganya mencari sosok Annisa yang begitu dia inginkan malam ini.


Pencahayaan kamar yang begitu minim membuat Emran tidak begitu jelas melihat, hanya terlihat cahaya lampu dari meja di dekat tepat tidur yang menyala.


Emran begitu tidak sabar, hingga senyum di wajahnya tak pernah lekang dari bibir Emran. Namun menyadari satu hal Senyum itu pun seolah sirna begitu saja.


Mendapati Annisa yang mengenakan gamis dan hijab yang masih melekat di kepalanya, tidak seperti bayangan Emran sebelumnya, dimana dia membayangkan Annisa tengah menyambutnya dengan mengenakan pakaian serba minim yang menggoda , Membangkitkan semangat dan gairahnya, nyatanya harapan nya begitu besar hanyalah sebuah harapan.


Hingga pada akhirnya kini dia hanya tersenyum geli dengan keinginan yang tidak akan mungkin dia dapatkan.


Terlebih Emran juga melihat bagaimana Annisa begitu nyenyak memeluk Yasmine sang putri.


Emran pun merasa tidak tega untuk membangunkan Annisa, hingga dia memilih untuk membersihkan dirinya dan segera beristirahat.


Kesempatan ini masih dia bisa dapatkan dilain hari, Karena baginya tidak ada paksaan itu yang utama.


***

__ADS_1


__ADS_2