HIJRAH CINTA ANNISA

HIJRAH CINTA ANNISA
61. Obrolan Malam


__ADS_3

...Pepatah Mengatakan, Lidah seseorang dapat menggambarkan bagaimana hati nya...


...🍁...


Ketiganya telah berada di dalam mobil, dan hari mulai petang setelah Emran Annisa dan juga Yasmine dari rumah sakit.


Suasana didalam mobil tampak hening, terlebih setelah Yasmine lelap dalam pangkuan Annisa.


Annisa begitu menyayangi Yasmine hingga tidak rela jika gadis kecil tersebut merasa kesakitan, sepanjang perjalanan Annisa selalu mengusap lembut punggung Yasmine yang tengah berada dalam pangkuannya.


Sementara Emran juga hanya fokus pada kemudi nya. berharap segera sampai.


Tidak butuh waktu lama, mereka akhirnya sampai di kediaman Emran, beberapa pelayan dengan pengasuh Yasmin telah siap menyambut ketiganya.


Setelah mobil berhenti, dengan sigap Asih membuka pintu mobil Annisa dan benar saja Yasmin masih dalam pangkuan Annisa, dan dengan cepat dan telaten Asih menggendong Yasmine dalam pelukannya.


Disusul Annisa dan Emran yang juga Keluar dari mobil.


"Mba Asih?" panggil Annisa, dan kemudian menghentikan langkah Asih.


"Iya Nyonya?"


"Tolong mba asih ganti pakaian Yasmine dan berikan minyak angin di perut nya ya" titah Annisa pada sang pengasuh Yasmine.


Mendengar hal itu Emran hanya tersenyum simpul, merasa bahagia dengan perhatian yang di berikan Yasmin pada putrinya.


"Baik Nyonya" ucap Asih dan setelahnya berlalu dari hadapan Emran dan Annisa.


Memastikan Yasmine telah berada di tangan sang pengasuh, Annisa bergegas untuk menuju kamarnya, karena juga akan melaksanakan kewajibannya sholat yang telah tertunda, karena harus ke rumah sakit dahulu.


Tidak ada obrolan atau pembicaraan apa pun antara Annisa dengan Emran , Annisa memilih untuk diam dan enggan terlibat obrolan dengan sang suami.


Bukan marah, namun mungkin Annisa merasa sedikit kecewa dengan sikap plin-plan sang suami sebelumnya.


Melihat Annisa yang seolah mendiamkannya, Emran pun hanya dapat menghembuskan nafas kasar. Menyadari jika Annisa mungkin saja begitu terluka dengan ucapan Sania sebelumnya.


Emran memilih untuk singgah sejenak di ruang kerjanya.


Tuttt


Sebuah panggilan yang Emran tujukan pada seseorang di ujung telepon.


"Selamat malam tuan" sapa Amir dari ujung telepon setelah mengangkat panggilan Emran.


"Em"


"Maaf , ada kah Sesuatu yang ingin tuan Emran bicarakan dengan saya ?" tanya Amir tanpa basa-basi karena paham jika sang bos besar juga tidak menyukai sesuatu yang bertele-tele.


"Bereskan Sania secepatnya, aku tidak ingin dia selalu ada diantara Keluarga ku" titah Emran penuh ketegasan.


"Baik tuan !" jawab Amir


Setelah menyampaikan maksut dan tujuannya, Emran pun mematikan sambungan telepon tersebut, dan sejenak merebahkan tubuhnya di sandaran Kursi kebesaran yang ada di ruang kerja nya.


Tok tok tok


Terdengar Suara ketukan dari balik pintu ruang kerja Emran.


"Masuk"

__ADS_1


Pintu pun terbuka, di susul dengan kemunculan kepala pelayan.


"Permisi tuan "


"Em" jawab Emran dengan mendongakkan wajahnya


"Ada apa ?"


"Maaf tuan, diluar ada nona Sania, ingin bertemu dengan anda " Ucap pelayan tersebut.


Mendengar hal itu Emran merasa sangat muak, dia hanya dapat memejamkan mata dan menarik nafas begitu dalam.


"Katakan padanya, aku tidak menerima tamu siapapun itu !" ketus Emran dengan mata tajamnya.


"Baik tuan !" ucap sang pelayan dengan membungkukkan badan. Setelah itu pelayan tersebut pun keluar dari ruang kerja Emran.


***


Berjalan dengan langkah begitu pelan, Emran memasuki kamarnya, mengedarkan pandanganya ke seluruh ruangan, terlihat Annisa yang masih khusyuk dengan mukena dan sajadah yang dia kenakan.


Emran yang tidak ingin mengganggu Annisa pun memilih duduk di belakang Annisa, menunggunya hingga Annisa selesai dengan sholatnya.


Beberapa saat berlalu Annisa pun selesai dengan sholatnya, dan Emran tampak setiap menanti hingga Annisa selesai melipat mukenanya.


"Annisa "


"Astaghfirullah" ucap Annisa kaget


Melihat respon Annisa , Emran hanya menautkan kedua alisnya.


Sementara Annisa hanya menatap sekilas Emran yang juga tengah duduk di karpet yang Annisa gunakan untuk sholat.


"Bisa kita bicara"


Mendengar ucapan Emran Annisa menatap wajah sang suami, mencari tahu apa yang ingin Emran bicarakan dwnganya.


Tidak memberikan jawaban Annisa pun ikut duduk di sebelah Emran dengan bersandar pada tempat tidur.


"Maafkan aku" ucap Emran lirih, terlihat nada penyesalan pada Emran.


Sementara itu Annisa hanya mengulas senyum simpul di wajah cantiknya.


"Untuk ?"


"Untuk kejadian di taman tadi sore"


Lagi-lagi Annisa hanya tersenyum mendengar ucapan Emran.


"Tidak perlu meminta maaf, karena memang setiap orang tua ingin yang terbaik untuk anak nya"


"Meski terkadang hal itu tidak baik" ucap Annisa dengan suara lembut.


Emran terlihat menganggukkan kepala, dan menatap sekilas wajah Annisa.


"Kau tidak marah ?" tanya Emran lagi


"Untuk apa aku marah ?"


"Justru aku ingin berterima kasih dengan Mas Emran" ucap Annisa lirih

__ADS_1


"Untuk ?" tanya Emran dengan penasaran.


"Karena telah membelaku sebelumnya" ucap Annisa dengan menundukkan wajah.


"Aku tidak membela" ucap Emran dingin


Mendengar hal itu Annisa hanya menautkan kedua alisnya, dengan menghela nafas yang begitu dalam. Seolah tidak percaya jika Emran akan mengatakan hal itu.


"Aku hanya melakukan kewajiban ku sebagai suami" ucap Emran memberi Penjelasan.


Sebuah senyuman seketika tampak di wajah cantik Annisa. pipi yang seketika bersemu merah, karena Ucapan Emran yang terdengar begitu manis di telinga Annisa, dan jujur Annisa begitu bahagia dengan apa yang Emran katakan.


Setelah mengetahui jika Annisa tidak menaruh rasa marah atau dendam padanya, Emran pun tersenyum lega, nyatanya ketakutan akan kemarahan Annisa tidak benar benar terjadi.


Hening.


"Mas "


"Ya" ucap Emran cepat.


Tidak seperti biasanya Emran yang sangat irit bicara dan terkesan malas untuk menanggapi orang lain. Namun kali ini hanya dengan sebuah panggilan dari Annisa saja Emran langsung menjawab dengan cepat.


"Boleh saya bertanya"


"Tentu" ucap Emran dengan menggeser posisi duduknya semakin dekat dengan Annisa, mengikis jarak diantara keduanya, dan hal itu tentu membuat Annisa begitu gugup.


"Bisakah mas Emran sedikit bergeser" pinta Annisa dengan suara lirih.


"Kenapa ?, apa kau takut ?" tanya Emran


"Ti tidak hanya saja---"


"Katakan !" pinta Emran pada Annisa, memutus ucapan Annisa sebelumnya.


Hening.


Suasana tampak canggung, hanya terdengar Helaan nafas Annisa yang terasa begitu dalam.


"Aku hanya ingin bertanya, kenapa mas Emran tidak pernah sholat, apa mas Emran juga tidak pernah ke masjid ?" tanya Annisa tanpa basa-basi.


Mendengar hal itu Emran hanya terdiam, seolah enggan memberikan jawaban atas pertanyaan Annisa sebelumnya.


"Kenapa kau menanyakan itu" ucap Emran dengan wajah dingin.


"Tidak aku hanya bertanya, Dan Mas Emran tinggal menjawabnya" jawab Annisa dengan begitu tenang.


"Jika aku tidak mau menjawabnya?" ucap Emran cepat.


"Tidak masalah " ucap Annisa dengan suara dingin, dan seketika suasana kembali hening.


Entah mengapa keduanya memilih untuk saling diam, dan seolah enggan untuk memulai pembicaraan.


"Mas "


"Em"


"Boleh aku menceritakan sebuah kisah ?" Ucap Annisa dengan merubah posisi duduknya menghadap sang suami.


Jujur Annisa merasa begitu gugup, namun dia berniat untuk mengatakan apa yang dia ingin katakan pada sang suami.

__ADS_1


***


__ADS_2