
...Tidak ada sesuatu yang lebih sulit untuk di obati, selain dari hawa nafsu...
...🍁...
Jujur dalam suasana seperti ini Annisa tidak hanya gemetar, namun dia juga merasa begitu gugup, berhadapan dengan sosok Emran yang pernah dia sangat hormati dan takuti sebagai atasan dan bos nya di kantor. Namun kali ini berbeda, orang yang sangat dia segani Dan takuti di kantor itu telah menjadi suaminya. Dan saat ini Emran duduk di belakangnya memeluk erat dirinya, dengan meminta haknya sebagai suami.
"Mas, Tidak bisakah kita melakukanya malam nanti"
"Nanti malam kita lakukan lagi sayang"
"Apa ?"
Annisa sungguh terkejut dengan ucapan sang suami, bagaimana tidak suara Emran memang sangat lembut, namun syarat akan paksaan yang menuntut sebuah keinginan.
"Tapi mas, Annisa malu, kenapa harus siang hari mas !" sergah Annisa penuh penekanan.
"Baiklah begini saja" Ucap Emran dengan begitu serius. Annisa pun mendengarkan ucapan Emran juga dengan begitu serius.
"Kau tidak perlu malu, anggap saja kita tidak sedang bercinta, karena sesungguhnya kita sedang beribadah" ucap Emran dengan nada semakin menggoda.
"Massss!"Teriak Annisa , hal itu tentu saja mengundang gelak tawa, mengingat perdebatan itu seperti seorang pembeli yang tengah menawar barang dagangan pada penjual.
Nyatanya Emran tidak hanya pandai dalam bisnis, namun dia juga begitu pandai dalam hal merayu dan mungkin mengelabuhi targetnya.
Dengan lembut Emran membalik tubuh Annisa, kini posisi Annisa tepat berada di depan Emran sang suami, dengan tatapan lekat pada manik mata biru di hadapannya.
"Bolehkah aku melakukan nya ?"
Melihat sorot mata teduh Emran, membuat Annisa tidak kuasa untuk menolak permintaan sang suami, dengan begitu sukarela Annisa pun menganggukkan kepalanya.
Tidak menyia-nyiakan kesempatan, Emran segera mengangkat tubuh Annisa yang masih berbalut mukena, karena Annisa belum sempat melepasnya setelah dia menyelesaikan Sholatnya tadi.
"Mas !"
"Em"
Jawab Emran singkat, setelah keduanya berada di atas tempat tidur. Emran telah begitu siap untuk menuntaskan hasratnya.
"Tunggu dulu mas"
__ADS_1
"Ada apa sayang !, Tidak bisakah kita bicarakan setelah ini" Ucap Emran dengan begitu tidak sabar.
Kini Emran telah berhasil melepaskan Mukena Annisa dan bersiap melancarkan aksinya.
"Mas Emran sudah sholat Dzuhur?"
Deg.
Tatapan Emran seketika terarah pada Annisa yang memandangnya penuh selidik.
Mendengar pertanyaan Annisa, Emran hanya tersenyum nyengir.
"Belum Sayang heheh"
Menyadari hal itu Annisa pun tersenyum pada sang suami yang kini berada diatas tubuhnya.
"Baiknya sholat dulu mas, Dahulukan kewajiban, baru setelah itu sunah" ucap Annisa dengan nada penuh kelembutan.
Meski dengan berat hati, Akhirnya Emran pun mengikuti dan menuruti ucapan Annisa. Emran yang sedari tadi telah bersiap, kini harus menelan pil pahit, karena harus tertunda untuk beberapa saat.
Namun tidak masalah, karena memang Emran telah berjanji pada sang istri, jika dirinya akan berubah menjadi lebih baik dalam hal agama.
"Mas "
"Sayang ! , kenapa kau selalu mengajakku untuk berbicara setiap kalia ku akan melakukan sesuatu ?" ucap Emran dengan berbalik, melepaskan Handel pintu kamar mandi yang telah dia pegang sebelumnya.
Mendengar nada kekesalan sang suami, Annisa hanya terkekeh kecil.
"Mas , Annisa cuma mau tanya, Mas Emran sudah makan, Annisa akan siapkan sekalian jika belum"
"Aku tidak memerlukannya Sayang, aku hanya ingin memakan itu secepatnya" ucap Emran dengan menunjuk dua bukit di dada Annisa.
Annisa pun refleks menutup dadanya dengan kedua tangannya. Sementara itu Emran yang melihat tingkah Annisa hanya tersenyum smirk.
Emran pun segera masuk kedalam kamar mandi dan bergegas wudhu, untuk melaksanakan sholat yang tertunda.
Tidak butuh waktu lama Emran keluar dari kamar mandi, namun saat itu dirinya tidak menemukan sosok Annisa di dalam kamar tersebut. Emran yang tidak ingin ambil pusing segera saja melaksanakan sholatnya dengan khusyuk.
Sementara itu Annisa tengah menyiapkan makanan dan minuman untuk sang suami, Annisa jelas tahu jika Emran belum makan siang.
__ADS_1
Menyusuri setiap anak tangga, Pandangan Annisa mengedar di seluruh ruangan, Benar saja apa yang di katakan Emran, Rumah tersebut terasa begitu sepi dan sunyi, tidak ada satu orang pun, tidak seperti hari-hari biasanya, yang begitu ramai dengan pelayan.
Suara Yasmine yang selalu menggema di seluruh ruangan pun juga tidak Annisa dengar, sudah dapat di pastikan jika ucapan Emran benar adanya.
Satu hal yang membuat Annisa masih begitu heran, bagaimana suaminya bisa melakukan hal itu jika hanya untuk meminta haknya saja, meski Emran telah mengatakan jika dia melakukan itu karena tidak ingin di ganggu oleh siapapun.
Cukup terkesan Annisa saat itu, merasa Emran memperlakukannya dengan begitu istimewa, Karen hal itu lah Annisa pun ingin pula membuatkan makanan yang juga istimewa untuk sang suami.
Tidak butuh waktu lama, sepiring pasta dengan Jus Melon telah siap di atas nampan, siap untuk Annisa bawa ke kamar.
Dengan begitu pelan Annisa membuka pintu kamar, pandangan Annisa seketika tertuju pada Emran yang masih khusyuk dengan Sholatnya, Senyum manis pun tidak lekang dari wajah Annisa.
Meletakkan nampan berisi makanan dan minuman di meja, setelah itu Annisa bergegas menuju kamar mandi.
Beberapa saat akhirnya Emran telah selesai dengan sholatnya, kali ini Emran kembali mengedarkan pandangannya, namun lagi-lagi dia tidak melihat keberadaan Annisa. Namun kali ini pandangan Emran tertuju pada makanan dan minuman yang berada diatas meja.
Emran menghampirinya, terlihat begitu menggiurkan dan dalam keadaan masih hangat, terlihat dari kepulan uap yang masih membumbung diatas makanan tersebut.
Tidak menyia-nyiakan hal itu, Emran segera duduk dan menyantap makanan tersebut, tanpa menanyakan untuk siapa makanan itu, karena sudah pasti itu untuk dirinya, dan Annisa lah yang telah menyiapkan nya, karena memang di rumah tersebut hanya ada mereka saja.
Emran begitu lahap menikmati suapan demi Suapan makanan yang masuk kedalam mulutnya, hingga tidak menyadari keberadaan Annisa yang kini berdiri tepat di hadapannya.
"Aku tidak salah, Ternyata suami ku memang sangat lapar" ucap Annisa. Emran yang sedikit merasa kaget pun segera mendongakkan wajahnya.
Tidak hanya menatap, Emran pun tidak pernah berhenti tersenyum, memandangi sosok Annisa yang berdiri anggun di hadapannya, mengenakan pakaian dinas yang begitu indah di pandangan Emran.
"Apa kah pendingin di kamar ini rusak ?" tanya Emran
"Apa ?"
"Tidak. Aku hanya merasa panas" ucap Emran dengan pandangan masih lekat pada sang Annisa yang tengah mengenakan lingerie berwarna pastel, sangat manis dan begitu menggoda.
"Sepertinya tidak" jawab Annisa dengan begitu polosnya.
Menyadari hal itu Emran hanya terkekeh kecil, dan melambaikan tangannya pada Annisa yang masih saja terus berdiri. Mengarahkan Annisa untuk duduk diatas pangkuannya.
Meski dengan begitu gugup, namun dengan langkah pasti Annisa berjalan menghampiri sang suami, yang menatapnya dengan penuh damba.
***
__ADS_1